Kalau kamu mengikuti arus besar 2025, satu pola mulai terlihat jelas. Investor ritel sudah punya jalur formal ke Bitcoin lewat ETF Bitcoin, sementara pembahasan stablecoin masuk ke fase yang lebih serius di level kebijakan dan integrasi perbankan. Di tengah perubahan itu, ada satu kalimat yang ramai dibahas: Jan van Eck menyebut Ethereum sebagai “token Wall Street.” Ucapan ini bukan sekadar permainan kata. Di baliknya ada cara berpikir institusi tentang standar, kepatuhan, dan efisiensi pembayaran yang ingin mereka capai.
Paragraf berikutnya mengajak kamu membedah maksud kalimat tersebut, bukan untuk mengangkat sensasi, tetapi untuk memahami logika teknis, bisnis, dan implikasinya bagi keputusan investasi yang lebih cerdas.
Siapa Jan van Eck dan kenapa suaranya penting
Sebelum masuk ke inti, kamu perlu tahu siapa yang bicara. Jan van Eck adalah CEO VanEck, sebuah manajer aset global yang aktif di ETF tematik, komoditas, pasar berkembang, hingga aset digital. Posisinya membuat setiap pernyataan bukan sekadar opini, melainkan cerminan dari bagaimana institusi menilai risiko, memilih infrastruktur, dan merancang produk yang bisa dipasarkan secara luas kepada investor.
Konteks ini penting karena mengubah sudut pandang kamu. Ketika Jan bicara soal Ethereum, ia tidak sedang mendorong spekulasi sesaat. Ia memberi isyarat tentang standar teknis dan kesiapan ekosistem yang memudahkan bank, kustodian, dan penyedia pembayaran menjalankan sistem on-chain tanpa mengorbankan kepatuhan serta tata kelola. Setelah memahami bobot suaranya, kita siap mengurai kenapa label “token Wall Street” diarahkan ke ETH.
“ETH = Token Wall Street”: maksud di balik kalimat
Ketika Jan menyebut Ethereum sebagai “token Wall Street”, fokusnya bukan harga, melainkan fungsi. Di mata institusi, blockchain yang layak menjadi tulang punggung pembayaran dan penyelesaian transaksi harus memenuhi beberapa kriteria: kestabilan ekosistem developer, ketersediaan alat pengembangan, dukungan kustodian berlisensi, dan rekam jejak integrasi dengan proses yang sudah ada di pasar modal.
Ethereum, bersama standar EVM, menawarkan satu bahasa bersama yang dipahami banyak pihak: dari pengembang kontrak pintar, penyedia infrastruktur, sampai auditor keamanan. Inilah yang memudahkan bank dan perusahaan pembayaran untuk mengurangi friksi integrasi. Dengan kata lain, “token Wall Street” di sini adalah metafora dari bahasa standar yang dipilih karena alasan efisiensi dan kepatuhan, bukan karena kultus terhadap satu aset tertentu. Setelah kamu menangkap esensi ini, kita bisa melangkah ke pertanyaan berikutnya: kenapa standar EVM dianggap paling siap?
Kenapa institusi condong ke EVM
Begitu menyentuh implementasi, institusi tidak memulai dari kertas kosong. Mereka punya sistem akuntansi, manajemen risiko, KYC/AML, pelaporan audit, hingga kontrol internal yang tidak bisa ditinggalkan. Di titik ini, kompatibilitas menjadi kata kunci. EVM (Ethereum Virtual Machine) menyediakan seperangkat standar yang relatif stabil untuk pengembangan, audit, dan orkestrasi transaksi lintas aplikasi.
Ekosistem EVM juga didukung oleh beragam penyedia infrastruktur, mulai dari node services, HSM untuk kunci kriptografi, sampai kustodian yang paham kebutuhan lembaga keuangan. Ditambah, banyak jaringan yang kompatibel EVM mendesain lapisan skalabilitas agar biaya transaksi lebih terkendali, tanpa mengubah cara kerja alat pengembang yang sudah dipahami luas.
