Banyak orang mengira akses keuangan hanya soal punya rekening bank atau tidak. Padahal, kenyataannya lebih kompleks dari itu. Ada kelompok masyarakat yang sudah memiliki rekening, bisa menerima transfer, bahkan memakai aplikasi finansial dasar, tetapi tetap kesulitan mengakses layanan yang lebih luas seperti kredit, investasi, asuransi, atau produk keuangan lain yang bisa membantu mereka naik kelas secara ekonomi.
Kelompok inilah yang dikenal sebagai underbanked. Mereka tidak sepenuhnya berada di luar sistem keuangan, tetapi juga belum benar-benar mendapat manfaat penuh dari sistem tersebut. Kondisi ini membuat sebagian orang mulai mencari alternatif yang lebih mudah dijangkau, lebih fleksibel, dan tidak terlalu bergantung pada jalur perbankan tradisional.
Dalam beberapa tahun terakhir, crypto mulai masuk ke percakapan ini. Bukan hanya sebagai aset investasi yang harganya naik turun, tetapi juga sebagai bagian dari pembahasan yang lebih luas tentang akses keuangan digital, stablecoin, transfer lintas negara, dan financial inclusion. Pertanyaannya, kenapa kaum underbanked mulai melirik crypto?
Apa Itu Underbanked?
Underbanked adalah kondisi ketika seseorang sudah memiliki akses dasar ke layanan bank, tetapi belum bisa memakai layanan finansial secara optimal. Mereka mungkin punya rekening tabungan, menerima gaji lewat bank, atau memakai kartu debit, tetapi tetap kesulitan mengakses kredit resmi, investasi, asuransi, atau produk keuangan lanjutan lainnya.
Kondisi ini berbeda dari unbanked. Unbanked berarti seseorang belum memiliki akses bank sama sekali. Sementara itu, underbanked berada di posisi tengah. Mereka sudah tersentuh sistem keuangan formal, tetapi aksesnya masih terbatas.
Contohnya, seseorang bisa saja punya rekening bank untuk menerima gaji bulanan. Namun, setelah uang masuk, ia langsung menarik semuanya secara tunai karena lebih nyaman bertransaksi cash. Ia belum memakai produk investasi, belum punya akses kredit yang layak, dan belum memiliki perlindungan finansial seperti asuransi. Secara administratif ia sudah menjadi nasabah bank, tetapi secara fungsi finansial ia masih belum benar-benar terlayani.
Fenomena ini penting karena menunjukkan bahwa inklusi keuangan bukan hanya soal membuka rekening sebanyak mungkin. Yang lebih penting adalah apakah rekening itu benar-benar membantu seseorang mengakses peluang finansial yang lebih luas.
Dari sini, pembahasan mulai bergerak ke persoalan yang lebih besar. Jika seseorang sudah punya rekening tetapi tetap sulit berkembang secara finansial, berarti masalahnya bukan sekadar akses masuk ke bank, melainkan kualitas akses yang diterima.
Kenapa Jumlah Underbanked Masih Besar?
Perkembangan bank digital, dompet elektronik, dan aplikasi keuangan memang membuat akses finansial terasa lebih mudah. Namun, kemajuan teknologi belum otomatis membuat semua orang menjadi bankable. Masih banyak masyarakat yang belum memenuhi standar perbankan untuk mengakses produk keuangan yang lebih luas.
Salah satu penyebab utamanya adalah pendapatan yang tidak stabil. Banyak pekerja informal, freelancer, pedagang kecil, pelaku UMKM, dan pekerja harian memiliki pemasukan yang naik turun. Dalam sistem keuangan tradisional, pola pendapatan seperti ini sering dianggap berisiko karena sulit diprediksi. Akibatnya, mereka lebih sulit mendapat kredit resmi, meskipun sebenarnya memiliki aktivitas ekonomi yang aktif.
