Ada fase pasar yang paling bikin pusing: harga bergerak cepat, tetapi arahnya tidak konsisten. Hari ini naik, besok turun, lalu berbalik lagi.
Dalam kondisi seperti itu, banyak trader opsi tidak fokus menebak arah. Mereka fokus pada satu hal: seberapa jauh harga bergerak. Di sinilah strategi straddle dan strangle sering dipakai.
Kedua strategi ini sama-sama memanfaatkan volatilitas. Kalau harga bergerak cukup besar, salah satu posisi bisa menutup biaya premi dan menghasilkan keuntungan. Kalau harga diam, keduanya bisa rugi. Sekilas mirip, tetapi detail kecilnya sangat menentukan hasil.
Apa Itu Straddle dan Strangle?
Straddle adalah strategi saat trader membeli satu call option dan satu put option dengan strike price yang sama dan jatuh tempo yang sama. Biasanya strike dipilih di sekitar harga saat ini. Karena dua opsi dibeli sekaligus, biaya awalnya lebih tinggi.
Strangle juga membeli call dan put pada aset yang sama dan jatuh tempo yang sama, tetapi strike price-nya berbeda. Call dipilih di atas harga pasar, sedangkan put di bawah harga pasar.
Karena strike-nya lebih jauh dari harga sekarang, premi biasanya lebih rendah dibanding straddle.
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi efeknya besar terhadap biaya, peluang, dan cara mengelola posisi.
Perbedaan yang Menentukan Hasil
Straddle cenderung membutuhkan modal lebih besar karena menggunakan opsi yang lebih dekat ke harga pasar. Namun, titik impasnya juga lebih dekat, sehingga pergerakan harga yang tidak terlalu ekstrem sudah bisa memberikan hasil.
Strangle lebih ringan dari sisi biaya, tetapi menuntut pergerakan harga yang lebih jauh. Ini sering membuat trader salah persepsi. Harga terlihat bergerak cukup signifikan, tetapi belum cukup untuk menutup premi yang dibayar.
Perbedaan ini juga berdampak pada cara membaca peluang. Straddle lebih sensitif terhadap pergerakan awal, sedangkan strangle membutuhkan momentum yang benar-benar kuat.
Cara Kerja dalam Kondisi Nyata
Misalkan harga aset berada di Rp1.000.
Pada straddle, trader membeli call dan put di strike Rp1.000 dengan total premi Rp100. Posisi ini mulai menghasilkan keuntungan jika harga bergerak melewati Rp1.100 atau turun di bawah Rp900.
Pada strangle, trader membeli call di Rp1.100 dan put di Rp900 dengan total premi Rp55. Titik impasnya lebih jauh, yaitu di atas Rp1.155 atau di bawah Rp845.
Perbedaan angka ini terlihat kecil di atas kertas, tetapi dalam praktik, jarak tersebut sering menjadi penentu apakah strategi berhasil atau tidak.
Kapan Strategi Ini Relevan?
Strategi ini biasanya muncul saat ada potensi pergerakan besar, seperti rilis data ekonomi, keputusan suku bunga, atau laporan keuangan. Pada momen seperti itu, arah sering sulit ditebak, tetapi peluang lonjakan harga meningkat.
Namun, ada sisi lain yang sering diabaikan. Menjelang event besar, harga opsi biasanya sudah mahal karena ekspektasi volatilitas tinggi. Setelah event selesai, volatilitas bisa turun drastis. Akibatnya, nilai opsi ikut turun meski harga bergerak sesuai prediksi.
Ini yang sering membuat trader merasa “benar arah, tapi tetap rugi”.
Kelebihan yang Perlu Dipahami
Kelebihan utama dari kedua strategi ini adalah tidak bergantung pada arah. Trader tidak harus memilih antara naik atau turun. Selama harga bergerak cukup jauh, peluang tetap terbuka.
Risiko maksimal juga sudah jelas sejak awal, yaitu sebesar premi yang dibayarkan. Ini membuat pengelolaan risiko lebih terukur dibandingkan beberapa strategi lain.
Straddle lebih cocok saat mengharapkan pergerakan cepat dan signifikan. Strangle lebih cocok saat ingin menekan biaya, dengan catatan siap menghadapi kebutuhan pergerakan yang lebih besar.
Risiko yang Sering Terjadi di Lapangan
Masalah utama strategi ini adalah ketika harga tidak bergerak cukup jauh. Dalam kondisi pasar yang cenderung datar atau hanya bergerak terbatas, kedua opsi bisa kehilangan nilai secara bersamaan.
Time decay juga menjadi faktor yang tidak bisa dihindari. Setiap hari yang lewat mengurangi nilai opsi, terutama jika mendekati jatuh tempo.
