Investasi emas telah menjadi pilihan populer bagi banyak investor karena dianggap sebagai aset safe haven yang relatif stabil. Namun, tidak sedikit yang berinvestasi tanpa memahami risiko yang menyertainya. Padahal, setiap instrumen investasi—termasuk emas—memiliki potensi keuntungan dan risiko yang perlu diperhitungkan secara matang.
7 Risiko Investasi Emas
Dalam artikel ini, kita akan membahas 7 risiko utama dalam investasi emas, dilengkapi dengan data perbandingan instrumen, studi kasus, dan tips mitigasi risiko, agar Kamu dapat mengambil keputusan finansial yang lebih bijak.
1. Risiko Fluktuasi Harga Emas
Meskipun emas sering dianggap stabil, kenyataannya harga emas bisa mengalami fluktuasi tajam dalam jangka pendek. Perubahan nilai emas dipengaruhi oleh:
- Kebijakan moneter bank sentral
- Nilai tukar Dolar AS
- Kondisi geopolitik global
- Permintaan dan pasokan pasar
Grafik: Pergerakan Harga Emas Dunia (2019–2024)
Tahun | Harga Emas per Troy Ounce (USD) |
2019 | 1.515 |
2020 | 1.893 |
2021 | 1.799 |
2022 | 1.812 |
2023 | 1.943 |
2024* | 2.200 (Maret) |
(*Data sementara – sumber: CNBC & TradingEconomics)
Penurunan harga dalam jangka pendek dapat menyebabkan kerugian terutama bagi investor yang membeli saat harga sedang tinggi.
2. Risiko Likuiditas
Emas fisik tidak sepraktis saham atau aset digital saat ingin dicairkan. Menjual emas bisa memerlukan waktu dan tenaga karena:
- Tidak semua toko menerima pembelian kembali.
- Harga jual kembali (buyback) sering kali lebih rendah dari harga beli.
- Dibutuhkan biaya tambahan saat menjual.
Catatan: Selisih antara harga beli dan jual emas bisa mencapai 5–10%, sehingga keuntungan baru terasa setelah harga naik signifikan.
3. Risiko Penyimpanan dan Keamanan
Menyimpan emas fisik memiliki risiko:
- Pencurian atau kehilangan
- Biaya sewa brankas
- Risiko kerusakan akibat bencana (banjir, kebakaran)
Tabel: Perbandingan Opsi Penyimpanan Emas Fisik
Opsi Penyimpanan | Biaya Tahunan | Tingkat Keamanan | Aksesibilitas |
Di rumah pribadi | Gratis | Rendah | Tinggi |
Safe deposit box bank | Rp300.000–Rp1.000.000 | Tinggi | Rendah |
Brankas digital dari platform terpercaya | Termasuk biaya layanan | Tinggi | Tinggi |
4. Risiko Emas Palsu dan Penipuan
Risiko membeli emas palsu masih cukup tinggi, terutama jika membeli dari pihak tidak terpercaya. Emas palsu biasanya memiliki:
- Kadar tidak sesuai
- Campuran logam lain
- Tidak disertai sertifikat
Untuk menghindari penipuan:
- Pastikan membeli dari penyedia bersertifikasi.
- Cek kadar emas (misal: 24 karat = 99,99%).
- Minta sertifikat resmi dari ANTAM atau UBS.
Orang Juga Baca Ini: Tes Keaslian, Ini 10 Cara Membedakan Emas Asli dan Palsu secara Manual
5. Tidak Menghasilkan Pendapatan Pasif
Berbeda dari saham atau obligasi, emas tidak menghasilkan:
- Dividen
- Kupon
- Pendapatan bunga
Ini membuat emas kurang optimal untuk strategi investasi yang mengandalkan cashflow bulanan. Keuntungan hanya dapat diperoleh dari selisih harga jual dan beli, atau capital gain.
6. Biaya Tambahan dan Spread Harga
Investasi emas sering kali disertai biaya tersembunyi, seperti:
- Ongkos cetak
- Biaya cetak ulang jika hilang sertifikat
- Selisih harga beli dan harga jual (spread)
Contohnya:
Jika harga beli emas 1 gram adalah Rp1.200.000 dan harga jual kembali Rp1.100.000, maka spread sebesar Rp100.000 atau sekitar 8,3%.
