Pop Up Market Adalah Pasar Sementara, Kenapa Banyak Dipakai?
icon search
icon search

Top Performers

Pop Up Market Adalah Pasar Sementara, Kenapa Banyak Dipakai?

Home / Artikel & Tutorial / judul_artikel

Pop Up Market Adalah Pasar Sementara, Kenapa Banyak Dipakai?

Pop Up Market Adalah Pasar Sementara, Kenapa Banyak Dipakai?

Daftar Isi

Pernah lihat area mall, festival, atau halaman gedung yang mendadak penuh booth brand lokal, makanan, fashion, sampai produk kreatif, lalu seminggu kemudian semuanya sudah hilang? Fenomena seperti itu bukan sekadar bazar biasa. Dalam banyak kasus, konsep yang dipakai adalah pop up market.

Banyak orang mencari tahu istilah ini karena bentuknya memang unik. Ia hadir sebentar, ramai, menarik perhatian, lalu selesai. Buat pengunjung, pop up market terasa seru karena menawarkan pengalaman yang berbeda dari toko biasa. Buat brand, konsep ini jauh lebih strategis daripada yang terlihat di permukaan.

Kalau dijelaskan secara sederhana, pop up market adalah pasar sementara yang dibuka dalam waktu terbatas untuk menjual, memperkenalkan, atau menguji respons terhadap produk tertentu. Karena sifatnya tidak permanen, model ini sering dipakai untuk promosi, aktivasi brand, sampai uji pasar sebelum masuk ke langkah bisnis yang lebih besar.

Lalu kenapa banyak brand tertarik memakai format seperti ini? Jawabannya bukan hanya soal jualan. Ada unsur rasa penasaran, eksklusivitas, efisiensi biaya, sampai peluang membaca perilaku konsumen secara langsung. Itu sebabnya pop up market makin sering muncul di berbagai kota dan berbagai jenis bisnis.

 

Pop Up Market Adalah Pasar Sementara dalam Strategi Bisnis

Secara umum, pop up market adalah bentuk pasar atau ruang penjualan temporer yang hadir dalam periode tertentu. Durasi operasionalnya bisa hanya satu hari, satu akhir pekan, beberapa minggu, atau mengikuti durasi sebuah event. Berbeda dengan toko permanen yang terus beroperasi, pop up market memang sejak awal dirancang untuk sementara.

Karena itu, pop up market biasanya muncul di lokasi yang punya arus pengunjung tinggi. Mall, area festival, creative space, gedung perkantoran, kampus, sampai ruang publik sering menjadi tempat yang ideal. Brand memilih lokasi seperti ini bukan tanpa alasan. Mereka ingin bertemu langsung dengan calon pembeli di titik yang ramai, aktif, dan punya kemungkinan interaksi tinggi.

Yang membuat pop up market menarik adalah fleksibilitasnya. Sebuah brand tidak harus menyewa toko jangka panjang untuk menguji produk baru. Mereka bisa hadir lebih dulu dalam format sementara, melihat respons pengunjung, lalu mengambil keputusan berikutnya berdasarkan hasil di lapangan. Jadi, pop up market bukan sekadar “jualan sebentar”, melainkan alat untuk membaca potensi pasar dengan cepat.

Dari sini terlihat bahwa istilah “pasar sementara” bukan berarti konsepnya kecil atau asal-asalan. Justru karena waktunya terbatas, setiap elemen dalam pop up market biasanya dirancang lebih serius, mulai dari lokasi, tampilan booth, pilihan produk, cara promosi, sampai pengalaman pengunjung saat datang ke area tersebut.

 

Mengapa Banyak Brand Menggunakan Pop Up Market

Setelah memahami definisinya, alasan kenapa pop up market banyak dipakai mulai terasa lebih jelas. Model ini memberi ruang bagi brand untuk bergerak cepat tanpa harus menanggung beban operasional sebesar toko permanen. Dalam kondisi bisnis yang serba dinamis, kecepatan seperti ini sangat berharga.

Salah satu alasan utamanya adalah efisiensi. Membuka toko permanen membutuhkan biaya sewa, tenaga kerja, utilitas, desain ruang, dan komitmen waktu yang jauh lebih panjang. Sementara itu, pop up market memberi alternatif yang lebih ringan, terutama bagi brand yang ingin membangun brand awareness tanpa harus langsung masuk ke investasi besar. Brand bisa hadir di lokasi strategis, membangun awareness, dan menjual produk tanpa harus langsung masuk ke investasi besar.

