Bagi investor yang mulai melirik pasar saham Amerika, nama VTI dan SPY biasanya cepat muncul di daftar pencarian, terutama saat mencari referensi tentang ETF yang memberikan eksposur ke pasar saham global. Keduanya sama-sama ETF populer, sama-sama memberi eksposur ke saham Amerika, dan sama-sama sering dipakai sebagai instrumen investasi jangka panjang.
Namun, kemiripan itu sering membuat banyak orang bingung. Kalau VTI dan SPY sama-sama bergerak mengikuti pasar saham Amerika, kenapa investor masih membandingkan keduanya? Apakah VTI lebih baik karena mencakup pasar yang lebih luas? Atau SPY lebih menarik karena menjadi salah satu ETF paling likuid dan paling dikenal?
Pertanyaan seperti ini tidak cukup dijawab hanya dengan melihat return. Perbandingan VTI vs SPY perlu dilihat dari cakupan saham, biaya, likuiditas, risiko, karakter indeks, hingga tujuan investasi kamu sendiri. Dengan begitu, keputusan memilih ETF tidak hanya berdasarkan popularitas, tetapi juga berdasarkan strategi yang lebih masuk akal.
Apa Itu VTI?
VTI adalah singkatan dari Vanguard Total Stock Market ETF. ETF ini dikelola oleh Vanguard dan dirancang untuk mengikuti pergerakan pasar saham Amerika secara luas. Artinya, VTI tidak hanya berisi saham perusahaan besar, tetapi juga mencakup saham berkapitalisasi menengah dan kecil.
Karena cakupannya luas, VTI sering dianggap sebagai cara sederhana untuk mendapatkan eksposur ke hampir seluruh pasar saham Amerika dalam satu produk. Investor tidak perlu membeli banyak saham satu per satu karena VTI sudah membungkus ribuan saham dalam satu ETF.
Daya tarik utama VTI ada pada konsep diversifikasi portofolio, karena satu produk ini dapat memberikan eksposur ke ribuan saham Amerika dalam waktu yang bersamaan. Saat kamu membeli VTI, kamu tidak hanya membeli eksposur ke perusahaan teknologi raksasa seperti Apple, Microsoft, Nvidia, Amazon, atau Alphabet, tetapi juga ke banyak perusahaan lain yang ukurannya lebih kecil. Perusahaan kecil dan menengah ini mungkin tidak selalu menjadi sorotan, tetapi tetap menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi Amerika.
Meski begitu, bukan berarti bobot VTI tersebar rata ke semua saham. Saham-saham besar tetap memiliki pengaruh paling besar karena indeks yang diikuti VTI menggunakan pendekatan kapitalisasi pasar. Semakin besar kapitalisasi pasar sebuah perusahaan, semakin besar pula bobotnya di dalam ETF yang menggunakan metode pembobotan berdasarkan market cap.
Karena struktur seperti itu, VTI tetap sangat dipengaruhi oleh perusahaan-perusahaan besar Amerika. Namun, kehadiran saham mid cap dan small cap membuat VTI memiliki cakupan yang lebih luas dibanding ETF yang hanya fokus pada perusahaan terbesar.
Karakter inilah yang membuat VTI sering dipilih untuk strategi investasi jangka panjang, terutama oleh investor yang ingin mengikuti pertumbuhan pasar saham Amerika secara luas tanpa perlu memilih saham satu per satu. Bukan karena selalu memberikan return tertinggi dalam setiap periode, tetapi karena VTI menawarkan pendekatan yang sederhana, luas, dan efisien untuk mengikuti pasar saham Amerika.
Apa Itu SPY?
SPY adalah singkatan dari SPDR S&P 500 ETF Trust. ETF ini dikelola oleh State Street melalui brand SPDR dan menjadi salah satu ETF paling terkenal di pasar Amerika. SPY mengikuti indeks S&P 500, yaitu indeks yang berisi sekitar 500 perusahaan besar di Amerika Serikat.
Berbeda dari VTI yang mencakup pasar saham Amerika secara lebih luas, SPY lebih fokus pada perusahaan-perusahaan besar. Di dalamnya terdapat banyak nama raksasa seperti Apple, Microsoft, Nvidia, Amazon, Alphabet, Meta, Tesla, dan Berkshire Hathaway.
Karena mengikuti S&P 500, SPY sering dipandang sebagai representasi utama pasar saham Amerika. Ketika media menyebut “pasar saham Amerika naik” atau “S&P 500 melemah”, banyak investor langsung menghubungkannya dengan ETF seperti SPY.
