Take Home Pay Adalah? Kenapa Gaji Bisa Berkurang
icon search
icon search

Top Performers

Take Home Pay Adalah? Kenapa Gaji Bisa Berkurang

Home / Artikel & Tutorial / judul_artikel

Take Home Pay Adalah? Kenapa Gaji Bisa Berkurang

Take Home Pay Adalah? Kenapa Gaji Bisa Berkurang

Daftar Isi

Banyak orang merasa sudah aman ketika berhasil mendapatkan pekerjaan dengan angka gaji yang terlihat menarik. Saat interview, nominalnya terdengar besar. Di offer letter, angkanya juga terlihat meyakinkan. Namun, begitu hari gajian tiba, jumlah uang yang masuk ke rekening ternyata tidak sebesar yang dibayangkan.

Situasi seperti ini cukup sering terjadi, terutama pada pekerja yang baru pertama kali masuk ke dunia kerja, pindah kantor, atau menerima penawaran kerja dengan format gaji yang belum benar-benar dipahami. Dari sinilah istilah take home pay sering muncul. Take home pay adalah jumlah penghasilan bersih yang benar-benar diterima karyawan setelah seluruh komponen pendapatan dihitung dan berbagai potongan dikurangkan.

Masalahnya, banyak orang masih menyamakan take home pay dengan gaji pokok. Padahal, keduanya berbeda. Gaji pokok hanya salah satu bagian dari struktur penghasilan, sedangkan take home pay adalah angka akhir yang masuk ke rekening. Karena itu, memahami istilah ini bukan sekadar urusan HR atau payroll, tetapi juga bagian penting dari literasi keuangan pribadi.

 

Take Home Pay Adalah Gaji Bersih yang Diterima Karyawan

Take home pay adalah gaji bersih yang diterima karyawan setelah pendapatan bruto dikurangi potongan wajib dan potongan lain yang berlaku di perusahaan. Dalam praktiknya, take home pay sering disebut THP. Angka inilah yang biasanya kamu lihat di mutasi rekening setiap bulan setelah proses payroll selesai.

Pendapatan bruto bisa terdiri dari gaji pokok, tunjangan tetap, tunjangan tidak tetap, uang makan, uang transport, bonus, komisi, atau insentif tertentu. Namun, sebelum sampai ke rekening, penghasilan tersebut masih dapat dikurangi pajak penghasilan, iuran BPJS, pinjaman karyawan, kasbon, koperasi, denda keterlambatan, atau potongan lain sesuai kebijakan perusahaan.

Karena ada proses penambahan dan pengurangan itulah nominal take home pay bisa berbeda dari angka gaji yang disebutkan saat interview. Misalnya, seseorang mendapat penawaran gaji Rp10 juta. Jika angka itu masih bersifat gross, maka nominal yang diterima bisa lebih kecil setelah dipotong pajak dan iuran wajib. Namun, jika perusahaan menyebut Rp10 juta sebagai nett atau take home pay, maka angka yang masuk rekening biasanya sudah mendekati nominal tersebut.

Perbedaan ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar untuk perencanaan keuangan. Banyak orang merasa gajinya besar di atas kertas, padahal tanpa financial planning

 yang tepat, uang bulanan tetap terasa cepat habis. Seseorang yang mengira gajinya Rp10 juta bersih bisa salah menyusun anggaran bulanan jika ternyata uang yang diterima hanya sekitar Rp8 juta sampai Rp9 juta setelah potongan. Karena itu, memahami take home pay membantu kamu melihat penghasilan secara lebih realistis, bukan hanya dari angka besar yang muncul di awal penawaran kerja.

 

Perbedaan Take Home Pay, Gaji Pokok, Gross, dan Nett

Dalam pembahasan gaji, ada beberapa istilah yang sering muncul bersamaan. Istilah seperti gaji pokok, gross salary, nett salary, dan take home pay kerap digunakan secara bergantian, padahal masing-masing punya arti yang berbeda. Kalau tidak dipahami sejak awal, kamu bisa salah membaca offer letter atau salah menilai nilai sebenarnya dari sebuah penawaran kerja.

