Diskon Adalah Potongan Harga, Ini Contohnya!
icon search
icon search

Top Performers

Diskon: Jenis, Tujuan, Contoh, & Risikonya untuk Bisnis

Home / Artikel & Tutorial / judul_artikel

Diskon: Jenis, Tujuan, Contoh, & Risikonya untuk Bisnis

Diskon: Jenis, Tujuan, Contoh, & Risikonya untuk Bisnis

Daftar Isi

Diskon itu sederhana di permukaan: harga jadi lebih murah. Tapi di balik angka yang dicoret dan label “hemat”, diskon sebenarnya adalah strategi yang bisa membentuk keputusan belanja, mengubah kebiasaan konsumen, bahkan menentukan napas sebuah bisnis. 

Ada diskon yang terasa wajar dan membantu pembeli, ada juga diskon yang bikin orang belanja impulsif lalu menyesal setelahnya.

Secara pengertian, diskon adalah potongan harga atau pengurangan nilai jual barang/jasa yang diberikan penjual kepada pembeli sebagai strategi promosi bisa berupa persentase atau nominal tertentu, dan berlaku di transaksi offline maupun online.

Kalimat ini terdengar rapi, tapi yang membuatnya menarik adalah “mengapa diskon begitu efektif” dan “kapan diskon justru merugikan”.

Apa itu Diskon dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Diskon bekerja seperti jalan pintas dalam mengambil keputusan. Ketika otak melihat “harga awal” lalu dibandingkan dengan “harga setelah diskon”, kita merasa sedang menang. Ada sensasi “dapat kesempatan” yang muncul cepat bahkan sebelum kita memastikan barang itu benar-benar dibutuhkan.

Dalam praktiknya, diskon tidak selalu berarti penjual rugi. Ada bisnis yang memang sudah menyiapkan margin khusus untuk promo. Ada juga yang mengakali dengan bundling, menaikkan harga awal, atau mengarahkan pembelian ke produk tertentu yang perputaran stoknya lambat.

Hal yang sering dilupakan: diskon bukan cuma tentang angka, tapi tentang persepsi nilai. Dua produk dengan kualitas mirip bisa terasa berbeda hanya karena satu diberi label “diskon 30%”.

 

Artikel Terkait Lainnya: Flash Sale: 10 Fakta Penting di Balik Diskon Kilat

 

Jenis-Jenis Diskon yang Paling Sering Dipakai

Diskon hadir dalam banyak bentuk. Setiap jenis punya tujuan yang berbeda, dan cara kerjanya pun tidak selalu sama.

Diskon persentase adalah yang paling mudah dipahami, misalnya 10%, 25%, atau 50%. Cocok untuk produk yang harganya bervariasi, karena pembeli merasa “makin mahal barangnya, makin besar hematnya”.

Diskon nominal biasanya berupa potongan Rp20.000, Rp50.000, atau Rp100.000. Ini terasa lebih “nyata” untuk harga menengah karena nominalnya langsung terlihat tanpa perlu menghitung.

Diskon bertingkat muncul ketika potongannya naik sesuai jumlah belanja, misalnya belanja Rp300.000 diskon 10%, belanja Rp500.000 diskon 15%. Secara halus, pembeli didorong menaikkan total belanja agar “tanggung kalau berhenti sekarang”.

Diskon musiman atau event biasanya muncul di momen tertentu seperti akhir tahun, Ramadan, atau ulang tahun brand. Tujuannya membangun kebiasaan: orang menunggu momen itu, dan bisnis mendapat lonjakan transaksi dalam waktu pendek.

Diskon bundling adalah paket hemat, misalnya beli 2 gratis 1, atau beli paket skincare A+B lebih murah daripada beli satuan. Ini efektif untuk menaikkan volume barang keluar tanpa harus “membunuh” harga satu produk saja.

Diskon loyalitas diberikan untuk pelanggan tertentu—member, repeat buyer, atau pengguna aplikasi. Diskon ini terasa lebih personal, karena pembeli merasa “dianggap spesial”, bukan sekadar disapu promo massal.

