Allotment IPO Terbongkar: Cara Kerja yang Jarang Dibahas
icon search
icon search

Top Performers

Allotment IPO Terbongkar: Cara Kerja yang Jarang Dibahas

Home / Artikel & Tutorial / judul_artikel

Allotment IPO Terbongkar: Cara Kerja yang Jarang Dibahas

Allotment IPO Terbongkar: Cara Kerja yang Jarang Dibahas

Daftar Isi

Kenapa Jatah IPO Terasa Misterius?

Kalau kamu pernah ikut IPO lewat sekuritas atau e-IPO, pasti ada momen deg-degan menunggu hasil penjatahan. Kamu sudah pesan banyak lot, tapi ketika hasil keluar, jatah yang masuk ke portofolio ternyata jauh lebih kecil daripada harapan. Di sisi lain, ada juga cerita investor yang dapat jatah penuh ketika antusiasme pasar justru biasa saja.

Situasi seperti ini sering memunculkan pertanyaan: siapa yang mengatur semua pembagian ini, dan apa dasar perhitungannya? Di permukaan, penjatahan atau allotment hanya terlihat sebagai pengumuman angka. Namun di balik angka itu, ada mekanisme yang cukup kompleks, melibatkan regulasi, peran penjamin emisi, hingga kebijakan perusahaan.

Untuk memahami itu, kamu perlu melihat allotment bukan hanya sebagai “keberuntungan” saat IPO, tetapi sebagai sistem yang dirancang untuk menjaga keseimbangan antara minat investor, kebutuhan pendanaan perusahaan, dan stabilitas harga di pasar.

 

Apa Itu Allotment IPO?

Sebelum masuk ke detail teknis, kamu perlu punya fondasi pengertian yang solid. Secara sederhana, allotment IPO adalah proses pembagian jatah saham kepada para investor setelah masa penawaran umum selesai. Di tahap inilah permintaan dari berbagai pihak diterjemahkan menjadi alokasi nyata dalam bentuk jumlah lot yang kamu terima.

Dalam konteks IPO, perusahaan menawarkan saham dengan jumlah terbatas. Sementara itu, minat investor bisa saja jauh lebih besar dibandingkan jumlah saham yang tersedia. Allotment hadir sebagai mekanisme untuk mengatur bagaimana saham yang terbatas itu dibagi ke berbagai kategori investor, mulai dari ritel, institusi, hingga karyawan atau pihak strategis.

Intinya, allotment adalah jembatan antara “berapa banyak saham yang kamu pesan” dan “berapa banyak yang benar-benar kamu dapat”. Setelah memahami pengertian dasarnya, langkah berikutnya adalah menelusuri bagaimana istilah ini muncul dan mengapa begitu penting di pasar modal.

 

Asal-usul Istilah Allotment dalam Pasar Modal

Banyak investor penasaran, apakah istilah allotment diciptakan oleh tokoh tertentu atau muncul dari regulasi resmi. Jawabannya, istilah ini bukan nama teori milik seseorang, melainkan kata kerja umum yang kemudian menjadi istilah teknis di keuangan.

Dalam bahasa Inggris, kata “allot” merujuk pada tindakan membagi atau memberikan jatah. Dari sinilah istilah allotment lahir, menggambarkan proses pembagian jatah saham atau sumber daya lain secara terstruktur. Ketika pasar modal berkembang dan perusahaan mulai menggalang dana lewat penerbitan efek, kebutuhan untuk menamai proses pembagian ini pun muncul, dan istilah allotment menjadi standar yang dipakai secara luas.

Seiring berkembangnya pasar modal global, makna allotment perlahan bergeser dari sekadar pembagian manual menjadi sistem yang diatur ketat oleh regulasi dan teknologi. Dari praktik tradisional di ruang-ruang rapat penjamin emisi, sekarang allotment sudah masuk ke sistem elektronik, basis data, dan logika algoritma.

Setelah kamu memahami akar istilahnya, langkah berikutnya adalah melihat mengapa allotment menjadi tahap yang sangat penting dalam proses IPO modern.

 

Peran Penting Allotment dalam Proses IPO

Allotment bukan sekadar formalitas administrasi. Di banyak kasus, inilah tahap yang menentukan bagaimana cerita sebuah IPO akan berlanjut setelah saham resmi tercatat di bursa.