Gaji pokok adalah komponen dasar penghasilan karyawan. Nilainya biasanya menjadi acuan untuk menghitung beberapa komponen lain, seperti tunjangan tetap, iuran tertentu, pesangon, atau benefit perusahaan. Namun, gaji pokok bukan berarti uang bersih yang langsung diterima. Angka ini masih bisa ditambah tunjangan dan masih bisa dikurangi potongan.

Gross salary adalah total penghasilan kotor sebelum dipotong kewajiban. Jika perusahaan menyebut gaji Rp12 juta gross, artinya angka tersebut belum tentu menjadi uang bersih yang kamu terima. Dari angka itu, masih ada potongan pajak penghasilan, iuran BPJS, dan potongan lain yang berlaku.

Nett salary biasanya merujuk pada penghasilan bersih setelah pajak dan potongan utama diperhitungkan. Dalam beberapa perusahaan, istilah nett sering digunakan untuk menunjukkan bahwa nominal yang dijanjikan adalah nominal yang relatif diterima karyawan. Meski begitu, kamu tetap perlu memastikan detailnya karena setiap perusahaan bisa punya cara penyebutan yang berbeda.

Take home pay berada pada posisi paling praktis bagi karyawan, karena ini adalah angka akhir yang benar-benar bisa digunakan. THP tidak berhenti pada teori struktur gaji, tetapi langsung menjawab pertanyaan paling nyata: berapa uang yang masuk ke rekening bulan ini?

Misalnya, dua orang sama-sama mendapat offer Rp10 juta. Orang pertama menerima Rp10 juta gross, sedangkan orang kedua menerima Rp10 juta nett. Secara angka awal terlihat sama, tetapi hasil akhirnya bisa berbeda. Orang pertama mungkin menerima lebih kecil setelah potongan, sementara orang kedua menerima nominal yang lebih stabil karena perusahaan sudah memperhitungkan pajak dan komponen lain dalam sistem penggajian.

Inilah alasan kenapa bertanya “ini gross atau nett?” saat menerima offer kerja bukan hal sepele. Pertanyaan itu justru membantu kamu memahami nilai sebenarnya dari penawaran yang diberikan perusahaan.

 

Kenapa Gaji Bisa Berkurang Saat Cair?

Gaji bisa berkurang saat cair karena angka yang kamu lihat di awal belum tentu angka bersih. Dalam sistem payroll, perusahaan perlu menghitung pendapatan, kewajiban, dan potongan sebelum menentukan nominal akhir yang ditransfer ke rekening karyawan.

Salah satu potongan yang paling umum adalah PPh 21. Pajak ini dikenakan atas penghasilan yang diterima karyawan sesuai ketentuan perpajakan. Besarnya potongan pajak tidak selalu sama untuk semua orang karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti jumlah penghasilan, status perkawinan, jumlah tanggungan, dan komponen penghasilan lain yang diterima.

Selain pajak, ada juga iuran BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Kesehatan memberi perlindungan layanan kesehatan, sedangkan BPJS Ketenagakerjaan berkaitan dengan perlindungan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan program lain sesuai ketentuan yang berlaku. Sebagian iuran ditanggung perusahaan, sebagian lagi bisa menjadi bagian potongan dari penghasilan karyawan.

Gaji juga bisa berkurang karena potongan internal perusahaan. Contohnya, kasbon, pinjaman karyawan, cicilan koperasi, potongan absensi, keterlambatan, atau penggantian fasilitas tertentu. Potongan seperti ini biasanya terlihat di slip gaji, tetapi sering diabaikan karena karyawan hanya fokus pada angka akhir yang masuk rekening.

Di sisi lain, take home pay juga bisa berubah karena tidak semua komponen penghasilan bersifat tetap. Bonus, komisi, uang lembur, insentif target, atau tunjangan tertentu bisa berbeda setiap bulan. Saat komponen tambahan naik, THP bisa lebih besar. Saat komponen tambahan tidak cair, THP bisa turun.

