Banyak orang menganggap investasi saham hanya bisa dimulai dengan modal jutaan rupiah. Anggapan tersebut membuat sebagian calon investor ragu untuk mulai berinvestasi, padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Di Bursa Efek Indonesia (BEI), pembelian saham memiliki aturan minimum yang memungkinkan masyarakat mulai berinvestasi sesuai kemampuan finansial masing-masing.
Jika kamu sedang mencari jawaban mengenai minimal beli saham berapa lot, jawabannya sebenarnya cukup sederhana. Namun, memahami aturan tersebut saja belum cukup. Kamu juga perlu mengetahui bagaimana sistem lot bekerja, berapa modal yang harus disiapkan, mengapa BEI menggunakan sistem lot, hingga bagaimana cara menghitung biaya pembelian saham agar tidak salah memperkirakan dana yang dibutuhkan.
Melalui artikel ini, kamu akan mempelajari aturan minimum pembelian saham di Indonesia, contoh perhitungan modal berdasarkan harga saham, hingga berbagai hal penting yang perlu dipahami sebelum membeli saham pertama. Dengan begitu, kamu dapat memulai investasi dengan lebih percaya diri sekaligus memahami mekanisme perdagangan saham yang berlaku di pasar modal Indonesia.
Minimal Beli Saham Berapa Lot?
Sebelum menghitung berapa modal yang perlu disiapkan, hal pertama yang harus dipahami adalah aturan minimum pembelian saham di Bursa Efek Indonesia. Banyak orang mengira jumlah saham yang dibeli bisa ditentukan secara bebas, padahal transaksi saham di Indonesia menggunakan satuan tertentu yang disebut lot.
Jawaban singkatnya, minimal pembelian saham di Bursa Efek Indonesia adalah 1 lot.
Sesuai ketentuan BEI, 1 lot terdiri dari 100 lembar saham. Aturan ini berlaku untuk seluruh saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, baik saham perusahaan perbankan, emiten teknologi, perusahaan energi, maupun sektor lainnya.
Artinya, apabila suatu saham diperdagangkan pada harga Rp2.000 per lembar, maka jumlah minimum yang dapat dibeli adalah:
100 lembar × Rp2.000 = Rp200.000
Begitu pula apabila harga saham mencapai Rp8.500 per lembar, maka modal minimum yang diperlukan menjadi:
100 lembar × Rp8.500 = Rp850.000
Dengan kata lain, yang membedakan besarnya modal bukan jumlah lot minimum, melainkan harga saham yang dipilih. Semakin tinggi harga per lembar saham, semakin besar pula dana yang perlu disiapkan untuk membeli 1 lot.
Selain itu, pembelian saham dilakukan dalam kelipatan lot. Setelah membeli 1 lot, kamu dapat menambah kepemilikan menjadi 2 lot (200 lembar), 5 lot (500 lembar), 10 lot (1.000 lembar), dan seterusnya.
Perlu diketahui pula bahwa aturan minimum ini berlaku pada perdagangan reguler di BEI. Investor tidak dapat membeli saham sebanyak 20 lembar, 50 lembar, atau 75 lembar melalui pasar reguler karena sistem perdagangan telah menetapkan satuan minimum berupa lot.
Memahami aturan dasar ini akan membantumu menghitung kebutuhan modal dengan lebih akurat sebelum mulai berinvestasi. Selanjutnya, mari mengenal lebih jauh apa yang dimaksud dengan lot saham dan mengapa satuan tersebut digunakan dalam perdagangan saham.
Apa Itu Lot Saham?
Setelah mengetahui bahwa minimal pembelian saham adalah 1 lot, pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah, apa sebenarnya lot saham dan bagaimana satuan ini digunakan dalam setiap transaksi di Bursa Efek Indonesia? Memahami konsep ini penting karena hampir seluruh transaksi saham di Indonesia menggunakan satuan lot sebagai dasar perhitungan.
Lot saham adalah satuan standar yang digunakan dalam transaksi jual beli saham di Bursa Efek Indonesia. Dengan adanya satuan ini, proses perdagangan menjadi lebih teratur karena seluruh investor menggunakan ukuran transaksi yang sama.
Saat ini, 1 lot saham sama dengan 100 lembar saham. Ketentuan tersebut berlaku untuk seluruh emiten yang tercatat di BEI tanpa memandang sektor usaha maupun harga sahamnya.