Bagi perusahaan, allotment menentukan siapa saja pemegang saham awal dan seberapa besar pengaruh masing-masing kelompok. Komposisi antara investor jangka panjang, investor institusi, dan investor ritel akan mempengaruhi stabilitas harga di pasar sekunder. Terlalu banyak saham yang jatuh ke tangan pihak yang hanya mengejar keuntungan jangka pendek bisa memicu tekanan jual besar di hari-hari awal perdagangan.

Bagi investor, allotment menentukan apakah strategi pemesanan yang kamu susun berubah menjadi kepemilikan nyata atau hanya menjadi angka permintaan yang terpotong. Di sinilah muncul rasa “adil atau tidak adil” yang sering kamu dengar di forum dan komunitas saham.

Karena itu, allotment memegang peran ganda: menjaga akses investor terhadap saham baru, dan pada saat yang sama melindungi perusahaan dari struktur kepemilikan yang tidak sehat sejak hari pertama. Untuk melihat bagaimana semua pertimbangan ini dipraktikkan, kamu perlu memahami mekanisme allotment di tingkat global.

 

Promo Cashback Pengguna Baru Desember 2025

 

Mekanisme Allotment IPO di Tingkat Global

Secara garis besar, banyak negara menggunakan pola yang mirip dalam membagi jatah saham IPO, meskipun detail teknisnya bisa berbeda.

Biasanya, proses dimulai dari tahap book building. Di sini, penjamin emisi mengumpulkan minat dari berbagai investor, mencatat berapa banyak saham yang ingin mereka beli dan di kisaran harga berapa. Data ini digunakan untuk menentukan harga penawaran akhir serta memetakan siapa yang akan menjadi calon pemegang saham awal.

 

Setelah harga final ditetapkan dan masa penawaran ditutup, barulah allotment dilakukan. Dalam praktik global, pembagian ini sering dibagi ke beberapa kategori:

  • Investor institusi, seperti dana pensiun, manajer investasi, dan perusahaan asuransi, yang biasanya mendapatkan alokasi berdasarkan komitmen dan hubungan jangka panjang.
  • Investor ritel, yaitu individu yang memesan lewat sekuritas atau platform penawaran umum.
  • Pihak-pihak tertentu yang dianggap strategis bagi perusahaan, misalnya mitra bisnis utama atau karyawan.

 

Di banyak yurisdiksi, alokasi untuk investor ritel dilakukan dengan cara yang mendekati undian atau pembagian proporsional, terutama ketika permintaan jauh melampaui jumlah saham yang tersedia. Sementara itu, investor institusi sering mendapat alokasi berdasarkan porsi yang dinegosiasikan dalam proses book building.

Dari gambaran ini, kamu bisa melihat bahwa allotment tidak dilakukan secara asal. Ada struktur dan logika yang mengikuti peta permintaan yang terkumpul sebelumnya. Namun, perkembangan pasar dalam beberapa tahun terakhir membuat mekanisme ini semakin canggih.

 

Perkembangan Allotment di Era IPO Modern

Pasar modal tidak berhenti berubah. Dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah semakin banyak investor individu yang masuk pasar, praktik allotment ikut beradaptasi.

Opsi penerbitan saham tambahan dalam batas tertentu sering digunakan untuk meredam gejolak harga setelah IPO. Ketika permintaan sangat tinggi dan harga di pasar sekunder langsung melesat, penjamin emisi dapat memanfaatkan opsi ini untuk menambah pasokan saham sehingga pergerakan harga tidak terlalu liar. Di sisi lain, ketika sentimen melemah, penambahan pasokan ini bisa tidak digunakan agar harga tetap terjaga.

Selain itu, semakin banyak regulator yang mendorong transparansi dalam penjatahan. Di beberapa pasar, dokumen yang menjelaskan dasar penjatahan dipublikasikan, sehingga investor bisa memahami bagaimana logika pembagian diterapkan di tiap kategori.

Teknologi juga mulai mengambil peran. Analisis data yang lebih maju membantu penjamin emisi memperkirakan pola permintaan dan menyiapkan skenario penjatahan yang lebih terukur. Kombinasi regulasi, teknologi, dan partisipasi investor ritel membuat allotment hari ini jauh lebih terstruktur daripada satu dekade lalu.

Setelah melihat gambaran global, sekarang saatnya kamu menengok bagaimana mekanisme ini berjalan di Indonesia.

