Bitcoin (BTC) kembali jadi sorotan setelah para penambang melepas 4.207 BTC senilai $485 juta hanya dalam 12 hari hingga 23 Agustus 2025 kemarin.
Melansir dari Cointelegraph, data Glassnode mencatat aliran keluar dari dompet miner berlangsung konsisten lebih dari 500 BTC per hari, laju tercepat sejak Desember 2024.

Sumber Gambar: Glassnode/Cointelegraph
Aksi jual besar-besaran ini disebut sebagai langkah profit-taking sekaligus upaya menjaga likuiditas di tengah margin penambangan yang makin tertekan.
Harga BTC Bertahan di $112.000
Meski aksi jual cukup masif, Bitcoin berhasil bangkit dari level terendah enam minggu dan kembali ke sekitar $112.000 pada Kamis lalu.
Namun, rasa was-was tetap terasa di kalangan trader karena aksi jual miner sering kali dianggap “red flag” yang bisa menekan harga lebih jauh.
Baca selanjutnya: Harga Bitcoin Diprediksi Tembus $160 Ribu di Akhir 2025
Kondisi Miner: Margin Tertekan

Sumber Gambar: Glassnode/Cointelegraph
Selama sembilan bulan terakhir, harga Bitcoin memang naik sekitar 18%, tetapi profitabilitas miner justru turun sekitar 10% menurut data HashRateIndex.
Kenaikan difficulty mining membuat biaya listrik dan operasional semakin berat, sementara permintaan transaksi on-chain yang melemah menyebabkan fee yang diterima lebih kecil.
Situasi ini membuat margin penambang semakin tipis dan mendorong mereka untuk mengamankan likuiditas.

Sumber Gambar: Glassnode/Cointelegraph
Grafik Glassnode menunjukkan tren penurunan saldo BTC yang dimiliki penambang sejak awal 2024, menandakan adanya tekanan likuiditas dan aksi jual berulang.
Saat ini cadangan miner tinggal 63.736 BTC dengan nilai lebih dari $7,1 miliar. Jumlah ini memang masih sangat besar, tetapi tren penurunan balance dapat memengaruhi psikologi pasar, apalagi ketika aksi jual terjadi secara kolektif.
Baca selanjutnya: Bocor! DPR Korea Selatan Koleksi PEPE, XRP, BTC, Abaikan Saham Lokal
Fundamental Bitcoin Tetap Kuat

Sumber Gambar: Blockchain.com/Cointelegraph
Di sisi lain, data on-chain menunjukkan jaringan Bitcoin tetap tangguh. Hashrate bahkan mendekati rekor tertinggi di 960 juta TH/s, meningkat sekitar 7% dalam tiga bulan terakhir.
Beberapa rig generasi lama, seperti Bitmain S19 XP, juga masih tercatat profit pada kisaran biaya listrik $0,09 per kWh.
Penyesuaian otomatis jaringan tetap menjaga interval block di sekitar 10 menit, menandakan sistem berjalan stabil meski ada tekanan margin bagi para penambang.
Tren Baru: Miner Melirik AI
Selain menjual BTC, sejumlah perusahaan mining kini mulai melirik sektor Artificial Intelligence (AI) sebagai diversifikasi usaha.
TeraWulf, misalnya, mengumumkan kesepakatan senilai $3,2 miliar dengan Google untuk membangun data center AI.
Perusahaan lain seperti Iren (eks Iris Energy) mempercepat akuisisi GPU Nvidia untuk fasilitas di Texas dan Kanada, sementara Hive mengalokasikan dana $30 juta untuk ekspansi GPU di Quebec.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa sebagian penambang mulai melihat potensi keuntungan lebih besar dari infrastruktur AI ketimbang bergantung penuh pada Bitcoin.
Baca selanjutnya: Bio Protocol Luncurkan Aubrai, Crypto AI yang Klaim Bisa Panjangkan Umur!
Kesimpulan
Aksi jual senilai $485 juta oleh para penambang memang besar dan mampu memicu keresahan di pasar. Namun, melihat kondisi fundamental Bitcoin yang masih solid, dari hashrate yang terus naik hingga cadangan miner yang masih puluhan ribu BTC, langkah ini lebih masuk akal dipandang sebagai strategi manajemen kas dan profit-taking ketimbang sinyal bahaya jangka panjang.
Meski begitu, investor tidak bisa menutup mata. Penjualan kolektif dari miner selalu punya dampak psikologis yang signifikan, apalagi di tengah harga yang masih berusaha bertahan di level $112.000. Tekanan ini bisa menambah volatilitas jangka pendek, sehingga pelaku pasar perlu lebih waspada dalam menyikapi setiap pergerakan besar dari miner.
Dengan kata lain, aksi jual kali ini bukan akhir dari reli Bitcoin, tetapi menjadi alarm penting bahwa dinamika penambang masih punya pengaruh besar terhadap arah harga. Bagi trader maupun investor, memahami pola perilaku miner bisa menjadi kunci untuk membaca potensi gejolak berikutnya.
FAQ
- Kenapa penambang Bitcoin sering menjual BTC mereka?
Penambang biasanya menjual BTC untuk menutup biaya operasional, seperti listrik dan perawatan mesin. Saat harga naik, mereka juga cenderung melakukan profit-taking. - Apakah penjualan 4.200 BTC bisa mengguncang harga Bitcoin?
Secara volume, 4.200 BTC relatif kecil dibanding volume trading global. Namun, aksi jual kolektif penambang bisa memicu kepanikan pasar dan menambah volatilitas. - Apa hubungan hashrate dengan profitabilitas penambang?
Hashrate tinggi menandakan jaringan kuat, tetapi juga meningkatkan kompetisi. Jika harga Bitcoin tidak naik sebanding, profit margin penambang bisa tertekan. - Mengapa penambang mulai masuk ke bisnis AI?
Karena infrastruktur mining mirip dengan kebutuhan data center AI, beberapa perusahaan melihat peluang lebih besar di pasar GPU dan layanan cloud dibanding mengandalkan mining saja. - Apakah aksi jual miner berarti tren bearish jangka panjang?
Tidak selalu. Penjualan bisa jadi hanya langkah manajemen kas. Selama hashrate stabil dan cadangan masih besar, fundamental Bitcoin tetap solid.
Itulah informasi berita crypto hari ini. Aktifkan notifikasi agar Anda selalu mendapatkan informasi terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Anda juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya.
Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Prediksi Harga Crypto Hari Ini, #Berita Whale Terkini