Keunggulan besar SPY ada pada likuiditas. Volume perdagangannya sangat tinggi, sehingga ETF ini banyak digunakan oleh trader aktif, institusi besar, hingga pelaku pasar yang membutuhkan eksekusi cepat. Likuiditas yang tinggi membuat spread bid dan ask cenderung ketat, sehingga SPY sering menjadi pilihan untuk trading, hedging, atau strategi berbasis opsi.
Namun, fokus SPY pada perusahaan besar juga membuat eksposurnya lebih terkonsentrasi. Jika saham-saham teknologi besar bergerak kuat, SPY bisa ikut terdorong. Sebaliknya, jika saham-saham besar tersebut tertekan, kinerja SPY juga bisa ikut melemah.
Dengan karakter seperti itu, SPY bukan sekadar ETF pasif biasa. Ia menjadi instrumen yang sangat aktif dipakai di pasar karena reputasi, ukuran, dan likuiditasnya. Bagi investor yang ingin fokus pada perusahaan besar Amerika, SPY menjadi salah satu pilihan yang paling mudah dipahami.
VTI vs SPY: Apa Perbedaan Utamanya?
Sekilas, VTI dan SPY terlihat mirip karena keduanya sama-sama berisi saham-saham besar Amerika. Banyak saham terbesar di VTI juga muncul di SPY, mulai dari Apple, Microsoft, Nvidia, Amazon, Alphabet, hingga Meta. Karena itu, pergerakan harga keduanya sering terlihat searah.
Namun, perbedaan utamanya ada pada cakupan. VTI mengikuti pasar saham Amerika yang lebih luas, sedangkan SPY mengikuti S&P 500. VTI bisa mencakup ribuan saham, sementara SPY hanya fokus pada sekitar 500 perusahaan besar.
Perbedaan cakupan ini membuat VTI memiliki diversifikasi yang lebih luas. Jika kamu ingin memiliki eksposur ke perusahaan besar, menengah, dan kecil sekaligus, VTI lebih mencerminkan total pasar saham Amerika. Sementara itu, jika kamu hanya ingin fokus pada perusahaan besar yang sudah mapan, SPY lebih langsung menjawab kebutuhan tersebut.
Dari sisi biaya, VTI juga lebih murah. Expense ratio VTI berada di sekitar 0,03%, sedangkan SPY berada di sekitar 0,09%. Selisih ini terlihat kecil, tetapi dalam investasi jangka panjang, biaya yang lebih rendah bisa memberi dampak yang terasa, terutama jika dana yang diinvestasikan semakin besar dan periode investasinya semakin panjang.
Namun, SPY unggul dari sisi likuiditas. Volume transaksi SPY jauh lebih besar dibanding VTI. Bagi investor jangka panjang, perbedaan ini mungkin tidak terlalu terasa. Tetapi bagi trader aktif, likuiditas adalah faktor besar karena berhubungan dengan kemudahan masuk dan keluar posisi, spread transaksi, serta efisiensi eksekusi.
AUM atau dana kelolaan juga menjadi faktor yang sering diperhatikan. ETF dengan AUM besar biasanya dianggap lebih mapan dan lebih likuid. Baik VTI maupun SPY sama-sama memiliki dana kelolaan besar, sehingga keduanya termasuk ETF yang kuat dari sisi skala.
Jadi, perbedaan VTI dan SPY bukan hanya soal mana yang return-nya lebih tinggi. VTI lebih unggul dalam cakupan pasar dan biaya rendah, sedangkan SPY lebih unggul dalam likuiditas dan popularitas sebagai instrumen trading.
Mengapa Pergerakan VTI dan SPY Sangat Mirip?
Salah satu hal yang membuat perbandingan VTI vs SPY menarik adalah korelasi keduanya yang sangat tinggi. Data Composer menunjukkan korelasi VTI dan SPY berada di sekitar 0,96. Angka ini menandakan bahwa pergerakan keduanya sangat mirip dalam banyak periode.
Kemiripan ini terjadi karena saham-saham besar memiliki bobot dominan di kedua ETF. Walaupun VTI mencakup lebih banyak saham, perusahaan raksasa seperti Apple, Microsoft, Nvidia, Amazon, Alphabet, Meta, dan Tesla tetap memberi pengaruh besar terhadap pergerakan VTI.
