Pendiri Ethereum (ETH), Vitalik Buterin, kembali menyoroti tantangan mendasar yang masih membayangi stablecoin terdesentralisasi.
Dalam pernyataannya, Vitalik menegaskan bahwa hingga kini belum ada desain stablecoin terdesentralisasi yang benar-benar matang dan berkelanjutan untuk jangka panjang.
“Kita membutuhkan stablecoin terdesentralisasi yang lebih baik,” kata Vitalik.
Pernyataan ini muncul di tengah pesatnya pertumbuhan pasar stablecoin global yang nilainya mendekati US$300 miliar, namun masih didominasi oleh stablecoin terpusat seperti USDT dan USDC.
Tiga Masalah Utama Stablecoin Terdesentralisasi

Sumber Gambar: X.com
Vitalik mengidentifikasi tiga persoalan struktural yang menurutnya belum terselesaikan dan berpotensi menjadi penghambat adopsi stablecoin terdesentralisasi.
Baca juga berita terkait: Ethereum L2 MegaETH Catat Lonjakan 47.000 TPS Jelang Uji Mainnet
1. Ketergantungan pada dolar AS
Menurut Vitalik, mematok stablecoin ke dolar AS mungkin masuk akal untuk jangka pendek. Namun, untuk visi jangka panjang, ketergantungan ini justru menjadi risiko.
Ia menilai sistem keuangan terdesentralisasi seharusnya memiliki ketahanan terhadap perubahan nilai mata uang negara tertentu.
Dalam horizon 20 tahun, risiko inflasi bahkan pelemahan nilai dolar dinilai tidak bisa diabaikan. Karena itu, Vitalik menyarankan perlunya indeks nilai alternatif yang tidak sepenuhnya bergantung pada dolar.
“Dalam rentang waktu 20 tahun, bagaimana jika dolar mengalami inflasi tinggi, atau bahkan inflasi moderat sekalipun?” ujar Vitalik
2. Oracle yang rentan dikendalikan modal besar
Masalah kedua terletak pada desain oracle, yaitu sistem penyedia data harga ke blockchain. Vitalik menyoroti bahwa banyak oracle saat ini masih berpotensi “capturable”, atau bisa dikendalikan oleh pihak bermodal besar.
Agar aman, biaya untuk menguasai oracle seharusnya lebih besar daripada nilai pasar protokol itu sendiri.
Namun konsekuensinya, protokol harus menarik nilai ekonomi yang besar dari penggunanya. Kondisi ini, menurut Vitalik, justru merugikan pengguna dan membuat sistem tidak efisien.
Ia juga mengkritik model governance yang terlalu terfinansialisasi, karena tidak memiliki keseimbangan pertahanan yang baik dan cenderung mendorong ekstraksi nilai berlebihan demi stabilitas.
3. Yield staking menjadi pesaing langsung
Tantangan ketiga datang dari yield staking. Dalam banyak kasus, aset kripto yang dijadikan jaminan stablecoin sebenarnya bisa menghasilkan imbal hasil jika di-staking secara langsung.
Akibatnya, pengguna dihadapkan pada pilihan memegang stablecoin atau mengejar yield staking. Konflik insentif ini membuat stablecoin terdesentralisasi kurang menarik, kecuali menawarkan imbal hasil tambahan yang sering kali tidak berkelanjutan.
Vitalik menyinggung kegagalan Terra USD sebagai contoh ekstrem, di mana imbal hasil tinggi justru menjadi pemicu runtuhnya sistem.
Ia menyebut beberapa opsi solusi, seperti menurunkan yield staking secara drastis atau merancang skema staking baru, namun menegaskan bahwa ide-ide tersebut masih sebatas eksplorasi, bukan rekomendasi final.
Dominasi Stablecoin Terpusat Masih Sulit Digoyang
Data terbaru menunjukkan stablecoin terdesentralisasi masih menjadi pemain kecil. Dari total pasar stablecoin yang mencapai sekitar US$291 miliar, Tether menguasai sekitar 56 persen pangsa pasar, disusul Circle dengan USDC.
