Banyak orang percaya bahwa keputusan investasi sepenuhnya ditentukan oleh data, analisis, dan logika. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Cara manusia mengambil keputusan sering kali dipengaruhi oleh faktor psikologis yang tidak disadari. Bahkan investor berpengalaman pun dapat terjebak pada pola pikir tertentu yang membuat mereka menilai informasi secara tidak objektif.
Salah satu bias psikologi yang paling sering muncul dalam keputusan finansial adalah anchoring bias. Bias ini membuat seseorang terlalu terpaku pada informasi pertama yang ia lihat atau dengar, sehingga angka atau informasi tersebut menjadi titik acuan dalam menilai situasi berikutnya. Dalam investasi, efeknya bisa sangat besar karena keputusan membeli, menjual, atau menahan aset sering kali dipengaruhi oleh angka yang sebenarnya tidak lagi relevan.
Memahami cara kerja anchoring bias membantu investor melihat keputusan finansial secara lebih rasional karena banyak kesalahan investasi sebenarnya berasal dari faktor psikologi trading yang tidak disadari. Dengan mengenali bias ini, kamu bisa menghindari kesalahan yang sering terjadi ketika emosi dan persepsi awal mengambil alih proses analisis.
Apa Itu Anchoring Bias
Anchoring bias adalah bias kognitif ketika seseorang terlalu bergantung pada informasi pertama yang diterima saat membuat keputusan atau melakukan penilaian. Informasi awal tersebut menjadi titik referensi mental yang mempengaruhi cara seseorang menilai data atau situasi berikutnya, meskipun informasi tersebut tidak selalu relevan.
Dalam konteks investasi, anchoring bias sering muncul ketika investor menjadikan harga tertentu sebagai patokan utama. Harga beli, harga tertinggi sebelumnya, atau angka yang sering muncul di media bisa berubah menjadi jangkar psikologis yang mempengaruhi keputusan investasi.
Anchoring bias merupakan salah satu konsep penting dalam behavioral economics, cabang ilmu ekonomi yang mempelajari bagaimana faktor psikologi mempengaruhi keputusan finansial manusia dan sering dibahas dalam kajian behavioral finance yang menjelaskan perilaku investor saat mengambil keputusan investasi.
Anchoring bias adalah bias kognitif ketika seseorang menjadikan informasi pertama sebagai titik acuan dalam mengambil keputusan. Informasi tersebut berfungsi sebagai “jangkar” mental yang memengaruhi cara seseorang menilai data berikutnya. Dalam investasi, jangkar ini sering berupa harga beli, harga tertinggi, atau angka yang dianggap sebagai nilai wajar suatu aset.
Mengapa Anchoring Bias Penting
Bias psikologi seperti anchoring bias memiliki pengaruh besar terhadap keputusan investasi. Banyak investor mengira bahwa mereka membuat keputusan berdasarkan analisis rasional, padahal sebagian keputusan sebenarnya dipengaruhi oleh persepsi awal yang tidak disadari.
Dalam behavioral finance, anchoring bias sering dikaitkan dengan fenomena di mana investor terlalu lama menahan aset yang mengalami kerugian. Mereka berharap harga akan kembali ke angka tertentu karena angka tersebut telah menjadi referensi mental.
Penelitian dalam ekonomi perilaku menunjukkan bahwa manusia cenderung menggunakan heuristik, yaitu jalan pintas mental untuk mempercepat pengambilan keputusan. Heuristik memang membantu otak memproses informasi dengan cepat, tetapi juga membuka peluang munculnya bias seperti anchoring.
Karena itu, memahami bias ini membantu investor menyadari bahwa keputusan finansial tidak selalu murni didasarkan pada logika. Banyak keputusan ternyata dipengaruhi oleh cara otak manusia menafsirkan informasi awal.
Bagaimana Cara Kerja Anchoring Bias
Cara kerja anchoring bias berhubungan dengan bagaimana otak manusia memproses informasi. Ketika seseorang menerima informasi pertama tentang suatu hal, otak cenderung menggunakan informasi tersebut sebagai referensi untuk menilai informasi berikutnya.
Misalnya, ketika seseorang melihat harga awal sebuah produk yang tinggi, angka tersebut langsung membentuk persepsi tentang nilai produk tersebut. Ketika harga kemudian diturunkan, harga baru terasa jauh lebih murah karena dibandingkan dengan angka awal yang sudah tertanam dalam pikiran.
Dalam investasi, proses yang sama juga terjadi. Jika seorang investor membeli saham di harga tertentu, angka tersebut sering menjadi acuan utama dalam menilai harga berikutnya.
Anchoring bias bekerja melalui proses psikologis di mana otak manusia menggunakan informasi pertama sebagai titik referensi. Setelah jangkar ini terbentuk, penilaian berikutnya cenderung menyesuaikan diri terhadap angka tersebut. Akibatnya, keputusan yang diambil sering dipengaruhi oleh referensi awal meskipun kondisi sebenarnya sudah berubah.
