Strategi Cum Dividen: Cuan atau Jebakan?
icon search
icon search

Top Performers

Strategi Cum Dividend: Cuan atau Jebakan?

Home / Artikel & Tutorial / judul_artikel

Strategi Cum Dividend: Cuan atau Jebakan?

Strategi Cum Dividend Cuan atau Jebakan?

Daftar Isi

Ada momen yang hampir selalu bikin trader saham ramai mendadak: jadwal cum dividen. Di hari-hari menjelang tanggal itu, beberapa saham mendadak lebih sering dibahas, volumenya naik, dan obrolan di komunitas biasanya mengerucut ke satu ide yang terdengar sederhana: beli dulu sebelum cum, tahan sebentar, lalu jual setelah ex date sambil tetap mengantongi dividen.

Di permukaan, ini terlihat seperti jalan pintas. Kamu seolah bisa “mengambil” dividen, lalu keluar tanpa harus menahan saham lama-lama. Tapi pasar jarang memberi hadiah tanpa tagihan. Di sinilah pertanyaan yang lebih jujur muncul: strategi cum dividend ini benar-benar bisa jadi sumber cuan, atau cuma jebakan yang kelihatan manis karena banyak orang lupa menghitung detailnya?

Kalau kamu sering dengar istilah dividend hunter atau dividend capture, artikel ini akan bantu kamu melihat mekanismenya dengan jelas, lalu menguji strateginya dengan perhitungan yang realistis. Tujuannya bukan menghakimi strategi ini, tapi membuat kamu bisa memutuskan dengan kepala dingin.

 

Apa Itu Cum Dividen dan Kenapa Banyak Trader Mengejarnya?

Cum dividen adalah kondisi ketika sebuah saham masih “membawa” hak dividen.  Artinya, kalau kamu membeli saham pada periode cum dividend, kamu masih berhak menerima dividen yang akan dibagikan perusahaan pada jadwal pembayaran.

Sebaliknya, ketika sudah masuk ex dividend, saham tersebut sudah tidak lagi membawa hak dividen untuk pembeli baru. Di titik itu, kamu masih bisa membeli sahamnya, tapi pembelianmu tidak ikut masuk daftar penerima dividen untuk periode pembagian tersebut.

Kalau kamu perhatikan, inti dari cum dividen bukan soal “kapan uang dividen masuk”, melainkan soal “kapan hak itu berpindah atau berhenti ikut dalam transaksi”. Karena hak dividen itu seperti tiket.  Selama masih cum, tiketnya masih bisa kamu dapatkan lewat pembelian. Begitu masuk ex, tiketnya sudah tidak dijual lagi.

Pemahaman ini penting, karena banyak orang terjebak mengira hak dividen ditentukan hanya oleh recording date. Padahal, di praktiknya ada mekanisme penyelesaian transaksi yang membuat cum date dan ex date menjadi jauh lebih krusial untuk urusan hak.

Setelah bagian ini, kamu akan melihat kenapa bursa perlu menetapkan tanggal-tanggal tersebut, dan kenapa istilah “setelah cum” sebenarnya langsung jatuh ke fase yang disebut ex date.

 

Sebelum kamu terlalu fokus ke strategi cum dividen, ada baiknya kamu memahami dulu apa itu dividen dan bagaimana perusahaan membagikannya kepada pemegang saham.

 

Mekanisme Cum Dividend Secara Teknis di Bursa

Sebelum membahas strategi, kamu perlu paham dulu satu hal yang jadi fondasi semuanya: transaksi saham tidak langsung “resmi” selesai di hari kamu klik beli atau jual. Ada proses penyelesaian transaksi, yang di banyak bursa termasuk Indonesia mengikuti pola T+2, yaitu penyelesaian dilakukan dua hari bursa setelah transaksi terjadi.

Ini bukan detail kecil. Justru dari sinilah semua tanggal penting dividen muncul.

Bayangkan sebuah contoh timeline sederhana.

 

Perusahaan mengumumkan jadwal dividen, lalu bursa menetapkan:

  • Cum date: hari terakhir saham masih membawa hak dividen

  • Ex date: hari pertama saham sudah tidak membawa hak dividen bagi pembeli baru

  • Recording date: tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak

  • Payment date: tanggal pembayaran dividen

 

Sekarang masuk ke logika T+2.