Masalah lain muncul dari sisi administrasi dan credit scoring. Untuk mendapatkan pinjaman, kartu kredit, atau layanan pembiayaan, seseorang biasanya perlu memiliki histori keuangan yang rapi. Padahal, banyak masyarakat underbanked belum punya rekam jejak kredit yang cukup. Mereka mungkin rutin menghasilkan uang, tetapi aktivitas keuangannya tidak selalu tercatat dalam sistem formal.
Di sisi lain, literasi finansial juga ikut berperan. Banyak orang hanya memakai rekening sebagai tempat menerima uang, bukan sebagai pintu masuk ke layanan finansial yang lebih lengkap. Mereka belum memahami cara kerja investasi, risiko kredit, bunga, asuransi, atau instrumen keuangan digital. Akibatnya, layanan yang sebenarnya tersedia tetap tidak dimanfaatkan secara maksimal.
Kondisi ini membuat masyarakat underbanked sering mencari jalur lain yang terasa lebih mudah. Ada yang memakai layanan pinjaman informal, ada yang mengandalkan keluarga atau komunitas, ada juga yang mulai mencoba layanan fintech dan aset digital. Dari celah inilah crypto mulai masuk sebagai salah satu alternatif yang menarik perhatian.
Kenapa Crypto Mulai Dilirik Kaum Underbanked?
Crypto mulai dilirik oleh sebagian masyarakat underbanked karena menawarkan akses yang berbeda dari sistem finansial tradisional. Untuk mulai menggunakan crypto, seseorang tidak selalu membutuhkan kantor cabang, dokumen kredit yang panjang, atau riwayat finansial yang kompleks. Dalam banyak kasus, smartphone dan koneksi internet sudah cukup untuk membuka akses awal ke ekosistem aset digital.
Hal ini membuat crypto terlihat lebih dekat dengan kebiasaan masyarakat mobile-first. Banyak orang mungkin belum pernah memakai produk investasi formal, tetapi sudah terbiasa memakai aplikasi di ponsel. Ketika akses keuangan berpindah ke layar smartphone, jarak antara pengguna dan layanan finansial menjadi lebih pendek.
Crypto juga menarik karena bersifat global. Pengguna bisa mengakses aset digital, wallet, stablecoin, dan berbagai layanan berbasis blockchain tanpa batas geografis yang sama seperti sistem keuangan tradisional. Bagi masyarakat yang kesulitan mendapat akses produk finansial lanjutan, karakter ini terasa lebih terbuka.
Salah satu contoh yang paling sering dibahas adalah stablecoin. Berbeda dari aset crypto yang sangat fluktuatif, stablecoin dirancang untuk mengikuti nilai aset tertentu, biasanya dolar AS. Di negara dengan inflasi tinggi atau mata uang lokal yang tidak stabil, stablecoin sering dipandang sebagai alternatif penyimpanan nilai digital. Bagi sebagian pengguna, akses ke stablecoin bisa terasa lebih mudah dibanding membuka rekening valuta asing atau memakai layanan keuangan lintas negara.
Selain stablecoin, transfer lintas negara juga menjadi alasan penting. Banyak pekerja migran dan keluarga lintas negara menghadapi biaya remitansi yang mahal dan proses transfer yang lambat. Crypto menawarkan kemungkinan transfer yang lebih cepat, terutama ketika memakai jaringan blockchain yang biayanya rendah. Walaupun tetap memiliki risiko dan bergantung pada regulasi masing-masing negara, manfaat ini membuat crypto sering masuk dalam pembahasan financial inclusion.
DeFi juga menjadi bagian dari percakapan ini. Melalui DeFi, pengguna bisa mengenal konsep lending, staking, liquidity, dan akses ke layanan finansial berbasis smart contract. Namun, bagian ini perlu dibaca dengan sangat hati-hati. DeFi tidak selalu cocok untuk pemula karena risikonya tinggi, mulai dari volatilitas, smart contract bug, rug pull, hingga kesalahan pengguna dalam mengelola wallet.
