Harga saham yang terlihat di aplikasi perdagangan belum tentu mencerminkan nilai perusahaan yang sebenarnya. Harga tersebut dapat bergerak naik dan turun karena banyak faktor, mulai dari kinerja perusahaan, kondisi ekonomi, perubahan suku bunga, sentimen investor, hingga aktivitas jual beli dalam jangka pendek.
Akibatnya, saham dengan harga Rp1.000 per lembar belum tentu lebih murah dibandingkan saham seharga Rp5.000 per lembar. Saham Rp1.000 bisa saja sudah terlalu mahal jika kondisi fundamental perusahaannya lemah. Sebaliknya, saham Rp5.000 dapat dianggap masih murah apabila nilai wajarnya diperkirakan jauh lebih tinggi.
Untuk menilai hal tersebut, investor biasanya menghitung nilai intrinsik saham. Nilai ini digunakan sebagai estimasi harga wajar berdasarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba, arus kas, dividen, dan pertumbuhan bisnis pada masa mendatang.
Meski demikian, nilai intrinsik bukanlah angka mutlak. Hasilnya sangat bergantung pada data dan asumsi yang digunakan. Oleh karena itu, cara menghitung nilai intrinsik saham perlu dipahami dengan benar agar hasil valuasi tidak memberikan gambaran yang menyesatkan.
Apa Itu Nilai Intrinsik Saham?
Sebelum masuk ke tahap perhitungan, kamu perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan nilai intrinsik saham dan mengapa angkanya dapat berbeda dari harga yang terlihat di pasar.
Nilai intrinsik saham adalah estimasi nilai sebenarnya atau nilai wajar suatu saham berdasarkan kondisi fundamental perusahaan. Perhitungannya dapat mempertimbangkan laba, arus kas, dividen, aset, utang, potensi pertumbuhan, dan risiko bisnis perusahaan.
Sederhananya, nilai intrinsik menjawab pertanyaan berikut:
Berapa harga yang layak dibayar untuk memiliki sebagian kepemilikan perusahaan ini?
Sebagai contoh, sebuah saham diperdagangkan pada harga Rp2.000 per lembar. Setelah melakukan analisis, seorang investor memperkirakan nilai intrinsiknya sebesar Rp2.800 per lembar.
Berdasarkan perhitungan tersebut, harga pasar saham masih berada di bawah estimasi nilai wajarnya. Namun, kesimpulan itu tetap harus diperiksa kembali dengan melihat kualitas bisnis, risiko perusahaan, dan asumsi yang digunakan dalam perhitungan.
Sebaliknya, apabila saham diperdagangkan pada harga Rp3.500 sementara nilai intrinsiknya diperkirakan hanya Rp2.800, saham tersebut dapat dianggap telah diperdagangkan di atas nilai wajarnya.
Nilai intrinsik juga bersifat subjektif. Dua investor dapat menganalisis perusahaan yang sama tetapi memperoleh angka yang berbeda. Perbedaan tersebut biasanya terjadi karena masing-masing investor menggunakan asumsi pertumbuhan, tingkat diskonto, periode proyeksi, dan metode valuasi yang berbeda.
Karena itu, nilai intrinsik sebaiknya dipahami sebagai rentang estimasi, bukan angka yang dijamin selalu tepat. Setelah memahami pengertiannya, kamu juga perlu membedakan nilai intrinsik dari harga pasar dan nilai buku agar tidak keliru saat membaca hasil analisis.
Perbedaan Nilai Intrinsik, Harga Pasar, dan Nilai Buku
Nilai intrinsik, harga pasar, dan nilai buku sering digunakan dalam analisis saham. Ketiganya saling berkaitan, tetapi memiliki arti dan cara perhitungan yang berbeda.
Nilai intrinsik
Nilai intrinsik merupakan estimasi nilai wajar saham berdasarkan kemampuan perusahaan menghasilkan manfaat ekonomi pada masa mendatang.
Angka ini tidak langsung tersedia di laporan keuangan maupun aplikasi perdagangan. Investor perlu menghitungnya menggunakan metode valuasi tertentu.
Harga pasar
Harga pasar adalah harga saham yang berlaku di bursa pada saat tertentu. Angka ini terbentuk dari pertemuan antara permintaan pembeli dan penawaran penjual.
Harga pasar dapat berubah setiap waktu selama perdagangan berlangsung. Perubahan tersebut tidak selalu disebabkan oleh perubahan kondisi fundamental perusahaan. Sentimen, rumor, kebijakan ekonomi, dan kondisi pasar secara keseluruhan juga dapat memengaruhinya.
Nilai buku
Nilai buku menggambarkan nilai bersih perusahaan berdasarkan laporan keuangan. Secara sederhana, nilai buku diperoleh dari total aset dikurangi total liabilitas atau utang.
Untuk mengetahui nilai buku per saham, ekuitas perusahaan dibagi dengan jumlah saham yang beredar.
Rumusnya adalah:
Nilai buku per saham = total ekuitas ÷ jumlah saham beredar
Nilai buku lebih banyak menggambarkan posisi akuntansi perusahaan, sedangkan nilai intrinsik berusaha memperkirakan kemampuan bisnis menciptakan nilai pada masa mendatang.
Sebagai gambaran, sebuah perusahaan dapat memiliki nilai buku yang rendah tetapi nilai intrinsik yang tinggi karena mempunyai merek kuat, teknologi, jaringan distribusi, atau kemampuan menghasilkan laba yang besar.
Sebaliknya, perusahaan dengan aset besar belum tentu memiliki nilai intrinsik tinggi apabila bisnisnya terus merugi atau tidak mampu menghasilkan arus kas yang sehat.
Setelah mengetahui perbedaan ketiganya, kamu dapat melihat mengapa nilai intrinsik sering digunakan sebagai salah satu acuan sebelum menentukan apakah suatu saham layak dibeli.
Mengapa Nilai Intrinsik Saham Penting?
Nilai intrinsik membantu investor menilai saham berdasarkan kondisi bisnisnya, bukan hanya berdasarkan pergerakan harga harian. Pendekatan ini terutama digunakan dalam analisis fundamental dan investasi jangka panjang.
Namun, nilai intrinsik bukan alat untuk memastikan bahwa harga saham akan segera naik. Saham yang dinilai murah dapat tetap berada di bawah nilai wajarnya dalam waktu lama. Karena itu, perhitungan ini lebih tepat digunakan sebagai dasar evaluasi daripada sebagai prediksi harga jangka pendek.
Berikut beberapa fungsi nilai intrinsik dalam analisis saham.
