STRC: Instrumen Strategy yang Dibeli Saat Pasar Panik
icon search
icon search

Top Performers

STRC: Instrumen Strategy yang Dibeli Saat Pasar Panik

Home / Artikel & Tutorial / judul_artikel

STRC: Instrumen Strategy yang Dibeli Saat Pasar Panik

STRC Instrumen Strategy yang Dibeli Saat Pasar Panik

Daftar Isi

Pasar kripto tidak selalu bergerak hanya karena harga Bitcoin naik atau turun. Kadang, perhatian investor justru berpindah ke instrumen lain yang secara tidak langsung ikut menentukan seberapa kuat sebuah perusahaan bisa terus membeli Bitcoin. Pada 2026, salah satu instrumen yang mulai ramai dibahas adalah STRC.

Nama STRC mencuat setelah Phong Le, CEO Strategy, membeli hampir US$1 juta STRC saat pasar sedang berada dalam tekanan. Aksi tersebut membuat banyak investor mulai mencari tahu apa itu STRC, kenapa instrumen ini dikaitkan dengan Strategy, dan apa hubungannya dengan Bitcoin.

Bagi sebagian orang, STRC terdengar seperti token kripto baru. Padahal, STRC bukan aset kripto. STRC adalah instrumen pasar modal yang diterbitkan oleh Strategy, perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy dan selama beberapa tahun terakhir identik dengan strategi akumulasi Bitcoin.

Ketika instrumen seperti STRC tiba-tiba dibahas luas, ada alasan yang lebih besar dari sekadar transaksi pembelian oleh seorang eksekutif. Pasar sedang mencoba membaca apakah struktur pendanaan Strategy masih cukup kuat untuk menopang strategi Bitcoin mereka. Itulah yang membuat STRC menarik, bukan hanya untuk investor saham, tetapi juga untuk orang yang mengikuti perkembangan Bitcoin.

 

Apa Itu STRC?

STRC adalah singkatan dari Series A Perpetual Stretch Preferred Stock. Instrumen ini merupakan saham preferen yang diterbitkan oleh Strategy.

Saham preferen berbeda dari saham biasa. Jika saham biasa seperti MSTR memberi eksposur langsung terhadap pergerakan nilai perusahaan, saham preferen memiliki karakter yang lebih dekat dengan instrumen pendapatan. Pemegang saham preferen biasanya lebih memperhatikan dividen, nilai nominal, dan prioritas dalam struktur modal perusahaan.

Dengan kata lain, STRC bukan Bitcoin, bukan token kripto, dan bukan saham biasa. STRC adalah instrumen keuangan yang berada di antara saham dan obligasi. Ia tetap termasuk ekuitas, tetapi punya fitur yang membuatnya menarik bagi investor yang mencari pendapatan atau yield.

Kata “perpetual” pada STRC menunjukkan bahwa instrumen ini tidak memiliki tanggal jatuh tempo seperti obligasi biasa. Sementara kata “preferred stock” menunjukkan bahwa instrumen ini memiliki perlakuan berbeda dibanding saham biasa dalam beberapa aspek, terutama terkait dividen dan posisi klaim dalam struktur modal.

Bagi investor kripto, hal ini mungkin terasa teknis. Namun justru di situlah letak pentingnya. STRC tidak perlu menjadi aset kripto untuk tetap berpengaruh terhadap narasi Bitcoin, karena instrumen ini diterbitkan oleh perusahaan yang strategi bisnisnya sangat terkait dengan kepemilikan Bitcoin.

 

Mengenal Strategy, Perusahaan di Balik STRC

Strategy adalah nama baru dari MicroStrategy, perusahaan yang awalnya dikenal sebagai penyedia software analitik bisnis. Namun, identitas perusahaan ini berubah besar setelah mereka mulai mengakumulasi Bitcoin sebagai aset cadangan utama.