Karena itu, crypto tidak bisa disebut sebagai solusi instan untuk kaum underbanked. Namun, crypto memberi gambaran bahwa akses finansial bisa dibuat lebih terbuka, lebih digital, dan lebih fleksibel dibanding model tradisional yang selama ini sering sulit dijangkau sebagian masyarakat.
Kenapa Negara Berkembang Cepat Mengadopsi Crypto?
Adopsi crypto di negara berkembang sering kali tidak hanya didorong oleh rasa penasaran terhadap teknologi. Dalam banyak kasus, adopsi muncul karena kebutuhan finansial yang nyata. Ketika akses bank belum merata, biaya transfer masih tinggi, atau mata uang lokal mengalami tekanan, masyarakat lebih terbuka terhadap alternatif baru.
Di banyak negara berkembang, infrastruktur finansial belum sepenuhnya menjangkau semua lapisan masyarakat. Wilayah rural, pekerja informal, dan pelaku usaha kecil sering menghadapi hambatan akses. Mereka mungkin punya rekening, tetapi belum tentu mendapat fasilitas kredit, investasi, atau perlindungan finansial yang layak.
Pada saat yang sama, populasi muda di negara berkembang cenderung sangat akrab dengan smartphone. Mereka terbiasa memakai aplikasi, dompet digital, e-commerce, dan layanan berbasis internet. Kebiasaan ini membuat crypto lebih mudah diperkenalkan sebagai bagian dari akses finansial digital, meskipun pemahamannya tetap perlu dibangun secara bertahap.
Faktor ekonomi juga ikut mendorong adopsi. Di negara yang mengalami inflasi tinggi, kontrol modal ketat, atau pelemahan mata uang, sebagian masyarakat mencari aset alternatif untuk menjaga nilai uangnya. Crypto, terutama stablecoin, masuk sebagai salah satu pilihan yang sering dibahas karena memberi akses ke nilai digital yang lebih mudah dipindahkan lintas negara.
Namun, adopsi yang cepat tidak selalu berarti pemahaman risikonya sudah matang. Banyak pengguna masuk ke crypto karena melihat peluang, tetapi belum memahami volatilitas, keamanan wallet, legalitas, pajak, atau cara memilih platform yang aman. Inilah alasan edukasi menjadi faktor penting dalam pembahasan crypto dan underbanked.
Dengan kata lain, negara berkembang tidak cepat mengadopsi crypto hanya karena tren. Ada kebutuhan nyata di baliknya, mulai dari akses keuangan, perlindungan nilai, hingga kebutuhan transaksi yang lebih fleksibel.
Apakah Crypto Benar-Benar Bisa Membantu Kaum Underbanked?
Crypto memiliki potensi untuk membantu masyarakat underbanked, tetapi manfaatnya tidak boleh dibaca secara berlebihan. Aset digital bisa membuka akses baru, tetapi tidak otomatis menyelesaikan semua masalah finansial yang sudah lama terjadi.
Potensi positif crypto terletak pada akses. Seseorang bisa mengenal aset digital, melakukan transfer, menyimpan stablecoin, atau memakai wallet tanpa harus melalui proses perbankan yang panjang. Bagi masyarakat yang selama ini sulit mengakses layanan finansial lanjutan, kemudahan seperti ini bisa menjadi pintu masuk menuju literasi keuangan digital.
Crypto juga bisa memperluas pilihan investasi. Sebelumnya, sebagian masyarakat mungkin hanya mengenal tabungan, emas, atau instrumen informal. Dengan crypto, mereka mulai mengenal konsep aset digital, blockchain, tokenisasi, hingga ekonomi berbasis jaringan. Namun, akses yang lebih mudah harus selalu diimbangi dengan pemahaman risiko.