Itulah kenapa kalimat seperti “gaji sampai Rp15 juta” perlu dibaca dengan hati-hati. Kata “sampai” atau “up to” sering berarti angka maksimal, bukan angka tetap. Bisa saja nominal tersebut baru tercapai jika target terpenuhi, lembur tinggi, atau bonus tertentu cair. Bagi karyawan, memahami detail seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar terpukau pada angka besar di awal.

 

Cara Menghitung Take Home Pay dengan Mudah

Cara menghitung take home pay sebenarnya cukup sederhana jika kamu memahami dua kelompok besar dalam slip gaji, yaitu pendapatan dan potongan. Rumus dasarnya adalah total pendapatan dikurangi total potongan.

Total pendapatan mencakup semua penghasilan yang diberikan perusahaan pada periode gajian tersebut. Komponennya bisa berupa gaji pokok, tunjangan makan, tunjangan transport, tunjangan jabatan, uang lembur, bonus, insentif, komisi, atau pendapatan lain yang sah.

Total potongan mencakup semua pengurang penghasilan. Komponennya bisa berupa PPh 21, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, pinjaman karyawan, koperasi, kasbon, potongan absensi, atau potongan lain sesuai aturan perusahaan.

Sebagai gambaran sederhana, misalnya seorang karyawan memiliki gaji pokok Rp8 juta, tunjangan transport Rp1 juta, dan tunjangan makan Rp1 juta. Total pendapatannya menjadi Rp10 juta. Jika pada bulan tersebut terdapat potongan pajak, BPJS, dan potongan internal sebesar Rp1 juta, maka take home pay yang diterima adalah Rp9 juta.

Contoh ini hanya simulasi sederhana. Dalam kondisi nyata, perhitungan bisa lebih detail karena setiap perusahaan memiliki struktur payroll yang berbeda. Ada perusahaan yang memasukkan tunjangan sebagai komponen tetap. Ada juga yang menghitung sebagian tunjangan berdasarkan kehadiran. Ada perusahaan yang menanggung pajak karyawan, ada pula yang memotong pajak dari penghasilan karyawan.

Karena itu, cara paling aman untuk mengetahui take home pay adalah membaca slip gaji secara lengkap. Jangan hanya melihat angka transfer. Perhatikan komponen pendapatan, jenis potongan, dan selisih antara gross salary dengan nominal bersih yang diterima.

Dengan kebiasaan ini, kamu bisa mengetahui apakah penurunan gaji terjadi karena pajak, BPJS, absensi, pinjaman, atau karena komponen bonus yang memang tidak cair pada bulan tersebut. Dari sini, kamu juga bisa lebih mudah menyusun anggaran bulanan karena angka yang digunakan adalah angka bersih, bukan angka perkiraan.

 

GooglXIDR - XStocks 2

 

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Melihat Gaji

Kesalahan paling umum saat melihat gaji adalah terlalu fokus pada angka besar di awal. Banyak orang langsung merasa sebuah offer menarik hanya karena nominalnya terlihat tinggi, padahal belum tahu apakah angka tersebut gross, nett, atau sudah termasuk komponen variabel seperti bonus dan insentif.

Kesalahan berikutnya adalah tidak menanyakan detail struktur gaji saat proses rekrutmen. Padahal, pertanyaan seperti “apakah nominal ini gross atau take home pay?” bisa mencegah salah ekspektasi. Pertanyaan ini juga menunjukkan bahwa kamu memahami cara membaca kompensasi secara profesional.

Banyak karyawan juga menganggap semua tunjangan pasti cair setiap bulan. Padahal, beberapa tunjangan bisa bersifat tidak tetap. Uang makan bisa bergantung pada kehadiran. Uang transport bisa bergantung pada hari kerja. Insentif bisa bergantung pada target. Bonus bisa bergantung pada performa individu, performa tim, atau kebijakan perusahaan.