Michael Saylor menjadi figur paling dikenal dalam perubahan tersebut. Ia mendorong gagasan bahwa Bitcoin dapat menjadi aset treasury perusahaan, bukan sekadar aset spekulatif, sebuah pendekatan yang kini dikenal luas sebagai bitcoin treasury strategy. Dari sana, Strategy mulai membeli Bitcoin dalam jumlah besar dan menjadikan kepemilikan BTC sebagai bagian utama dari narasi bisnis perusahaan.

Strategi tersebut membuat MSTR menjadi salah satu saham bitcoin yang paling sering diperhatikan investor ketika ingin mendapatkan eksposur tidak langsung terhadap BTC. Ketika harga Bitcoin naik, saham MSTR biasanya ikut mendapat perhatian. Ketika Bitcoin turun, tekanan terhadap MSTR juga ikut meningkat.

Namun, membeli Bitcoin dalam jumlah besar tidak bisa hanya mengandalkan kas perusahaan. Strategy membutuhkan modal. Untuk mendapatkan modal itu, perusahaan menggunakan berbagai instrumen keuangan, mulai dari saham biasa, surat utang, hingga saham preferen seperti STRC.

Maka, ketika orang membahas STRC, pembahasannya tidak berhenti pada satu ticker saham. STRC menjadi bagian dari cerita yang lebih besar tentang bagaimana Strategy membiayai ambisinya dalam mengakumulasi Bitcoin.

 

Mengapa Strategy Menerbitkan STRC?

Perusahaan menerbitkan instrumen keuangan karena membutuhkan modal. Dalam kasus Strategy, kebutuhan modal itu menjadi semakin penting karena perusahaan memiliki strategi besar yang berhubungan dengan Bitcoin.

Jika perusahaan hanya menerbitkan saham biasa, pemegang saham lama bisa terdilusi. Jika perusahaan hanya mengandalkan utang, beban bunga dan risiko neraca bisa meningkat. Karena itu, saham preferen seperti STRC dapat menjadi jalan tengah.

Melalui STRC, Strategy bisa mendapatkan dana dari investor dengan struktur yang berbeda dari saham biasa maupun obligasi. Investor yang membeli STRC tidak mendapatkan posisi yang sama seperti pemegang MSTR, tetapi mereka mendapatkan eksposur terhadap instrumen yang memiliki karakter pendapatan.

Alurnya bisa dipahami dengan sederhana. Investor membeli STRC. Dana dari penerbitan instrumen tersebut masuk ke Strategy. Dana itu kemudian dapat digunakan untuk kebutuhan korporasi, termasuk mendukung strategi akumulasi Bitcoin.

Inilah alasan mengapa pasar kripto mulai memperhatikan STRC. Bukan karena STRC adalah Bitcoin, melainkan karena STRC dapat menjadi salah satu sumber modal yang membantu Strategy mempertahankan mesin akumulasi Bitcoin mereka.

Jika instrumen pendanaan seperti STRC berjalan lancar, Strategy punya ruang lebih besar untuk mengakses modal. Jika instrumen ini tertekan, pasar bisa mulai mempertanyakan seberapa kuat kemampuan perusahaan untuk melanjutkan strategi yang selama ini menjadi daya tarik utamanya.

 

Apa Bedanya STRC dan MSTR?

STRC dan MSTR sama-sama berkaitan dengan Strategy, tetapi keduanya bukan instrumen yang sama.

MSTR adalah saham biasa Strategy. Saat kamu membeli MSTR, kamu membeli kepemilikan ekuitas biasa di perusahaan. Nilainya sangat dipengaruhi oleh persepsi pasar terhadap bisnis Strategy, nilai kepemilikan Bitcoin perusahaan, premium atau diskon terhadap aset bersih, serta sentimen investor terhadap saham terkait Bitcoin.

STRC berbeda. Instrumen ini adalah saham preferen. Fokus utamanya bukan hak suara atau potensi kenaikan harga setinggi saham biasa, melainkan struktur dividen dan nilai nominal yang menjadi acuan pasar.