Sebagai ilustrasi, berikut jumlah lembar saham berdasarkan jumlah lot.
| Jumlah Lot | Jumlah Lembar Saham |
| 1 lot | 100 lembar |
| 2 lot | 200 lembar |
| 5 lot | 500 lembar |
| 10 lot | 1.000 lembar |
| 25 lot | 2.500 lembar |
| 100 lot | 10.000 lembar |
Banyak investor pemula masih keliru menganggap harga saham yang muncul pada aplikasi investasi merupakan harga per lot. Padahal, harga yang ditampilkan selalu merupakan harga per lembar saham, bukan harga untuk 1 lot.
Sebagai contoh, apabila harga saham sebuah perusahaan berada di angka Rp1.250, maka nilai tersebut menunjukkan harga 1 lembar saham. Untuk mengetahui harga 1 lot, kamu tinggal mengalikannya dengan 100 lembar.
Contohnya:
Harga per lembar: Rp1.250
Harga 1 lot:
Rp1.250 × 100 = Rp125.000
Inilah alasan mengapa dua saham sama-sama memiliki minimum pembelian 1 lot, tetapi modal yang diperlukan bisa sangat berbeda. Perbedaannya berasal dari harga saham masing-masing emiten.
Selain mempermudah transaksi, penggunaan lot juga membantu menciptakan standar perdagangan yang seragam sehingga investor, perusahaan sekuritas, hingga sistem perdagangan BEI menggunakan satuan yang sama dalam setiap transaksi.
Memahami konsep lot akan membuatmu lebih mudah membaca informasi harga saham sekaligus menghitung kebutuhan modal sebelum melakukan pembelian. Setelah itu, menarik untuk mengetahui mengapa BEI menetapkan minimum transaksi sebesar 1 lot dan bagaimana aturan tersebut berkembang hingga digunakan seperti sekarang.
Mengapa BEI Menetapkan Minimum Pembelian 1 Lot?
Di balik aturan minimum pembelian saham, terdapat tujuan yang berkaitan dengan efisiensi perdagangan dan kemudahan akses bagi investor. Ketentuan ini bukan sekadar angka administratif, melainkan bagian dari mekanisme pasar yang dirancang agar transaksi di Bursa Efek Indonesia berlangsung lebih tertib dan likuid.
Secara umum, sistem lot diterapkan untuk menstandarkan ukuran transaksi sehingga seluruh pelaku pasar menggunakan satuan yang sama. Dengan standar tersebut, proses pencocokan order beli dan jual dapat berlangsung lebih efisien karena seluruh transaksi mengikuti aturan yang seragam.
Selain itu, penggunaan lot juga memberikan beberapa manfaat lain, antara lain:
- mempermudah proses perdagangan di bursa;
- menjaga keteraturan transaksi saham;
- meningkatkan efisiensi sistem perdagangan elektronik;
- mendukung likuiditas pasar karena transaksi menggunakan satuan yang seragam; dan
- memudahkan investor dalam menghitung nilai investasi maupun jumlah saham yang dimiliki.
Perubahan Aturan Lot Saham di Indonesia
Menariknya, jumlah 100 lembar dalam 1 lot bukanlah aturan yang sejak awal berlaku di Indonesia.
Sebelum tahun 2014, 1 lot saham terdiri dari 500 lembar saham. Artinya, investor harus menyediakan modal yang jauh lebih besar hanya untuk membeli saham dalam jumlah minimum.
Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat di pasar modal, Bursa Efek Indonesia kemudian mengubah ukuran lot menjadi 100 lembar saham per lot yang mulai berlaku pada 6 Januari 2014. Kebijakan tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam mendorong pertumbuhan jumlah investor ritel di Indonesia karena kebutuhan modal awal menjadi jauh lebih terjangkau dibandingkan sebelumnya.
Sebagai gambaran sederhana, jika suatu saham diperdagangkan pada harga Rp2.000 per lembar:
Sebelum 2014
500 lembar × Rp2.000 = Rp1.000.000
Setelah aturan baru
100 lembar × Rp2.000 = Rp200.000
Perubahan tersebut menurunkan kebutuhan modal minimum hingga lima kali lipat. Dengan demikian, lebih banyak masyarakat memiliki kesempatan untuk mulai berinvestasi tanpa harus menyiapkan dana yang terlalu besar.
Meski demikian, penting dipahami bahwa perubahan ukuran lot tidak membuat harga saham menjadi lebih murah. Yang berubah hanyalah jumlah lembar saham minimum yang dapat dibeli dalam satu transaksi. Nilai investasi tetap mengikuti harga pasar masing-masing emiten.