Risiko crypto cukup besar, terutama bagi pengguna baru. Harga aset bisa bergerak sangat tajam dalam waktu singkat. Penipuan berkedok investasi masih sering terjadi. Kesalahan mengirim aset ke alamat wallet yang salah bisa berakibat fatal. elain itu, pengguna yang tidak memahami private key, seed phrase, atau cara kerja wallet crypto bisa kehilangan asetnya secara permanen.
Di sinilah regulasi dan edukasi menjadi penyeimbang. Pengguna perlu memahami perbedaan antara platform legal dan ilegal, aset yang memiliki likuiditas kuat dan aset spekulatif ekstrem, serta cara membaca risiko sebelum membeli. Tanpa edukasi, crypto justru bisa memperbesar kerentanan masyarakat underbanked, bukan membantu mereka.
Maka, crypto lebih tepat dilihat sebagai alat tambahan dalam financial inclusion, bukan pengganti penuh sistem keuangan tradisional. Ia bisa membuka akses, tetapi tetap membutuhkan literasi, perlindungan pengguna, dan regulasi yang jelas agar manfaatnya tidak berubah menjadi risiko baru.
Masa Depan Financial Inclusion, Apakah Akan Dipengaruhi Crypto?
Masa depan financial inclusion kemungkinan tidak hanya dibentuk oleh bank, fintech, atau crypto secara terpisah. Arah yang lebih realistis adalah kombinasi dari berbagai teknologi keuangan yang saling melengkapi. Bank tetap memiliki peran dalam stabilitas, regulasi, dan kepercayaan. Fintech membantu mempercepat akses. Sementara blockchain dan crypto menawarkan model baru untuk kepemilikan aset, transfer nilai, dan transaksi digital.
Stablecoin bisa menjadi salah satu bagian penting dalam perubahan ini. Jika digunakan dengan regulasi yang tepat, stablecoin dapat membantu transaksi lintas negara, akses dolar digital, dan efisiensi pembayaran. Di sisi lain, bank digital dan dompet elektronik tetap berperan dalam menjangkau masyarakat yang baru masuk ke layanan finansial formal.
Tokenisasi juga mulai membuka pembahasan baru. Aset yang sebelumnya sulit diakses bisa dibuat dalam bentuk digital, mulai dari instrumen keuangan, komoditas, hingga aset riil tertentu. Jika berkembang dengan aman, konsep ini dapat memperluas akses masyarakat terhadap produk finansial yang sebelumnya hanya tersedia untuk kelompok tertentu.
Namun, teknologi saja tidak cukup. Financial inclusion membutuhkan pendidikan, perlindungan konsumen, infrastruktur digital, dan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara inovasi dan keamanan. Tanpa itu, teknologi baru hanya akan dinikmati oleh orang yang sudah paham, sementara masyarakat underbanked tetap tertinggal.
Karena itu, crypto kemungkinan akan menjadi bagian dari masa depan akses keuangan, tetapi bukan satu-satunya jawaban. Perannya akan lebih kuat jika berjalan bersama edukasi, regulasi, dan ekosistem finansial yang lebih ramah bagi pengguna baru.
Kesimpulan
Fenomena underbanked menunjukkan bahwa akses keuangan tidak cukup diukur dari kepemilikan rekening. Seseorang bisa saja punya rekening bank, tetapi tetap kesulitan mendapatkan kredit, investasi, perlindungan finansial, atau layanan yang benar-benar membantu kehidupannya secara ekonomi.
Crypto hadir di tengah celah tersebut. Bagi sebagian masyarakat underbanked, crypto menawarkan akses yang lebih fleksibel, lebih digital, dan lebih mudah dijangkau melalui smartphone. Stablecoin, transfer lintas negara, wallet digital, dan DeFi membuat pembahasan crypto semakin dekat dengan isu financial inclusion.
Namun, crypto bukan solusi sempurna. Risiko volatilitas, penipuan, keamanan wallet, dan rendahnya literasi digital tetap harus diperhatikan. Tanpa pemahaman yang cukup, akses yang mudah justru bisa menjadi pintu masuk ke risiko yang lebih besar.