MSTR lebih cocok dipahami sebagai instrumen dengan karakter pertumbuhan dan volatilitas tinggi. STRC lebih dekat dengan instrumen pendapatan yang tetap punya risiko pasar, tetapi daya tariknya tidak sama dengan MSTR.

Perbedaan lainnya ada pada cara investor menilai keduanya. Investor MSTR biasanya memperhatikan harga Bitcoin, nilai aset Bitcoin yang dimiliki Strategy, dan sentimen terhadap saham perusahaan. Investor STRC lebih banyak memperhatikan par value, dividend yield, kemampuan perusahaan membayar distribusi, dan stabilitas harga instrumen karena faktor-faktor tersebut berpengaruh langsung terhadap potensi pendapatan yang diterima investor.

Karena itu, STRC tidak bisa dianggap sebagai versi kecil dari MSTR. Keduanya berada dalam ekosistem perusahaan yang sama, tetapi melayani profil investor yang berbeda.

 

Mengapa STRC Sempat Turun Saat Pasar Panik?

STRC menjadi ramai bukan hanya karena diterbitkan oleh Strategy. Instrumen ini menjadi sorotan karena harganya sempat tertekan saat pasar sedang panik.

Ketika Bitcoin turun tajam, efeknya tidak hanya terasa pada aset kripto. Saham perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap Bitcoin juga ikut tertekan. Strategy menjadi salah satu perusahaan yang paling diperhatikan karena kepemilikan Bitcoinnya sangat besar.

Tekanan tersebut kemudian merembet ke instrumen lain yang diterbitkan perusahaan, termasuk STRC. Investor mulai mempertanyakan risiko, yield, likuiditas, dan kemampuan instrumen ini bertahan dalam situasi pasar yang tidak stabil.

Dalam pasar saham preferen, harga yang turun sering kali mencerminkan permintaan investor terhadap yield yang lebih tinggi. Ketika risiko dianggap meningkat, investor tidak lagi mau membayar harga yang sama. Mereka menuntut imbal hasil lebih besar, sehingga harga instrumen bisa turun.

Itulah yang membuat STRC sempat diperdagangkan di bawah nilai nominalnya. Penurunan ini membuat banyak investor bertanya apakah pasar sedang melihat risiko baru pada struktur pendanaan Strategy atau hanya bereaksi berlebihan terhadap tekanan Bitcoin.

 

Apa Itu Par Value dan Mengapa Penting bagi STRC?

Par value adalah nilai nominal yang menjadi acuan suatu instrumen ketika diterbitkan. Dalam konteks STRC, angka yang banyak diperhatikan pasar adalah US$100.

Jika STRC diperdagangkan di bawah par value, artinya harga pasar berada di bawah nilai nominal acuannya. Misalnya, jika STRC berada di sekitar US$90, maka instrumen tersebut diperdagangkan dengan diskon sekitar 10 persen dari par value.

Bagi investor saham preferen, par value penting karena menjadi titik acuan untuk menilai apakah instrumen sedang mahal, wajar, atau murah secara relatif. Namun, harga di bawah par value tidak otomatis berarti instrumen itu pasti menarik. Diskon bisa muncul karena sentimen pasar, risiko perusahaan, kondisi suku bunga, atau kekhawatiran terhadap kemampuan pembayaran dividen.

Dalam kasus STRC, par value menjadi semakin disorot karena Phong Le disebut membeli instrumen ini dan berencana menahannya sampai kembali ke nilai par. Pernyataan seperti itu dibaca pasar sebagai keyakinan bahwa harga STRC berpotensi kembali mendekati nilai nominalnya.

Namun, investor tetap perlu melihat konteksnya. Kembali ke par value bukan kepastian. Harga STRC tetap bergerak mengikuti dinamika pasar, sentimen terhadap Strategy, dan persepsi investor terhadap risiko yang melekat pada instrumen tersebut.

 

Mengapa Pembelian STRC oleh CEO Strategy Menjadi Sorotan?