Framework Memahami Anchoring Bias
Agar lebih mudah dipahami, anchoring bias dapat dilihat sebagai proses yang terdiri dari beberapa tahap psikologis. Proses ini menggambarkan bagaimana sebuah angka atau informasi awal dapat memengaruhi keputusan seseorang.
Tahap pertama adalah munculnya anchor, yaitu informasi awal yang diterima seseorang. Informasi ini bisa berupa angka harga, nilai estimasi, atau bahkan opini orang lain.
Tahap berikutnya adalah adjustment, yaitu proses penyesuaian ketika seseorang mencoba menilai informasi baru. Namun penyesuaian ini biasanya tidak cukup jauh dari anchor awal, sehingga keputusan yang diambil masih sangat dipengaruhi oleh informasi pertama.
Framework anchoring bias menjelaskan bahwa keputusan manusia sering dipengaruhi oleh dua tahap utama: pembentukan anchor dan proses penyesuaian terhadap anchor tersebut. Ketika anchor sudah terbentuk, penilaian berikutnya cenderung bergerak di sekitar angka tersebut. Hal ini membuat keputusan sering kali tidak sepenuhnya objektif.
Faktor Penting dalam Anchoring Bias
Beberapa faktor dapat memperkuat pengaruh anchoring bias dalam pengambilan keputusan. Faktor-faktor ini berkaitan dengan bagaimana manusia memproses informasi dan bagaimana persepsi awal terbentuk.
Salah satu faktor utama adalah informasi pertama yang kuat. Angka atau informasi yang muncul pertama kali sering memiliki pengaruh besar karena otak manusia cenderung memprioritaskan informasi awal.
Faktor lain adalah ketidakpastian informasi. Ketika seseorang tidak memiliki cukup data untuk menilai suatu situasi, ia lebih mudah bergantung pada anchor yang sudah ada.
Pengalaman pribadi juga dapat memperkuat bias ini. Jika seseorang pernah mengalami keuntungan atau kerugian pada angka tertentu, angka tersebut bisa menjadi referensi emosional yang memengaruhi keputusan berikutnya.
Anchoring bias menjadi lebih kuat ketika informasi awal terlihat kredibel atau datang dari sumber yang dianggap otoritatif. Dalam situasi dengan informasi terbatas, manusia cenderung menggunakan anchor sebagai cara cepat untuk memperkirakan nilai suatu hal. Faktor inilah yang membuat bias ini sering muncul dalam keputusan investasi.
Contoh Anchoring Bias dalam Kehidupan Nyata
Anchoring bias tidak hanya terjadi dalam investasi. Bias ini juga sering muncul dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari.
Dalam pemasaran, strategi diskon sering memanfaatkan anchoring bias. Ketika sebuah produk menampilkan harga awal yang tinggi lalu memberikan diskon besar, harga diskon terasa jauh lebih murah karena dibandingkan dengan harga awal yang menjadi anchor.
Dalam negosiasi bisnis, angka pertama yang diajukan sering memengaruhi hasil akhir negosiasi. Tawaran awal dapat menjadi referensi yang membuat kedua pihak bergerak di sekitar angka tersebut.
Dalam investasi saham atau kripto, banyak investor menjadikan harga beli sebagai anchor. Ketika harga turun di bawah harga beli, mereka cenderung menahan aset lebih lama karena berharap harga akan kembali ke angka tersebut.
Contoh lain terlihat dalam pasar properti. Penjual rumah sering menetapkan harga berdasarkan penawaran tertinggi yang pernah mereka terima, meskipun kondisi pasar saat ini sudah berubah.
Anchoring Bias dalam Ekonomi dan Teknologi
Dalam ilmu ekonomi modern, anchoring bias menjadi bagian penting dari kajian behavioral finance. Ilmu ini mempelajari bagaimana faktor psikologi memengaruhi perilaku investor dan dinamika pasar.
Penelitian dalam behavioral economics menunjukkan bahwa bias psikologis seperti anchoring dapat memengaruhi harga pasar, keputusan investasi, dan bahkan stabilitas pasar finansial.
Dalam bidang data science dan teknologi finansial, pemahaman tentang bias manusia juga digunakan untuk merancang sistem yang lebih baik. Misalnya, platform investasi dan aplikasi trading mencoba memberikan informasi yang lebih objektif agar pengguna tidak hanya bergantung pada satu angka sebagai referensi.
Dalam analisis ekonomi, anchoring bias sering digunakan untuk menjelaskan mengapa investor atau konsumen tetap berpegang pada angka tertentu meskipun data terbaru menunjukkan perubahan kondisi pasar.
Keterbatasan atau Kesalahan Umum dalam Memahami Anchoring Bias
Meskipun anchoring bias sering dibahas dalam psikologi dan ekonomi, banyak orang masih salah memahami konsep ini. Salah satu kesalahan umum adalah menganggap bahwa bias ini hanya terjadi pada investor pemula.