Kini, setelah memahami alasan di balik penggunaan sistem lot serta sejarah perubahan aturannya, pertanyaan berikutnya yang paling sering muncul adalah berapa modal yang sebenarnya perlu disiapkan untuk membeli saham? Pada bagian selanjutnya, kita akan membahas cara menghitung modal minimal beserta contoh perhitungannya agar kamu dapat memperkirakan kebutuhan dana dengan lebih akurat.
Berapa Modal Minimal untuk Membeli Saham?
Setelah mengetahui bahwa minimal pembelian saham di Bursa Efek Indonesia adalah 1 lot atau 100 lembar saham, langkah berikutnya adalah menghitung berapa modal yang perlu disiapkan. Pertanyaan ini sering muncul karena banyak orang mengira terdapat nominal minimum tertentu untuk mulai berinvestasi saham.
Sebenarnya, tidak ada aturan yang menetapkan jumlah uang minimum untuk membeli saham. Besarnya modal bergantung pada harga saham yang ingin kamu beli di pasar.
Perhitungannya cukup sederhana.
Modal membeli 1 lot = Harga saham per lembar × 100 lembar
Karena harga saham setiap emiten berbeda, kebutuhan modal setiap investor juga akan berbeda.
Sebagai ilustrasi, berikut contoh perhitungannya.
| Harga Saham per Lembar | Harga 1 Lot (100 Lembar) |
| Rp500 | Rp50.000 |
| Rp1.000 | Rp100.000 |
| Rp2.500 | Rp250.000 |
| Rp5.000 | Rp500.000 |
| Rp10.000 | Rp1.000.000 |
Dari contoh di atas terlihat bahwa membeli saham tidak selalu membutuhkan modal besar. Bahkan, apabila kamu memilih saham dengan harga Rp500 per lembar, modal yang diperlukan untuk membeli 1 lot hanya sekitar Rp50.000, belum termasuk biaya transaksi dari perusahaan sekuritas.
Di sisi lain, apabila harga saham yang dipilih lebih tinggi, maka modal awal yang dibutuhkan juga akan meningkat. Oleh karena itu, investor sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan harga saham, tetapi juga memahami kondisi perusahaan, prospek bisnis, serta tujuan investasinya.
Hal lain yang perlu diingat adalah harga saham berubah setiap hari selama jam perdagangan berlangsung. Artinya, kebutuhan modal yang dihitung hari ini bisa berbeda ketika kamu melakukan transaksi beberapa hari kemudian.
Contoh Menghitung Modal Beli 1 Lot Saham
Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh sederhana cara menghitung modal pembelian saham.
Misalkan terdapat saham perusahaan dengan harga Rp2.750 per lembar.
Perhitungannya adalah:
Rp2.750 × 100 lembar = Rp275.000
Artinya, kamu memerlukan dana sekitar Rp275.000 untuk membeli 1 lot saham tersebut, di luar biaya transaksi yang dikenakan perusahaan sekuritas.
Contoh lainnya, apabila harga saham berada di angka Rp7.850 per lembar, maka kebutuhan modal menjadi:
Rp7.850 × 100 lembar = Rp785.000
Melalui perhitungan sederhana ini, kamu bisa memperkirakan kebutuhan dana sebelum melakukan pembelian saham. Cara tersebut juga membantu dalam menyusun anggaran investasi secara lebih terencana.
Namun, harga saham bukan satu-satunya komponen yang perlu diperhitungkan. Saat melakukan transaksi, terdapat beberapa biaya tambahan yang juga akan memengaruhi total dana yang harus disiapkan.
Apakah Bisa Membeli Saham Kurang dari 1 Lot?
Setelah mengetahui bahwa minimal pembelian saham adalah 1 lot, tidak sedikit calon investor yang bertanya apakah mereka bisa membeli saham dalam jumlah lebih sedikit, misalnya 20 lembar, 50 lembar, atau 75 lembar. Pertanyaan ini cukup wajar, terutama bagi pemula yang ingin mencoba investasi dengan modal sekecil mungkin.
Jawabannya adalah tidak bisa, setidaknya untuk transaksi yang dilakukan di Pasar Reguler Bursa Efek Indonesia.
Saat kamu memasukkan order beli melalui aplikasi sekuritas, sistem perdagangan BEI hanya akan menerima pembelian dalam kelipatan 1 lot, yaitu:
- 1 lot = 100 lembar
- 2 lot = 200 lembar
- 5 lot = 500 lembar
- 10 lot = 1.000 lembar
Karena itu, kamu tidak dapat membeli saham sebanyak 30 lembar atau 80 lembar melalui mekanisme perdagangan reguler.