Menentukan harga wajar saham
Harga pasar hanya menunjukkan harga yang disepakati pembeli dan penjual pada saat tertentu. Harga tersebut belum tentu menunjukkan berapa nilai perusahaan secara fundamental.
Dengan menghitung nilai intrinsik, kamu memiliki dasar untuk memperkirakan harga wajar saham berdasarkan laba, arus kas, dividen, dan prospek pertumbuhannya.
Mengidentifikasi saham undervalued
Saham disebut undervalued apabila harga pasarnya berada di bawah estimasi nilai intrinsik.
Misalnya, nilai intrinsik saham diperkirakan sebesar Rp4.000, sedangkan harga pasarnya Rp3.000. Berdasarkan angka tersebut, saham diperdagangkan sekitar 25% di bawah estimasi nilai wajarnya.
Kondisi ini dapat menjadi peluang, tetapi tidak otomatis berarti saham tersebut harus dibeli. Harga yang rendah bisa terjadi karena pasar melihat risiko yang belum sepenuhnya tercermin dalam perhitungan, seperti penurunan laba, utang besar, masalah hukum, atau perubahan industri.
Mengenali saham overvalued
Saham disebut overvalued apabila harga pasarnya berada di atas estimasi nilai intrinsik.
Sebagai contoh, nilai wajar saham diperkirakan Rp2.500, tetapi harga pasarnya telah mencapai Rp3.500. Selisih tersebut dapat menunjukkan bahwa ekspektasi pasar sudah terlalu tinggi dibandingkan kemampuan fundamental perusahaan.
Meski begitu, saham overvalued tidak selalu langsung mengalami penurunan. Harga dapat terus naik apabila sentimen pasar kuat atau perusahaan mampu mencatat pertumbuhan lebih tinggi dari perkiraan.
Membantu menerapkan margin of safety
Margin of safety adalah selisih antara nilai intrinsik dan harga pasar. Konsep ini digunakan untuk memberikan ruang pengaman apabila asumsi perhitungan ternyata terlalu optimistis atau kondisi perusahaan berubah.
Semakin besar margin of safety, semakin besar jarak antara harga beli dan estimasi nilai wajarnya. Akan tetapi, selisih besar juga perlu dianalisis secara kritis karena bisa menandakan bahwa perusahaan sedang menghadapi risiko serius.
Membantu membandingkan beberapa saham
Nilai intrinsik juga dapat digunakan untuk membandingkan saham dari perusahaan berbeda. Namun, perbandingan sebaiknya dilakukan terhadap perusahaan dengan karakteristik bisnis, tingkat risiko, dan industri yang relatif serupa.
Membandingkan valuasi bank dengan perusahaan teknologi tanpa mempertimbangkan perbedaan model bisnis dapat menghasilkan kesimpulan yang kurang tepat.
Setelah memahami kegunaannya, pembahasan selanjutnya masuk ke bagian utama, yaitu beberapa cara menghitung nilai intrinsik saham yang umum digunakan.
Cara Menghitung Nilai Intrinsik Saham
Tidak ada satu rumus yang cocok untuk semua perusahaan. Metode valuasi yang sesuai akan bergantung pada model bisnis, kestabilan laba, kebijakan dividen, ketersediaan data, dan tujuan analisis.
Perusahaan yang membagikan dividen secara konsisten dapat dianalisis menggunakan Dividend Discount Model. Perusahaan dengan arus kas yang relatif stabil lebih cocok dinilai menggunakan Discounted Cash Flow. Sementara itu, metode PER dapat digunakan untuk memperoleh estimasi yang lebih sederhana melalui perbandingan laba per saham.
Agar hasilnya lebih seimbang, investor sering menggunakan lebih dari satu metode. Berikut penjelasan setiap pendekatan beserta cara menghitungnya.
Cara Menghitung Nilai Intrinsik Saham dengan Metode PER
Metode Price Earnings Ratio atau PER merupakan salah satu cara paling sederhana untuk memperkirakan harga wajar saham. Metode ini menggunakan laba per saham atau Earning per Share dan estimasi PER yang dianggap wajar.
Rumus nilai intrinsik berdasarkan PER adalah:
Nilai intrinsik saham = estimasi EPS × PER wajar
EPS menunjukkan laba bersih yang menjadi bagian dari setiap lembar saham. Sementara itu, PER menunjukkan berapa kali investor bersedia membayar laba tahunan perusahaan.
Contoh perhitungan menggunakan PER
Misalnya, sebuah perusahaan diperkirakan mencatat EPS sebesar Rp250 pada tahun berikutnya. Berdasarkan riwayat valuasi, kualitas bisnis, dan perbandingan dengan perusahaan sejenis, PER wajarnya diperkirakan sebesar 12 kali.
Perhitungannya adalah:
Nilai intrinsik = Rp250 × 12
Nilai intrinsik = Rp3.000 per saham
Jika saham tersebut diperdagangkan pada harga Rp2.400, harga pasar berada sekitar Rp600 di bawah estimasi nilai wajarnya.
Persentase selisihnya dapat dihitung sebagai berikut:
Selisih harga = (nilai intrinsik ? harga pasar) ÷ nilai intrinsik × 100%
Selisih harga = (Rp3.000 ? Rp2.400) ÷ Rp3.000 × 100%
Selisih harga = 20%
Berdasarkan asumsi tersebut, saham diperdagangkan sekitar 20% di bawah estimasi nilai intrinsiknya.
Cara menentukan PER wajar
Bagian tersulit dari metode ini bukan perkaliannya, melainkan menentukan PER wajar. Penggunaan PER yang terlalu tinggi dapat membuat hasil valuasi menjadi terlalu optimistis.
Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan untuk menentukan PER wajar meliputi:
- Riwayat PER perusahaan
Kamu dapat melihat kisaran PER perusahaan selama beberapa tahun. Jika saham biasanya diperdagangkan pada PER 10–14 kali, penggunaan PER 25 kali memerlukan alasan yang sangat kuat. - PER perusahaan sejenis
Bandingkan perusahaan dengan emiten lain dalam industri yang sama. Perusahaan dengan pertumbuhan, profitabilitas, dan risiko yang mirip biasanya memiliki kisaran valuasi yang tidak terlalu jauh. - Pertumbuhan laba
Perusahaan dengan pertumbuhan laba yang tinggi dan konsisten biasanya memperoleh PER lebih besar. Sebaliknya, perusahaan dengan laba stagnan atau tidak stabil umumnya layak mendapatkan PER yang lebih rendah. - Kualitas bisnis
Kekuatan merek, keunggulan kompetitif, kualitas manajemen, dan posisi pasar dapat memengaruhi valuasi yang diberikan investor. - Tingkat suku bunga
Ketika suku bunga tinggi, investor cenderung menuntut imbal hasil lebih besar sehingga valuasi saham dapat tertekan. Dalam kondisi tersebut, PER wajar dapat menjadi lebih rendah.