Kalau kamu membeli saham di hari cum date, transaksi itu belum langsung selesai secara administrasi pada hari itu juga. Ia baru benar-benar settle dua hari bursa setelahnya. Karena itu, bursa menyusun cum date sedemikian rupa agar pembeli di hari cum masih bisa “sampai” ke recording date lewat proses settlement tersebut.

Dari sini kamu bisa melihat satu hal yang sering bikin orang salah paham: recording date memang tanggal pencatatan, tapi cum date adalah gerbang yang menentukan apakah transaksi kamu masih dihitung untuk pencatatan tersebut.

Lalu, kenapa tidak ada fase “after cum dividend”? Karena status saham berubah langsung.

Hari terakhir masih membawa hak dividen disebut cum date. Besoknya, statusnya langsung ex date. Tidak ada hari transisi tambahan di tengah. Jadi kalau kamu bertanya “jual setelah cum itu kapan”, jawaban teknisnya adalah: fase setelah cum ya ex date itu sendiri.

Pemahaman ini juga menjawab kebingungan lain: kapan hak dividen “dikunci”?

Secara praktik, hak dividen kamu dianggap aman kalau kamu tercatat sebagai pemegang saham pada akhir perdagangan di cum date. Setelah itu, meskipun kamu menjual sahamnya pada ex date atau beberapa hari setelahnya, hak dividen tersebut tidak hilang. Yang kehilangan hak adalah pembeli baru yang masuk setelah ex date dimulai.

Karena mekanisme ini sudah jelas, sekarang kita bisa masuk ke strategi yang sering dipakai trader, dan mengapa strategi itu tampak sederhana padahal ada banyak biaya tersembunyi di belakangnya.

 

Strategi Dividend Hunter dan Pola Dividend Capture

Trader yang mengejar dividen jangka pendek biasanya memakai pendekatan yang dikenal sebagai dividend capture. Di komunitas, istilah yang lebih populer adalah dividend hunter.

Polanya sering seperti ini.

Pertama, kamu mencari saham yang akan memasuki periode cum dividend, terutama yang terlihat menawarkan dividen menarik jika dilihat dari nominal atau dividend yield.

Kedua, kamu masuk posisi sebelum cum date, atau paling lambat pada hari cum date, dengan tujuan memastikan hak dividen kamu aman.

Ketiga, kamu menahan saham itu setidaknya sampai ex date, karena setelah cum date berakhir, hak dividen kamu secara konsep sudah “terkunci”.

Keempat, kamu menjual sahamnya setelah ex date, berharap bisa keluar tanpa menanggung penurunan harga yang terlalu dalam, sambil tetap menerima dividen pada jadwal payment date.

Kalau kamu baca alur itu, ia terdengar seperti strategi sederhana: ambil hak dividen, lalu keluar. Masalahnya, pasar tidak diam saja. Saat ex date datang, pasar melakukan penyesuaian. Dan penyesuaian itulah yang sering mengubah strategi “ambil dividen” menjadi “dividen dibayar dengan turunnya harga”.

Supaya kamu bisa merasakannya secara konkret, bagian berikutnya akan membongkar perhitungan untung-ruginya dengan angka yang realistis, termasuk biaya transaksi dan pajak.

 

Sebelum kamu tergiur angka yang terlihat besar, penting untuk memahami cara menghitung dividend yield dan hubungannya dengan dividen per saham agar tidak salah membaca potensi keuntungan.

 

Simulasi Nyata: Hitung Untung Rugi Strategi Cum Dividend

Biar tidak berputar di teori, kita pakai contoh angka sederhana.

Anggap kamu membeli sebuah saham di harga Rp1.000 per lembar. Perusahaan akan membagikan dividen Rp100 per lembar. Kamu membeli 10.000 lembar.

 

Kamu juga perlu memasukkan biaya yang benar-benar terjadi di dunia nyata:

  • Fee beli: 0,15 persen

  • Fee jual: 0,25 persen

  • Pajak dividen: 10 persen

 

Sekarang kita hitung satu per satu.