Selain efisiensi, ada faktor psikologis yang kuat. Karena hadir dalam waktu terbatas, pop up market menciptakan rasa eksklusif. Pengunjung merasa harus datang sekarang, bukan nanti. Ada dorongan emosional yang membuat orang lebih cepat mengambil keputusan, baik untuk sekadar melihat-lihat maupun membeli. Itulah kenapa pop up market sering terasa lebih ramai daripada toko biasa yang selalu ada setiap hari.

Brand juga menyukai model ini karena lebih mudah menciptakan momentum. Misalnya, saat meluncurkan produk baru, berkolaborasi dengan komunitas, atau mengikuti tren musiman, pop up market bisa menjadi panggung yang pas. Formatnya singkat, fokus, dan lebih mudah dibungkus sebagai sesuatu yang spesial.

Kalau dilihat lebih dalam, alasan brand memilih pop up market bukan hanya soal biaya hemattetapi juga berkaitan dengan strategi marketing yang dirancang untuk membangun perhatian dan mendorong interaksi dalam waktu singkat. Ada nilai strategis yang lebih besar, yaitu kesempatan membangun kesan kuat dalam waktu singkat. Dalam pemasaran modern, kesan seperti itu sering lebih penting daripada sekadar hadir terus-menerus tanpa arah yang jelas.

 

Perbedaan Pop Up Market dan Pop Up Store

Banyak orang masih menukar istilah pop up market dengan pop up store, padahal keduanya tidak sepenuhnya sama. Sekilas memang mirip karena sama-sama bersifat sementara. Namun jika dilihat dari bentuk operasionalnya, ada perbedaan yang cukup jelas.

Pop up market biasanya melibatkan banyak penjual atau brand dalam satu area yang sama. Konsepnya menyerupai pasar, bazar, atau event retail bersama. Pengunjung datang dan menemukan berbagai booth dengan kategori produk yang beragam. Dalam satu pop up market, kamu bisa melihat brand fashion, makanan, aksesori, skincare, sampai produk hobi hadir berdampingan.

Sementara itu, pop up store cenderung lebih fokus pada satu brand saja. Formatnya mirip toko sementara yang dibuka oleh satu bisnis untuk tujuan tertentu, misalnya launching koleksi baru, kolaborasi eksklusif, atau kampanye promosi jangka pendek. Pengalaman yang dibangun dalam pop up store juga biasanya lebih spesifik dan lebih kuat dari sisi identitas brand.

Perbedaan ini penting karena berpengaruh pada tujuan. Jika sebuah brand ingin berada di tengah keramaian dan memanfaatkan lalu lintas pengunjung yang sudah ada, pop up market bisa menjadi pilihan yang tepat. Namun jika sebuah brand ingin menciptakan ruang khusus yang sepenuhnya merepresentasikan identitasnya, pop up store biasanya lebih cocok.

Meski begitu, keduanya punya benang merah yang sama: sama-sama memanfaatkan waktu yang terbatas untuk menciptakan perhatian yang besar. Itu sebabnya Google kadang menampilkan hasil pencarian yang saling bercampur antara pop up market dan pop up store. Buat pembaca, memahami perbedaannya akan membantu agar tidak salah menafsirkan istilah yang digunakan.

 

Contoh Pop Up Market yang Sering Ditemui

Sebenarnya, konsep pop up market cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hanya saja, banyak orang tidak selalu menyadari bahwa mereka sedang melihat bentuk pop up market ketika datang ke sebuah acara.

Contoh yang paling mudah adalah bazar brand lokal di mall. Dalam event seperti ini, sejumlah pelaku usaha membuka booth selama beberapa hari untuk menjual produk mereka. Ada yang menawarkan pakaian, makanan ringan, parfum, aksesoris, sampai barang handmade. Setelah event selesai, seluruh area dibongkar dan aktivitas penjualan berhenti.