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah tidak membaca slip gaji. Padahal, slip gaji adalah dokumen penting untuk memahami alur penghasilan. Di dalamnya, kamu bisa melihat berapa gaji pokok, berapa tunjangan, berapa pajak, berapa BPJS, dan potongan apa saja yang memengaruhi THP.

Jika slip gaji hanya dilihat sekilas, kamu bisa melewatkan perubahan kecil yang berdampak pada uang masuk. Misalnya, ada kenaikan potongan pinjaman, ada tunjangan yang tidak cair, atau ada penyesuaian pajak. Dengan membaca slip gaji secara rutin, kamu bisa lebih cepat mengetahui penyebab perubahan take home pay dari bulan ke bulan.

Cara melihat gaji seperti ini membuat kamu tidak mudah terkecoh oleh angka headline. Gaji besar memang menarik, tetapi yang menentukan ruang gerak finansial setiap bulan adalah uang bersih yang benar-benar tersedia untuk digunakan.

 

Kenapa Memahami Take Home Pay Itu Penting?

Memahami take home pay penting karena hampir semua keputusan keuangan pribadi berangkat dari angka bersih yang kamu terima. Dari sinilah kamu bisa mulai menyusun anggaran bulanan, menyiapkan dana darurat, hingga menentukan target investasi secara lebih realistis. Anggaran makan, transportasi, cicilan, tabungan, dana darurat, investasi, hingga kebutuhan keluarga sebaiknya dihitung dari THP, bukan dari gaji kotor. Dengan memahami arus uang bersih setiap bulan, kamu juga bisa menentukan strategi investasi yang lebih sehat tanpa mengganggu kebutuhan utama.

Jika kamu menyusun anggaran dari gross salary, perhitungan bisa terlalu optimistis. Misalnya, kamu merasa mampu menyisihkan Rp3 juta per bulan karena gaji tertulis Rp10 juta. Namun, setelah potongan, uang yang masuk hanya Rp8,7 juta. Selisih ini bisa membuat anggaran terasa sempit dan memicu penggunaan utang konsumtif jika tidak diantisipasi.

THP juga penting saat membandingkan dua offer kerja. Offer dengan angka gaji lebih besar belum tentu lebih baik jika potongannya besar, benefit-nya minim, atau komponen variabelnya terlalu dominan. Sebaliknya, offer dengan angka sedikit lebih kecil bisa lebih menarik jika take home pay stabil, benefit jelas, dan tunjangan lebih pasti.

Misalnya, perusahaan A menawarkan Rp12 juta gross dengan bonus tidak pasti. Perusahaan B menawarkan Rp10,5 juta nett dengan asuransi tambahan, uang makan tetap, dan sistem payroll yang jelas. Jika hanya melihat angka besar, perusahaan A terlihat lebih menarik. Namun, jika melihat stabilitas THP dan benefit, perusahaan B bisa jadi lebih sehat untuk kondisi finansial jangka panjang.

Pemahaman ini juga membantu kamu saat negosiasi gaji. Kamu tidak hanya meminta angka lebih tinggi, tetapi bisa bertanya dengan lebih tepat. Misalnya, apakah angka tersebut sudah termasuk tunjangan, apakah pajak ditanggung perusahaan, apakah BPJS dipotong dari karyawan, apakah ada bonus tetap, dan apakah ada komponen yang bergantung pada target.

Dengan begitu, negosiasi tidak berhenti pada “berapa gajinya”, tetapi masuk ke pertanyaan yang lebih matang: berapa uang bersih yang diterima, seberapa stabil nominalnya, dan benefit apa saja yang mendukung kondisi finansial kamu.

 

Kesimpulan

Take home pay adalah angka yang paling dekat dengan realita keuangan karyawan. Gaji pokok, gross salary, tunjangan, dan bonus memang penting untuk dipahami, tetapi uang yang benar-benar menentukan kemampuan mengatur hidup setiap bulan adalah nominal bersih yang masuk ke rekening.