Metode PER mudah digunakan, tetapi tetap bergantung pada estimasi EPS dan PER wajar. Jika salah satu asumsi meleset jauh, nilai intrinsik yang dihasilkan juga dapat berbeda secara signifikan.
Karena itu, metode ini sebaiknya tidak berdiri sendiri. Untuk analisis yang lebih mendalam, kamu dapat menggunakan metode Discounted Cash Flow.
Cara Menghitung Nilai Intrinsik Saham dengan Metode DCF
Discounted Cash Flow atau DCF menilai perusahaan berdasarkan nilai sekarang dari arus kas yang diperkirakan akan dihasilkan pada masa mendatang.
Prinsip dasarnya adalah uang yang diterima hari ini memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan jumlah uang yang sama pada masa depan. Hal ini terjadi karena uang saat ini dapat digunakan untuk investasi dan menghasilkan imbal hasil.
Oleh sebab itu, arus kas masa depan perlu didiskontokan ke nilai sekarang menggunakan tingkat diskonto tertentu.
Secara umum, rumus DCF dapat ditulis sebagai berikut:
Nilai perusahaan = jumlah arus kas masa depan yang telah didiskontokan + nilai terminal
Setelah nilai perusahaan diperoleh, hasilnya perlu disesuaikan dengan kas, utang, dan jumlah saham beredar untuk mendapatkan nilai intrinsik per saham.
Tahapan menghitung nilai intrinsik dengan DCF
1. Menentukan free cash flow
Free cash flow adalah kas yang tersisa setelah perusahaan membiayai kegiatan operasional dan kebutuhan belanja modal.
Salah satu bentuk yang sering digunakan adalah Free Cash Flow to Firm atau FCFF. Namun, untuk penjelasan sederhana, investor juga dapat melihat arus kas operasi dikurangi belanja modal.
Rumus sederhananya:
Free cash flow = arus kas operasi ? belanja modal
Arus kas bebas dianggap penting karena menunjukkan kas yang benar-benar dapat digunakan perusahaan untuk membayar utang, membagikan dividen, melakukan ekspansi, atau membeli kembali saham.
2. Memproyeksikan pertumbuhan arus kas
Setelah memperoleh data free cash flow historis, langkah berikutnya adalah memperkirakan arus kas selama beberapa tahun ke depan.
Misalnya, perusahaan mencatat free cash flow sebesar Rp1 triliun dan diperkirakan tumbuh 8% per tahun selama lima tahun.
Proyeksinya menjadi:
- Tahun pertama: Rp1,08 triliun
- Tahun kedua: Rp1,17 triliun
- Tahun ketiga: Rp1,26 triliun
- Tahun keempat: Rp1,36 triliun
- Tahun kelima: Rp1,47 triliun
Asumsi pertumbuhan sebaiknya dibuat secara konservatif. Pertumbuhan tinggi dalam beberapa tahun terakhir belum tentu dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
3. Menentukan tingkat diskonto
Tingkat diskonto digunakan untuk mengubah nilai arus kas masa depan menjadi nilai sekarang.
Semakin tinggi risiko perusahaan, semakin tinggi tingkat diskonto yang seharusnya digunakan. Tingkat diskonto yang tinggi akan menghasilkan valuasi yang lebih rendah karena arus kas masa depan dianggap lebih berisiko.
Dalam analisis perusahaan, tingkat diskonto sering menggunakan Weighted Average Cost of Capital atau WACC. Namun, menghitung WACC memerlukan beberapa komponen, seperti biaya utang, biaya ekuitas, struktur modal, dan tingkat pajak.
Untuk perhitungan sederhana, kamu dapat menggunakan tingkat diskonto berdasarkan target imbal hasil dengan tetap mempertimbangkan risiko perusahaan.
4. Menghitung present value
Setiap arus kas masa depan kemudian dibagi dengan faktor diskonto.
Rumusnya:
Nilai sekarang arus kas = arus kas tahun ke-n ÷ (1 + tingkat diskonto)^n
Misalnya, arus kas pada tahun pertama diperkirakan Rp1,08 triliun dan tingkat diskonto sebesar 10%.
Perhitungannya:
Rp1,08 triliun ÷ (1 + 10%)¹ = sekitar Rp981,8 miliar
Perhitungan yang sama dilakukan untuk seluruh periode proyeksi.
5. Menghitung terminal value
Perusahaan diperkirakan tetap beroperasi setelah periode proyeksi berakhir. Karena itu, DCF memerlukan terminal value untuk mewakili nilai perusahaan setelah tahun terakhir proyeksi.
Salah satu rumus yang umum digunakan adalah Gordon Growth Model:
Terminal value = arus kas tahun berikutnya ÷ (tingkat diskonto ? pertumbuhan terminal)
Misalnya, free cash flow pada tahun kelima sebesar Rp1,47 triliun. Pertumbuhan jangka panjang diperkirakan 3% dan tingkat diskonto 10%.
Arus kas tahun keenam:
Rp1,47 triliun × 1,03 = sekitar Rp1,51 triliun
Terminal value:
Rp1,51 triliun ÷ (10% ? 3%) = sekitar Rp21,57 triliun
Terminal value tersebut masih berupa nilai pada akhir tahun kelima. Oleh sebab itu, nilainya perlu didiskontokan kembali ke nilai saat ini.
6. Menyesuaikan kas dan utang
Setelah seluruh arus kas dan terminal value dijumlahkan, kamu akan memperoleh estimasi nilai operasional perusahaan.
Untuk mendapatkan nilai ekuitas, tambahkan kas dan kurangi utang perusahaan.
Rumus sederhananya:
Nilai ekuitas = nilai operasional + kas ? utang
7. Membagi dengan jumlah saham beredar
Tahap terakhir adalah membagi nilai ekuitas dengan jumlah saham yang beredar.
Nilai intrinsik per saham = nilai ekuitas ÷ jumlah saham beredar
Hasil perhitungan ini kemudian dibandingkan dengan harga pasar saham.
Kelebihan dan keterbatasan DCF
DCF dianggap kuat karena berfokus pada kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas. Metode ini juga memaksa investor untuk menganalisis pertumbuhan, risiko, kebutuhan modal, dan prospek bisnis secara lebih menyeluruh.