Buat kamu, artinya sederhana. Ketika institusi memilih EVM karena alasan biaya pindah lebih rendah dan kemudahan audit, proyek dan aset yang “plug-and-play” ke standar ini punya peluang adopsi yang lebih tinggi. Tentu tidak ada jaminan satu standar akan dominan selamanya, tetapi di 2025, EVM adalah kandidat yang paling praktis untuk kebutuhan pembayaran dan stablecoin. Ini membawa kita ke contoh konkret tentang bagaimana standar dan likuiditas disatukan.
Studi kasus singkat: stablecoin dan likuiditas yang teragregasi
Untuk melihat gambaran yang lebih nyata, bayangkan sebuah arsitektur yang berupaya menyatukan likuiditas dolar digital di banyak rantai agar terasa seperti satu pasar yang utuh. Tanpa agregasi, likuiditas stablecoin terpecah, biaya lintas-rantai membengkak, dan pengalaman pengguna menjadi berlapis-lapis.
Ketika stablecoin diintegrasikan secara native ke sebuah lapisan agregasi yang kompatibel dengan EVM, efeknya langsung terasa. Likuiditas menjadi lebih fungible, transaksi lintas-rantai terasa lebih sederhana di sisi pengguna, dan pengembang tidak perlu membangun ulang logika pembayaran di setiap jaringan. Bagi institusi, arsitektur seperti ini berarti proses rekonsiliasi dan pelaporan yang lebih mudah, karena pergerakan dana bisa ditelusuri dengan standar yang konsisten.
Dari sudut pandang kamu sebagai pembaca, pelajaran utamanya jelas. Semakin rapi likuiditas dan semakin seragam bahasanya, semakin menarik pula ekosistem itu untuk kebutuhan pembayaran bernilai besar yang menuntut kepastian dan efisiensi.
Dampak untuk kamu: membedakan peran BTC dan ETH
Setelah memahami logika institusi, kamu bisa menata cara pandang terhadap dua aset besar ini. Bitcoin sering diposisikan sebagai eksposur inti yang mudah diakses oleh investor ritel maupun institusi melalui produk terstruktur seperti ETF. Kekuatan narasinya bertumpu pada kelangkaan, ketahanan jaringan, serta posisinya sebagai penyimpan nilai jangka panjang di portofolio tertentu.
Ethereum, di sisi lain, menonjol sebagai infrastruktur utilitas. Ia menjadi landasan untuk kontrak pintar, stablecoin adalah aset kripto yang nilainya dipatok ke fiat, dan berbagai aplikasi keuangan yang berjalan otomatis. Jika ucapan “token Wall Street” benar dimaknai sebagai pengakuan terhadap standar, maka yang disorot adalah kematangan alat dan ekosistem yang memudahkan integrasi.
Bukan berarti kamu harus memilih salah satu. Justru, dengan memisahkan fungsi keduanya, kamu bisa menghindari perdebatan yang tidak produktif. Kamu dapat menempatkan BTC sebagai eksposur inti yang terukur, sementara ETH dan ekosistem EVM kamu hubungkan dengan kebutuhan utilitas seperti pembayaran, penyelesaian, dan potensi tokenisasi aset. Setelah peran dibedakan, pertanyaan lanjutannya adalah cara menilai risiko yang melekat pada infrastruktur pembayaran on-chain.
Risiko yang perlu kamu perhatikan
Tidak ada standar tanpa trade-off. Pertama, risiko regulasi. Aturan stablecoin terus berkembang dan bisa berbeda-beda di tiap yurisdiksi. Perubahan kebijakan bisa memengaruhi cara kustodian memegang cadangan, cara penerbit melaporkan komposisi aset, serta syarat kepatuhan bagi mitra bank dan PSP.
Kedua, risiko operasional dan keamanan. Meskipun EVM sudah matang, kontrak pintar tetap rentan jika tata kelola pengembangan dan auditnya longgar. Untuk stablecoin, kamu perlu melihat komposisi cadangan, frekuensi dan metodologi proof of reserves, serta siapa kustodian yang memegang aset kas atau surat berharga.