Sementara itu, stablecoin terdesentralisasi seperti DAI, USDe, dan USDS masing-masing hanya menguasai kisaran 3% hingga 4%.
Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa tantangan teknis dan ekonomi masih menjadi penghalang utama bagi adopsi yang lebih luas.
Baca selanjutnya: Siap Rombak Besar, Vitalik Ungkap Masalah Serius Ethereum Selama 10 Tahun
Pesan Vitalik untuk Ekosistem Kripto
Komentar Vitalik muncul sebagai respons terhadap diskusi yang menyebut Ethereum sebagai taruhan kontrarian di tengah tren stablecoin kustodian dan layanan kripto yang semakin tersentralisasi.
“Perlu juga diingat bahwa stablecoin tidak bisa diamankan hanya dengan jumlah jaminan ETH yang tetap,” jelasnya.
Ia kembali menegaskan pentingnya membangun aplikasi yang benar-benar terdesentralisasi, bukan sekadar praktis atau cepat.
Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa inovasi di sektor stablecoin belum selesai. Tantangan yang disampaikan Vitalik menunjukkan bahwa stabilitas harga saja tidak cukup tanpa fondasi desain yang kuat dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Blak-blakan Vitalik Buterin membuka realita bahwa stablecoin terdesentralisasi masih berada dalam fase eksperimen.
Ketergantungan pada dolar, kelemahan oracle, dan konflik dengan yield staking menjadi tiga pekerjaan rumah besar yang belum terjawab.
Di tengah dominasi stablecoin terpusat, masa depan stablecoin terdesentralisasi akan sangat bergantung pada kemampuan industri menemukan terobosan baru, bukan sekadar mengulang model lama dengan label desentralisasi.
FAQ
- Apa yang dimaksud stablecoin terdesentralisasi?
Stablecoin terdesentralisasi adalah aset kripto yang menjaga stabilitas harga tanpa dikendalikan oleh satu entitas terpusat, biasanya melalui smart contract dan jaminan kripto. - Kenapa stablecoin terdesentralisasi masih sulit berkembang?
Karena menghadapi tantangan desain seperti ketergantungan pada dolar AS, risiko manipulasi oracle, serta konflik insentif dengan yield staking. - Apakah semua stablecoin terdesentralisasi dipatok ke dolar?
Sebagian besar iya, namun ada upaya menciptakan stablecoin dengan acuan non-fiat. Tantangannya adalah menjaga stabilitas tanpa bergantung pada mata uang negara. - Apa perbedaan stablecoin terpusat dan terdesentralisasi?
Stablecoin terpusat dikelola oleh perusahaan dengan cadangan aset off-chain, sementara stablecoin terdesentralisasi bergantung pada mekanisme on-chain dan jaminan kripto. - Apakah stablecoin terdesentralisasi lebih aman?
Tidak selalu. Keamanannya bergantung pada desain smart contract, oracle, dan insentif ekonomi yang digunakan oleh protokol tersebut. - Mengapa yield staking jadi masalah bagi stablecoin?
Karena aset yang dijadikan jaminan stablecoin sering kali bisa menghasilkan imbal hasil jika di-staking langsung, sehingga pengguna lebih memilih staking daripada memegang stablecoin.
Itulah informasi berita crypto hari ini. Aktifkan notifikasi agar Anda selalu mendapatkan informasi terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Jangan sampai ketinggalan berita terbaru terkait dunia kripto, pergerakan pasar, dan masih banyak lagi di laman artikel edukasi crypto terpopuler.
Anda juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Referensi:
- TheBlock – Vitalik Buterin says decentralized stablecoins still face three unsolved problems, diakses pada 20 Januari 2026
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Ethereum, #Berita Tokoh Kripto Dunia, #Berita Stablecoin





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