Aturan ini berlaku sama untuk seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, baik saham berkapitalisasi besar (blue chip), saham lapis kedua, maupun saham dengan harga relatif rendah.
Mengapa Tidak Bisa Membeli Kurang dari 1 Lot?
Penggunaan satuan lot bertujuan menciptakan standar perdagangan yang seragam sehingga seluruh transaksi di bursa berlangsung lebih efisien. Dengan sistem tersebut, proses pencocokan antara order beli dan order jual dapat dilakukan secara otomatis oleh sistem perdagangan BEI.
Selain meningkatkan efisiensi, aturan ini juga membantu menjaga likuiditas pasar karena seluruh investor menggunakan ukuran transaksi yang sama.
Bagaimana dengan Saham Luar Negeri?
Jika kamu pernah membaca bahwa investor dapat membeli sebagian kecil saham perusahaan seperti Apple, Microsoft, atau NVIDIA, informasi tersebut memang benar. Namun, mekanisme tersebut berlaku di beberapa pasar saham luar negeri yang telah menerapkan fractional shares.
Fractional shares memungkinkan investor membeli sebagian kepemilikan saham tanpa harus membeli satu lembar penuh. Sebagai contoh, seseorang dapat membeli saham senilai US$20 meskipun harga satu lembar saham jauh lebih tinggi.
Berbeda dengan beberapa bursa internasional tersebut, Bursa Efek Indonesia saat ini belum menerapkan sistem fractional shares. Oleh karena itu, pembelian saham di Indonesia tetap mengikuti aturan minimum 1 lot atau 100 lembar saham.
Memahami perbedaan ini penting agar kamu tidak salah mengartikan informasi yang beredar di internet, terutama ketika membaca artikel atau menonton konten yang membahas pasar saham luar negeri.
Cara Menghitung Harga 1 Lot Saham
Salah satu keterampilan dasar yang perlu dimiliki investor adalah menghitung harga 1 lot saham. Perhitungan ini sangat sederhana, tetapi akan memudahkan dalam menentukan berapa modal yang perlu disiapkan sebelum melakukan transaksi.
Rumusnya adalah sebagai berikut.
Harga 1 lot = Harga saham per lembar × 100 lembar
Misalnya, harga suatu saham berada pada angka Rp850 per lembar.
Maka:
Rp850 × 100 = Rp85.000
Artinya, harga 1 lot saham tersebut adalah Rp85.000.
Contoh lain:
| Harga per Lembar | Harga 1 Lot |
| Rp650 | Rp65.000 |
| Rp1.250 | Rp125.000 |
| Rp3.000 | Rp300.000 |
| Rp6.500 | Rp650.000 |
| Rp12.000 | Rp1.200.000 |
Perhitungan tersebut bisa diterapkan pada seluruh saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia karena semuanya menggunakan ukuran lot yang sama.
Meski demikian, perlu dipahami bahwa angka yang muncul pada aplikasi perdagangan saham adalah harga per lembar, bukan harga per lot. Oleh sebab itu, sebelum membeli saham, biasakan untuk menghitung terlebih dahulu nilai investasi yang akan dikeluarkan agar sesuai dengan anggaran yang telah disiapkan.
Dengan mengetahui cara menghitung harga 1 lot, kamu tidak hanya lebih mudah menentukan modal investasi, tetapi juga dapat membandingkan berbagai saham berdasarkan kemampuan finansial. Pada bagian berikutnya, kita akan membahas biaya tambahan selain harga saham, seperti biaya transaksi dan komponen lain yang turut memengaruhi total dana saat membeli saham.
Biaya Selain Harga Saham yang Perlu Kamu Ketahui
Banyak investor pemula mengira dana yang perlu disiapkan hanya sebesar harga saham yang ingin dibeli. Padahal, ketika melakukan transaksi di pasar modal, terdapat beberapa biaya tambahan yang turut memengaruhi total nilai transaksi.
Meski nominalnya relatif kecil, memahami komponen biaya ini akan membantumu menghitung kebutuhan modal dengan lebih akurat sekaligus menghindari kesalahan saat pertama kali membeli saham.
Secara umum, biaya transaksi saham terdiri dari beberapa komponen berikut.
1. Biaya Broker (Brokerage Fee)
Biaya broker merupakan biaya layanan yang dikenakan oleh perusahaan sekuritas setiap kali investor melakukan transaksi jual maupun beli saham.