 

Cara Kerja Allotment IPO di Indonesia

Di Indonesia, proses penawaran umum saham semakin terpusat melalui sistem penawaran elektronik. Sistem ini dirancang untuk menyatukan pemesanan dari berbagai perusahaan sekuritas dan memberikan mekanisme penjatahan yang konsisten.

Secara umum, ada dua pendekatan utama yang sering dibahas ketika membicarakan penjatahan di Indonesia. Pertama, pendekatan yang memberikan jatah lebih terukur kepada kategori investor tertentu, misalnya institusi yang terlibat sejak awal dalam proses penjaminan. Kedua, pendekatan yang membagi jatah kepada investor ritel secara lebih merata melalui pola pembagian tertentu, misalnya berdasarkan jumlah pemesan, jumlah lot minimum, atau metode lain yang mencoba menjaga rasa keadilan.

Ketika sebuah IPO mengalami kelebihan permintaan yang sangat besar, investor ritel bisa saja hanya mendapatkan sebagian kecil dari jumlah yang mereka pesan. Kondisi ini sering terjadi pada perusahaan yang sedang naik daun atau sektor yang sedang banyak dibicarakan. Bagi kamu sebagai investor, pengalaman ini mungkin terasa mengecewakan, tetapi dari sudut pandang regulator dan penjamin emisi, pembatasan jatah ini bertujuan menjaga agar distribusi saham tidak terkonsentrasi di segelintir pihak saja.

Memahami cara kerja penjatahan di pasar lokal membantu kamu menempatkan ekspektasi pada level yang lebih realistis ketika mengikuti suatu IPO. Namun, allotment tidak hanya muncul saat sebuah perusahaan pertama kali melantai di bursa.

 

Allotment di Luar IPO: Right Issue, Stock Split, hingga ESOP

Allotment juga muncul dalam berbagai aksi korporasi selain IPO. Di sini, makna dasarnya tetap sama: pembagian jatah, hanya konteksnya yang berbeda.

Dalam right issue, perusahaan menerbitkan saham baru dan memberikan hak kepada pemegang saham lama untuk membeli saham tersebut dengan harga tertentu. Penjatahan di sini biasanya mengikuti porsi kepemilikan lama. Kalau kamu memiliki persentase tertentu, kamu akan mendapatkan hak beli sesuai proporsi tersebut.

Saat terjadi pemecahan saham atau stock split, jumlah lembar saham bertambah sementara nilai per lembar menyesuaikan. Meski tidak selalu disebut allotment, secara praktik perusahaan tetap melakukan penyesuaian jumlah saham di setiap pemegang saham berdasarkan rasio yang telah ditentukan.

Allotment juga hadir dalam program kepemilikan saham karyawan. Dalam skema seperti ini, perusahaan mengalokasikan sejumlah saham sebagai bagian dari kompensasi jangka panjang. Pembagiannya bisa tergantung jabatan, masa kerja, atau pencapaian kinerja tertentu.

Selain itu, ada juga kasus pembagian saham sebagai dividen dalam bentuk lembar saham, bukan tunai. Di sini, pemegang saham akan menerima tambahan kepemilikan berdasarkan rasio tertentu yang ditetapkan perusahaan.

Kamu bisa melihat pola yang sama: setiap kali ada perubahan jumlah saham beredar, selalu ada pertanyaan “siapa dapat berapa”. Di situlah allotment muncul, meski kadang tidak disebut secara eksplisit.

 

Alasan Perusahaan Menerbitkan Saham Baru untuk Penjatahan

Pertanyaan berikutnya yang tidak kalah penting adalah: mengapa perusahaan mau repot menerbitkan saham baru dan mengatur penjatahan? Jawabannya berkaitan dengan strategi keuangan dan kebutuhan pendanaan.

Salah satu alasan utama adalah untuk menambah modal. Dana yang diperoleh dari penerbitan saham baru bisa digunakan untuk memperluas usaha, membiayai proyek baru, meningkatkan kapasitas produksi, atau masuk ke segmen pasar yang berbeda. Ketika langkah ini berhasil, nilai perusahaan berpotensi naik dan pada akhirnya menguntungkan pemegang saham.