Faktanya, bahkan investor profesional pun dapat mengalami anchoring bias. Pengalaman dan pengetahuan tidak selalu membuat seseorang sepenuhnya bebas dari pengaruh psikologis.
Kesalahan lain adalah menganggap bahwa anchor selalu berupa angka harga. Anchor sebenarnya bisa berupa berbagai jenis informasi, seperti opini analis, estimasi nilai perusahaan, atau prediksi pasar yang sering diulang.
Selain itu, tidak semua referensi awal selalu salah. Dalam beberapa situasi, anchor dapat membantu manusia membuat estimasi cepat ketika informasi terbatas. Masalah muncul ketika anchor digunakan tanpa mempertimbangkan data terbaru.
Hubungan Anchoring Bias dengan Konsep Lain
Anchoring bias memiliki hubungan erat dengan berbagai konsep dalam psikologi dan behavioral finance. Bias ini sering muncul bersama dengan bias lain yang memengaruhi cara manusia menilai informasi.
Salah satu konsep yang berkaitan adalah confirmation bias, yaitu kecenderungan mencari informasi yang mendukung keyakinan yang sudah ada. Ketika seseorang sudah memiliki anchor tertentu, ia cenderung mencari informasi yang mendukung angka tersebut.
Anchoring bias juga berkaitan dengan loss aversion, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih takut mengalami kerugian dibandingkan menikmati keuntungan. Ketika harga beli menjadi anchor, investor sering enggan menjual aset yang merugi.
Anchoring bias berhubungan erat dengan berbagai bias kognitif lain yang mempengaruhi keputusan manusia. Bias ini sering muncul bersama dengan confirmation bias, loss aversion, dan overconfidence. Kombinasi berbagai bias tersebut dapat memperkuat persepsi yang tidak objektif dalam pengambilan keputusan investasi.
Kesimpulan
Anchoring bias menunjukkan bahwa keputusan manusia tidak selalu sepenuhnya rasional. Informasi pertama yang diterima sering menjadi jangkar mental yang memengaruhi cara seseorang menilai informasi berikutnya.
Dalam investasi, bias ini dapat membuat investor terlalu terpaku pada harga tertentu, seperti harga beli atau harga tertinggi sebelumnya. Akibatnya, keputusan finansial bisa dipengaruhi oleh referensi yang sebenarnya tidak lagi relevan.
Memahami anchoring bias membantu investor melihat keputusan secara lebih objektif. Dengan menyadari adanya bias psikologis dalam proses berpikir, kamu dapat menilai informasi secara lebih kritis dan membuat keputusan investasi yang lebih rasional.
Anchoring bias adalah kecenderungan manusia menggunakan informasi pertama sebagai titik referensi dalam menilai situasi berikutnya. Bias ini dapat memengaruhi berbagai keputusan finansial, mulai dari investasi hingga negosiasi harga. Dengan mengenali bias ini, seseorang dapat lebih berhati-hati dalam menafsirkan informasi dan membuat keputusan yang lebih objektif.
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan anchoring bias?
Anchoring bias adalah bias kognitif ketika seseorang terlalu bergantung pada informasi pertama yang diterima saat membuat keputusan. Informasi awal tersebut menjadi titik referensi yang memengaruhi penilaian terhadap informasi berikutnya.
2. Mengapa anchoring bias sering terjadi dalam investasi?
Anchoring bias sering muncul dalam investasi karena investor cenderung menjadikan harga tertentu sebagai referensi mental. Harga beli atau harga tertinggi sebelumnya sering menjadi patokan dalam menilai nilai suatu aset.
3. Apakah anchoring bias hanya terjadi pada investor pemula?
Tidak. Anchoring bias dapat terjadi pada siapa saja, termasuk investor berpengalaman. Bahkan profesional di bidang keuangan pun dapat terpengaruh oleh bias ini ketika membuat keputusan investasi.
4. Apa contoh anchoring bias dalam kehidupan sehari-hari?
Contoh anchoring bias dapat ditemukan dalam strategi diskon harga. Ketika sebuah produk menampilkan harga awal yang tinggi lalu memberikan potongan harga besar, harga diskon terasa lebih murah karena dibandingkan dengan harga awal yang menjadi anchor.
5. Bagaimana cara menghindari anchoring bias saat berinvestasi?
Salah satu cara mengurangi pengaruh anchoring bias adalah dengan mengevaluasi keputusan berdasarkan data terbaru, bukan hanya berdasarkan harga awal. Investor juga dapat membandingkan berbagai sumber informasi sebelum membuat keputusan.
6. Apakah anchoring bias selalu berdampak negatif?
Tidak selalu. Dalam beberapa situasi, anchor dapat membantu manusia membuat estimasi cepat ketika informasi terbatas. Namun dalam keputusan finansial, terlalu bergantung pada anchor dapat menyebabkan penilaian yang tidak objektif.
Itulah informasi menarik tentang Anchoring Bias yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