Pembelian STRC oleh Phong Le menjadi sorotan karena dilakukan oleh CEO perusahaan yang menerbitkan instrumen tersebut. Dalam pasar keuangan, aksi pembelian oleh orang dalam perusahaan sering mendapat perhatian lebih besar dibanding pembelian investor biasa.

Alasannya sederhana. Eksekutif perusahaan dianggap memiliki pemahaman lebih dalam terhadap kondisi internal, strategi bisnis, dan prospek perusahaan. Ketika seorang CEO membeli instrumen perusahaan sendiri saat pasar sedang panik, pasar sering membacanya sebagai sinyal kepercayaan.

Namun, sinyal bukan jaminan. Insider buying tidak otomatis berarti harga akan naik. Banyak faktor lain tetap memengaruhi pergerakan harga, mulai dari kondisi pasar, likuiditas, sentimen terhadap Bitcoin, sampai persepsi investor terhadap struktur modal Strategy.

Yang membuat aksi Phong Le menarik adalah waktunya. Pembelian terjadi ketika STRC sedang menjadi bahan diskusi karena penurunan harga dan tekanan pasar. Dalam situasi seperti itu, pembelian hampir US$1 juta dapat dibaca sebagai pesan bahwa manajemen tidak melihat tekanan harga STRC sebagai akhir dari cerita.

Bagi investor, informasi ini berguna sebagai bagian dari analisis, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya dasar keputusan. Pembelian oleh CEO memberi konteks, bukan kepastian.

 

Bagaimana STRC Menghasilkan Dividen?

Salah satu alasan banyak orang mencari “STRC dividend” adalah karena saham preferen biasanya menarik bagi investor yang mengejar pendapatan dan ingin memahami bagaimana mekanisme dividen saham bekerja.

STRC dirancang sebagai preferred stock, sehingga fitur dividen menjadi salah satu elemen penting dalam instrumen ini. Investor yang membeli saham preferen biasanya tidak hanya berharap harga naik, tetapi juga memperhatikan imbal hasil dari distribusi dividen.

Dalam saham preferen, yield menjadi metrik yang sangat diperhatikan. Yield dapat berubah mengikuti harga pasar instrumen. Ketika harga turun, yield yang dihitung berdasarkan harga pasar bisa terlihat lebih tinggi. Sebaliknya, ketika harga naik, yield efektif bisa turun.

Contohnya, jika sebuah saham preferen memiliki pembayaran dividen tertentu dan harga pasarnya turun, investor baru yang membeli pada harga lebih rendah bisa mendapatkan yield yang lebih menarik dibanding investor yang membeli di harga lebih tinggi.

Namun, yield tinggi tidak selalu berarti peluang bagus. Kadang, yield yang terlalu tinggi justru menandakan pasar sedang meminta kompensasi lebih besar karena melihat risiko yang meningkat.

Inilah alasan pembahasan STRC dividend tidak bisa dilepaskan dari risiko Strategy, harga Bitcoin, dan kondisi pasar modal secara umum.

 

Apa Risiko Investasi di STRC?

STRC memiliki daya tarik, tetapi juga memiliki risiko. Investor tidak bisa hanya melihat pembelian CEO atau potensi dividen tanpa memahami risiko yang menyertainya.

Risiko pertama datang dari perubahan suku bunga. Instrumen berbasis pendapatan seperti saham preferen sering sensitif terhadap arah suku bunga. Ketika suku bunga tinggi, investor bisa membandingkan STRC dengan instrumen pendapatan lain yang dianggap lebih aman. Jika alternatif lain menawarkan yield menarik dengan risiko lebih rendah, permintaan terhadap STRC bisa tertekan.

Risiko kedua berasal dari kinerja Strategy sebagai penerbit. Karena STRC diterbitkan oleh Strategy, kondisi keuangan perusahaan tetap penting. Investor perlu memperhatikan bagaimana perusahaan mengelola utang, ekuitas, aset Bitcoin, dan kewajiban pembayaran dividen.