Saat kamu beli:

  • Nilai transaksi: Rp1.000 x 10.000 = Rp10.000.000

  • Fee beli 0,15 persen: Rp15.000
    Total modal keluar: Rp10.015.000

 

Masuk ex date, harga saham menyesuaikan. Skenario paling klasik adalah harga turun mendekati nilai dividen. Jadi harga turun dari Rp1.000 ke Rp900.

Kalau kamu jual di Rp900:

  • Nilai jual: Rp900 x 10.000 = Rp9.000.000

  • Fee jual 0,25 persen: Rp22.500
    Uang bersih dari jual: Rp8.977.500

Sekarang hitung dividen:

  • Dividen bruto: Rp100 x 10.000 = Rp1.000.000

  • Pajak 10 persen: Rp100.000
    Dividen bersih: Rp900.000

Total uang yang kamu pegang setelah jual + dividen:

  • Rp8.977.500 + Rp900.000 = Rp9.877.500

Bandingkan dengan modal awal:

  • Modal awal Rp10.015.000

  • Hasil akhir Rp9.877.500
    Selisihnya minus Rp137.500

Kalau kamu jeli, di sini terlihat alasan kenapa banyak dividend hunter merasa “kok jadi tidak cuan”. Secara matematis, dividen bukan hadiah gratis. Nilai itu biasanya keluar dari harga saham lewat penyesuaian saat ex date. Lalu biaya transaksi dan pajak membuat hasil akhirnya condong ke minus.

Namun strategi ini tetap bisa untung pada kondisi tertentu. Kamu bisa melihatnya lewat dua skenario berikut.

Skenario kedua: harga tidak turun penuh.
Misal setelah ex date, harga hanya turun ke Rp950, bukan Rp900.

Artinya, penurunan harga hanya Rp50, sementara dividen yang kamu terima Rp100. Secara kasar, kamu punya ruang Rp50 per lembar untuk menutup fee dan pajak. Dalam kasus ini, peluang profit bersih lebih masuk akal, terutama kalau kamu bisa keluar di harga yang masih relatif tinggi.

Skenario ketiga: ada rebound cepat.

Ada kondisi ketika saham turun saat ex date, lalu pulih cepat karena sentimen pasar sedang bullish atau karena sahamnya memang kuat secara fundamental dan banyak investor jangka panjang ikut masuk. Di situ, dividen menjadi bonus yang menambah return, bukan satu-satunya sumber cuan.

Di sinilah kamu mulai melihat pola penting: keuntungan strategi ini lebih banyak ditentukan oleh pergerakan harga, bukan oleh dividennya. Dividen hanya salah satu komponen, dan kadang komponen itu sudah “dibayar” oleh pasar lewat penurunan harga.

Karena perhitungan sudah jelas, sekarang kamu perlu konteks real: apakah di lapangan ada banyak emiten yang membagikan dividen dalam periode awal 2026? Jawabannya iya, dan itu membuat topik ini relevan sebagai bahan edukasi.

 

Data Terbaru 2026: Dividen Masih Ramai, Bukan Fenomena Musiman

Kalau kamu melihat kalender dividen di awal 2026, ada banyak emiten yang membagikan dividen tunai, termasuk dari sektor yang sering jadi perhatian trader karena likuiditasnya tinggi dan pergerakannya cepat. Perbankan dan energi biasanya masuk daftar yang paling sering dibicarakan, karena nominal dividennya besar dan jadwalnya sering jadi pemicu arus transaksi.

Yang menarik, pembagian dividen tidak hanya datang dari satu jenis perusahaan. Ada emiten dari berbagai sektor yang menetapkan jadwal cum dan ex date di awal tahun, lalu pembayaran dilakukan beberapa minggu setelahnya. Ini membuat satu pola jadi terlihat jelas: aktivitas dividend hunting biasanya muncul berulang, bukan hanya sekali, karena jadwal dividen bergantian antar emiten.

Dari sisi edukasi, data ini bisa kamu pakai untuk dua hal.