Yang membuat topik ini menarik adalah perubahan cara masyarakat memandang akses keuangan. Mereka tidak lagi hanya bergantung pada satu sistem, tetapi mulai mengenal berbagai pilihan baru. Bagi kaum underbanked, crypto bukan sekadar aset digital yang diperdagangkan, melainkan salah satu tanda bahwa akses finansial sedang bergerak ke arah yang lebih terbuka, cepat, dan berbasis teknologi.
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan underbanked?
Underbanked adalah kondisi ketika seseorang sudah memiliki akses dasar ke bank, tetapi belum bisa memakai layanan finansial secara penuh. Contohnya, seseorang punya rekening tabungan, tetapi masih sulit mendapat kredit, belum punya akses investasi, tidak memiliki asuransi, atau lebih sering memakai layanan keuangan informal.
2. Apa perbedaan underbanked dan unbanked?
Unbanked berarti seseorang belum memiliki akses bank sama sekali. Sementara itu, underbanked berarti seseorang sudah memiliki rekening atau akses dasar ke bank, tetapi penggunaannya masih terbatas. Jadi, underbanked bukan berarti tidak mengenal bank, melainkan belum benar-benar mendapatkan manfaat penuh dari layanan finansial formal.
3. Kenapa kaum underbanked mulai melirik crypto?
Kaum underbanked mulai melirik crypto karena aksesnya relatif lebih mudah melalui smartphone dan internet. Crypto juga memberi alternatif untuk transfer lintas negara, penyimpanan nilai digital melalui stablecoin, dan akses ke layanan finansial berbasis blockchain. Meski begitu, pengguna tetap perlu memahami risiko sebelum masuk ke aset digital.
4. Apakah crypto bisa membantu financial inclusion?
Crypto bisa membantu financial inclusion dalam beberapa aspek, terutama akses keuangan digital, transfer nilai, dan kepemilikan aset berbasis blockchain. Namun, manfaat ini baru bisa terasa optimal jika pengguna memiliki literasi yang cukup, memakai platform yang aman, dan memahami risiko volatilitas maupun keamanan aset.
5. Kenapa stablecoin sering dikaitkan dengan masyarakat underbanked?
Stablecoin sering dikaitkan dengan masyarakat underbanked karena nilainya dirancang lebih stabil dibanding aset crypto biasa. Di beberapa negara, stablecoin digunakan untuk transfer lintas negara, akses dolar digital, atau penyimpanan nilai ketika mata uang lokal melemah. Namun, stablecoin tetap memiliki risiko, terutama dari sisi regulasi, penerbit, dan keamanan platform.
6. Apakah crypto bisa menggantikan bank tradisional?
Untuk saat ini, crypto lebih tepat dilihat sebagai pelengkap, bukan pengganti penuh bank tradisional. Bank masih memiliki peran besar dalam kredit, perlindungan nasabah, regulasi, dan layanan finansial formal. Crypto memberi alternatif baru, tetapi belum menggantikan seluruh fungsi bank dalam kehidupan sehari-hari.
7. Apa risiko crypto bagi kaum underbanked?
Risiko utama crypto bagi kaum underbanked meliputi volatilitas harga, penipuan, rug pull, kesalahan transaksi, kehilangan akses wallet, dan kurangnya pemahaman tentang keamanan digital. Karena itu, edukasi menjadi hal penting sebelum seseorang memakai crypto sebagai bagian dari aktivitas finansial.
8. Kenapa negara berkembang sering cepat mengadopsi crypto?
Negara berkembang sering cepat mengadopsi crypto karena kebutuhan finansialnya lebih nyata, mulai dari akses bank yang belum merata, biaya transfer tinggi, inflasi, hingga kebutuhan menyimpan nilai secara digital. Kombinasi antara populasi mobile-first dan keterbatasan layanan finansial tradisional membuat crypto lebih mudah diterima sebagai alternatif.
Itulah informasi menarik tentang Underbanked yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