Dengan kata lain, VTI memang lebih luas, tetapi arah pergerakannya tetap banyak ditentukan oleh saham-saham besar yang juga ada di SPY. Ketika saham teknologi besar menguat, VTI dan SPY biasanya sama-sama terdorong. Ketika saham-saham besar itu melemah, keduanya juga bisa ikut terkoreksi.
Hal ini membuat perbedaan return VTI dan SPY sering kali tidak terlalu jauh. Dalam periode tertentu, VTI bisa sedikit lebih unggul karena mendapat tambahan kontribusi dari saham mid cap dan small cap. Di periode lain, SPY bisa lebih unggul jika saham large cap, terutama sektor teknologi, sedang memimpin pasar.
Bagi investor, korelasi tinggi ini memberi satu pesan penting. Memegang VTI dan SPY sekaligus tidak selalu memberikan diversifikasi besar seperti yang dibayangkan. Karena isi dan pergerakannya sangat mirip, membeli keduanya sekaligus bisa membuat portofolio terlihat lebih banyak, tetapi sebenarnya tetap mengandalkan sumber return yang hampir sama.
Perbedaan kecil tetap ada, tetapi bukan perbedaan yang ekstrem. Karena itu, keputusan memilih VTI atau SPY sebaiknya tidak hanya didasarkan pada return historis, melainkan pada tujuan investasi dan gaya pengelolaan portofolio.
VTI vs SPY dari Sisi Kinerja Historis
Dalam jangka pendek, performa VTI dan SPY bisa berbeda tipis. Data yang tersedia menunjukkan return tiga bulan VTI berada di kisaran 13,8%, sedangkan SPY sekitar 13,5%. Selisih ini kecil dan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa salah satunya selalu lebih unggul.
Perbedaan tipis seperti ini wajar karena keduanya memiliki komposisi saham besar yang mirip. Ketika pasar Amerika sedang bullish, VTI dan SPY biasanya sama-sama naik. Ketika pasar melemah, keduanya juga bisa turun bersama.
Dalam jangka panjang, perbandingan VTI vs SPY biasanya bergantung pada siklus pasar. Jika saham small cap dan mid cap sedang kuat, VTI bisa mendapat tambahan dorongan karena cakupannya lebih luas. Namun, jika saham large cap mendominasi pasar, SPY bisa menyamai atau bahkan mengungguli VTI.
Inilah alasan mengapa membandingkan ETF hanya dari return satu periode bisa menyesatkan. Return historis hanya menunjukkan apa yang sudah terjadi, bukan jaminan hasil di masa depan. ETF yang unggul dalam tiga bulan belum tentu unggul dalam lima tahun, dan ETF yang tertinggal sedikit dalam satu periode belum tentu menjadi pilihan buruk.
Untuk investor jangka panjang, konsistensi strategi sering lebih penting daripada mengejar selisih return kecil. Jika kamu memilih VTI karena ingin eksposur pasar yang lebih luas, maka fokus utamanya adalah diversifikasi total market. Jika kamu memilih SPY karena ingin fokus pada perusahaan besar Amerika, maka keunggulannya ada pada eksposur large cap dan likuiditas tinggi.
Kinerja historis tetap penting untuk dianalisis, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya dasar keputusan. Yang lebih penting adalah memahami kenapa kinerja itu terjadi dan apakah karakter ETF tersebut sesuai dengan tujuan investasimu.
Risiko yang Perlu Dipahami Sebelum Memilih VTI atau SPY
VTI dan SPY sering dipandang sebagai ETF yang relatif sederhana, tetapi bukan berarti bebas risiko. Keduanya tetap bergerak mengikuti pasar saham Amerika, sehingga nilainya bisa naik dan turun sesuai kondisi ekonomi, suku bunga, inflasi, sentimen investor, dan performa perusahaan di dalamnya.
Risiko pertama adalah risiko pasar. Jika pasar saham Amerika mengalami koreksi besar, VTI dan SPY hampir pasti ikut terdampak. Diversifikasi memang bisa membantu mengurangi risiko spesifik dari satu saham, tetapi tidak bisa menghapus risiko pasar secara keseluruhan.
Risiko kedua adalah konsentrasi pada saham teknologi besar. Walaupun VTI lebih luas, bobot saham raksasa tetap besar. Artinya, ketika saham teknologi besar mengalami tekanan, dampaknya bisa terasa pada kedua ETF. SPY biasanya lebih sensitif terhadap hal ini karena fokusnya memang pada perusahaan besar.