Besaran biaya ini berbeda pada setiap perusahaan sekuritas. Oleh karena itu, sebelum membuka rekening efek, sebaiknya kamu membandingkan struktur biaya transaksi yang ditawarkan agar sesuai dengan kebutuhan investasi.
2. Pajak atas Transaksi Saham
Selain biaya broker, transaksi saham juga dikenai ketentuan perpajakan sesuai regulasi yang berlaku di Indonesia.
Besaran pajak dapat berubah mengikuti kebijakan pemerintah sehingga investor sebaiknya selalu mengacu pada informasi resmi dari Bursa Efek Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maupun perusahaan sekuritas tempat melakukan transaksi.
3. Biaya Bursa dan Kliring
Dalam setiap transaksi saham juga terdapat biaya yang berkaitan dengan proses penyelesaian transaksi di pasar modal. Biaya tersebut merupakan bagian dari mekanisme perdagangan yang mendukung proses penyelesaian transaksi secara aman dan teratur.
Sebagai investor, kamu tidak perlu menghitung seluruh komponen tersebut secara manual karena biasanya biaya sudah dihitung otomatis oleh aplikasi sekuritas ketika order berhasil dieksekusi.
Berapa Dana yang Sebaiknya Disiapkan?
Sebagai langkah yang lebih aman, banyak investor memilih menyiapkan dana sedikit lebih besar dibandingkan nilai pembelian saham.
Misalnya, apabila hasil perhitungan menunjukkan kebutuhan modal sekitar Rp500.000 untuk membeli 1 lot saham, kamu dapat menyiapkan dana tambahan sebagai antisipasi biaya transaksi maupun perubahan harga saham yang terjadi sebelum order dieksekusi.
Cara sederhana ini membantu memastikan transaksi tetap dapat dilakukan tanpa terkendala kekurangan saldo ketika harga saham bergerak naik.
Memahami komponen biaya transaksi akan membuat perencanaan investasimu menjadi lebih realistis. Setelah mengetahui total dana yang perlu disiapkan, langkah berikutnya adalah memahami bagaimana proses membeli saham pertama kali.
Cara Membeli Saham Pertama untuk Pemula
Membeli saham saat ini jauh lebih mudah dibandingkan beberapa tahun lalu. Seluruh proses, mulai dari pembukaan rekening hingga transaksi, dapat dilakukan secara online melalui perusahaan sekuritas yang telah memiliki izin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Apabila kamu baru ingin memulai investasi, berikut tahapan yang umumnya perlu dilakukan.
1. Pilih Perusahaan Sekuritas
Langkah pertama adalah memilih perusahaan sekuritas yang telah memperoleh izin usaha dari OJK dan menjadi anggota Bursa Efek Indonesia.
Saat memilih sekuritas, perhatikan beberapa aspek berikut:
- biaya transaksi;
- kemudahan penggunaan aplikasi;
- kualitas layanan pelanggan;
- fitur analisis dan edukasi; serta
- keamanan sistem.
Memilih perusahaan sekuritas yang tepat akan memberikan pengalaman investasi yang lebih nyaman, terutama bagi investor pemula.
2. Buka Rekening Efek
Setelah menentukan perusahaan sekuritas, kamu perlu membuka rekening efek sebagai sarana untuk melakukan transaksi saham.
Proses pembukaan rekening biasanya dilakukan secara digital dengan mengunggah dokumen identitas dan mengikuti proses verifikasi sesuai ketentuan yang berlaku.
3. Lakukan Deposit Dana
Setelah rekening efek aktif, langkah berikutnya adalah melakukan penyetoran dana ke rekening dana nasabah (RDN).
Dana inilah yang nantinya digunakan untuk membeli saham di Bursa Efek Indonesia.
Besarnya dana yang disetor sepenuhnya bergantung pada rencana investasimu. Tidak ada ketentuan yang mewajibkan investor menyetor dana dalam jumlah tertentu selain ketentuan minimum yang mungkin ditetapkan oleh masing-masing perusahaan sekuritas.
4. Pilih Saham yang Ingin Dibeli
Sebelum membeli saham, lakukan riset terlebih dahulu mengenai perusahaan yang akan dipilih.
Beberapa faktor yang dapat menjadi bahan pertimbangan antara lain:
- kondisi bisnis perusahaan;
- laporan keuangan;
- prospek pertumbuhan;
- sektor industri; serta
- valuasi saham.