 

Tujuan Diskon dalam Pemasaran

Kalau dilihat dari sisi bisnis, diskon bukan cuma cara agar barang cepat laku. Diskon bisa punya beberapa misi yang lebih strategis.

Pertama, meningkatkan penjualan dalam waktu singkat. Ini yang paling umum. Ketika toko butuh cashflow, diskon bisa jadi tombol cepat untuk menggerakkan transaksi.

Kedua, menghabiskan stok lama. Produk musiman, barang mendekati expired (untuk kategori tertentu), atau koleksi lama biasanya butuh “alasan” agar cepat keluar. Diskon membuat pembeli lebih menerima, karena mereka merasa dapat harga pantas.

Ketiga, menarik pelanggan baru. Banyak orang mencoba brand baru karena diskon. Setelah mencoba, kalau pengalaman bagus, mereka bisa kembali tanpa diskon. Ini yang ideal.

Keempat, mengarahkan pembelian ke produk tertentu. Misalnya sebuah toko punya margin tinggi di kategori tertentu, maka diskon tipis pun tetap menguntungkan, tapi membuat produk terlihat lebih menarik dibanding kompetitor.

Kelima, membentuk persepsi kompetitif. Di industri yang ramai, diskon sering dipakai sebagai “pernyataan” bahwa brand tersebut aktif, agresif, dan siap bertarung memperebutkan perhatian pasar.

 

Artikel Terkait:  Brand Activation: Cara Bikin Merek “Hidup” & Nempel di Ingatan

 

Contoh Diskon di Kehidupan Sehari-hari

Agar lebih terasa nyata, ini beberapa contoh diskon yang sering terjadi tanpa kita sadari dampaknya.

Contoh 1: Minimarket menawarkan “diskon 20% khusus member aplikasi”. Kamu awalnya cuma mau beli air mineral, tapi akhirnya download aplikasi dan belanja lebih banyak supaya potongannya “kerasa”. Strategi ini sebenarnya bukan cuma diskon, tapi akuisisi pengguna.

Contoh 2: Marketplace memberi “voucher Rp30.000 minimal belanja Rp200.000”. Banyak orang yang awalnya mau beli satu barang Rp160.000, akhirnya menambah barang lain agar memenuhi syarat voucher. Diskon dipakai sebagai pendorong kenaikan nilai transaksi.

Contoh 3: Brand fashion mengadakan “clearance sale 70%”. Barang yang tersisa biasanya bukan yang paling dicari, tapi diskon besar membuat orang merasa rugi kalau tidak beli. Padahal bisa jadi yang dibeli akhirnya jarang dipakai.

Contoh 4: Restoran menawarkan “weekday promo buy 1 get 1”. Tujuannya mengisi kursi di jam sepi. Restoran tidak selalu kehilangan uang, karena mereka mengejar volume dan efisiensi operasional.

 

Dampak Diskon pada Konsumen

Diskon bisa menguntungkan konsumen—kalau digunakan dengan sadar. Tapi diskon juga punya efek psikologis yang halus.

Dampak positifnya jelas: konsumen bisa menghemat biaya, membeli barang berkualitas dengan harga lebih rendah, atau mencoba produk baru tanpa takut rugi besar. Diskon juga membantu ketika kebutuhan sedang banyak, misalnya belanja bulanan atau perlengkapan sekolah.

Namun, ada dampak yang lebih rumit: diskon bisa mengubah cara orang menilai kebutuhan. Saat harga turun, sesuatu yang tadinya “tidak penting” bisa terasa “wajib dibeli”. Ini memicu pembelian impulsif.

Diskon juga bisa membuat konsumen terbiasa menunggu promo. Akhirnya mereka sulit membeli dengan harga normal, bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa “harga normal itu kemahalan”. Ini sering terjadi pada produk yang terlalu sering diskon besar.

Ada juga efek “overbuying”: membeli lebih banyak dari yang diperlukan hanya karena takut promo berakhir. Barang menumpuk, sebagian rusak, atau akhirnya tidak terpakai.