Biaya ini harus dihitung sebagai bagian dari risiko investasi, terutama jika transaksi dilakukan dalam jangka pendek.
Orang Juga Baca Ini: Emas Digital untuk Trader: Tips Aman Memaksimalkan Cuan
7. Risiko Platform pada Emas Digital
Kini banyak platform menawarkan emas digital. Meskipun lebih praktis, tetap ada risiko seperti:
- Sistem eror atau maintenance berkepanjangan
- Peretasan akun
- Kurangnya transparansi cadangan fisik emas
- Platform tidak terdaftar resmi
Solusi: Pilih platform yang sudah terdaftar di Bappebti dan OJK, serta memiliki standar keamanan digital tinggi.
Orang Juga Baca Ini: Kenali 5 Jenis Emas Batangan di Indonesia untuk Investasi
Studi Kasus Singkat
Nama: Dian (32 tahun)
Kronologi: Membeli emas 10 gram secara fisik dari toko nonresmi.
Masalah: Ketika hendak dijual, toko menolak karena tidak ada sertifikat. Ia akhirnya menjual ke pihak lain dengan kerugian 15%.
Pelajaran: Beli emas hanya dari platform resmi dan bersertifikat.
Perbandingan Emas dengan Instrumen Investasi Lain
Instrumen | Fluktuasi Harga | Pendapatan Pasif | Likuiditas | Keamanan |
Emas | Sedang | Tidak ada | Sedang | Tinggi jika disimpan aman |
Saham | Tinggi | Ada (dividen) | Tinggi | Terdaftar BEI, risiko pasar |
Obligasi | Rendah – sedang | Ada (kupon) | Tinggi | Stabil, tergantung issuer |
Kripto | Sangat tinggi | Tidak ada | Sangat tinggi | Tinggi risiko volatilitas |
Tips Mengelola Risiko Investasi Emas
1. Diversifikasi Portofolio
Jangan taruh seluruh modal di emas. Gabungkan dengan aset lain untuk menyeimbangkan risiko.
2. Beli dari Platform Terpercaya
Pastikan platform memiliki izin dari regulator seperti Bappebti atau OJK.
3. Hitung Biaya Jual-Beli dan Penyimpanan
Selalu pertimbangkan biaya ongkos cetak dan spread saat menghitung potensi keuntungan.
4. Sesuaikan dengan Tujuan Investasi
Emas cocok untuk proteksi nilai dalam jangka panjang, bukan untuk penghasilan pasif.
Kesimpulan
Meskipun emas dikenal sebagai investasi yang aman, bukan berarti tanpa risiko. Investor perlu menyadari bahwa emas bisa mengalami fluktuasi, sulit dicairkan, dan memerlukan penyimpanan yang aman. Selain itu, emas juga tidak menghasilkan pendapatan pasif seperti dividen atau bunga.
Dengan memahami risiko-risiko ini, investor dapat lebih siap dalam mengambil keputusan dan mengelola portofolio secara bijak. Emas tetap relevan, asalkan dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi diversifikasi dan bukan satu-satunya andalan investasi.
Itulah pembahasan menarik tentang risiko investasi emas yang bisa kamu pelajari lebih dalam hanya di Akademi crypto. Tidak hanya menambah wawasan tentang investasi, di sini kamu juga dapat menemukan berita crypto terkini seputar dunia kripto.
Dan untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store. Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
FAQ
1. Apakah emas bisa rugi seperti saham atau kripto?
Ya. Harga emas bisa turun, terutama dalam jangka pendek. Jika membeli saat harga tinggi dan menjual saat harga rendah, investor bisa merugi.
2. Apakah emas digital lebih aman dari emas fisik?
Tergantung platform penyedia. Emas digital lebih praktis, tapi keamanannya tergantung pada sistem dan regulasi platform.
3. Apakah emas cocok untuk investasi pemula?
Cocok sebagai bagian dari portofolio, terutama untuk jangka panjang dan perlindungan nilai.
4. Mengapa emas tidak menghasilkan pendapatan pasif?
Karena emas bukan aset produktif. Tidak ada dividen, kupon, atau bunga yang bisa diperoleh dari kepemilikan emas.
5. Apakah emas aman saat terjadi resesi?
Emas sering dianggap sebagai safe haven, tetapi tetap bisa berfluktuasi tergantung kondisi global dan permintaan pasar.
Author: Echi Kristin