Hindari membeli saham hanya karena mengikuti tren atau rekomendasi yang belum tentu sesuai dengan tujuan investasimu.
5. Masukkan Order Pembelian
Setelah menentukan saham, masukkan jumlah pembelian dalam kelipatan lot sesuai aturan Bursa Efek Indonesia.
Sebagai contoh, apabila ingin membeli saham sebanyak 300 lembar, maka order yang dimasukkan adalah 3 lot, bukan 300 lembar.
Pastikan juga saldo pada rekening dana nasabah mencukupi untuk menutup nilai transaksi beserta biaya yang dikenakan.
6. Pantau Perkembangan Investasi
Membeli saham bukanlah akhir dari proses investasi.
Setelah transaksi berhasil dilakukan, biasakan memantau perkembangan perusahaan, laporan keuangan, aksi korporasi, serta kondisi pasar secara berkala.
Dengan begitu, keputusan investasi yang diambil akan lebih didasarkan pada analisis dibandingkan emosi sesaat.
Kini kamu telah memahami proses membeli saham dari awal hingga transaksi berhasil dilakukan. Namun, masih ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan investor pemula ketika mulai berinvestasi.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Investor Pemula Saat Membeli Saham
Memahami aturan minimum pembelian saham memang penting, tetapi keberhasilan investasi juga dipengaruhi oleh cara mengambil keputusan. Tidak sedikit investor pemula yang mengalami kerugian bukan karena sistem perdagangan, melainkan akibat kesalahan yang sebenarnya dapat dihindari.
Berikut beberapa kesalahan yang paling sering terjadi.
Membeli Saham Hanya Karena Sedang Populer
Salah satu kesalahan yang paling umum adalah membeli saham hanya karena sedang ramai dibicarakan di media sosial atau komunitas investasi.
Padahal, popularitas suatu saham tidak selalu mencerminkan kualitas fundamental perusahaan maupun prospek bisnisnya.
Sebelum membeli saham, pastikan kamu memahami alasan di balik keputusan investasi tersebut.
Menganggap Saham Murah Selalu Lebih Baik
Banyak investor pemula beranggapan bahwa saham dengan harga ratusan rupiah pasti lebih menguntungkan dibandingkan saham yang harganya ribuan rupiah.
Faktanya, harga saham yang rendah tidak selalu menunjukkan bahwa saham tersebut lebih murah secara valuasi maupun memiliki potensi kenaikan yang lebih besar.
Yang lebih penting adalah memahami kualitas bisnis perusahaan, pertumbuhan laba, serta prospek jangka panjangnya.
Tidak Memiliki Tujuan Investasi
Investasi tanpa tujuan yang jelas sering kali membuat investor mudah panik ketika harga saham mengalami fluktuasi.
Sebelum membeli saham, tentukan terlebih dahulu tujuan investasimu, misalnya untuk dana pensiun, pendidikan, atau membangun kekayaan dalam jangka panjang.
Tujuan yang jelas akan membantumu menentukan strategi investasi yang lebih tepat.
Mengabaikan Diversifikasi
Menempatkan seluruh dana pada satu saham memang berpotensi memberikan keuntungan yang besar apabila harga naik. Namun, risiko kerugiannya juga menjadi jauh lebih tinggi apabila harga bergerak berlawanan.
Menerapkan diversifikasi investasi dengan memiliki beberapa saham dari sektor yang berbeda dapat membantu mengurangi risiko sekaligus menjaga keseimbangan portofolio.
Terlalu Sering Melihat Pergerakan Harga
Fluktuasi harga saham setiap hari merupakan hal yang normal. Namun, terlalu sering memantau pergerakan harga dapat memicu keputusan yang didasarkan pada emosi, bukan analisis.
Bagi investor dengan tujuan jangka panjang, fokuslah pada perkembangan bisnis perusahaan dan strategi investasi yang telah disusun, bukan hanya perubahan harga harian.
Dengan memahami berbagai kesalahan tersebut, kamu dapat membangun kebiasaan investasi yang lebih disiplin sejak awal. Pada bagian berikutnya, kita akan membahas beberapa tips sederhana yang dapat membantu memulai investasi saham meskipun dengan modal yang masih terbatas.
Tips Memulai Investasi Saham dengan Modal Terbatas
Memiliki modal yang belum besar bukan berarti kamu harus menunda investasi saham. Justru, banyak investor berpengalaman memulai perjalanan investasinya dengan dana yang relatif kecil, kemudian meningkatkan nilai investasinya secara bertahap seiring waktu.