Selain ekspansi, perusahaan juga bisa menggunakan dana dari penerbitan saham baru untuk memperkuat neraca. Misalnya, dengan melunasi utang jangka pendek atau menurunkan beban bunga yang selama ini menekan laba. Dalam jangka panjang, kondisi keuangan yang lebih sehat bisa membuat perusahaan lebih tahan terhadap guncangan ekonomi.

Di beberapa kasus, penerbitan saham baru digunakan untuk mendanai akuisisi. Perusahaan mengakuisisi entitas lain dan sebagai bagian dari kesepakatan, pemegang saham perusahaan target mendapatkan jatah saham di entitas yang baru atau yang mengakuisisi. Di sini, allotment memastikan pihak-pihak yang terlibat mendapatkan porsi kepemilikan sesuai nilai kesepakatan.

Melalui alasan-alasan ini, kamu dapat melihat bahwa penjatahan bukan hanya urusan teknis pasar, tetapi juga bagian dari strategi korporasi yang lebih besar. Lalu, siapa yang membantu perusahaan mengeksekusi semua ini secara praktis?

 

Peran Underwriter dalam Menentukan Jatah Allotment

Penjamin emisi, atau underwriter, berada di garis depan ketika sebuah perusahaan ingin melantai di bursa. Mereka bertindak sebagai perantara antara perusahaan dan calon investor, sekaligus sebagai pihak yang ikut menanggung risiko jika saham tidak terserap pasar.

Dalam konteks allotment, underwriter membantu perusahaan mengukur minat pasar melalui proses penawaran awal. Dari data tersebut, mereka menyusun skenario harga dan volume yang realistis. Jika minat investor sangat tinggi, penentuan harga dan pola penjatahan harus mempertimbangkan risiko fluktuasi harga yang tajam setelah listing. Jika minat biasa saja, fokusnya bergeser ke bagaimana perusahaan tetap mendapatkan pendanaan yang optimal tanpa membebani investor dengan valuasi yang terlalu tinggi.

Saat tiba pada tahap penjatahan, underwriter berperan mengatur alokasi antar kategori investor sesuai kesepakatan awal, regulasi, dan kebijakan distribusi yang disetujui bersama. Dalam beberapa kasus, mereka juga memiliki ruang diskresi untuk menyesuaikan porsi alokasi institusi dan ritel guna menjaga keseimbangan antara likuiditas dan stabilitas.

Dengan memahami peran underwriter, kamu bisa melihat bahwa jatah IPO yang kamu terima bukan hasil keputusan sepihak, melainkan kombinasi berbagai pertimbangan yang saling bertaut. Dari sini, menarik untuk membandingkan bagaimana konsep penjatahan muncul di ranah lain, khususnya di aset kripto.

 

IPO vs IEO/IDO: Perbandingan Singkat Mekanisme Penjatahan

Bagi kamu yang aktif di aset kripto, konsep penjatahan bukan hal yang asing. Di ranah kripto, banyak proyek yang mengumpulkan dana lewat penawaran awal token. Polanya mirip: ada jumlah token yang terbatas dan ada minat dari calon pembeli yang bisa sangat besar.

Secara prinsip, ada beberapa kesamaan antara IPO dan penawaran token semacam itu. Ketika permintaan jauh melampaui jumlah token atau saham yang dilepas, penyelenggara perlu menetapkan mekanisme pembagian. Bisa dengan batas maksimal per orang, sistem antrian, pengundian, atau metode lain yang dianggap adil oleh penyelenggara dan peserta.

Perbedaannya terletak pada tingkat regulasi, tata kelola, dan mekanisme perlindungan investor. IPO berada di bawah pengawasan regulator pasar modal yang memiliki aturan ketat soal prospektus, pelaporan, dan penjatahan. Penawaran token bisa memiliki variasi model yang lebih luas, bergantung pada yurisdiksi, infrastruktur, dan kebijakan masing-masing penyelenggara.

Meski begitu, pengalaman kamu di kripto bisa menjadi bekal berharga untuk memahami allotment IPO. Pola pikir yang sama tentang suplai, permintaan, dan distribusi bisa membantu kamu menilai apakah sebuah penawaran menarik, realistis, atau justru terlalu spekulatif.

 

Mengapa Investor Kripto Perlu Memahami Allotment IPO?