Selain itu, penurunan volatilitas setelah event sering menjadi penyebab kerugian yang tidak disadari sejak awal. Banyak trader fokus pada pergerakan harga, tetapi mengabaikan perubahan volatilitas yang justru sangat memengaruhi harga opsi.
Straddle atau Strangle?
Pilihan antara straddle dan strangle bukan soal mana yang lebih baik, tetapi mana yang lebih sesuai dengan kondisi dan ekspektasi.
Straddle memberikan ruang lebih besar untuk pergerakan yang tidak terlalu ekstrem, tetapi dengan biaya lebih tinggi. Strangle memberikan efisiensi biaya, tetapi menuntut pergerakan yang lebih jauh.
Keputusan terbaik biasanya datang dari perhitungan yang realistis, bukan sekadar preferensi.
Kesimpulan
Straddle dan strangle bukan sekadar dua nama strategi yang terlihat mirip.
Keduanya mencerminkan cara berpikir yang berbeda saat menghadapi ketidakpastian: apakah memilih membayar lebih mahal untuk respons yang lebih cepat, atau menekan biaya dengan konsekuensi target pergerakan yang lebih jauh.
Di praktiknya, banyak trader terjebak pada persepsi awal. Strangle terlihat menarik karena lebih murah, tetapi sering gagal ketika pergerakan tidak cukup besar.
Straddle terasa lebih “aman”, tetapi bisa menjadi mahal jika volatilitas sudah tinggi sejak awal. Di titik ini, yang diuji bukan hanya strategi, tetapi cara membaca konteks pasar.
Yang sering menentukan hasil justru hal-hal yang tidak terlihat di permukaan: harga opsi saat masuk, ekspektasi volatilitas, dan waktu yang tersisa. Tanpa memahami itu, kedua strategi ini mudah berubah menjadi posisi yang terlihat logis, tetapi tidak efektif.
Straddle dan strangle bisa menjadi alat yang kuat, tetapi hanya jika digunakan dengan disiplin. Menghitung titik impas, memahami dampak waktu, dan berani keluar saat skenario tidak terjadi jauh lebih penting daripada sekadar memilih strategi.
Itulah informasi menarik tentang Tutorial yang bisa kamu dalami lebih lanjut di kumpulan artikel kripto dari Indodax Academy. Selain mendapatkan insight mendalam lewat berbagai artikel edukasi crypto terpopuler, kamu juga bisa memperluas wawasan lewat kumpulan tutorial serta memilih dari beragam artikel populer yang sesuai minatmu.
Selain update pengetahuan, kamu juga bisa langsung pantau harga aset digital di Indodax Market dan ikuti perkembangan terkini lewat berita crypto terbaru. Untuk pengalaman trading lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading dari Indodax. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu nggak ketinggalan informasi penting seputar blockchain, aset kripto, dan peluang trading lainnya.
Kamu juga bisa ikutin berita terbaru kami lewat Google News agar akses informasi lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan aset kripto kamu dengan fitur INDODAX staking crypto, cara praktis buat dapetin penghasilan pasif dari aset yang disimpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
FAQ
- Saya sering lihat harga bergerak tajam setelah berita, tapi tetap rugi saat pakai opsi. Kenapa bisa begitu?
Karena harga opsi yang kamu beli sudah mencerminkan ekspektasi volatilitas. Saat event selesai, volatilitas biasanya turun cepat. Akibatnya, nilai opsi ikut turun meskipun harga bergerak sesuai perkiraan. - Kalau modal terbatas, apakah strangle otomatis lebih masuk akal daripada straddle?
Tidak selalu. Biaya memang lebih rendah, tetapi target pergerakan juga lebih jauh. Jika harga hanya bergerak moderat, strangle sering tidak cukup untuk menghasilkan profit. - Bagaimana cara tahu pergerakan harga cukup besar atau tidak?
Lihat titik impas sebelum masuk posisi, lalu bandingkan dengan pergerakan historis saat event serupa. Jika target terlalu jauh dari pola normal, peluang berhasil menjadi lebih kecil. - Kapan strategi ini paling sering gagal?
Saat harga bergerak tidak konsisten atau terlalu lambat. Lonjakan singkat yang kembali ke titik awal juga sering membuat posisi tidak sempat berkembang sebelum nilai opsi tergerus waktu. - Apakah strategi ini bisa dipakai setiap ada event besar?
Tidak semua event menghasilkan pergerakan yang cukup besar. Lebih efektif memilih momen dengan potensi kejutan nyata dan harga opsi yang masih masuk akal.
Author: ON





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