Yang terpenting bukan seberapa besar modal awal, melainkan konsistensi dalam berinvestasi dan kemampuan mengambil keputusan berdasarkan analisis, bukan emosi.
Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan jika kamu ingin mulai berinvestasi saham dengan modal terbatas.
1. Mulailah Sesuai Kemampuan Finansial
Tidak ada aturan yang mengharuskan investor langsung membeli banyak lot saham. Kamu dapat memulai dari jumlah yang sesuai dengan kondisi keuangan, selama tetap memenuhi ketentuan minimum pembelian di Bursa Efek Indonesia.
Hindari menggunakan dana kebutuhan sehari-hari atau dana darurat untuk membeli saham. Sebaiknya, gunakan dana yang memang telah dialokasikan khusus untuk investasi.
2. Fokus pada Konsistensi, Bukan Nominal
Kesalahan yang sering dilakukan investor pemula adalah menunggu memiliki modal besar sebelum mulai berinvestasi.
Padahal, membangun kebiasaan berinvestasi secara rutin sering kali memberikan hasil yang lebih baik dalam jangka panjang dibandingkan menunda investasi sambil menunggu modal bertambah.
Konsistensi juga membantumu memahami dinamika pasar secara bertahap tanpa harus mengambil risiko yang terlalu besar di awal.
3. Pelajari Perusahaan Sebelum Membeli Saham
Harga saham yang rendah belum tentu menunjukkan bahwa perusahaan tersebut layak dijadikan investasi.
Sebelum membeli saham, lakukan analisis fundamental dengan mempelajari model bisnis, laporan keuangan, prospek pertumbuhan, serta berbagai risiko yang mungkin dihadapi perusahaan.
Dengan memahami perusahaan yang dipilih, keputusan investasi akan lebih didasarkan pada analisis dibandingkan spekulasi.
4. Hindari FOMO
Pergerakan harga saham sering kali dipengaruhi oleh sentimen pasar. Tidak sedikit investor yang membeli saham hanya karena melihat harganya sedang naik atau ramai diperbincangkan.
Keputusan seperti ini berisiko membuat investor membeli saham pada harga yang sudah terlalu tinggi.
Sebaiknya, tetap berpegang pada strategi investasi yang telah disusun dan jangan mudah terpengaruh oleh tren jangka pendek.
5. Bangun Portofolio Secara Bertahap
Seiring bertambahnya pengalaman dan kemampuan finansial, kamu dapat mulai melakukan diversifikasi ke beberapa saham dari sektor yang berbeda.
Diversifikasi dapat membantu mengurangi risiko apabila salah satu saham mengalami penurunan harga, sehingga portofolio menjadi lebih seimbang.
Dengan menerapkan beberapa tips tersebut, proses memulai investasi saham akan terasa lebih terarah. Selain itu, kamu juga dapat menghindari berbagai kesalahan yang sering dialami investor pemula ketika baru memasuki pasar modal.
Mitos tentang Minimal Beli Saham
Masih banyak informasi yang beredar mengenai investasi saham, tetapi tidak semuanya sesuai dengan fakta. Beberapa anggapan berikut bahkan sering membuat seseorang menunda untuk mulai berinvestasi.
Mitos 1: Investasi Saham Harus Punya Modal Jutaan Rupiah
Fakta:
Tidak ada aturan yang mewajibkan investor memiliki modal jutaan rupiah untuk membeli saham.
Besarnya modal ditentukan oleh harga saham yang dipilih. Apabila harga suatu saham Rp500 per lembar, maka kebutuhan dana untuk membeli 1 lot sekitar Rp50.000 di luar biaya transaksi.
Mitos 2: Semakin Banyak Lot yang Dibeli, Semakin Pasti Untung
Fakta:
Jumlah lot hanya menunjukkan banyaknya saham yang dimiliki, bukan jaminan keuntungan.
Keuntungan investasi dipengaruhi oleh perubahan harga saham, kinerja perusahaan, potensi dividen saham, strategi investasi, serta waktu pembelian dan penjualan.
Mitos 3: Semua Saham Mahal
Fakta:
Harga saham di Bursa Efek Indonesia sangat beragam. Ada saham dengan harga ratusan rupiah per lembar, ada pula yang mencapai puluhan ribu rupiah per lembar.
Karena itu, kebutuhan modal setiap investor dapat berbeda meskipun sama-sama membeli 1 lot.
