Scam token bukan sekadar cerita dari komunitas crypto luar negeri. Di Indonesia pun, banyak investor pemula yang baru mulai mengenal dunia kripto, langsung terjebak proyek abal-abal. Token yang katanya akan jadi “Solana berikutnya”, proyek dengan roadmap mentereng, bahkan yang katanya sudah terdaftar di bursa besar—ternyata berujung rugi total.
Kasus paling viral? Squid Game Token (SQUID). Tanpa izin resmi, tanpa tim yang jelas, harganya sempat meroket ribuan persen hanya dalam beberapa hari. Tapi apa yang terjadi setelahnya? Developer kabur, dan tokennya nggak bisa dijual sama sekali. Total kerugian: jutaan dolar AS dalam hitungan menit.
Scam token bukan cuma menipu lewat nilai, tapi juga lewat emosi. Nah, biar kamu nggak ikut jadi korban, yuk kita bedah satu per satu cara mengenali scam token secara mendalam dari sisi teknis, psikologis, dan strategis.
1. Telusuri Kontrak Token: Bukan Sekadar Copy-Paste
Langkah pertama dan paling krusial sebelum membeli token adalah mengecek alamat kontraknya. Scam token sering muncul dengan nama dan logo yang mirip proyek terkenal. Tapi di balik itu, alamat smart contract-nya berbeda. Ini yang sering jadi jebakan pertama buat pemula. Karena itu, selalu cek alamat kontrak dari sumber resmi, seperti:
- CoinMarketCap
- CoinGecko
- Situs resmi proyeknya
Contohnya, token “SHIBA INU 2.0” yang muncul di beberapa DEX. Namanya bisa mirip, tapi begitu dicek di Etherscan, alamat kontraknya tidak sesuai, bahkan tidak ada jejak transaksi besar dari wallet whale.
Catatan penting: Kontrak resmi itu ibarat identitas digital token. Kalau kamu salah copy-paste, token yang kamu beli bisa jadi kloningan palsu buatan scammer.
Artikel menarik lainnya untuk kamu: Liquidity Lock: Token Aman atau Cuma Kedok Rug Pull?
2. Analisis Smart Contract Pakai Token Scanner
Setelah memastikan alamat kontraknya benar, kamu bisa lanjut ke langkah teknis berikutnya: menganalisis smart contract-nya. Di sinilah tools seperti Token Sniffer atau GoPlus Security berperan penting. Mereka disebut juga token scanner, yaitu alat untuk membaca kode kontrak pintar dari token kripto.
Fungsi utamanya:
- Menilai keamanan kontrak (open source, verified, dll.)
- Deteksi fungsi mencurigakan seperti disable selling, mint unlimited supply, atau backdoor
- Mengetahui apakah likuiditas dikunci atau tidak
Contoh nyata: Akang analisis sebuah token baru yang viral di X (Twitter), dan ternyata Token Sniffer kasih skor 0/100. Kenapa? Karena:
- Kontrak tidak verified
- Owner masih bisa tarik likuiditas
- Ada fungsi mint sepihak
Tools ini bukan ramalan, tapi indikator teknis penting. Jangan beli token sebelum kamu scan dulu.
3. Waspadai Whitepaper yang Menjual Mimpi
Setelah semua pengecekan teknis selesai, sekarang saatnya geser ke sisi dokumentasi. Salah satu sumber informasi terpenting yang wajib kamu baca adalah whitepaper proyek.
Whitepaper scam umumnya:
- Copy-paste dari proyek lain
- Banyak jargon teknikal tanpa penjelasan
- Tidak ada tokenomics realistis (contoh: 80% supply dipegang tim)
Sebaliknya, whitepaper dari proyek serius akan menjelaskan:
- Struktur pembagian token
- Jadwal vesting
- Rencana peluncuran fitur
Gunakan PDF Search Engine untuk mengecek apakah whitepaper itu hasil plagiarisme.
4. Kenali Tim Pengembang & Sosial Medianya
Scammer sering pakai nama palsu, foto stok, atau akun LinkedIn palsu. Kalau kamu nemu tim yang terlalu anonim, minim rekam jejak, atau enggak aktif di sosial media, ini red flag.
Tapi hati-hati juga dengan akun yang terlalu “rame”. Bisa aja followers-nya beli, engagement-nya fake.