Risiko ketiga adalah kondisi suku bunga. Saat suku bunga tinggi, valuasi saham bisa tertekan karena investor membandingkan potensi return saham dengan instrumen lain yang lebih defensif. Perusahaan bertumbuh tinggi, termasuk banyak saham teknologi, sering ikut terpengaruh dalam kondisi seperti ini.
Risiko keempat adalah siklus ekonomi. Saat ekonomi melemah, pendapatan perusahaan bisa turun, konsumsi melambat, dan pasar saham menjadi lebih volatil. Dalam situasi seperti itu, VTI dan SPY bisa mengalami drawdown yang cukup dalam.
Risiko kelima adalah perilaku investor sendiri. Banyak investor bisa bertahan saat pasar naik, tetapi panik saat pasar turun. Padahal, ETF seperti VTI dan SPY biasanya lebih cocok dipahami dalam horizon panjang, bukan hanya dilihat dari pergerakan harian.
Dengan memahami risiko ini, kamu bisa melihat VTI dan SPY secara lebih objektif. Keduanya bisa menjadi instrumen yang menarik, tetapi tetap perlu ditempatkan dalam strategi yang sesuai dengan profil risiko dan jangka waktu investasimu.
VTI atau SPY, Mana yang Lebih Cocok untuk Tujuan Investasimu?
Jawaban VTI atau SPY lebih menarik sebenarnya bergantung pada tujuan kamu. Tidak ada satu ETF yang otomatis paling benar untuk semua orang. Keduanya punya karakter yang kuat, tetapi cocok untuk kebutuhan yang berbeda.
Jika kamu menginginkan diversifikasi lebih luas, VTI lebih menarik. ETF ini memberi eksposur ke pasar saham Amerika secara lebih menyeluruh, termasuk perusahaan besar, menengah, dan kecil. Untuk investor jangka panjang yang ingin mengikuti pertumbuhan pasar Amerika secara luas, VTI sering menjadi pilihan yang masuk akal.
Jika kamu lebih fokus pada perusahaan besar Amerika, SPY bisa lebih sesuai. ETF ini mengikuti S&P 500, sehingga lebih terkonsentrasi pada perusahaan besar yang sudah mapan. Bagi banyak investor, S&P 500 sudah cukup mewakili kekuatan utama pasar saham Amerika.
Jika kamu investor jangka panjang, VTI punya keunggulan dari sisi biaya yang lebih rendah dan cakupan yang lebih luas. Expense ratio yang lebih kecil bisa membantu efisiensi portofolio, terutama jika investasi dilakukan bertahun-tahun.
Jika kamu trader aktif, SPY biasanya lebih menarik karena likuiditasnya sangat tinggi. Volume perdagangan besar membuat SPY lebih nyaman digunakan untuk strategi jangka pendek, termasuk trading aktif dan opsi. Karena itu, SPY lebih sering muncul dalam strategi institusional dan aktivitas pasar harian.
Jika kamu hanya ingin memilih satu ETF untuk eksposur saham Amerika, VTI bisa memberi cakupan yang lebih luas. Namun, jika kamu ingin instrumen yang sangat likuid dan sangat populer untuk mengikuti S&P 500, SPY punya posisi yang sulit diabaikan.
Keputusan terbaik bukan soal mencari ETF yang menang mutlak. Keputusan terbaik adalah memilih ETF yang paling sesuai dengan cara kamu membangun portofolio.
ETF Lain yang Sering Dibandingkan dengan VTI dan SPY
VTI dan SPY memang populer, tetapi keduanya bukan satu-satunya ETF saham Amerika yang sering dibahas investor. Ada beberapa ETF lain yang juga sering muncul ketika orang membandingkan pilihan investasi berbasis indeks.
VOO adalah salah satu alternatif SPY yang juga mengikuti S&P 500. Karena sama-sama melacak indeks yang sama, performa VOO dan SPY biasanya sangat mirip. Perbedaan utamanya sering muncul dari sisi biaya, likuiditas, dan preferensi investor terhadap penerbit ETF.
IVV juga mengikuti S&P 500 dan menjadi alternatif lain bagi investor yang ingin eksposur ke perusahaan besar Amerika. Sama seperti VOO dan SPY, IVV sering digunakan untuk investasi pasif jangka panjang.
ITOT lebih dekat dengan VTI karena sama-sama memberi eksposur ke total pasar saham Amerika. ETF seperti ini menarik bagi investor yang ingin cakupan lebih luas daripada hanya S&P 500.