Mitos 4: Harga Saham Murah Selalu Lebih Menguntungkan
Fakta:
Harga saham yang rendah bukan berarti saham tersebut memiliki potensi keuntungan yang lebih besar.
Dalam investasi saham, kualitas perusahaan, fundamental bisnis, prospek pertumbuhan, dan valuasi jauh lebih penting dibandingkan hanya melihat harga saham.
Mitos 5: Investor Pemula Tidak Bisa Memulai Investasi Saham
Fakta:
Saat ini proses membuka rekening efek dan membeli saham dapat dilakukan secara online melalui perusahaan sekuritas yang telah berizin. Dengan memahami dasar-dasar investasi dan menerapkan manajemen risiko yang baik, siapa pun dapat mulai berinvestasi sesuai kemampuan finansialnya.
Meluruskan berbagai mitos tersebut penting agar keputusan investasi didasarkan pada informasi yang benar, bukan sekadar anggapan yang beredar di masyarakat.
Kesimpulan
Minimal pembelian saham di Bursa Efek Indonesia adalah 1 lot atau 100 lembar saham. Ketentuan ini berlaku untuk seluruh saham yang diperdagangkan di BEI sehingga investor tidak dapat membeli saham kurang dari 1 lot pada pasar reguler.
Meski demikian, tidak ada nominal minimum yang ditetapkan untuk mulai berinvestasi saham. Besarnya modal bergantung pada harga saham yang dipilih. Semakin tinggi harga per lembar saham, semakin besar pula dana yang perlu disiapkan untuk membeli 1 lot.
Selain memahami aturan lot, investor juga sebaiknya mengetahui cara menghitung kebutuhan modal, memperhitungkan biaya transaksi, memilih perusahaan sekuritas yang terpercaya, serta memahami risiko investasi sebelum membeli saham.
Dengan bekal pengetahuan tersebut, kamu dapat memulai investasi saham secara lebih terencana, menyesuaikan dengan tujuan keuangan, serta membangun portofolio secara bertahap sesuai kemampuan finansial.
FAQ
1. Apakah minimal beli saham harus 1 lot?
Ya. Pada pasar reguler Bursa Efek Indonesia, minimum pembelian saham adalah 1 lot yang terdiri dari 100 lembar saham.
2. Berapa lembar saham dalam 1 lot?
Saat ini, 1 lot sama dengan 100 lembar saham untuk seluruh emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
3. Berapa modal minimal untuk membeli saham?
Tidak ada nominal minimum yang berlaku untuk semua saham. Modal bergantung pada harga saham per lembar. Untuk menghitungnya, kalikan harga saham dengan 100 lembar.
4. Apakah semua saham memiliki aturan minimum pembelian yang sama?
Ya. Semua saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia mengikuti aturan minimum pembelian 1 lot atau 100 lembar saham.
5. Apakah bisa membeli saham kurang dari 100 lembar?
Tidak bisa pada pasar reguler BEI. Pembelian harus dilakukan dalam kelipatan 1 lot, seperti 1 lot, 2 lot, atau 5 lot.
6. Mengapa Bursa Efek Indonesia menggunakan sistem lot?
Sistem lot digunakan untuk menstandarkan transaksi, meningkatkan efisiensi perdagangan, serta menjaga keteraturan dan likuiditas pasar saham.
7. Bagaimana cara menghitung harga 1 lot saham?
Gunakan rumus sederhana:
Harga saham per lembar × 100 lembar = Harga 1 lot saham.
8. Apakah harga 1 lot saham selalu sama?
Tidak. Harga saham berubah mengikuti aktivitas perdagangan di pasar. Karena itu, nilai 1 lot juga akan berubah sesuai harga saham pada saat transaksi dilakukan.
9. Apakah membeli 1 lot saham sudah bisa mendapatkan dividen?
Bisa. Investor yang memiliki minimal 1 lot saham berhak memperoleh dividen apabila perusahaan membagikan dividen dan investor tercatat sebagai pemegang saham pada cum date sesuai ketentuan yang berlaku.
10. Apakah investasi saham cocok dimulai dengan modal kecil?
Ya. Selama memahami risiko investasi, memilih saham berdasarkan analisis, dan berinvestasi sesuai kemampuan finansial, memulai investasi dengan modal kecil dapat menjadi langkah awal yang baik untuk membangun portofolio dalam jangka panjang.
Itulah informasi menarik tentang minimal beli saham berapa lot? yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram





Polkadot 2.25%
BNB 0.30%
Solana 4.19%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