Banyak orang kecewa saat gajian bukan karena perusahaan selalu salah menjelaskan, melainkan karena sejak awal tidak membedakan antara angka kotor dan angka bersih. Offer kerja terlihat besar, tetapi setelah pajak, BPJS, dan potongan lain dihitung, hasil akhirnya bisa berbeda cukup jauh.

Memahami take home pay membuat kamu lebih siap membaca offer letter, lebih cermat saat interview, dan lebih realistis dalam menyusun anggaran. Kamu juga bisa menilai sebuah pekerjaan bukan hanya dari angka yang terlihat besar, tetapi dari struktur kompensasi yang benar-benar memberi kepastian.

Pada akhirnya, gaji bukan sekadar nominal yang terdengar menarik saat dibicarakan. Gaji adalah fondasi keputusan finansial sehari-hari. Semakin kamu memahami cara kerja take home pay, semakin kecil kemungkinan kamu salah membaca penghasilan dan semakin matang pula cara kamu mengelola uang.

 

FAQ

1. Take home pay apakah sudah dipotong pajak?

Ya, take home pay biasanya sudah dipotong pajak penghasilan, BPJS, dan potongan lain yang berlaku di perusahaan. Karena itu, THP sering disebut sebagai gaji bersih yang benar-benar diterima karyawan setelah proses payroll selesai.

Namun, setiap perusahaan bisa memiliki cara penyebutan yang berbeda. Agar tidak salah paham, kamu tetap perlu memastikan apakah nominal yang disebutkan dalam offer kerja adalah gross, nett, atau sudah berupa take home pay.

2. Apa bedanya take home pay dan gaji pokok?

Gaji pokok adalah komponen dasar penghasilan sebelum ditambah tunjangan dan sebelum dikurangi potongan. Sementara itu, take home pay adalah jumlah akhir yang diterima karyawan setelah semua pendapatan dan potongan dihitung.

Dengan kata lain, gaji pokok belum tentu sama dengan uang yang masuk rekening. THP lebih menggambarkan kondisi penghasilan nyata karena sudah melewati perhitungan payroll.

3. Kenapa take home pay lebih kecil dari gaji saat interview?

Take home pay bisa lebih kecil karena angka yang disebut saat interview sering berupa gross salary. Artinya, angka tersebut masih perlu dikurangi pajak, BPJS, dan potongan lain sesuai kebijakan perusahaan.

Selain itu, beberapa perusahaan juga menyebut angka kompensasi yang sudah mencakup bonus, insentif, atau tunjangan tidak tetap. Jika komponen tersebut tidak cair setiap bulan, THP yang diterima bisa lebih kecil dari ekspektasi.

4. Apakah bonus termasuk take home pay?

Bonus bisa termasuk dalam take home pay jika bonus tersebut cair pada periode gajian yang sama. Misalnya, jika bonus performa dibayarkan pada bulan tertentu, maka nominal THP pada bulan itu bisa lebih besar dari bulan biasa.

Namun, bonus tidak selalu bersifat tetap. Karena itu, bonus sebaiknya tidak dijadikan dasar utama untuk menghitung kebutuhan rutin bulanan, kecuali perusahaan memang menetapkannya sebagai komponen tetap.

5. Bagaimana cara mengetahui take home pay dari offer kerja?

Cara paling aman adalah bertanya langsung kepada HR apakah nominal gaji yang ditawarkan bersifat gross, nett, atau take home pay. Kamu juga bisa menanyakan komponen apa saja yang termasuk dalam angka tersebut, seperti tunjangan, pajak, BPJS, bonus, dan insentif.

Pertanyaan ini membantu kamu memahami nilai sebenarnya dari offer kerja. Dengan begitu, kamu tidak hanya melihat angka besar di awal, tetapi juga mengetahui berapa estimasi uang bersih yang akan diterima.

6. Apakah take home pay setiap bulan bisa berubah?

Bisa. Take home pay dapat berubah jika ada perbedaan bonus, lembur, insentif, absensi, potongan pinjaman, atau penyesuaian pajak. Karena itu, THP tidak selalu sama setiap bulan, terutama jika sebagian penghasilan kamu bersifat variabel.