SCHB juga sering dibandingkan dengan VTI karena membawa pendekatan broad market. ETF ini memberi eksposur ke banyak saham Amerika dan bisa menjadi alternatif bagi investor yang mencari diversifikasi luas.
Membahas ETF alternatif seperti VOO, IVV, ITOT, dan SCHB membantu kamu melihat bahwa pilihan ETF tidak berhenti pada VTI vs SPY saja. Ada banyak produk yang memiliki karakter mirip, sehingga investor perlu melihat indeks acuan, biaya, likuiditas, dan strategi portofolio sebelum memilih.
Namun, VTI dan SPY tetap menjadi dua nama yang paling sering dibandingkan karena mewakili dua pendekatan besar. VTI mewakili total stock market, sedangkan SPY mewakili S&P 500.
Pelajaran Penting dari Perbandingan VTI vs SPY
Perbandingan VTI vs SPY mengajarkan satu hal sederhana: investasi ETF bukan hanya soal memilih produk yang paling populer. Lebih dari itu, investasi ETF adalah soal memahami eksposur yang kamu beli.
VTI memberi kamu akses ke pasar saham Amerika yang lebih luas. SPY memberi kamu akses ke perusahaan-perusahaan besar dalam indeks S&P 500. Keduanya sama-sama kuat, tetapi membawa filosofi yang sedikit berbeda.
Bagi investor jangka panjang, perbedaan biaya dan cakupan bisa menjadi faktor penting. VTI lebih murah dan lebih luas, sehingga cocok untuk pendekatan pasif yang ingin mengikuti total pasar. Sementara itu, SPY unggul dalam likuiditas dan reputasi, sehingga lebih sering digunakan oleh trader, institusi, dan investor yang fokus pada S&P 500.
Namun, karena korelasinya sangat tinggi, perdebatan VTI vs SPY sering kali bukan tentang mana yang pasti menghasilkan return jauh lebih besar. Perdebatan yang lebih tepat adalah mana yang lebih sesuai dengan strategi kamu.
Kalau tujuan kamu adalah membangun portofolio yang sederhana, luas, dan hemat biaya, VTI punya argumen yang kuat. Kalau tujuan kamu adalah mengikuti indeks S&P 500 dengan likuiditas sangat tinggi, SPY tetap menjadi pilihan yang relevan.
Dalam investasi, selisih kecil di atas kertas tidak selalu lebih penting daripada konsistensi. ETF yang bagus tetap bisa memberi hasil buruk jika dibeli tanpa strategi, dan ETF yang sederhana bisa menjadi kuat jika dipakai dengan disiplin.
Kesimpulan
VTI dan SPY sama-sama menjadi ETF Amerika yang menarik, tetapi keduanya tidak benar-benar identik. VTI menawarkan cakupan pasar yang lebih luas dengan biaya lebih rendah, sedangkan SPY menawarkan eksposur ke S&P 500 dengan likuiditas yang sangat tinggi.
Bagi investor jangka panjang yang mengutamakan diversifikasi luas, VTI bisa menjadi pilihan yang lebih menarik. ETF ini memberi akses ke ribuan saham Amerika dalam satu produk, termasuk perusahaan besar, menengah, dan kecil.
Bagi investor yang ingin fokus pada perusahaan besar Amerika atau membutuhkan instrumen yang sangat likuid, SPY tetap punya posisi kuat. Reputasi, volume perdagangan, dan kedekatannya dengan S&P 500 membuat SPY menjadi salah satu ETF paling banyak digunakan di pasar.
Jadi, mana yang lebih menarik antara VTI vs SPY? Jawabannya kembali ke tujuan investasi kamu. Jika kamu mencari cakupan luas dan biaya lebih rendah, VTI lebih unggul. Jika kamu mencari likuiditas tinggi dan fokus pada S&P 500, SPY lebih cocok.
Pilihan ETF yang baik bukan hanya yang paling populer, melainkan yang paling selaras dengan strategi, horizon waktu, dan toleransi risiko kamu.
FAQ
1. Apa perbedaan terbesar antara VTI dan SPY?
Perbedaan terbesar VTI dan SPY ada pada cakupan sahamnya. VTI mengikuti pasar saham Amerika secara lebih luas, sedangkan SPY mengikuti indeks S&P 500 yang berisi sekitar 500 perusahaan besar Amerika.