Namun, DCF sangat sensitif terhadap asumsi. Perubahan kecil pada tingkat diskonto atau pertumbuhan terminal dapat menghasilkan perbedaan valuasi yang besar.
Sebagai contoh, penggunaan tingkat pertumbuhan terminal 3% dan 5% dapat menghasilkan nilai perusahaan yang sangat berbeda. Karena itu, perhitungan DCF sebaiknya dilengkapi dengan analisis skenario konservatif, moderat, dan optimistis.
Setelah memahami DCF, terdapat metode lain yang lebih sesuai untuk perusahaan dengan pembagian dividen yang stabil, yaitu Dividend Discount Model.
Cara Menghitung Nilai Intrinsik Saham dengan Dividend Discount Model
Dividend Discount Model atau DDM menghitung nilai saham berdasarkan nilai sekarang dari seluruh dividen yang diperkirakan diterima investor pada masa mendatang.
Metode ini lebih cocok digunakan untuk perusahaan yang memiliki riwayat pembayaran dividen stabil dan mampu mempertahankan pertumbuhan dividen secara konsisten.
Salah satu rumus DDM yang paling umum adalah Gordon Growth Model:
Nilai intrinsik saham = D1 ÷ (r ? g)
Keterangan:
- D1 adalah estimasi dividen per saham tahun berikutnya.
- r adalah tingkat imbal hasil yang diharapkan.
- g adalah tingkat pertumbuhan dividen jangka panjang.
Contoh perhitungan DDM
Misalnya, sebuah perusahaan diperkirakan membagikan dividen sebesar Rp150 per saham pada tahun berikutnya. Investor mengharapkan imbal hasil 10%, sedangkan dividen diperkirakan tumbuh 4% per tahun.
Perhitungannya:
Nilai intrinsik = Rp150 ÷ (10% ? 4%)
Nilai intrinsik = Rp150 ÷ 6%
Nilai intrinsik = Rp2.500 per saham
Apabila harga pasar saham Rp2.000, saham tersebut diperdagangkan di bawah estimasi nilai wajarnya berdasarkan metode DDM.
Namun, hasil ini hanya relevan jika asumsi pertumbuhan dividen dan tingkat imbal hasilnya masuk akal.
Kapan DDM kurang tepat digunakan?
DDM kurang cocok untuk perusahaan yang tidak membagikan dividen, memiliki dividen tidak stabil, atau masih berada dalam tahap ekspansi agresif.
Perusahaan dapat memiliki fundamental kuat tetapi memilih menggunakan seluruh labanya untuk membuka pabrik, mengembangkan teknologi, melakukan akuisisi, atau memperluas pasar. Dalam kondisi seperti itu, tidak adanya dividen bukan berarti perusahaan tidak bernilai.
Oleh karena itu, metode DDM sebaiknya digunakan untuk perusahaan yang memang mempunyai kebijakan dividen relatif konsisten. Untuk perusahaan yang labanya stabil tetapi dividennya tidak teratur, metode PER atau DCF dapat memberikan gambaran yang lebih relevan.
Selain DCF, PER, dan DDM, terdapat pula pendekatan Benjamin Graham yang cukup dikenal dalam investasi nilai.
Cara Menghitung Nilai Intrinsik dengan Rumus Benjamin Graham
Benjamin Graham dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam pendekatan value investing. Salah satu rumus yang dikaitkan dengannya digunakan untuk memperkirakan nilai wajar saham berdasarkan EPS dan pertumbuhan laba.
Versi sederhana rumus Graham adalah:
Nilai intrinsik = EPS × (8,5 + 2g)
Keterangan:
- EPS adalah laba per saham.
- 8,5 merupakan PER dasar untuk perusahaan tanpa pertumbuhan.
- g adalah estimasi pertumbuhan laba tahunan.
Dalam beberapa versi, rumus tersebut juga disesuaikan menggunakan tingkat imbal hasil obligasi. Penyesuaian dilakukan karena kondisi tingkat bunga saat ini dapat berbeda dari kondisi ketika rumus tersebut pertama kali digunakan.
Contoh perhitungan rumus Graham
Misalnya, sebuah perusahaan memiliki EPS Rp200 dan laba diperkirakan tumbuh 5% per tahun.
Perhitungannya:
Nilai intrinsik = Rp200 × (8,5 + 2 × 5)
Nilai intrinsik = Rp200 × 18,5
Nilai intrinsik = Rp3.700 per saham
Jika harga saham berada di Rp3.000, saham tampak diperdagangkan di bawah estimasi nilai intrinsiknya.
Namun, hasil tersebut tidak boleh langsung dijadikan keputusan beli. Pertumbuhan 5% harus didukung oleh kinerja historis, prospek industri, kemampuan perusahaan mempertahankan margin, dan kondisi keuangannya.
Keterbatasan rumus Graham
Rumus Graham praktis, tetapi cukup sederhana. Metode ini tidak secara langsung memperhitungkan arus kas, perubahan struktur modal, belanja modal, risiko industri, maupun fluktuasi laba.
Rumus ini juga kurang tepat untuk perusahaan yang labanya sangat tidak stabil atau sedang mengalami perubahan model bisnis.
Karena itu, pendekatan Graham lebih baik digunakan sebagai perhitungan awal yang kemudian dibandingkan dengan metode lain. Setelah mengetahui beberapa metode tersebut, kamu dapat melihat bagaimana hasil valuasi digunakan untuk menilai saham murah, wajar, atau mahal.
Cara Menentukan Saham Undervalued, Fair Valued, atau Overvalued
Setelah nilai intrinsik diperoleh, langkah berikutnya adalah membandingkannya dengan harga pasar. Perbandingan ini menghasilkan tiga kondisi umum, yaitu undervalued, fair valued, dan overvalued.
| Perbandingan | Kondisi saham | Makna umum |
| Harga pasar lebih rendah dari nilai intrinsik | Undervalued | Saham diperdagangkan di bawah estimasi harga wajar |
| Harga pasar mendekati nilai intrinsik | Fair valued | Harga pasar relatif sesuai dengan estimasi nilai wajar |
| Harga pasar lebih tinggi dari nilai intrinsik | Overvalued | Saham diperdagangkan di atas estimasi harga wajar |
Sebagai contoh, nilai intrinsik sebuah saham diperkirakan Rp5.000.