Risiko ketiga berkaitan dengan Bitcoin. STRC memang bukan Bitcoin, tetapi Strategy sangat identik dengan Bitcoin. Jika harga Bitcoin turun tajam, sentimen terhadap Strategy bisa melemah. Dampaknya dapat merembet ke instrumen yang diterbitkan perusahaan.

Risiko keempat adalah likuiditas. Tidak semua saham preferen memiliki perdagangan seaktif saham biasa besar. Likuiditas yang lebih rendah bisa membuat pergerakan harga lebih tajam ketika tekanan jual muncul.

Risiko kelima adalah sentimen pasar. Dalam kondisi panik, investor sering menjual instrumen yang dianggap rumit lebih dulu. STRC bisa ikut terkena tekanan bukan karena mekanismenya berubah, tetapi karena investor ingin mengurangi risiko portofolio secara cepat.

Karena itu, STRC bukan instrumen yang cukup dipahami hanya dari headline. Investor perlu membaca struktur, dividen, risiko perusahaan, dan hubungan tidak langsungnya dengan Bitcoin.

 

Siapa yang Biasanya Tertarik pada STRC?

STRC tidak ditujukan untuk semua jenis investor.

Investor yang mengejar pertumbuhan agresif mungkin lebih tertarik pada MSTR atau Bitcoin langsung, terutama jika mereka memiliki pandangan terhadap investasi Bitcoin jangka panjang. Alasannya, dua instrumen itu memiliki potensi volatilitas dan kenaikan harga yang lebih besar ketika pasar sedang bullish.

Investor yang mencari eksposur lebih konservatif terhadap ekosistem Strategy mungkin melihat STRC sebagai instrumen yang menarik. Daya tariknya bukan hanya pada potensi kenaikan harga, tetapi juga pada struktur pendapatan yang melekat pada preferred stock.

Namun, konservatif bukan berarti tanpa risiko. STRC tetap bisa turun ketika pasar kehilangan kepercayaan, ketika yield dianggap tidak cukup menarik, atau ketika sentimen terhadap Strategy memburuk.

Bagi investor yang baru mengenal pasar modal, STRC mungkin terasa lebih kompleks dibanding Bitcoin, saham biasa, atau ETF Bitcoin. Sebab, instrumen ini membutuhkan pemahaman tentang par value, yield, struktur modal, dan risiko penerbit.

Dengan kata lain, STRC lebih cocok untuk investor yang mau memahami lapisan keuangan di balik strategi Bitcoin Strategy, bukan hanya melihat pergerakan harga harian.

 

Mengapa STRC Menjadi Topik Penting bagi Investor Bitcoin?

Perhatian terhadap STRC menunjukkan bahwa pasar Bitcoin semakin matang. Investor tidak lagi hanya melihat harga BTC sebagai satu-satunya indikator. Mereka mulai memperhatikan perusahaan yang membeli Bitcoin, cara perusahaan memperoleh modal, dan instrumen yang digunakan untuk mendanai pembelian tersebut.

Awalnya, narasi Strategy sangat sederhana: perusahaan membeli Bitcoin dalam jumlah besar. Setelah itu, pasar mulai memperhatikan MSTR sebagai saham yang memiliki eksposur kuat terhadap BTC. Kini, perhatian berkembang lagi ke instrumen pendanaan seperti STRC.

Perubahan ini penting karena strategi akumulasi Bitcoin tidak berdiri sendiri. Setiap pembelian Bitcoin membutuhkan sumber modal. Jika modal diperoleh dari instrumen yang diterima baik oleh pasar, strategi perusahaan bisa berjalan lebih lancar. Jika instrumen pendanaan mulai tertekan, pasar akan mulai mempertanyakan keberlanjutan strategi tersebut.

Itulah mengapa STRC bisa menjadi topik penting meskipun bukan aset kripto. Instrumen ini menjadi jendela untuk melihat bagaimana pasar menilai kemampuan Strategy dalam mempertahankan mesin akumulasi Bitcoin.