Ketiga, risiko likuiditas dan konsentrasi. Likuiditas yang tampak menyatu bisa saja menipis pada kondisi pasar tertentu. Jika terlalu banyak aplikasi bertumpu pada satu standar atau satu penerbit, ada risiko sistemik ketika terjadi gangguan teknis atau pengetatan kebijakan.
Kalau kamu disiplin mengecek tiga hal ini, kamu tidak mudah hanyut oleh label yang terdengar meyakinkan. Kamu menilai sebuah klaim berdasarkan desain, tata kelola, dan bukti keterukuran, bukan sekadar narasi.
Apa artinya “ETH = token Wall Street” untuk strategi kamu
Ucapan ini bisa kamu jadikan kompas, bukan target harga. Jika institusi menyukai standar yang memudahkan audit dan integrasi, maka proyek yang serasi dengan kebutuhan itu akan lebih menarik untuk kolaborasi jangka panjang. Implikasinya, ketika kamu mengevaluasi aset atau aplikasi, prioritaskan yang:
- menghadirkan keterlacakan dan pelaporan yang jelas
- berbasis standar yang dipahami luas oleh auditor dan pengawas
- memiliki mitra infrastruktur yang kredibel di kustodian, pembayaran, dan keamanan
Tiga kriteria ini tidak memberi jawaban instan, tetapi membantu kamu fokus pada ketahanan model ketika pasar sedang menekan.
Kesimpulan
Pada akhirnya, “ETH sebagai token Wall Street” bukan jargon. Itu tanda bahwa institusi butuh standar yang rapi, bisa diaudit, dan mudah diintegrasikan. EVM kebetulan memenuhi tiga syarat itu lebih dulu, sehingga Ethereum wajar diposisikan sebagai infrastruktur pembayaran dan stablecoin. Buat kamu, artinya jelas. Taruh BTC sebagai eksposur inti sesuai tujuan dan risiko, lalu manfaatkan ETH dan ekosistem EVM untuk utilitas yang benar-benar dipakai. Fokus ke arsitektur dan tata kelola, bukan noise harga. Saat regulasi dan integrasi bank semakin matang, keputusan kamu tetap rasional karena bertumpu pada fungsi, bukan euforia.
Itulah informasi menarik tentang Jan van Eck yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market. jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan.
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
FAQ
1. Apakah “ETH = token Wall Street” berarti harga ETH pasti naik?
Tidak otomatis. Ucapan itu merujuk pada standar dan utilitas, bukan prediksi harga. Harga tetap dipengaruhi banyak faktor seperti likuiditas, adopsi, dan kebijakan.
2. Mengapa bukan chain lain yang jadi standar?
Bisa saja di masa depan. Namun saat ini EVM menawarkan kombinasi alat, talenta developer, dan dukungan infrastruktur yang paling mudah dipakai institusi.
3. Apa kaitannya dengan stablecoin?
Stablecoin membutuhkan jaringan yang dipercaya banyak pihak, mudah diaudit, dan didukung kustodian. Ketika syarat itu dipenuhi, adopsi pembayaran lebih mungkin terjadi.
4. Apakah ETF Bitcoin membuat ETH tertinggal?
Tidak harus. ETF memberi jalur formal untuk eksposur BTC, sedangkan ETH lebih sering dikaitkan dengan utilitas kontrak pintar dan pembayaran. Keduanya bisa saling melengkapi.
5. Bagaimana cara menilai risiko stablecoin?
Cek komposisi cadangan, siapa kustodiannya, frekuensi dan metodologi proof of reserves, reputasi auditor, dan kedalaman likuiditas di pasar.
6. Apa dampaknya buat portofolio ritel?
Pisahkan fungsi. BTC untuk eksposur inti sesuai tujuan kamu, ETH/EVM untuk utilitas jaringan. Ukuran porsi menyesuaikan profil risiko dan horizon investasi.
7. Apakah EVM akan dominan selamanya?
Tidak ada jaminan. Inovasi bisa muncul dari non-EVM, tetapi untuk saat ini EVM menawarkan biaya pindah yang rendah dan ekosistem yang paling siap dipakai institusi.