Jika harga pasarnya Rp3.500, saham dapat dikategorikan undervalued berdasarkan asumsi tersebut. Jika harga pasar berada di sekitar Rp5.000, saham dapat dianggap fair valued. Apabila harga pasar mencapai Rp6.500, saham dinilai overvalued.
Namun, klasifikasi tersebut bukan keputusan investasi otomatis. Saham undervalued dapat terus turun apabila kondisi fundamental memburuk. Saham overvalued juga dapat tetap naik apabila perusahaan mencatat pertumbuhan yang jauh lebih tinggi dari ekspektasi.
Kamu tetap perlu memahami alasan mengapa harga pasar berbeda dari nilai intrinsiknya. Perbedaan harga bisa menjadi peluang, tetapi juga dapat menjadi tanda bahwa pasar telah memperhitungkan risiko yang belum masuk ke dalam analisismu.
Agar memiliki ruang pengaman saat asumsi tidak berjalan sesuai rencana, investor menggunakan konsep margin of safety.
Cara Menghitung Margin of Safety Saham
Margin of safety menunjukkan seberapa jauh harga pasar berada di bawah nilai intrinsik. Konsep ini memberikan ruang pengaman terhadap kesalahan perhitungan, perubahan kondisi perusahaan, atau risiko yang tidak terduga.
Rumus margin of safety adalah:
Margin of safety = (nilai intrinsik ? harga pasar) ÷ nilai intrinsik × 100%
Misalnya, nilai intrinsik saham diperkirakan Rp4.000 dan harga pasarnya Rp3.000.
Perhitungannya:
Margin of safety = (Rp4.000 ? Rp3.000) ÷ Rp4.000 × 100%
Margin of safety = 25%
Artinya, harga pasar berada 25% di bawah estimasi nilai intrinsik.
Besarnya margin of safety yang digunakan dapat berbeda-beda. Investor dengan pendekatan konservatif dapat menuntut selisih yang lebih besar, terutama ketika perusahaan memiliki laba tidak stabil, utang tinggi, atau beroperasi di industri yang berisiko.
Sebaliknya, perusahaan dengan kinerja sangat stabil dan keunggulan kompetitif kuat mungkin memiliki margin of safety yang lebih kecil karena pasar jarang memberikannya valuasi murah.
Walaupun begitu, margin of safety besar tidak selalu berarti peluang lebih baik. Jika nilai intrinsik Rp5.000 tetapi harga saham hanya Rp2.000, kamu perlu mencari tahu alasan di balik selisih yang sangat lebar tersebut.
Bisa jadi asumsi valuasinya terlalu optimistis. Bisa juga perusahaan sedang menghadapi penurunan laba, risiko gagal bayar, perubahan regulasi, masalah tata kelola, atau ancaman terhadap kelangsungan bisnisnya.
Karena itu, margin of safety harus dibaca bersama faktor yang memengaruhi nilai intrinsik perusahaan.
Faktor yang Memengaruhi Nilai Intrinsik Saham
Nilai intrinsik tidak hanya ditentukan oleh satu rasio. Perubahan kecil pada kinerja atau asumsi dapat mengubah hasil valuasi secara signifikan.
Berikut sejumlah faktor utama yang perlu diperhatikan.
Pertumbuhan pendapatan dan laba
Perusahaan yang mampu meningkatkan pendapatan dan laba secara konsisten biasanya memiliki nilai lebih tinggi. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa produk atau jasa perusahaan masih memiliki permintaan dan bisnis mampu berkembang.
Namun, pertumbuhan harus diperiksa kualitasnya. Laba dapat meningkat karena penjualan aset, keuntungan selisih kurs, atau pendapatan tidak berulang. Kenaikan seperti itu belum tentu mencerminkan perbaikan bisnis utama.
Arus kas
Laba bersih tidak selalu sama dengan kas yang benar-benar diterima perusahaan. Karena itu, arus kas menjadi komponen penting dalam valuasi.
Perusahaan dapat mencatat laba tetapi kesulitan memperoleh kas karena piutang meningkat atau kebutuhan modal kerja membesar. Dalam jangka panjang, kemampuan menghasilkan arus kas yang sehat lebih penting daripada sekadar mencatat laba di laporan keuangan.
Tingkat utang
Utang dapat membantu perusahaan melakukan ekspansi, tetapi juga menambah beban bunga dan risiko keuangan.
Ketika pendapatan turun, perusahaan dengan utang tinggi tetap harus membayar bunga dan pokok pinjaman. Kondisi tersebut dapat menekan laba, arus kas, dan nilai intrinsik saham.
Kamu dapat memeriksa rasio utang, kemampuan membayar bunga, jadwal jatuh tempo, dan penggunaan dana pinjaman.
Keunggulan kompetitif
Perusahaan yang memiliki merek kuat, biaya produksi rendah, jaringan distribusi luas, teknologi unggul, atau basis pelanggan loyal dapat mempertahankan keuntungan lebih lama.
Keunggulan kompetitif membantu perusahaan menjaga margin dan menghadapi persaingan. Karena itu, faktor ini sering membuat suatu perusahaan layak memperoleh valuasi lebih tinggi dibandingkan perusahaan lain dalam industri yang sama.
Kualitas manajemen
Manajemen menentukan bagaimana modal perusahaan dialokasikan. Keputusan untuk berekspansi, membayar dividen, mengambil utang, melakukan akuisisi, atau membeli kembali saham akan memengaruhi nilai perusahaan.
Kualitas manajemen dapat dinilai dari rekam jejak, transparansi, konsistensi strategi, dan kemampuan menjaga kepentingan pemegang saham.
Kondisi industri
Perusahaan tidak beroperasi sendirian. Pertumbuhan industri, intensitas persaingan, perubahan teknologi, dan regulasi dapat memengaruhi prospek bisnis.
Perusahaan yang kuat sekalipun dapat mengalami tekanan apabila industrinya menyusut atau produknya mulai tergantikan.
Suku bunga dan inflasi
Kenaikan suku bunga dapat menaikkan biaya pinjaman dan tingkat diskonto. Akibatnya, nilai sekarang dari arus kas masa depan menjadi lebih rendah.
Inflasi juga dapat meningkatkan biaya bahan baku, tenaga kerja, logistik, dan operasional. Perusahaan yang memiliki kemampuan menaikkan harga tanpa kehilangan pelanggan cenderung lebih mampu menghadapi tekanan inflasi.
Jumlah saham beredar
Aksi korporasi seperti penerbitan saham baru dapat menyebabkan dilusi. Artinya, kepemilikan dan laba per saham investor lama dapat berkurang apabila pertumbuhan laba tidak sebanding dengan penambahan jumlah saham.