Bagi investor Bitcoin, memahami STRC bukan berarti harus membeli instrumennya. Namun, mengetahui peran STRC membantu kamu membaca sentimen pasar terhadap Strategy secara lebih lengkap.

 

Kesimpulan

STRC adalah Series A Perpetual Stretch Preferred Stock yang diterbitkan oleh Strategy. Instrumen ini bukan Bitcoin, bukan token kripto, dan bukan saham biasa seperti MSTR. STRC adalah saham preferen yang memiliki karakteristik pendapatan, par value, dan risiko tersendiri.

Ramainya pembahasan STRC pada 2026 dipicu oleh kombinasi beberapa faktor. Harga instrumen ini sempat tertekan saat pasar panik, Strategy tetap menjadi sorotan karena strategi akumulasi Bitcoin, dan CEO Phong Le membeli hampir US$1 juta STRC ketika investor sedang mempertanyakan arah pasar.

Hal yang membuat STRC menarik bukan hanya transaksinya, tetapi makna yang lebih besar di baliknya. Pasar mulai melihat bahwa strategi Bitcoin sebuah perusahaan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak BTC yang dimiliki, tetapi juga oleh seberapa kuat mesin pendanaan yang menopang pembelian tersebut.

STRC menjadi contoh bagaimana pasar modal dan Bitcoin semakin terhubung. Untuk memahami narasi Bitcoin pada level yang lebih dalam, investor tidak cukup hanya memantau harga BTC. Struktur modal, instrumen pendanaan, dan keputusan manajemen perusahaan seperti Strategy kini ikut menjadi bagian dari cerita besar yang membentuk sentimen pasar.

 

FAQ

1. Apa itu STRC?

STRC adalah Series A Perpetual Stretch Preferred Stock yang diterbitkan oleh Strategy. Instrumen ini merupakan saham preferen, bukan aset kripto dan bukan saham biasa seperti MSTR.

2. Apa hubungan STRC dengan Bitcoin?

STRC berhubungan dengan Bitcoin secara tidak langsung melalui Strategy. Dana dari instrumen seperti STRC dapat menjadi bagian dari sumber modal perusahaan untuk menjalankan strategi korporasi, termasuk akumulasi Bitcoin.

3. Apa bedanya STRC dan MSTR?

MSTR adalah saham biasa Strategy, sedangkan STRC adalah saham preferen. MSTR lebih banyak dikaitkan dengan potensi pertumbuhan nilai saham, sementara STRC lebih banyak diperhatikan karena dividen, par value, dan yield.

4. Mengapa CEO Strategy membeli STRC saat pasar panik?

Pembelian oleh CEO Phong Le menjadi sorotan karena dilakukan saat STRC sedang berada dalam tekanan pasar. Aksi ini sering dibaca sebagai sinyal kepercayaan manajemen, meskipun tidak menjamin harga akan naik.

5. Apakah STRC memberikan dividen?

Sebagai saham preferen, STRC memiliki karakteristik yang berkaitan dengan dividen. Karena itu, banyak investor mencari informasi tentang STRC dividend dan yield instrumen ini.

6. Mengapa par value STRC sering dibahas investor?

Par value menjadi acuan nilai nominal STRC. Jika harga pasar berada di bawah par value, investor akan menilai apakah instrumen tersebut sedang diperdagangkan dengan diskon atau justru mencerminkan risiko yang meningkat.

7. Apakah STRC termasuk investasi kripto?

Tidak. STRC adalah instrumen pasar modal. Namun, instrumen ini memiliki keterkaitan tidak langsung dengan pasar kripto karena diterbitkan oleh Strategy, perusahaan yang dikenal luas karena akumulasi Bitcoin.