Contoh lain bisa dilihat pada festival makanan. Ketika sejumlah tenant hadir dalam satu area selama akhir pekan atau selama satu rangkaian acara, itu juga bisa masuk kategori pop up market. Tujuannya bukan hanya transaksi, tetapi juga pengalaman. Pengunjung datang bukan sekadar membeli, melainkan menikmati suasana, mencoba hal baru, dan merasakan event secara menyeluruh.

Market kreatif yang digelar komunitas juga termasuk contoh yang kuat. Biasanya acara seperti ini mengangkat tema tertentu, misalnya produk lokal, karya ilustrator, kerajinan tangan, atau produk ramah lingkungan. Di sini, pop up market bukan hanya sarana jual beli, tetapi juga ruang pertemuan antara brand kecil dan audiens yang lebih relevan.

Menariknya, format seperti ini juga dipakai brand besar. Mereka bisa hadir dalam sebuah event bersama brand lain, atau menjadi sponsor utama dalam market tertentu untuk menarik audiens yang tepat. Jadi, walaupun terlihat santai dan kasual dari luar, pop up market sering menjadi bagian dari strategi pemasaran yang sangat terukur.

 

Keuntungan Pop Up Market bagi Brand

Kalau dilihat dari sisi bisnis, keuntungan pop up market cukup banyak. Bahkan untuk beberapa brand, model ini bisa memberi hasil yang lebih bernilai daripada sekadar penjualan harian.

Keuntungan pertama adalah uji pasar yang lebih cepat. Saat sebuah brand ingin mengetahui apakah produk baru punya peminat, mereka tidak harus langsung membuka toko permanen. Cukup bawa produk tersebut ke pop up market, lihat respons pengunjung, dengarkan komentar mereka, lalu baca polanya. Dari sana, brand bisa menilai apakah produk itu layak dikembangkan lebih jauh atau perlu diperbaiki.

Keuntungan kedua adalah menjangkau audiens baru. Tidak semua calon pembeli akan datang ke toko atau website brand secara langsung. Kadang orang baru mengenal sebuah produk ketika mereka menemukannya secara tidak sengaja di event atau market tertentu. Pop up market membuka peluang untuk bertemu dengan orang-orang seperti ini dalam situasi yang lebih santai dan lebih terbuka untuk eksplorasi.

Keuntungan berikutnya adalah membangun interaksi langsung. Dalam penjualan online, brand sering hanya melihat angka klik, pesan masuk, atau data transaksi. Di pop up market, interaksinya jauh lebih nyata. Brand bisa melihat ekspresi pengunjung, pertanyaan yang paling sering muncul, produk mana yang paling sering dipegang, hingga alasan orang jadi membeli atau batal membeli. Insight seperti ini sulit digantikan hanya dengan dashboard data.

Selain itu, pop up market juga membantu membangun citra brand. Booth yang dirancang dengan baik bisa meninggalkan kesan yang kuat. Orang mungkin belum membeli saat itu juga, tetapi mereka bisa mengingat nama brand, mengambil foto, membagikannya ke media sosial, atau kembali mencari produknya setelah acara selesai. Dalam banyak kasus, efek seperti ini justru menjadi nilai jangka panjang yang sangat penting.

Karena itu, pop up market tidak seharusnya dilihat semata-mata sebagai tempat jualan sementara, tetapi juga sebagai sarana riset pasar yang membantu brand membaca respons konsumen secara lebih dekat. Ia adalah titik pertemuan antara promosi, penjualan, riset pasar, dan pengalaman pelanggan dalam satu format yang cukup ringkas.

 

Apa yang Membuat Pop Up Market Efektif untuk Bisnis

Setelah melihat manfaatnya, pertanyaan berikutnya adalah kenapa format ini bisa bekerja begitu baik. Apa yang membuat pop up market terasa efektif, padahal durasinya singkat dan sifatnya tidak permanen?

Jawabannya ada pada kombinasi antara momentum, kedekatan, dan rasa terbatas. Pop up market bekerja karena ia menciptakan alasan untuk datang sekarang. Orang tidak merasa punya banyak waktu untuk menunda. Faktor ini membuat keputusan pengunjung sering bergerak lebih cepat dibanding saat mereka melihat toko yang bisa dikunjungi kapan saja.