Sebaliknya, pembelian kembali saham dapat meningkatkan bagian kepemilikan setiap lembar saham apabila dilakukan pada harga yang wajar dan kondisi keuangan perusahaan tetap sehat.
Seluruh faktor tersebut menunjukkan bahwa valuasi bukan sekadar memasukkan angka ke dalam rumus. Investor juga perlu menilai kualitas bisnis di balik angka tersebut. Setelah itu, kamu dapat memilih metode yang paling sesuai dengan karakteristik perusahaan.
Metode Nilai Intrinsik Mana yang Paling Tepat?
Tidak ada metode yang selalu paling akurat untuk seluruh jenis saham. Setiap metode memiliki kegunaan dan keterbatasan masing-masing.
Metode PER relatif mudah digunakan untuk perusahaan yang telah mencatat laba stabil. Namun, hasilnya sangat bergantung pada EPS dan PER wajar yang dipilih.
DCF lebih rinci karena menggunakan arus kas, tetapi membutuhkan banyak asumsi. Metode ini lebih cocok untuk perusahaan dengan arus kas yang cukup dapat diproyeksikan.
DDM sesuai untuk perusahaan yang rutin membayar dividen. Akan tetapi, metode ini kurang relevan bagi perusahaan yang tidak membagikan dividen atau memiliki kebijakan dividen tidak konsisten.
Rumus Graham dapat digunakan untuk memperoleh gambaran awal, tetapi sebaiknya tidak menjadi satu-satunya dasar keputusan.
Secara praktis, kamu dapat menggunakan pendekatan berikut:
- Gunakan PER untuk estimasi sederhana dan pembanding dengan perusahaan sejenis.
- Gunakan DCF untuk menilai perusahaan berdasarkan kemampuan menghasilkan arus kas.
- Gunakan DDM untuk perusahaan yang membayar dividen secara stabil.
- Gunakan rumus Graham sebagai pemeriksaan awal, bukan hasil akhir.
Hasil dari beberapa metode kemudian dapat dibandingkan. Jika seluruh metode menghasilkan kisaran nilai yang relatif berdekatan, keyakinan terhadap rentang valuasi dapat meningkat.
Sebaliknya, apabila hasilnya berbeda sangat jauh, kamu perlu memeriksa kembali asumsi, kualitas data, dan kesesuaian metode yang digunakan.
Perbedaan hasil merupakan hal yang wajar karena nilai intrinsik memang dipengaruhi berbagai asumsi.
Mengapa Hasil Nilai Intrinsik Setiap Investor Bisa Berbeda?
Dua orang dapat menggunakan laporan keuangan yang sama tetapi memperoleh nilai intrinsik berbeda. Hal ini tidak selalu berarti salah satu perhitungan pasti keliru.
Perbedaan tersebut dapat muncul karena beberapa hal berikut.
Asumsi pertumbuhan berbeda
Investor pertama mungkin memperkirakan laba tumbuh 10% per tahun, sedangkan investor kedua menggunakan asumsi 5%.
Dalam jangka panjang, selisih pertumbuhan tersebut dapat menghasilkan perbedaan valuasi yang besar.
Tingkat diskonto berbeda
Investor yang menilai perusahaan berisiko tinggi akan menggunakan tingkat diskonto lebih besar. Hasilnya, nilai intrinsik menjadi lebih rendah.
Sebaliknya, tingkat diskonto rendah menghasilkan nilai sekarang yang lebih tinggi.
Periode proyeksi berbeda
Perhitungan DCF selama lima tahun dapat menghasilkan nilai berbeda dari proyeksi selama sepuluh tahun.
Semakin panjang periode yang digunakan, semakin besar pula ketidakpastian asumsi.
Penilaian risiko berbeda
Setiap investor dapat mempunyai pandangan berbeda mengenai kualitas manajemen, kekuatan merek, ancaman pesaing, perubahan regulasi, atau kondisi ekonomi.
Faktor kualitatif tersebut sulit diubah menjadi angka yang benar-benar objektif.
Metode yang digunakan berbeda
Metode PER, DCF, dan DDM dapat menghasilkan angka berbeda karena masing-masing menilai perusahaan dari sudut pandang yang berbeda.
Karena itu, lebih aman menyusun kisaran nilai intrinsik daripada menetapkan satu angka yang dianggap pasti.
Sebagai contoh, hasil beberapa metode menunjukkan nilai wajar antara Rp2.800 hingga Rp3.200. Kamu dapat menggunakan kisaran tersebut sebagai acuan, lalu menetapkan harga beli sesuai margin of safety yang diinginkan.
Agar hasil perhitungan tetap masuk akal, ada sejumlah kesalahan umum yang perlu dihindari.
Kesalahan Saat Menghitung Nilai Intrinsik Saham
Rumus valuasi dapat terlihat sederhana, tetapi pemilihan data dan asumsi membuat prosesnya rentan terhadap kesalahan.
Berikut beberapa kesalahan yang sering terjadi.
Menggunakan pertumbuhan terlalu tinggi
Kesalahan paling umum adalah menganggap pertumbuhan tinggi akan berlangsung terus-menerus.
Perusahaan yang labanya tumbuh 30% dalam satu tahun belum tentu mampu mempertahankan angka tersebut selama sepuluh tahun. Semakin besar perusahaan, biasanya semakin sulit mempertahankan tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi.
Gunakan asumsi konservatif dan periksa apakah proyeksi sesuai dengan kapasitas pasar, kondisi industri, dan kemampuan operasional perusahaan.
Mengabaikan utang
Perusahaan dengan pertumbuhan tinggi dapat terlihat menarik, tetapi utang yang besar dapat mengurangi nilai bagi pemegang saham.
Beban bunga, risiko pembiayaan ulang, dan jatuh tempo utang perlu dimasukkan ke dalam analisis.
Menggunakan laba tidak berulang
Laba perusahaan dapat meningkat akibat penjualan aset, pembalikan pencadangan, keuntungan investasi, atau faktor satu kali lainnya.
Jika pendapatan tersebut digunakan sebagai dasar proyeksi, hasil nilai intrinsik dapat menjadi terlalu tinggi.
Fokuslah pada laba dan arus kas yang berasal dari kegiatan utama perusahaan.
Menggunakan laporan keuangan lama
Kondisi perusahaan dapat berubah setelah laporan tahunan diterbitkan. Oleh karena itu, gunakan data terbaru yang tersedia dan periksa laporan kuartalan, keterbukaan informasi, aksi korporasi, serta perubahan material lainnya.