 

Risiko Diskon untuk Bisnis

Diskon bukan strategi yang selalu aman. Kalau digunakan sembarangan, efeknya bisa panjang dan sulit diperbaiki.

Risiko pertama: margin tergerus. Diskon yang terlalu agresif membuat keuntungan menipis. Kalau penjualan naik tapi margin terlalu kecil, bisnis tetap bisa kesulitan membayar biaya operasional.

Risiko kedua: perang harga. Ketika satu brand mulai diskon besar, kompetitor terpancing ikut diskon. Ujungnya bukan siapa yang paling disukai pelanggan, tapi siapa yang paling kuat menahan rugi.

Risiko ketiga: merusak citra brand. Produk premium yang terlalu sering diskon bisa kehilangan kesan eksklusif. Pelanggan akan menganggap harga aslinya “tidak wajar” atau kualitasnya “tidak sebanding”.

Risiko keempat: pelanggan jadi oportunis. Mereka datang saat promo, hilang saat promo selesai. Ini membuat bisnis sulit membangun pelanggan setia.

Risiko kelima: stok dan operasional kacau. Promo besar bisa membuat permintaan meledak. Kalau bisnis tidak siap, pengiriman terlambat, pelayanan turun, dan justru memicu komplain. Diskon yang niatnya menarik simpati malah berujung reputasi buruk.

 

Cara Memanfaatkan Diskon dengan Lebih Sehat

Ada dua sisi yang perlu pintar: bisnis dan konsumen.

Buat bisnis, diskon paling aman ketika punya tujuan jelas: menghabiskan stok, memperkenalkan produk baru, atau meningkatkan repeat order. Diskon juga lebih sehat kalau dipadukan dengan batasan yang masuk akal, misalnya periode promo pendek, stok terbatas, atau fokus pada produk tertentu.

Buat konsumen, diskon paling berguna ketika dijadikan alat menghemat kebutuhan yang memang sudah direncanakan. Cara paling sederhana: buat daftar belanja dulu, lalu cek diskon mana yang benar-benar membantu, bukan sekadar menggoda.

 

Kesimpulan

Diskon memang terlihat sederhana, tapi dampaknya jauh dari sekadar harga lebih murah. Ia bekerja di dua level sekaligus: angka di kasir dan psikologi di kepala pembeli. 

Ketika dipakai dengan tepat, diskon bisa membantu konsumen menghemat, mempercepat perputaran stok, dan membuka pintu bagi pelanggan baru. Namun ketika dipakai tanpa arah, diskon justru menggerus margin, merusak persepsi nilai, dan membiasakan pasar untuk hanya datang saat harga dipotong.

Bagi bisnis, diskon bukan jalan pintas untuk “jualan laku”, melainkan alat taktis yang harus punya tujuan jelas: kapan dipakai, untuk produk apa, dan dengan batasan apa. 

Bagi konsumen, diskon paling berguna ketika ia membantu keputusan yang sudah direncanakan, bukan memancing pembelian yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Pada akhirnya, diskon yang sehat adalah diskon yang tidak meninggalkan rasa menyesal—baik di sisi pembeli maupun penjual.

 

 

Itulah informasi menarik tentang Blockchain yang bisa kamu dalami lebih lanjut di kumpulan artikel kripto dari Indodax Academy. Selain mendapatkan insight mendalam lewat berbagai artikel edukasi crypto terpopuler, kamu juga bisa memperluas wawasan lewat kumpulan tutorial serta memilih dari beragam artikel populer yang sesuai minatmu.

Selain update pengetahuan, kamu juga bisa langsung pantau harga aset digital di Indodax Market dan ikuti perkembangan terkini lewat berita crypto terbaru. Untuk pengalaman trading lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading dari Indodax. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu nggak ketinggalan informasi penting seputar blockchain, aset kripto, dan peluang trading lainnya.

Kamu juga bisa ikutin berita terbaru kami lewat Google News agar akses informasi lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.

Maksimalkan aset kripto kamu dengan fitur INDODAX staking crypto, cara praktis buat dapetin penghasilan pasif dari aset yang disimpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!