Artinya, VTI memberi eksposur ke perusahaan besar, menengah, dan kecil. Sementara itu, SPY lebih fokus pada saham-saham large cap. Karena itulah VTI sering dianggap lebih luas, sedangkan SPY lebih terkonsentrasi pada perusahaan besar.
2. Mengapa banyak investor membandingkan VTI vs SPY?
Investor sering membandingkan VTI vs SPY karena keduanya sama-sama populer dan sama-sama memberi eksposur ke saham Amerika. Selain itu, banyak saham terbesar di VTI juga ada di SPY, sehingga pergerakan keduanya terlihat sangat mirip.
Namun, di balik kemiripan itu, VTI dan SPY punya karakter berbeda. VTI lebih luas dan lebih murah dari sisi expense ratio, sedangkan SPY lebih likuid dan lebih populer untuk trading aktif.
3. Apakah VTI lebih baik daripada SPY?
VTI bisa dianggap lebih menarik untuk investor yang mengutamakan diversifikasi luas dan biaya rendah. Namun, SPY bisa lebih cocok untuk investor atau trader yang membutuhkan likuiditas tinggi dan ingin fokus pada S&P 500.
Jadi, VTI tidak selalu lebih baik daripada SPY dalam semua kondisi. Pilihan yang tepat bergantung pada tujuan investasi, jangka waktu, dan gaya pengelolaan portofolio kamu.
4. Mana yang lebih cocok untuk investasi jangka panjang, VTI atau SPY?
Untuk investasi jangka panjang, VTI sering dianggap menarik karena memiliki cakupan lebih luas dan expense ratio lebih rendah. ETF ini memberi eksposur ke hampir seluruh pasar saham Amerika, bukan hanya perusahaan besar.
Namun, SPY juga tetap relevan untuk investasi jangka panjang karena mengikuti S&P 500, indeks yang sudah lama menjadi acuan utama pasar saham Amerika. Jika kamu hanya ingin fokus pada perusahaan besar, SPY masih bisa menjadi pilihan yang kuat.
5. Kenapa pergerakan VTI dan SPY sangat mirip?
Pergerakan VTI dan SPY sangat mirip karena keduanya memiliki banyak saham besar yang sama. Apple, Microsoft, Nvidia, Amazon, Alphabet, Meta, dan Tesla memiliki bobot besar di kedua ETF.
Walaupun VTI berisi lebih banyak saham, perusahaan besar tetap mendominasi bobotnya. Karena itu, saat saham-saham besar Amerika naik atau turun, VTI dan SPY biasanya ikut bergerak ke arah yang sama.
6. Apakah membeli VTI dan SPY sekaligus bisa menambah diversifikasi?
Membeli VTI dan SPY sekaligus tidak selalu menambah diversifikasi secara signifikan. Sebab, banyak saham utama di SPY juga sudah ada di dalam VTI.
Jika tujuan kamu adalah diversifikasi yang benar-benar berbeda, kamu mungkin perlu melihat aset lain, sektor lain, atau wilayah pasar yang berbeda. Memegang VTI dan SPY sekaligus bisa membuat portofolio terlihat lebih banyak, tetapi eksposurnya tetap sangat mirip.
7. Apakah VTI dan SPY membagikan dividen?
VTI dan SPY dapat membagikan dividen kepada investor karena keduanya berisi saham-saham perusahaan yang sebagian membayar dividen. Namun, besaran dividen dapat berubah mengikuti kondisi perusahaan, komposisi ETF, dan kebijakan distribusi masing-masing ETF.
Investor yang mengejar dividen tetap perlu melihat dividend yield, jadwal distribusi, dan pertumbuhan dividen dari waktu ke waktu. Jangan hanya memilih ETF karena membagikan dividen, tetapi lihat juga risiko, biaya, dan tujuan investasinya.
8. Selain VTI dan SPY, ETF Amerika apa yang sering dibandingkan investor?
Beberapa ETF yang sering dibandingkan dengan VTI dan SPY antara lain VOO, IVV, ITOT, dan SCHB. VOO dan IVV sama-sama mengikuti S&P 500, sehingga sering menjadi alternatif SPY. Sementara itu, ITOT dan SCHB lebih dekat dengan pendekatan total market seperti VTI.
ETF-ETF tersebut bisa menjadi bahan perbandingan jika kamu ingin melihat pilihan lain dengan karakter biaya, likuiditas, dan indeks acuan yang berbeda. Tetap gunakan tujuan investasi sebagai dasar utama sebelum memilih.
Itulah informasi menarik tentang VTI vs SPY yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