Efektivitasnya juga muncul dari pengalaman yang lebih hidup. Pengunjung bisa melihat produk secara langsung, mencoba, memegang, mencicipi, atau berbicara langsung dengan penjual. Dalam banyak kategori produk, pengalaman langsung seperti ini masih sangat kuat pengaruhnya. Hal yang sulit terjadi di layar ponsel sering justru terjadi dengan mudah ketika pembeli bertemu produk secara fisik.

Di sisi lain, brand mendapat manfaat dari fokus perhatian. Dalam toko permanen, aktivitas promosi bisa terasa rutin. Sementara dalam pop up market, semuanya terasa lebih padat dan lebih intens. Ada jadwal yang terbatas, target yang jelas, dan energi event yang lebih terasa. Situasi seperti ini membantu brand membangun momentum yang lebih cepat.

Tentu saja, efektivitas pop up market tidak datang otomatis. Jika lokasi salah, produk tidak sesuai dengan audiens, atau presentasi booth kurang menarik, hasilnya bisa biasa saja. Namun ketika eksekusinya tepat, model ini bisa memberi hasil yang sangat efisien. Bukan hanya dari sisi omzet, tetapi juga dari kualitas interaksi dan nilai brand yang terbentuk.

 

Tantangan Pop Up Market yang Perlu Dipahami

Meski terlihat menjanjikan, pop up market tetap punya tantangan. Ini penting dibahas supaya kamu tidak melihat konsep ini sebagai strategi yang selalu berhasil tanpa risiko.

Tantangan pertama adalah durasi yang singkat. Karena waktunya terbatas, brand harus cepat menarik perhatian. Jika booth kurang mencolok atau pesan utamanya tidak jelas, pengunjung bisa lewat begitu saja tanpa berhenti. Dalam event yang ramai, kompetisi perhatian sangat ketat.

Tantangan kedua adalah soal konsistensi penjualan. Pop up market bisa sangat ramai pada jam atau hari tertentu, tetapi tidak selalu stabil sepanjang event. Brand perlu siap dengan kemungkinan lonjakan besar di satu waktu dan sepi di waktu lain. Artinya, pengelolaan stok dan tim juga harus dipikirkan dengan matang.

Ada juga tantangan dalam memilih event yang tepat. Tidak semua pop up market cocok untuk semua produk. Produk premium, misalnya, belum tentu optimal jika ditempatkan di market yang audiensnya lebih sensitif terhadap harga. Sebaliknya, produk yang sangat niche bisa kurang dilirik jika masuk ke event yang terlalu umum.

Tantangan berikutnya adalah mengukur hasil secara menyeluruh. Banyak brand terlalu fokus pada omzet selama acara, padahal nilai pop up market sering justru terlihat dari hal lain, seperti pertambahan audiens, feedback produk, konten media sosial, sampai peluang kolaborasi setelah event selesai. Kalau ukurannya hanya penjualan langsung, brand bisa salah menilai dampak sebenarnya.

Maka, sebelum memutuskan ikut pop up market, bisnis perlu tahu tujuan utamanya. Apakah ingin menjual sebanyak mungkin, menguji produk, menambah exposure, atau membangun pengalaman brand. Tanpa tujuan yang jelas, hasil yang didapat sering terasa tidak maksimal meskipun acaranya ramai.

 

Siapa yang Cocok Menggunakan Pop Up Market

Melihat karakter dan manfaatnya, pop up market sebenarnya cukup fleksibel untuk berbagai jenis usaha. Namun ada beberapa tipe bisnis yang biasanya paling cocok memanfaatkannya.

Brand baru sering menjadi pihak yang paling diuntungkan. Saat sebuah bisnis belum punya toko permanen atau belum dikenal luas, pop up market memberi kesempatan untuk tampil di depan banyak orang tanpa modal sebesar membuka gerai sendiri. Ini membantu brand mendapatkan validasi awal dari pasar.

UMKM juga cocok memakai format ini. Banyak pelaku usaha kecil punya produk bagus tetapi belum punya akses distribusi yang luas. Dengan masuk ke pop up market, mereka bisa bertemu langsung dengan pembeli potensial, menguji harga, dan melihat produk mana yang paling menarik perhatian.

Selain itu, brand yang ingin meluncurkan produk baru juga sangat diuntungkan. Pop up market memberi ruang untuk menguji antusiasme pasar sebelum distribusi diperluas. Jika responsnya bagus, brand bisa melanjutkan strategi ke tahap berikutnya. Jika kurang bagus, masih ada ruang untuk evaluasi tanpa kerugian terlalu besar.

