Ketika rekening bank tak menjamin kecepatan transaksi dan remitansi memakan biaya tinggi, warga Vietnam mengambil langkah mandiri. Mereka membangun sistem keuangan baru—tanpa otoritas, tanpa izin resmi—berbasis stablecoin. Fenomena ini bukan teori masa depan, tapi realitas saat ini.
Laporan dari website Tiger Research menyoroti bagaimana stablecoin seperti USDT telah menggantikan peran VND, perbankan, dan dolar fisik dalam keseharian masyarakat Vietnam. Tak lagi sekadar alat tukar kripto, stablecoin menjelma menjadi infrastruktur finansial paralel.
Untuk memahami kedalaman peran stablecoin ini, mari kita mulai dari kebiasaan investasi harian para pengguna di Vietnam.
USDT Gantikan Dong? Bukti dari Lapangan

Sumber Gambar: reports.tiger-research.com
Investor kripto Vietnam kini tidak menarik hasil trading ke VND, tapi menyimpannya dalam stablecoin, terutama USDT. Fungsi stablecoin di sini bukan cuma sebagai jembatan antar aset, tapi sebagai cadangan likuiditas utama.
Data website Tiger Research menunjukkan bahwa dari tahun 2020 hingga 2025 (kecuali insiden FTX dan Terra), harga USDT di Vietnam konsisten lebih tinggi dari kurs resmi VND/USD, dengan rata-rata premi 3,35 persen pada 2024.
Artinya, warga rela membayar lebih demi memiliki stablecoin. Ini bukan spekulasi, tapi strategi lindung nilai terhadap volatilitas pasar, ketatnya kontrol dana oleh bank, serta risiko nilai tukar dan biaya konversi. Mereka tidak sekadar menyimpan USDT, tetapi secara aktif membentuk sistem manajemen dana pribadi yang independen dari lembaga keuangan formal.
Namun, stablecoin bukan hanya digunakan untuk menyimpan kekayaan. Di Vietnam, alat ini juga menjadi tulang punggung sistem pengiriman uang lintas negara.
News Terkait lainnya: Vietnam Akhirnya Uji Coba Regulasi Kripto! Apa Dampaknya?
Remitansi Lewat Telegram: Sistem Bayangan yang Efisien
Meski penggunaan kripto sebagai alat pembayaran masih ilegal di Vietnam, masyarakat tetap mentransfer USDT melalui dompet pribadi, OTC Telegram, hingga grup e-commerce seperti komunitas Shopify Vietnam.
Menurut data Artemis, sekitar 7,8 persen remitansi asing ke Vietnam kini berbentuk stablecoin. Dengan stablecoin, pekerja migran dan freelancer dapat menghindari biaya tinggi dari layanan seperti SWIFT, menghemat waktu transaksi menjadi hitungan menit, serta menjaga fleksibilitas dan privasi.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana stablecoin secara tak resmi menggantikan fungsi layanan keuangan tradisional dalam remitansi. Tapi tidak berhenti sampai di situ—stablecoin juga mulai menyaingi fungsi aset pelindung nilai seperti emas dan dolar.
Dari Emas ke USDT: Safe Haven Generasi Baru
Secara budaya, warga Vietnam cenderung menyukai aset keras seperti emas. Namun dalam beberapa tahun terakhir, preferensi ini mulai bergeser ke bentuk digital.
Pada tahun 2024, bank-bank di Vietnam menjual lebih dari dua ton emas dalam seminggu, meskipun harga sedang tinggi. Namun, di sisi lain, penggunaan USDT untuk simpanan jangka panjang meningkat tajam, khususnya di kalangan masyarakat yang aktif di dunia kripto.
USDT dan USDC kini berfungsi sebagai “emas digital”—stabil, mudah diakses, dan tidak bergantung pada lembaga keuangan. Perubahan ini menunjukkan pergeseran struktur kekayaan masyarakat Vietnam, dari bentuk fisik ke aset digital yang lebih likuid dan efisien.
Namun meskipun adopsinya sudah luas dan terstruktur, belum ada kepastian hukum dari otoritas negara.