8. Apakah STRC cocok untuk investor pemula?

STRC membutuhkan pemahaman tentang saham preferen, dividen, yield, par value, dan risiko perusahaan penerbit. Investor pemula sebaiknya memahami mekanismenya lebih dulu sebelum melihat instrumen ini sebagai peluang investasi.

9. Mengapa pencarian STRC meningkat pada 2026?

Pencarian STRC meningkat karena instrumen ini menjadi sorotan setelah mengalami tekanan harga, dikaitkan dengan strategi Bitcoin Strategy, dan dibeli oleh CEO perusahaan saat pasar sedang panik.

10. Apakah STRC bisa mempengaruhi kemampuan Strategy membeli Bitcoin?

STRC dapat berpengaruh secara tidak langsung. Jika instrumen pendanaan seperti STRC diminati pasar, Strategy memiliki lebih banyak ruang untuk mengakses modal. Jika instrumen tersebut tertekan, pasar bisa mulai mempertanyakan fleksibilitas pendanaan perusahaan.

 

Itulah informasi menarik tentang STRC yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.

Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.

 

Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.

Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!

Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.

 

Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]

 

Follow Sosmed Twitter Indodax sekarang

Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram

 

 

Author : RB

DISCLAIMER:  Segala bentuk transaksi aset kripto memiliki risiko dan berpeluang untuk mengalami kerugian. Tetap berinvestasi sesuai riset mandiri sehingga bisa meminimalisir tingkat kehilangan aset kripto yang ditransaksikan (Do Your Own Research/ DYOR). Informasi yang terkandung dalam publikasi ini diberikan secara umum tanpa kewajiban dan hanya untuk tujuan informasi saja. Publikasi ini tidak dimaksudkan untuk, dan tidak boleh dianggap sebagai, suatu penawaran, rekomendasi, ajakan atau nasihat untuk membeli atau menjual produk investasi apa pun dan tidak boleh dikirimkan, diungkapkan, disalin, atau diandalkan oleh siapa pun untuk tujuan apa pun.
  

Lebih Banyak dari Tutorial

Pelajaran Dasar

Calculate Staking Rewards with INDODAX earn

Select an option
dot Polkadot 2.25%
bnb BNB 0.52%
sol Solana 4.62%
eth Ethereum 2.32%
ada Cardano 1.02%
pol Polygon Ecosystem Token 1.87%
trx Tron 2.75%
DOT
0
Berdasarkan harga & APY saat ini
Stake Now

Pasar

Nama Harga 24H Chg
COLLAT/IDR
Collateriz
33
75.53%
DEXE/IDR
DeXe
403.387
68.02%
RDNT/IDR
Radiant Ca
18
50%
DVI/IDR
Dvision Ne
3
50%
TAIKO/IDR
Taiko
6.255
35.98%
Nama Harga 24H Chg
CBG/IDR
Chainbing
8
-27.27%
BICO/IDR
Biconomy
550
-26.57%
UB/IDR
Unibase
1.610
-25.74%
VOLT/USDT
Volt Inu
0
-20%
MEME/IDR
Memecoin
9
-18.18%
Apakah artikel ini membantu?

Beri nilai untuk artikel ini

You already voted!
Artikel Terkait

Temukan lebih banyak artikel berdasarkan topik yang diminati.

BEP20 vs ERC20: Pilih yang Mana untuk USDT?
23/06/2026
BEP20 vs ERC20: Pilih yang Mana untuk USDT?

Saat ingin transfer USDT, kamu biasanya akan melihat beberapa pilihan

23/06/2026
Trust Wallet vs MetaMask, Mana yang Lebih Aman?
23/06/2026
Trust Wallet vs MetaMask, Mana yang Lebih Aman?

Saat kamu mulai menyimpan aset kripto sendiri, pilihan wallet menjadi

23/06/2026
STRC: Instrumen Strategy yang Dibeli Saat Pasar Panik
23/06/2026
STRC: Instrumen Strategy yang Dibeli Saat Pasar Panik

Pasar kripto tidak selalu bergerak hanya karena harga Bitcoin naik

23/06/2026