Dalam dunia keuangan yang terus berubah, pemahaman tentang jenis-jenis lembaga keuangan menjadi krusial. Dua model perbankan yang sering dibandingkan adalah bank konvensional dan bank syariah. Keduanya memang memiliki kesamaan fungsi, seperti menyimpan uang, memberikan pinjaman, dan mengelola investasi. Namun, di balik kesamaan tersebut, ada perbedaan fundamental dalam prinsip, operasional, dan tujuan yang mendasari.
Tak hanya itu, kini muncul alternatif baru berbasis teknologi blockchain: Islamic DeFi (Decentralized Finance Syariah). Kehadirannya menantang kedua model lama dengan menawarkan transparansi dan kepemilikan aset yang berbeda. Tapi, sebelum membahas lebih jauh soal Islamic DeFi, mari kita bedah dulu lima perbedaan utama antara bank konvensional dan bank syariah.
1. Prinsip Dasar: Bunga vs Bagi Hasil
Bank konvensional beroperasi dengan sistem bunga (interest) yang dikenakan pada pinjaman maupun diberikan pada simpanan. Bunga ini bersifat tetap atau mengambang tergantung kesepakatan, dan menjadi sumber utama pendapatan bank.
Sementara itu, bank syariah mengharamkan praktik bunga (riba). Sebagai gantinya, digunakan sistem bagi hasil (mudharabah) atau markup keuntungan (murabahah) sesuai prinsip Islam. Nasabah dan bank berbagi risiko dan keuntungan berdasarkan kesepakatan awal.
Perbedaan ini tidak hanya bersifat teknis, tapi mencerminkan filosofi yang lebih dalam: bank konvensional mengejar kepastian keuntungan, sementara bank syariah mengutamakan keadilan dan risiko bersama.
2. Tujuan Operasional: Keuntungan vs Nilai Sosial
Bank konvensional fokus pada efisiensi dan profitabilitas maksimal. Lembaga ini berorientasi pada pemegang saham dan nilai saham di pasar. Tujuan utamanya adalah pertumbuhan aset dan margin keuntungan.
Sebaliknya, bank syariah tidak hanya mencari keuntungan, tapi juga menjalankan fungsi sosial seperti pengentasan kemiskinan, pembiayaan UMKM, dan investasi halal. Ada prinsip maslahah (kebaikan bersama) yang menjiwai aktivitas perbankan syariah.
Inilah alasan mengapa bank syariah sering memiliki program zakat, wakaf produktif, dan pembiayaan tanpa agunan untuk sektor tertentu.
Kamu mungkin tertarik dengan ini juga: Lembaga Keuangan Syariah: Pengertian, Jenis, dan Contohnya
3. Produk dan Instrumen Keuangan
Produk bank konvensional seperti tabungan, giro, deposito, kredit, dan obligasi berbasis bunga sudah sangat dikenal. Banyak di antaranya terhubung dengan pasar uang dan surat berharga berbunga.
Bank syariah menggunakan instrumen yang berbasis akad-akad Islam, seperti:
- Mudharabah (bagi hasil)
- Musyarakah (kemitraan)
- Murabahah (jual beli dengan margin)
- Ijarah (sewa)
- Istishna’ (pembiayaan proyek)
Karena terikat prinsip syariah, bank syariah tidak boleh berinvestasi dalam sektor yang dianggap haram, seperti alkohol, perjudian, atau industri senjata.
4. Mekanisme Pengawasan dan Kepatuhan
Bank konvensional diawasi oleh otoritas keuangan negara, seperti OJK dan BI di Indonesia, dengan fokus pada kestabilan sistem dan perlindungan konsumen.
Bank syariah juga tunduk pada pengawasan otoritas tersebut, namun memiliki satu lapisan tambahan: Dewan Pengawas Syariah (DPS). DPS bertugas memastikan setiap produk, kebijakan, dan aktivitas bank sesuai dengan prinsip syariah.
Ini memberikan kepercayaan tambahan bagi nasabah yang ingin memastikan bahwa uang mereka digunakan sesuai dengan ajaran agama.