Untuk mengetahui penyebab perubahan tersebut, kamu bisa membandingkan slip gaji bulan berjalan dengan bulan sebelumnya. Dari sana, biasanya terlihat komponen mana yang naik, turun, atau tidak cair.

7. Mana yang lebih penting, gaji pokok atau take home pay?

Keduanya penting, tetapi fungsinya berbeda. Gaji pokok penting karena sering menjadi dasar perhitungan benefit, jenjang karier, dan beberapa hak karyawan. Take home pay penting karena menunjukkan uang bersih yang benar-benar bisa digunakan.

Untuk perencanaan keuangan bulanan, THP lebih relevan karena angkanya sudah mencerminkan penghasilan bersih. Namun, saat menilai karier jangka panjang, gaji pokok tetap perlu diperhatikan karena bisa memengaruhi struktur kompensasi secara keseluruhan.

 

Itulah informasi menarik tentang Take Home Pay yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.

Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.

 

Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.

Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!

Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.

 

Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]

 

Follow Sosmed Twitter Indodax sekarang

Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram

 

 

Author : RB

DISCLAIMER:  Segala bentuk transaksi aset kripto memiliki risiko dan berpeluang untuk mengalami kerugian. Tetap berinvestasi sesuai riset mandiri sehingga bisa meminimalisir tingkat kehilangan aset kripto yang ditransaksikan (Do Your Own Research/ DYOR). Informasi yang terkandung dalam publikasi ini diberikan secara umum tanpa kewajiban dan hanya untuk tujuan informasi saja. Publikasi ini tidak dimaksudkan untuk, dan tidak boleh dianggap sebagai, suatu penawaran, rekomendasi, ajakan atau nasihat untuk membeli atau menjual produk investasi apa pun dan tidak boleh dikirimkan, diungkapkan, disalin, atau diandalkan oleh siapa pun untuk tujuan apa pun.
  

Lebih Banyak dari Tutorial

Pelajaran Dasar

Calculate Staking Rewards with INDODAX earn

Select an option
dot Polkadot 2.25%
bnb BNB 0.52%
sol Solana 4.62%
eth Ethereum 2.32%
ada Cardano 1.02%
pol Polygon Ecosystem Token 1.87%
trx Tron 2.75%
DOT
0
Berdasarkan harga & APY saat ini
Stake Now

Pasar

Nama Harga 24H Chg
WNXM/IDR
Wrapped NX
978.950
37.35%
ZEREBRO/IDR
Zerebro
725
35.01%
BP/IDR
Backpack
11.711
33.43%
DEFI/IDR
DeFi
4
33.33%
MPRO/IDR
Max Proper
5
25%
Nama Harga 24H Chg
WTEC/IDR
World Trad
1
-50%
MBOX/IDR
MOBOX
38
-36.67%
UCJL/IDR
Utility Cj
28.024
-35.05%
HOME/IDR
Defi App
475
-26.81%
NEON/IDR
Neon EVM
329
-23.13%
Apakah artikel ini membantu?

Beri nilai untuk artikel ini

You already voted!
Artikel Terkait

Temukan lebih banyak artikel berdasarkan topik yang diminati.

Cara Cek Tipe HP dan Kelayakan untuk Trading
19/06/2026
Cara Cek Tipe HP dan Kelayakan untuk Trading

Banyak orang memakai HP setiap hari tanpa benar-benar memahami perangkat

19/06/2026
BNB vs ETH: Perbedaan, Fee, dan Kekuatan Ekosistem
18/06/2026
BNB vs ETH: Perbedaan, Fee, dan Kekuatan Ekosistem

Di permukaan, BNB dan ETH sering terlihat seperti dua aset

18/06/2026
Parithosh Jayanthi: Sosok Penting Ethereum Foundation
18/06/2026
Parithosh Jayanthi: Sosok Penting Ethereum Foundation

Ethereum tidak pernah berjalan sebagai sistem yang bisa diperbarui secara

18/06/2026