Menganggap PER rendah selalu murah
PER rendah dapat menunjukkan saham murah, tetapi juga dapat mencerminkan risiko tinggi atau perkiraan penurunan laba.
Sebaliknya, PER tinggi tidak selalu berarti saham terlalu mahal apabila perusahaan mampu tumbuh cepat dan mempertahankan keunggulan bisnisnya.
Mengabaikan dilusi saham
Penerbitan saham baru dapat menambah jumlah saham beredar dan menurunkan EPS. Jika proyeksi laba tidak mempertimbangkan potensi dilusi, nilai intrinsik per saham bisa menjadi terlalu tinggi.
Terlalu bergantung pada satu metode
Setiap metode memiliki kelemahan. Menggunakan satu rumus tanpa pembanding dapat membuat kesimpulan terlalu bergantung pada asumsi tertentu.
Gunakan beberapa skenario atau metode agar hasil analisis lebih seimbang.
Menganggap nilai intrinsik sebagai target harga pasti
Nilai intrinsik bukan jaminan bahwa harga pasar akan bergerak menuju angka tersebut dalam waktu tertentu.
Harga saham dapat tetap berada di bawah nilai wajarnya selama bertahun-tahun. Perubahan fundamental juga dapat menyebabkan nilai intrinsik turun sebelum harga pasar mencapainya.
Dengan menghindari kesalahan tersebut, perhitunganmu dapat menjadi lebih realistis. Namun, tetap penting untuk memahami bahwa nilai intrinsik perlu diperbarui ketika kondisi perusahaan berubah.
Kapan Nilai Intrinsik Perlu Dihitung Ulang?
Nilai intrinsik tidak berlaku selamanya. Perhitungan perlu diperbarui apabila data atau asumsi utama berubah.
Beberapa kondisi yang dapat menjadi alasan untuk menghitung ulang nilai intrinsik antara lain:
- perusahaan menerbitkan laporan keuangan terbaru;
- laba atau arus kas berubah jauh dari proyeksi;
- perusahaan mengambil utang dalam jumlah besar;
- terjadi penerbitan saham baru atau pembelian kembali saham;
- perusahaan melakukan akuisisi atau menjual aset penting;
- terdapat perubahan regulasi yang memengaruhi bisnis;
- suku bunga berubah secara signifikan;
- terjadi pergantian manajemen atau perubahan strategi;
- keunggulan kompetitif perusahaan mulai melemah;
- perusahaan memasuki atau meninggalkan segmen bisnis tertentu.
Sebagai contoh, nilai intrinsik sebelumnya dihitung dengan asumsi laba tumbuh 10% per tahun. Jika laporan terbaru menunjukkan laba justru turun dan permintaan melemah, asumsi tersebut tidak lagi relevan.
Perhitungan perlu disesuaikan berdasarkan informasi terbaru, bukan dipertahankan hanya karena hasil lama terlihat lebih menarik.
Setelah memahami saham, muncul pertanyaan apakah konsep nilai intrinsik juga dapat diterapkan pada Bitcoin dan aset kripto.
Apakah Nilai Intrinsik Saham Berlaku untuk Bitcoin dan Crypto?
Metode nilai intrinsik saham tidak dapat langsung diterapkan dengan cara yang sama pada Bitcoin dan sebagian besar aset kripto.
Saham mewakili kepemilikan dalam perusahaan. Pemegang saham memiliki klaim ekonomi terhadap laba, arus kas, aset, atau dividen perusahaan. Karena itu, saham dapat dianalisis menggunakan DCF, DDM, PER, dan metode valuasi perusahaan lainnya.
Bitcoin tidak mewakili kepemilikan atas perusahaan dan tidak menghasilkan arus kas seperti bisnis. Bitcoin juga tidak membagikan dividen atau memiliki laba bersih. Akibatnya, metode DCF dan PER saham tidak dapat digunakan secara langsung untuk menentukan nilai wajarnya.
Penilaian Bitcoin biasanya menggunakan pendekatan yang berbeda, seperti:
- jumlah pasokan dan tingkat penerbitan;
- permintaan pasar;
- tingkat adopsi;
- aktivitas jaringan;
- keamanan jaringan;
- jumlah pengguna;
- likuiditas;
- biaya produksi penambangan;
- data transaksi on-chain;
- perbandingan dengan aset penyimpan nilai lainnya.
Sementara itu, aset kripto yang memiliki utilitas, pendapatan protokol, mekanisme staking, atau pembagian biaya dapat dianalisis menggunakan pendekatan tambahan.
Beberapa metrik yang dapat diperhatikan antara lain:
- nilai total aset yang terkunci;
- pendapatan dan biaya protokol;
- jumlah pengguna aktif;
- volume transaksi;
- distribusi dan jadwal pelepasan token;
- tingkat inflasi token;
- utilitas token;
- konsentrasi kepemilikan;
- keamanan jaringan;
- persaingan antaraprotokol.
Meski beberapa proyek kripto mempunyai pendapatan, pemegang token belum tentu memiliki hak atas pendapatan tersebut. Oleh karena itu, kamu perlu memahami fungsi token dan struktur ekonominya sebelum menyamakan valuasinya dengan saham.
Perbedaan ini penting agar metode penilaian tidak digunakan pada jenis aset yang salah. Saham dinilai berdasarkan bisnis di belakangnya, sedangkan aset kripto memerlukan analisis terhadap jaringan, utilitas, tokenomics, adopsi, serta dinamika permintaan dan pasokan.
Tips Menggunakan Nilai Intrinsik Sebelum Membeli Saham
Nilai intrinsik dapat menjadi alat bantu yang berguna apabila digunakan bersama analisis fundamental dan manajemen risiko.
Pertama, gunakan laporan keuangan terbaru. Periksa pendapatan, laba, arus kas, utang, margin, jumlah saham beredar, dan catatan penting lainnya.
Kedua, pahami model bisnis perusahaan. Jangan hanya memasukkan angka ke dalam rumus tanpa mengetahui bagaimana perusahaan menghasilkan uang, siapa pelanggannya, dan apa risiko utamanya.
Ketiga, buat beberapa skenario. Kamu dapat menyusun skenario konservatif, moderat, dan optimistis dengan asumsi pertumbuhan serta tingkat diskonto yang berbeda.
Keempat, bandingkan hasil dari beberapa metode. PER dapat digunakan sebagai valuasi relatif, sedangkan DCF digunakan untuk melihat nilai berdasarkan arus kas.