5. Pendekatan Terhadap Risiko
Bank konvensional cenderung mengalihkan risiko kepada peminjam melalui bunga tetap dan jaminan. Ketika ekonomi memburuk, peminjam tetap harus membayar bunga meskipun usahanya merugi.
Sebaliknya, bank syariah menerapkan pendekatan berbasis kemitraan. Dalam akad mudharabah, bank menanggung risiko kerugian bila bisnis nasabah gagal tanpa adanya kecurangan atau kelalaian.
Pendekatan ini menciptakan hubungan yang lebih seimbang antara bank dan nasabah, meskipun sering dianggap lebih kompleks dalam implementasi.
Artikel menarik lainnya untuk kamu: Apa Itu Qardh? Perbedaan dengan Pinjaman Konvensional
Munculnya Alternatif: Islamic DeFi
Dalam era kripto dan blockchain, muncullah model baru: Islamic DeFi. Ini adalah bentuk keuangan terdesentralisasi yang mencoba mengintegrasikan prinsip-prinsip syariah dengan teknologi smart contract dan blockchain.
Beberapa platform Islamic DeFi seperti Qardus, Caizcoin, atau Marhaba DeFi mencoba menawarkan layanan seperti:
- Pembiayaan bebas riba
- Investasi halal berbasis token
- Mekanisme zakat on-chain
- Transparansi melalui smart contract
- Tanpa perantara (peer-to-peer)
Islamic DeFi menjanjikan kemudahan global, kepemilikan penuh atas aset, dan efisiensi transaksi, tanpa mengorbankan prinsip syariah. Namun, tantangan utama tetap pada regulasi, edukasi, dan standarisasi fatwa syariah yang masih berkembang.
Apakah Islamic DeFi Bisa Gantikan Bank Syariah?
Islamic DeFi belum bisa menggantikan fungsi penuh bank syariah saat ini. Tapi sebagai pelengkap, ia memiliki potensi besar, terutama untuk generasi muda Muslim yang melek teknologi dan menginginkan kontrol penuh atas aset keuangannya.
Bank syariah pun bisa beradaptasi dengan menjalin kerja sama dengan protokol DeFi, atau mengembangkan hybrid model: kombinasi keuangan syariah tradisional dan teknologi blockchain.
Langkah-langkah seperti ini akan memperluas akses keuangan syariah ke pasar yang lebih luas, sekaligus mempertahankan integritas nilai-nilai Islam.
Kesimpulan
Bank konvensional dan bank syariah berbeda secara fundamental dalam hal prinsip, tujuan, produk, hingga pengelolaan risiko. Keduanya tetap relevan, namun punya pendekatan yang sangat berbeda terhadap uang dan etika.
Di tengah munculnya Islamic DeFi, kini terbuka jalur baru untuk mengeksplorasi keuangan syariah dalam bentuk yang lebih modern, transparan, dan terdesentralisasi. Bukan soal memilih salah satu, tapi memahami peran dan keterbatasan masing-masing agar kamu bisa membuat keputusan keuangan yang tepat dan sesuai nilai pribadi.
Itulah informasi menarik tentang Perbedaan Bank Konvensional vs Syariah & Islamic DeFi yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan.
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
FAQ
- Apa perbedaan utama antara bank konvensional dan bank syariah?
Bank konvensional menggunakan sistem bunga, sedangkan bank syariah memakai prinsip bagi hasil dan melarang riba. - Apakah bank syariah cocok untuk semua orang?
Cocok untuk mereka yang ingin sistem keuangan sesuai prinsip Islam, terutama dalam aspek etika dan transparansi. - Apa itu Islamic DeFi?
Islamic DeFi adalah keuangan terdesentralisasi berbasis blockchain yang menerapkan prinsip syariah, seperti tanpa bunga dan halal-only investasi. - Apakah Islamic DeFi sudah diatur secara hukum?
Belum banyak regulasi yang mengatur Islamic DeFi, terutama di negara dengan sistem keuangan konvensional dominan. - Apakah bank syariah bisa kolaborasi dengan teknologi DeFi?
Bisa, bahkan ini bisa menjadi peluang besar untuk transformasi digital yang tetap patuh syariah.
Author: EH