 

Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]

 

Follow IG Indodax

 

Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram

 

FAQ

Diskon itu sebenarnya apa?
Diskon adalah potongan harga yang diberikan penjual kepada pembeli sebagai strategi promosi untuk mendorong transaksi, baik dalam bentuk persentase maupun nominal.

Kenapa diskon bisa terasa “menggoda”?
Karena diskon memicu rasa kesempatan dan hemat dalam waktu singkat. Otak cenderung fokus pada selisih harga, bukan pada kebutuhan sebenarnya.

Apakah semua bisnis perlu sering memberi diskon?
Tidak. Diskon cocok untuk tujuan tertentu seperti menghabiskan stok, menarik pelanggan baru, atau mengisi periode sepi. Terlalu sering diskon justru bisa merusak nilai brand.

Apa bahaya terbesar diskon untuk bisnis?
Margin menipis, perang harga dengan kompetitor, dan terbentuknya pelanggan yang hanya membeli saat promo—bukan karena percaya pada produk.

Bagaimana konsumen bisa memanfaatkan diskon dengan lebih bijak?
Mulai dari kebutuhan, bukan dari promo. Buat daftar belanja, lalu gunakan diskon untuk barang yang memang direncanakan, bukan sekadar murah di mata.

 

DISCLAIMER:  Segala bentuk transaksi aset kripto memiliki risiko dan berpeluang untuk mengalami kerugian. Tetap berinvestasi sesuai riset mandiri sehingga bisa meminimalisir tingkat kehilangan aset kripto yang ditransaksikan (Do Your Own Research/ DYOR). Informasi yang terkandung dalam publikasi ini diberikan secara umum tanpa kewajiban dan hanya untuk tujuan informasi saja. Publikasi ini tidak dimaksudkan untuk, dan tidak boleh dianggap sebagai, suatu penawaran, rekomendasi, ajakan atau nasihat untuk membeli atau menjual produk investasi apa pun dan tidak boleh dikirimkan, diungkapkan, disalin, atau diandalkan oleh siapa pun untuk tujuan apa pun.
  

 

Author:  RZ

 

Lebih Banyak dari Tutorial

Pelajaran Dasar

Calculate Staking Rewards with INDODAX earn

Select an option
dot Polkadot 2.25%
bnb BNB 0.52%
sol Solana 4.62%
eth Ethereum 2.32%
ada Cardano 1.02%
pol Polygon Ecosystem Token 1.87%
trx Tron 2.75%
DOT
0
Berdasarkan harga & APY saat ini
Stake Now

Pasar

Nama Harga 24H Chg
KUNCI/IDR
Kunci Coin
2
100%
GNS/IDR
Gains Netw
12.340
41.84%
TRUMP/IDR
Official T
41.696
32.85%
VOLT/USDT
Volt Inu
0
25%
SQD/IDR
Subsquid
745
21.34%
Nama Harga 24H Chg
SIREN/IDR
siren
4.841
-46.51%
CHT/IDR
CyberHarbo
2
-33.33%
HMSTR/IDR
Hamster Ko
3
-28.98%
EPIC/IDR
Epic Chain
9.710
-25.02%
MPRO/IDR
Max Proper
3
-25%
Apakah artikel ini membantu?

Beri nilai untuk artikel ini

You already voted!
Artikel Terkait

Temukan lebih banyak artikel berdasarkan topik yang diminati.

Cara Mengatur Gaji 3 Juta di 2026, Masih Bisa Investasi Bitcoin?

Punya gaji Rp3 juta di tahun 2026 sering membuat seseorang

Dampak AI dalam Keamanan Siber: Ancaman Baru di Crypto
02/06/2026
Dampak AI dalam Keamanan Siber: Ancaman Baru di Crypto

Keamanan siber tidak lagi sekadar soal melindungi sistem dari serangan

02/06/2026
Apa Itu Sneaky Malware? Ancaman Diam-Diam bagi Investor Crypto
30/05/2026
Apa Itu Sneaky Malware? Ancaman Diam-Diam bagi Investor Crypto

Banyak orang merasa ancaman terbesar dalam investasi crypto datang dari

30/05/2026