Tips:
- Cek apakah tim pernah aktif di proyek crypto lain
- Cari rekam jejak open source di GitHub atau forum kripto
- Lihat apakah nama mereka muncul di media kredibel
5. Cek Audit Kontrak & Validasi di Platform Terpercaya
Audit dari pihak ketiga seperti CertiK, SlowMist, atau PeckShield bisa jadi indikator tambahan. Tapi jangan cepat percaya—karena ada juga audit palsu!
Pastikan:
- Audit dipublikasikan di situs resmi auditor
- Audit punya halaman public report, bukan cuma logo di website
- Cek apakah ada audit ulang (karena scam token sering berubah kontraknya diam-diam)
6. Perhatikan Komunitas & Aktivitas Developer
Proyek sehat biasanya punya komunitas aktif, diskusi terbuka, dan developer yang transparan. Sementara scam token biasanya:
- Overhype di awal, tapi tiba-tiba ghosting
- Admin hanya posting promo tanpa diskusi
- Tidak ada update GitHub atau AMA (Ask Me Anything)
Join dulu grup Telegram atau Discord mereka. Baca interaksinya. Rasain vibe-nya. Kalau terasa toxic, penuh spam, atau enggak bisa tanya, segera tinggalkan.
7. Validasi Utility: Apakah Token Ini Punya Fungsi Nyata?
Scam token biasanya dibuat cuma buat spekulasi. Kalau kamu tanya, “token ini fungsinya buat apa sih?”, lalu jawabannya muter-muter—itu sinyal bahaya.
Pastikan:
- Token punya use case yang masuk akal
- Ada demo, prototype, atau minimal roadmap jelas
- Token dipakai di ekosistem nyata (bukan sekadar janji)Kalau enggak ada utility, bahkan whitepaper-nya pun cuma ‘mimpi’, lebih baik kamu skip.’
Untuk memperkuat pengecekan teknis ini, kamu juga bisa menggunakan beberapa alat bantu tambahan yang populer di kalangan komunitas DeFi. Mari kita bahas satu per satu.
Kamu mungkin tertarik dengan ini juga: Cegah Scam Crypto dengan Bantuan Token Sniffer
6 Tools Populer untuk Deteksi Scam Token DeFi
Selain cara cek scam token, kamu juga perlu mengetahui bahwa ada tolls populer yang ternyata bisa mendeteksi scam pada token DEFI seperti informasi yang kami kutip dari website 1inch
- DEXTools
Bantu kamu lihat riwayat pembelian dan penjualan suatu token secara real-time. - UNCX (Unicrypt)
Untuk cek apakah likuiditas token dikunci atau tidak. Jika tidak dikunci, potensi rug pull tinggi. - Block Explorer (Etherscan, BscScan, Polygonscan)
Cek riwayat transaksi dan siapa pemilik kontraknya. Bisa lacak penghapusan likuiditas. - De.Fi Scanner
Untuk mendeteksi kode berbahaya, fungsi anti-jual, atau potensi eksploitasi dalam kontrak. - Token Sniffer
Seperti dijelaskan sebelumnya, ini alat yang sangat berguna untuk mendeteksi red flags secara cepat. - BSC Check
Khusus untuk BNB Chain, memeriksa distribusi token dan kode honeypot.
Penutup: Jangan Tergiur Cuan Kilat, Amankan Dulu Modalmu
Scam token itu seperti jebakan tikus yang dikasih keju emas. Menggoda di awal, tapi habis itu modal kamu bisa lenyap. Edukasi adalah senjata terbaik kamu di tengah ekosistem kripto yang makin bebas ini.
Selalu ingat prinsip ini: Lebih baik kehilangan peluang, daripada kehilangan modal.
Itulah informasi menarik tentang 7 Cara Cek Scam Token Kripto yang Ampuh di 2025 & tools populernya yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market. jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan.
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
FAQ
- Bagaimana cara mengidentifikasi token penipuan?
Gunakan token scanner seperti Token Sniffer, analisis whitepaper, tim, dan audit. Jangan hanya andalkan hype. - Apa itu crypto scam?
Crypto scam adalah bentuk penipuan menggunakan aset kripto—biasanya lewat token palsu, rug pull, atau phising. - Apa itu token sniffer?
Alat untuk mendeteksi red flag di smart contract, seperti fungsi mint tak terbatas, kode anti-jual, dll. - Bagaimana mengecek token airdrop palsu?
Airdrop scam biasanya minta private key, redirect ke situs palsu, atau kasih token yang enggak bisa dijual.
Author: AL