Pertama, sebagai bukti bahwa cum dividend memang bukan konsep abstrak. Ia terjadi nyata, dan jadwalnya bisa diikuti.

Kedua, sebagai pintu masuk untuk mengajarkan pembaca agar tidak hanya mengejar dividen, tetapi juga memahami cara membaca dividend yield dengan benar, termasuk memperhatikan bahwa yield adalah rasio yang bisa tampak besar hanya karena harga saham sedang turun.

Kalau kamu mengandalkan strategi cum dividend tanpa memahami konteks sektornya, kondisi market, dan tren harga, kamu berisiko masuk saat saham sudah terlalu ramai diburu, lalu terjebak keluar di kondisi yang tidak sesuai harapan.

Karena itu, bagian berikutnya akan membahas risiko yang sering diabaikan, padahal justru itulah yang menentukan apakah strategi ini terasa seperti cuan atau berubah jadi jebakan.

 

Risiko yang Sering Diabaikan Saat Berburu Cum Dividend

Risiko pertama adalah penurunan harga yang lebih dalam dari nilai dividen. Di teori, harga menyesuaikan sekitar nilai dividen. Di praktik, harga bisa turun lebih dalam karena banyak trader melakukan aksi jual serentak setelah ex date. Kalau kamu masuk di saham yang tidak terlalu kuat, tekanan jual ini bisa lebih terasa.

Risiko kedua adalah kondisi market yang sedang bearish. Dividen 3 sampai 7 persen bisa terlihat menarik, tapi jadi tidak berarti ketika harga saham turun belasan persen karena sentimen pasar memburuk. Dalam situasi seperti ini, dividen berubah jadi “penghibur” yang tidak mampu menutup kerugian harga.

Risiko ketiga adalah biaya transaksi dan pajak. Banyak orang menghitung dividen sebagai angka kotor, lalu lupa bahwa yang masuk ke rekening adalah angka bersih setelah pajak. Di sisi lain, fee beli dan fee jual berjalan diam-diam dan bisa menggerus margin tipis strategi capture.

Risiko keempat adalah likuiditas. Saham yang kurang likuid sering terlihat menggoda karena dividend yield bisa tampak tinggi. Tapi saat kamu mau keluar, spread bisa melebar, harga bergerak tidak nyaman, dan kamu justru kesulitan menjual di harga yang kamu incar.

Risiko kelima adalah euforia menjelang cum date. Ada saham yang naik terlalu cepat karena banyak orang mengejar dividen. Kalau kamu masuk saat harga sudah naik jauh, kamu pada dasarnya membeli di harga yang sudah mengandung ekspektasi dividen. Begitu ex date tiba, penyesuaian harga plus aksi profit taking bisa membuat turunnya lebih tajam.

Kalau kamu menganggap strategi cum dividend sebagai jalan pintas, risiko-risiko ini mudah tertutup oleh optimisme. Tapi kalau kamu melihatnya sebagai strategi yang harus dihitung seperti strategi trading lainnya, kamu akan jauh lebih siap menilai kapan strategi ini layak dicoba.

Dengan memahami risiko, sekarang pertanyaannya berubah: strategi ini sebenarnya cocok untuk siapa?

 

Apakah Strategi Cum Dividend Cocok untuk Kamu?

Strategi cum dividend paling masuk akal untuk kamu yang punya gaya trading momentum dan nyaman membaca pergerakan harga. Kamu tidak hanya mengejar dividen, tetapi juga memperhatikan apakah harga masih punya ruang bertahan setelah ex date.

Kalau kamu tipe yang tidak suka volatilitas dan ingin kenyamanan, strategi ini sering terasa melelahkan karena kamu harus memantau timing dan siap keluar cepat.

Di sisi lain, kalau kamu investor jangka panjang, dividen biasanya lebih sehat diperlakukan sebagai bonus. Kamu membeli saham karena kualitas bisnisnya, dan dividen datang sebagai hasil dari kepemilikan itu. Dalam pendekatan ini, kamu tidak terlalu panik dengan penyesuaian harga saat ex date karena fokusmu lebih panjang.