Kelima, gunakan margin of safety. Selisih antara harga beli dan nilai intrinsik dapat membantu mengurangi risiko ketika asumsi ternyata tidak sesuai harapan.
Keenam, periksa alasan saham terlihat murah. Valuasi rendah belum tentu merupakan peluang. Bisa jadi harga rendah mencerminkan penurunan kualitas bisnis atau risiko yang sedang meningkat.
Ketujuh, hitung ulang ketika kondisi berubah. Nilai intrinsik bukan angka permanen dan perlu disesuaikan dengan data terbaru.
Terakhir, jangan menjadikan nilai intrinsik sebagai satu-satunya dasar keputusan. Pertimbangkan juga tujuan investasi, toleransi risiko, jangka waktu, diversifikasi, dan kondisi keuangan pribadi.
Dengan pendekatan tersebut, nilai intrinsik dapat digunakan sebagai kerangka berpikir, bukan sekadar angka untuk membenarkan keputusan membeli saham.
Kesimpulan
Cara menghitung nilai intrinsik saham dapat dilakukan menggunakan beberapa metode, seperti Price Earnings Ratio, Discounted Cash Flow, Dividend Discount Model, dan rumus Benjamin Graham.
Metode PER menggunakan estimasi EPS dan PER wajar. DCF menghitung nilai sekarang dari arus kas masa depan. DDM menilai saham berdasarkan dividen, sedangkan pendekatan Graham menggunakan laba per saham dan estimasi pertumbuhan.
Tidak ada satu metode yang selalu paling tepat untuk seluruh perusahaan. Pemilihan metode harus disesuaikan dengan karakteristik bisnis, kestabilan laba, arus kas, serta kebijakan dividennya.
Nilai intrinsik juga bukan angka pasti. Hasilnya sangat dipengaruhi oleh asumsi pertumbuhan, tingkat diskonto, kondisi industri, utang, kualitas manajemen, dan prospek perusahaan.
Oleh karena itu, gunakan nilai intrinsik sebagai estimasi harga wajar. Bandingkan beberapa metode, buat skenario konservatif, dan sisakan margin of safety sebelum mengambil keputusan investasi.
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan nilai intrinsik saham?
Nilai intrinsik saham adalah estimasi nilai wajar suatu saham berdasarkan kondisi fundamental perusahaan, seperti laba, arus kas, aset, utang, pertumbuhan, dan risiko bisnis.
2. Bagaimana cara menghitung nilai intrinsik saham?
Nilai intrinsik saham dapat dihitung menggunakan metode PER, DCF, DDM, atau rumus Benjamin Graham. Metode yang dipilih perlu disesuaikan dengan karakteristik perusahaan dan data yang tersedia.
3. Apa rumus sederhana nilai intrinsik saham?
Salah satu rumus sederhana menggunakan metode PER adalah:
Nilai intrinsik = estimasi EPS × PER wajar
Namun, hasilnya bergantung pada ketepatan estimasi EPS dan PER yang digunakan.
4. Apa perbedaan nilai intrinsik dan harga pasar?
Nilai intrinsik merupakan estimasi nilai wajar berdasarkan fundamental perusahaan. Harga pasar adalah harga saham yang terbentuk dari permintaan dan penawaran di bursa.
5. Apa perbedaan nilai intrinsik dan nilai buku?
Nilai buku berasal dari total ekuitas perusahaan yang dibagi dengan jumlah saham beredar. Nilai intrinsik memperhitungkan kemampuan perusahaan menghasilkan manfaat ekonomi pada masa mendatang.
6. Apa itu saham undervalued?
Saham undervalued adalah saham yang harga pasarnya berada di bawah estimasi nilai intrinsik. Kondisi tersebut dapat menunjukkan peluang, tetapi tetap perlu diperiksa bersama kualitas fundamental dan risiko perusahaan.
7. Apa itu saham overvalued?
Saham overvalued adalah saham yang harga pasarnya berada di atas estimasi nilai intrinsik. Artinya, harga saham dinilai lebih tinggi dibandingkan nilai wajarnya berdasarkan asumsi yang digunakan.
8. Apa itu fair value saham?
Fair value adalah kondisi ketika harga pasar saham relatif mendekati estimasi nilai intrinsiknya. Namun, batas fair value dapat berbeda menurut metode dan asumsi setiap investor.
9. Apa itu margin of safety?
Margin of safety adalah selisih antara nilai intrinsik dan harga pasar saham. Selisih tersebut digunakan sebagai ruang pengaman terhadap kesalahan asumsi atau perubahan kondisi perusahaan.
10. Bagaimana cara menghitung margin of safety?
Rumusnya adalah:
Margin of safety = (nilai intrinsik ? harga pasar) ÷ nilai intrinsik × 100%
Jika nilai intrinsik Rp4.000 dan harga pasar Rp3.000, margin of safety-nya adalah 25%.
11. Metode DCF atau PER, mana yang lebih akurat?
DCF memberikan analisis lebih rinci karena menggunakan proyeksi arus kas, tetapi sangat sensitif terhadap asumsi. PER lebih sederhana, tetapi bergantung pada estimasi EPS dan PER wajar. Keduanya dapat digunakan bersama sebagai pembanding.
12. Apakah nilai intrinsik selalu akurat?
Tidak. Nilai intrinsik merupakan estimasi, bukan angka pasti. Hasilnya dapat berubah ketika asumsi pertumbuhan, tingkat diskonto, laba, arus kas, atau kondisi perusahaan berubah.
13. Mengapa hasil nilai intrinsik setiap investor berbeda?
Perbedaan dapat terjadi karena setiap investor menggunakan metode, asumsi pertumbuhan, tingkat diskonto, periode proyeksi, dan penilaian risiko yang berbeda.
14. Seberapa sering nilai intrinsik perlu dihitung ulang?
Nilai intrinsik dapat dihitung ulang setiap kali perusahaan menerbitkan laporan keuangan terbaru atau terjadi perubahan material pada laba, utang, jumlah saham, strategi bisnis, regulasi, dan kondisi industri.
15. Apakah nilai intrinsik saham berlaku untuk Bitcoin?
Tidak secara langsung. Bitcoin tidak mewakili kepemilikan perusahaan dan tidak menghasilkan laba, arus kas, atau dividen. Valuasi Bitcoin menggunakan pendekatan yang berbeda, seperti pasokan, permintaan, adopsi, keamanan, dan aktivitas jaringan.
Itulah informasi menarik tentang cara menghitung nilai intrinsik saham yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram





Polkadot 2.25%
BNB 0.30%
Solana 4.19%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