Jika kamu selama ini lebih banyak beraktivitas di aset kripto, mungkin muncul pertanyaan: sejauh apa manfaat memahami allotment IPO? Jawabannya berkaitan dengan cara kamu membaca risiko dan peluang di berbagai instrumen.

Pertama, konsep allotment mengajarkan kamu untuk tidak hanya fokus pada prospek emiten, tetapi juga pada dinamika permintaan. Ketika permintaan sangat tinggi, hasil penjatahan bisa mengecil, tetapi pada saat yang sama risiko volatilitas harga di awal perdagangan juga meningkat. Di sini, pemahaman kamu terhadap alokasi dan likuiditas akan sangat membantu.

Kedua, pemahaman mengenai cara perusahaan menerbitkan dan membagi saham baru dapat kamu tarik ke analisis tokenomics. Banyak token kripto yang memiliki jadwal distribusi tertentu, kategori penerima yang berbeda, dan mekanisme vesting. Pola pikir analitis yang terbentuk dari memahami allotment bisa membantu kamu menilai seberapa sehat struktur distribusi sebuah token.

Ketiga, sebagai investor yang ingin naik kelas, kamu akan semakin sering berhadapan dengan berbagai instrumen, bukan hanya satu jenis aset. Pengetahuan mengenai allotment membuat kamu lebih siap jika suatu saat tertarik mengikuti IPO atau aksi korporasi di pasar modal tradisional.

Dengan bekal ini, kamu tidak lagi memandang jatah IPO sebagai sesuatu yang benar-benar acak, melainkan sebagai hasil dari sistem yang punya logika dan tujuan.

 

Kesimpulan

Allotment IPO sering terasa seperti kotak hitam yang hanya mengeluarkan angka akhir tanpa penjelasan. Namun ketika kamu membongkar mekanismenya, terlihat jelas bahwa penjatahan adalah upaya menyeimbangkan tiga kepentingan utama: kebutuhan pendanaan perusahaan, minat investor, dan stabilitas harga di pasar.

Di tingkat global, allotment berkembang dari pembagian manual menjadi sistem yang diatur regulasi, didukung teknologi, dan diawasi dengan standar transparansi yang terus meningkat. Di Indonesia, penawaran elektronik dan pola penjatahan yang lebih terstruktur menunjukkan arah perubahan ke sistem yang semakin rapi.

Bagi kamu sebagai investor, baik di saham maupun kripto, memahami allotment berarti memahami proses di balik layar ketika aset baru lahir di pasar. Dengan pemahaman tersebut, kamu bisa menempatkan ekspektasi dengan lebih tepat, membaca risiko dengan lebih jernih, dan mengambil keputusan investasi dengan sudut pandang yang lebih matang.

 

Itulah informasi menarik tentang allotment ipo yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.

Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.

 

Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.

Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!

 

Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]

 

Follow Sosmed Twitter Indodax sekarang

Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram

 

FAQ

 

1. Kenapa saya hanya dapat sedikit lot saat ikut IPO?

Dalam banyak kasus, permintaan investor jauh lebih besar daripada jumlah saham yang ditawarkan. Ketika terjadi kelebihan permintaan, sistem penjatahan membagi saham yang terbatas itu ke banyak pemesan. Akibatnya, jatah untuk masing-masing investor ritel menjadi lebih kecil, meskipun pesanan awal kamu cukup besar.

2. Apakah ada cara pasti supaya dapat jatah lebih besar?

Tidak ada cara yang bisa menjamin jatah lebih besar, apalagi di tengah permintaan yang sangat tinggi. Beberapa faktor seperti kategori investor, kebijakan alokasi, dan profil risiko instansi pemesan bisa berpengaruh. Untuk investor ritel, biasanya satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan adalah mengikuti aturan pemesanan dengan benar dan memahami bahwa hasil akhir bergantung pada total permintaan pasar.

3. Apa perbedaan penjatahan untuk investor institusi dan ritel?

Investor institusi biasanya sudah terlibat sejak awal dalam proses penjaminan dan book building, sehingga alokasinya bisa mengikuti kesepakatan tertentu. Investor ritel cenderung mendapatkan alokasi berdasarkan mekanisme pembagian yang dirancang agar lebih merata, misalnya dengan batas minimum lot atau skema pembagian lain yang disesuaikan regulasi.