Namun ada satu titik temu yang bisa dipakai oleh trader maupun investor: kamu tetap perlu menilai kualitas emiten melalui pendekatan analisis fundamental saham agar tidak hanya tergiur besaran dividen. Saham yang fundamentalnya sehat cenderung lebih cepat stabil setelah ex date. Saham yang rapuh lebih mudah tergelincir dan lambat pulih.

Kalau kamu ingin mencoba strategi ini, kamu akan lebih terbantu jika kamu punya aturan yang jelas, bukan sekadar ikut ramai-ramai.

 

Tips Praktis Biar Cum Dividen Tidak Jadi Jebakan

Mulai dari yang paling dasar: jangan hanya melihat besaran dividen. Kamu perlu tahu apakah dividen itu masuk akal bagi perusahaan. Perusahaan yang membagikan dividen dari laba yang stabil dan kas yang sehat biasanya lebih bisa dipercaya daripada yang membagikan dividen besar ketika kinerjanya justru menurun.

Setelah itu, perhatikan dividend yield dengan cara yang benar. Yield terlihat tinggi bisa jadi karena harga sahamnya jatuh. Ini bukan selalu kesempatan, kadang justru sinyal risiko. Jadi sebelum tergiur angka yield, cek kenapa harga sahamnya turun.

Lalu, lihat tren harga jelang cum date. Kalau harga sudah naik terlalu jauh dan terlalu cepat, kemungkinan besar banyak orang sudah masuk lebih dulu. Dalam kondisi seperti ini, kamu harus ekstra hati-hati karena tekanan jual setelah ex date sering lebih kuat.

Kamu juga perlu menghitung biaya dan pajak dari awal. Kalau margin strategi kamu hanya tipis, fee beli, fee jual, dan pajak dividen bisa mengubah hasil akhir dari positif menjadi negatif.

Terakhir, jangan memaksakan strategi ini ketika kondisi pasar sedang buruk. Dividen yang kamu incar tidak akan mampu menyelamatkan portofolio kalau pasar sedang turun tajam dan sentimen sedang rapuh.

Kalau kamu menerapkan tips ini, strategi cum dividend lebih mungkin menjadi strategi yang terukur, bukan perjudian yang dibungkus istilah teknis.

Sekarang saatnya menutup pembahasan dengan kesimpulan yang jujur.

 

Penurunan harga setelah ex date adalah bagian dari risiko investasi saham yang perlu kamu pahami sebelum menerapkan strategi ini.

 

Kesimpulan

Strategi cum dividend bukan trik rahasia. Ia hanya memanfaatkan jadwal resmi pembagian hak dividen, lalu mencoba mengambil keuntungan dari timing yang sempit.

Masalahnya, dividen bukan nilai baru yang muncul dari udara. Dividen adalah distribusi nilai dari perusahaan ke pemegang saham, dan pasar biasanya menyesuaikan harga ketika hak dividen sudah dipisahkan saat ex date. Karena itu, strategi dividend hunter sering tampak menarik di permukaan, lalu terasa mengecewakan ketika dihitung bersih setelah penurunan harga, fee transaksi, dan pajak.

Kalau strategi ini bisa menghasilkan cuan, biasanya bukan karena dividennya, melainkan karena harga saham tidak turun penuh, atau karena terjadi pemulihan cepat setelah ex date. Dengan kata lain, dividen hanya salah satu komponen, sementara sumber hasil terbesar tetap ada pada pergerakan harga.

Kalau kamu mau mencoba strategi ini, anggap ia sebagai strategi trading yang butuh perhitungan, bukan sebagai cara “ambil uang gratis”. Dengan cara berpikir seperti itu, kamu lebih mungkin masuk di momentum yang masuk akal, dan lebih siap keluar ketika skenarionya tidak sesuai.

 

FAQ

1. Apakah beli saham saat cum dividen pasti untung?

Tidak. Membeli saham saat cum dividen hanya memastikan kamu berhak menerima dividen, bukan menjamin keuntungan. Harga saham biasanya menyesuaikan saat ex date, sehingga potensi profit sangat tergantung pada pergerakan harga setelahnya serta biaya dan pajak.