Artikel Menariknya yang Bisa Anda baca: Emas Digital untuk Trader: Tips Aman Memaksimalkan Cuan
Regulasi Tertinggal: Warga Melaju, Negara Terlambat
Meskipun aktivitas stablecoin tumbuh signifikan, pemerintah Vietnam belum memiliki kebijakan formal. Penggunaan stablecoin sebagai alat pembayaran masih berada di zona abu-abu, dan belum ada regulasi khusus yang mengatur aset ini.
Sementara itu, negara tetangga justru melangkah lebih progresif. Singapura sudah mengatur stablecoin dengan persyaratan cadangan dan transparansi. Thailand mengizinkan penggunaan USDT dan USDC di crypto exchange resmi sambil mengembangkan stablecoin lokal.
Filipina bahkan meluncurkan proyek pilot untuk remitansi berbasis stablecoin tanpa menunggu kerangka hukum lengkap.
Dengan pendekatan yang cenderung birokratis dan konservatif, Vietnam berisiko semakin tertinggal.
Maka dari itu, dibutuhkan strategi regulasi yang tidak hanya top-down, tetapi juga menyesuaikan dengan perilaku pasar yang sudah terbentuk.
Solusi Strategis: Regulasi yang Berangkat dari Realitas

Sumber Gambar: reports.tiger-research.com
Tiger Research menyarankan agar regulasi tidak dibangun berdasarkan asumsi lembaga, tapi berangkat dari kebiasaan nyata para pengguna. Ini artinya, Vietnam perlu pendekatan dari bawah ke atas (bottom-up), bukan semata-mata menekan lewat instrumen seperti CBDC.
Beberapa langkah strategis yang disarankan antara lain: sertifikasi untuk broker OTC dan platform P2P yang menerapkan KYC ringan, uji coba sandbox untuk stablecoin berbasis VND di sektor e-commerce dan remitansi, serta pengembangan alternatif stablecoin lokal yang bersaing dengan USDT dari sisi pengalaman pengguna.
Dengan strategi seperti ini, Vietnam tidak hanya bisa menyesuaikan diri dengan perubahan, tetapi juga membangun sistem keuangan yang lebih stabil, transparan, dan inklusif.
Untuk melihat potensi jangka panjang dari stablecoin, kita harus memahami bahwa aset ini tidak lagi dianggap sebagai pelarian sementara.
Masih seputar topik ini, simak juga: Stablecoins 2025: Masa Depan Keuangan Digital Semakin Cerah
Kesimpulan: Dolar Digital Sudah Jadi Realitas
Stablecoin bukan fenomena sesaat. Di Vietnam, mereka sudah menjadi fondasi keuangan digital mandiri digunakan untuk menyimpan nilai, mengirim uang, hingga menggantikan sistem keuangan formal yang lamban.
Artikel ini hasil Kolaborasi antara INDODAX x Tiger Research
Pemerintah Vietnam memiliki pilihan: ikut membentuk masa depan sistem ini dengan regulasi yang realistis, atau membiarkan sistem informal berkembang tanpa kendali. Dengan pendekatan yang tepat, stablecoin bukan ancaman, tapi bisa menjadi kekuatan baru dalam sistem keuangan Asia Tenggara.
FAQ
1.Legal tidak menggunakan USDT di Vietnam?
Secara hukum belum diizinkan untuk pembayaran, tetapi digunakan luas dalam remitansi dan trading melalui jalur informal.
2.Mengapa warga lebih percaya stablecoin dibanding bank?
Karena stablecoin menawarkan kecepatan, biaya rendah, dan fleksibilitas tanpa kontrol birokrasi yang ketat.
3.Apa risiko jika Vietnam tidak merespons fenomena ini?
Sistem keuangan informal akan terus berkembang dan menyulitkan pengawasan serta kebijakan moneter nasional.
Itulah informasi berita crypto hari ini. Aktifkan notifikasi agar Anda selalu mendapatkan informasi terkini dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Anda juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya.
Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: AL
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Regulasi