4. Apakah kelebihan permintaan (oversubscribe) selalu berarti IPO itu bagus?

Kelebihan permintaan menunjukkan minat yang tinggi, tetapi tidak otomatis menjamin kinerja harga jangka panjang. Ada IPO yang diserbu di awal lalu harga terkoreksi setelah euforia mereda. Sebaliknya, ada IPO yang tidak terlalu ramai tetapi memberikan kinerja stabil dalam jangka waktu yang lebih panjang. Analisis fundamental perusahaan tetap penting.

5. Apa hubungan allotment dengan pergerakan harga setelah listing?

Jika allotment menghasilkan distribusi yang terlalu terkonsentrasi pada kelompok yang ingin menjual cepat, tekanan jual di hari-hari awal bisa sangat besar. Sebaliknya, jika distribusi seimbang antara investor jangka panjang dan jangka pendek, pergerakan harga cenderung lebih terkendali. Karena itu, penjatahan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi dinamika harga di pasar sekunder.

6. Apakah sistem penjatahan benar-benar adil untuk investor ritel?

Sistem yang ada dirancang untuk menyeimbangkan kepentingan berbagai pihak. Dari sudut pandang investor ritel, hasilnya mungkin terasa kurang memuaskan ketika permintaan sangat tinggi. Namun, tanpa mekanisme penjatahan, distribusi saham bisa jauh lebih timpang, hanya dinikmati pemodal besar, dan sulit diakses investor kecil. Memahami bagaimana sistem bekerja membantu kamu melihat gambaran yang lebih utuh.

 

Author : RB

DISCLAIMER:  Segala bentuk transaksi aset kripto memiliki risiko dan berpeluang untuk mengalami kerugian. Tetap berinvestasi sesuai riset mandiri sehingga bisa meminimalisir tingkat kehilangan aset kripto yang ditransaksikan (Do Your Own Research/ DYOR). Informasi yang terkandung dalam publikasi ini diberikan secara umum tanpa kewajiban dan hanya untuk tujuan informasi saja. Publikasi ini tidak dimaksudkan untuk, dan tidak boleh dianggap sebagai, suatu penawaran, rekomendasi, ajakan atau nasihat untuk membeli atau menjual produk investasi apa pun dan tidak boleh dikirimkan, diungkapkan, disalin, atau diandalkan oleh siapa pun untuk tujuan apa pun.
  

Lebih Banyak dari Tutorial

Pelajaran Dasar

Calculate Staking Rewards with INDODAX earn

Select an option
dot Polkadot 2.25%
bnb BNB 0.52%
sol Solana 4.62%
eth Ethereum 2.32%
ada Cardano 1.02%
pol Polygon Ecosystem Token 1.87%
trx Tron 2.75%
DOT
0
Berdasarkan harga & APY saat ini
Stake Now

Pasar

Nama Harga 24H Chg
DLC/IDR
Diverge Lo
463
105.78%
PIPPIN/IDR
Pippin
457
60.96%
SOLAYER/IDR
Solayer
1.417
34.7%
DEFI/IDR
DeFi
4
33.33%
DODO/IDR
DODO
876
30.36%
Nama Harga 24H Chg
H/IDR
Humanity P
4.250
-67.33%
STIK/IDR
Staika
391
-47.45%
CHT/IDR
CyberHarbo
2
-33.33%
EPIC/IDR
Epic Chain
8.900
-29.16%
MPRO/IDR
Max Proper
4
-20%
Apakah artikel ini membantu?

Beri nilai untuk artikel ini

You already voted!
Artikel Terkait

Temukan lebih banyak artikel berdasarkan topik yang diminati.

Cara Mencairkan USDT ke Rupiah, Ternyata Semudah Ini
03/06/2026
Cara Mencairkan USDT ke Rupiah, Ternyata Semudah Ini

Punya USDT tapi bingung cara mengubahnya menjadi Rupiah? Situasi ini

03/06/2026
Cara Mendapatkan Centang Hijau di WhatsApp Business Resmi
02/06/2026
Cara Mendapatkan Centang Hijau di WhatsApp Business Resmi

Bagi pemilik bisnis, WhatsApp bukan lagi sekadar aplikasi untuk membalas

02/06/2026
5 Cara Memulai Investasi Cryptocurrency untuk Gen Z
29/05/2026
5 Cara Memulai Investasi Cryptocurrency untuk Gen Z

Di era digital seperti sekarang, semakin banyak Gen Z yang

29/05/2026