Bisnis yang mengandalkan pengalaman visual dan interaksi langsung juga cocok. Produk seperti fashion, makanan, minuman, kerajinan tangan, parfum, dekorasi, sampai produk hobi biasanya lebih mudah tampil kuat dalam format seperti ini. Pengunjung bisa merasakan keunikan produk secara langsung, dan itu sering menjadi pembeda yang sangat penting.

Jadi, pop up market bukan hanya untuk brand besar atau event bergengsi. Banyak bisnis kecil justru bisa tumbuh lebih cepat karena berani memanfaatkan pasar sementara dengan konsep yang tepat.

 

Kenapa Pop Up Market Masih Relevan di Era Digital

Di tengah dominasi e-commerce, media sosial, dan marketplace, mungkin ada yang bertanya: kalau orang bisa belanja online dengan mudah, kenapa pop up market masih sering dipakai?

Jawabannya karena pengalaman fisik belum benar-benar tergantikan. Belanja online memang praktis, tetapi tidak selalu bisa memberi rasa yang sama. Ada produk yang perlu disentuh, dicoba, dicium aromanya, atau dirasakan langsung kualitasnya. Ada juga brand yang butuh ruang untuk membangun koneksi emosional, bukan hanya transaksi cepat.

Pop up market hadir sebagai jembatan antara penjualan offline dan kekuatan digital. Banyak brand memakai event fisik untuk menarik perhatian, lalu mengarahkan pengunjung ke akun media sosial, website, atau marketplace mereka. Dengan begitu, pop up market tidak berdiri sendiri. Ia menjadi pintu masuk untuk hubungan yang lebih panjang.

Di sisi lain, era digital justru membuat pop up market makin menarik. Booth yang estetik, konsep event yang unik, dan produk yang fotogenik punya peluang besar tersebar di media sosial. Pengunjung yang datang bisa ikut menjadi penyebar awareness tanpa disuruh. Efek ini membuat pop up market terasa lebih luas daripada sekadar acara fisik yang hanya berlangsung beberapa hari.

Karena itu, relevansi pop up market belum hilang. Ia justru berkembang sebagai strategi hybrid: menggabungkan pengalaman langsung dengan amplifikasi digital. Buat banyak brand, kombinasi seperti ini jauh lebih kuat daripada hanya bergantung pada satu kanal saja.

 

Kesimpulan

Pop up market adalah pasar sementara yang dibuka dalam waktu terbatas untuk menjual, memperkenalkan, atau menguji produk secara langsung di hadapan konsumen. Meski terlihat sederhana, konsep ini punya fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar bazar sesaat.

Banyak brand memakai pop up market karena format ini memberi ruang untuk bergerak cepat, lebih hemat, dan lebih dekat dengan calon pembeli. Di dalamnya ada peluang untuk membangun awareness, menguji minat pasar, membaca perilaku konsumen, sekaligus menciptakan pengalaman yang lebih membekas.

Yang membuat pop up market tetap menarik bukan hanya karena sifatnya sementara, tetapi karena waktu yang singkat itu justru memaksa brand tampil lebih fokus. Tidak ada ruang untuk asal hadir. Semua harus dirancang agar pesan, produk, dan pengalaman bisa langsung terasa oleh pengunjung.

Kalau kamu melihat pop up market hanya sebagai tren event, kamu mungkin hanya menangkap permukaannya. Namun kalau dilihat dari sisi strategi bisnis, model ini adalah cara cerdas untuk menggabungkan promosi, penjualan, dan riset pasar dalam satu gerak yang ringkas, terukur, dan relevan dengan perilaku konsumen hari ini.

 

FAQ

1. Pop up market adalah apa?

Pop up market adalah pasar sementara yang dibuka dalam waktu terbatas untuk menjual atau mempromosikan produk tertentu. Biasanya format ini hadir dalam event, bazar, festival, atau ruang retail temporer yang hanya beroperasi beberapa hari atau beberapa minggu.