2. Kenapa harga saham turun saat ex date?

Harga saham turun saat ex date karena hak dividen sudah dipisahkan dari saham tersebut. Nilai dividen yang dibagikan biasanya tercermin dalam penyesuaian harga, sebab kas perusahaan berkurang setelah dividen diumumkan dan dibayarkan.

3. Apa beda cum date dan ex date?

Cum date adalah hari terakhir saham masih membawa hak dividen. Ex date adalah hari pertama saham sudah tidak membawa hak dividen bagi pembeli baru. Jika kamu membeli pada atau sebelum cum date, kamu berhak atas dividen tersebut.

4. Apakah strategi dividend hunter cocok untuk trader pemula?

Strategi ini tidak selalu cocok untuk pemula karena hasil akhirnya sangat dipengaruhi oleh volatilitas harga, biaya transaksi, dan pajak dividen. Tanpa perhitungan yang matang, strategi ini bisa menghasilkan kerugian tipis meski kamu menerima dividen.

5. Kapan waktu terbaik menjual saham setelah cum dividend?

Jika tujuanmu hanya mengamankan hak dividen, kamu bisa menjual mulai ex date karena hak sudah terkunci. Namun untuk mendapatkan keuntungan bersih, waktu jual tetap harus mempertimbangkan pergerakan harga dan kondisi pasar.

 

Itulah informasi menarik tentang Cum Dividen yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.

Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.

 

Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.

Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!

Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.

 

Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]

 

Follow Sosmed Twitter Indodax sekarang

Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram

 

 

Author : RB

DISCLAIMER:  Segala bentuk transaksi aset kripto memiliki risiko dan berpeluang untuk mengalami kerugian. Tetap berinvestasi sesuai riset mandiri sehingga bisa meminimalisir tingkat kehilangan aset kripto yang ditransaksikan (Do Your Own Research/ DYOR). Informasi yang terkandung dalam publikasi ini diberikan secara umum tanpa kewajiban dan hanya untuk tujuan informasi saja. Publikasi ini tidak dimaksudkan untuk, dan tidak boleh dianggap sebagai, suatu penawaran, rekomendasi, ajakan atau nasihat untuk membeli atau menjual produk investasi apa pun dan tidak boleh dikirimkan, diungkapkan, disalin, atau diandalkan oleh siapa pun untuk tujuan apa pun.
  

Lebih Banyak dari Tutorial

Pelajaran Dasar

Calculate Staking Rewards with INDODAX earn

Select an option
dot Polkadot 2.25%
bnb BNB 0.52%
sol Solana 4.62%
eth Ethereum 2.32%
ada Cardano 1.02%
pol Polygon Ecosystem Token 1.87%
trx Tron 2.75%
DOT
0
Berdasarkan harga & APY saat ini
Stake Now

Pasar

Nama Harga 24H Chg
KUNCI/IDR
Kunci Coin
2
100%
WTEC/IDR
World Trad
2
100%
ICNT/IDR
Impossible
6.497
91.77%
ZKWASM/IDR
ZKWASM
55
48.65%
BEAT/IDR
Audiera
42.822
38.46%
Nama Harga 24H Chg
GXC/IDR
GXChain
3.650
-31.12%
COLLAT/IDR
Collateriz
24
-28.47%
FUN/IDR
FUNToken
36
-27.21%
DEFI/IDR
DeFi
3
-25%
TAIKO/IDR
Taiko
4.400
-22.55%
Apakah artikel ini membantu?

Beri nilai untuk artikel ini

You already voted!
Artikel Terkait

Temukan lebih banyak artikel berdasarkan topik yang diminati.

Uniswap vs MetaMask: DEX vs Wallet yang Saling Terhubung

Perkembangan ekosistem kripto dalam beberapa tahun terakhir tidak lagi sekadar

XDEFI vs MetaMask: Mana Wallet Crypto Terbaik 2026

Kenapa Perbandingan Wallet Crypto Semakin Relevan di 2026 Perkembangan ekosistem

Zooko Wilcox Ungkap Bug Serius di Zcash Orchard
23/06/2026
Zooko Wilcox Ungkap Bug Serius di Zcash Orchard

Isu keamanan kembali mengguncang ekosistem Zcash setelah laporan teknis mengungkap

23/06/2026