2. Apa bedanya pop up market dan pop up store?

Perbedaannya ada pada formatnya. Pop up market biasanya diisi banyak penjual atau banyak brand dalam satu area. Sementara pop up store lebih mengacu pada toko sementara milik satu brand saja. Keduanya sama-sama temporer, tetapi pengalaman dan tujuannya bisa berbeda.

3. Kenapa pop up market banyak dipakai brand?

Karena pop up market memberi banyak keuntungan sekaligus. Brand bisa menguji pasar, menjangkau audiens baru, membangun awareness, dan berinteraksi langsung dengan calon pembeli tanpa harus membuka toko permanen yang biayanya lebih besar.

4. Apakah pop up market efektif untuk bisnis kecil?

Ya, justru bisnis kecil sering sangat cocok memakai model ini. Pop up market memberi kesempatan untuk memperkenalkan produk secara langsung, mengukur respons pembeli, dan membangun nama brand tanpa harus mengeluarkan investasi besar untuk gerai tetap.

5. Di mana pop up market biasanya diadakan?

Pop up market biasanya diadakan di mall, festival, ruang kreatif, kampus, gedung perkantoran, atau area publik yang punya lalu lintas pengunjung tinggi. Lokasi dipilih berdasarkan potensi audiens dan kecocokan dengan karakter produk yang dijual.

 

Itulah informasi menarik tentang Pop Up Market yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.

Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.

 

Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.

Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!

Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.

 

Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]

 

Follow Sosmed Twitter Indodax sekarang

Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram

 

 

Author : RB

DISCLAIMER:  Segala bentuk transaksi aset kripto memiliki risiko dan berpeluang untuk mengalami kerugian. Tetap berinvestasi sesuai riset mandiri sehingga bisa meminimalisir tingkat kehilangan aset kripto yang ditransaksikan (Do Your Own Research/ DYOR). Informasi yang terkandung dalam publikasi ini diberikan secara umum tanpa kewajiban dan hanya untuk tujuan informasi saja. Publikasi ini tidak dimaksudkan untuk, dan tidak boleh dianggap sebagai, suatu penawaran, rekomendasi, ajakan atau nasihat untuk membeli atau menjual produk investasi apa pun dan tidak boleh dikirimkan, diungkapkan, disalin, atau diandalkan oleh siapa pun untuk tujuan apa pun.
  

Lebih Banyak dari Tutorial

Pelajaran Dasar

Calculate Staking Rewards with INDODAX earn

Select an option
dot Polkadot 2.25%
bnb BNB 0.52%
sol Solana 4.62%
eth Ethereum 2.32%
ada Cardano 1.02%
pol Polygon Ecosystem Token 1.87%
trx Tron 2.75%
DOT
0
Berdasarkan harga & APY saat ini
Stake Now

Pasar

Nama Harga 24H Chg
CHT/IDR
CyberHarbo
6
100%
PUFFER/IDR
Puffer
394
55.73%
UAI/IDR
UnifAI Net
6.795
34.37%
H2O/IDR
H2O DAO
8
33.33%
RVM/IDR
Realvirm
4
33.33%
Nama Harga 24H Chg
GICT/USDT
GICTrade
1
-43.08%
BEAT/IDR
Audiera
77.212
-26.75%
TLM/IDR
Alien Worl
67
-26.37%
MURA/IDR
Murasaki
83
-25.23%
UW3S/IDR
Utility We
3
-25%
Apakah artikel ini membantu?

Beri nilai untuk artikel ini

You already voted!
Artikel Terkait

Temukan lebih banyak artikel berdasarkan topik yang diminati.

Cara Mencairkan USDT ke Rupiah, Ternyata Semudah Ini
03/06/2026
Cara Mencairkan USDT ke Rupiah, Ternyata Semudah Ini

Punya USDT tapi bingung cara mengubahnya menjadi Rupiah? Situasi ini

03/06/2026
Cara Mendapatkan Centang Hijau di WhatsApp Business Resmi
02/06/2026
Cara Mendapatkan Centang Hijau di WhatsApp Business Resmi

Bagi pemilik bisnis, WhatsApp bukan lagi sekadar aplikasi untuk membalas

02/06/2026
5 Cara Memulai Investasi Cryptocurrency untuk Gen Z
29/05/2026
5 Cara Memulai Investasi Cryptocurrency untuk Gen Z

Di era digital seperti sekarang, semakin banyak Gen Z yang

29/05/2026