Kekhawatiran inflasi kembali meningkat setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga minyak. Kondisi ini langsung memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).
Data dari pasar prediksi menunjukkan peluang pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS kini menurun.
Investor mulai menilai bahwa tekanan inflasi yang berpotensi muncul dari kenaikan harga energi bisa membuat The Fed menahan langkah pelonggaran kebijakan dalam waktu dekat.
Pasar Mulai Revisi Prediksi Rate Cut The Fed
Perubahan ekspektasi terlihat jelas dari data pasar prediksi Kalshi. Para trader kini menilai peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed tidak sebesar sebelumnya.

Sumber Gambar: Kalshi
Saat ini pasar memperkirakan:
- Peluang satu kali pemangkasan suku bunga sekitar 25%
- Peluang dua kali pemangkasan sekitar 23%
- Peluang tiga kali pemangkasan sekitar 19%
Secara keseluruhan, kemungkinan The Fed melakukan dua kali atau lebih pemangkasan suku bunga turun menjadi sekitar 57%, dari sebelumnya 79%.
Perubahan ini mencerminkan bagaimana pasar cepat menyesuaikan ekspektasi terhadap risiko inflasi baru yang muncul akibat gejolak geopolitik.
Baca juga berita terkait: Warga Iran Beralih ke USDT Saat Rial Anjlok dan Inflasi Melonjak
Harga Minyak Naik, Ekspektasi Inflasi Ikut Meningkat
Lonjakan harga energi menjadi faktor utama yang memicu perubahan pandangan pasar. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran gangguan suplai minyak global.
Iran dilaporkan mengambil langkah yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi di kawasan Teluk, termasuk kemungkinan penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia.
Setelah kabar tersebut muncul, harga minyak mentah melonjak hingga mencapai level tertinggi dalam dua tahun.
Kenaikan harga energi biasanya memiliki efek berantai terhadap ekonomi. Biaya transportasi, logistik, hingga harga barang konsumsi dapat ikut meningkat, sehingga mendorong inflasi.
Hal ini tercermin dari data ekspektasi inflasi di pasar. Inflasi lima tahun di AS naik menjadi sekitar 2,54%, lebih tinggi dari target inflasi The Fed yang berada di 2%.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,1%, menunjukkan pasar mulai mengantisipasi suku bunga yang lebih tinggi untuk waktu lebih lama.
Pejabat The Fed Ingatkan Risiko Inflasi Masih Tinggi
Di tengah perubahan ekspektasi pasar, pejabat The Fed juga menegaskan bahwa bank sentral masih harus berhati-hati terhadap tekanan inflasi.
Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, mengatakan bahwa pemangkasan suku bunga masih mungkin terjadi jika inflasi mulai melambat setelah dampak tarif perdagangan mereda.
“Jika inflasi bergerak sesuai dengan yang saya perkirakan, maka penurunan lebih lanjut pada suku bunga dana federal pada akhirnya akan diperlukan,” ujar Williams.
Namun ia menegaskan bahwa inflasi saat ini masih berada di atas target bank sentral.
Williams juga menggambarkan kondisi pasar tenaga kerja AS sebagai lingkungan low-hire, low-fire, di mana perekrutan dan pemutusan kerja sama-sama berada pada level rendah. Tingkat pengangguran tercatat sekitar 4,3%, kembali ke level yang terlihat pada pertengahan 2025.
Ia juga memperkirakan kebijakan tarif perdagangan yang diterapkan sebelumnya memberikan tambahan tekanan inflasi sekitar 0,5 hingga 0,75 poin persentase.
Baca berita selanjutnya: Ketegangan Meluas! Trump Ancam Spanyol Imbas Perang Iran, Fear & Greed Merah
The Fed Diminta Tetap Waspada
Pandangan serupa disampaikan oleh Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City, Jeff Schmid. Dalam pidatonya di Denver, ia menekankan bahwa inflasi telah berada di atas target bank sentral selama hampir lima tahun.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak memberi ruang bagi The Fed untuk terlalu cepat melonggarkan kebijakan.
“Menurut saya, kita tidak punya ruang untuk bersikap terlalu santai,” kata Schmid.
Sebelumnya, Federal Open Market Committee (FOMC) memang telah memangkas suku bunga sebesar 1,75 poin persentase dari level puncaknya. Namun ke depan, keputusan lanjutan akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi.
Karena itu, data inflasi yang akan dirilis dalam beberapa bulan mendatang menjadi faktor kunci bagi arah kebijakan moneter AS.
Ada Pandangan Berbeda dari Pelaku Pasar
Meski sebagian besar pasar mulai menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga, tidak semua pelaku pasar memiliki pandangan yang sama.
Arthur Hayes, salah satu tokoh di pasar kripto, berpendapat bahwa konflik geopolitik besar justru sering diikuti oleh kebijakan pelonggaran moneter.
Menurutnya, ketika ketegangan global meningkat dan risiko ekonomi bertambah, bank sentral cenderung menurunkan suku bunga untuk menjaga stabilitas ekonomi dan likuiditas pasar.
Pandangan ini menunjukkan bahwa arah kebijakan The Fed masih menjadi perdebatan di kalangan pelaku pasar.
Kesimpulan
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu perubahan cepat dalam ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed.
Lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi, sehingga investor mulai meragukan kemungkinan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Data terbaru menunjukkan probabilitas pemangkasan suku bunga kini menurun, sementara imbal hasil obligasi dan ekspektasi inflasi justru meningkat.
Kondisi ini menempatkan The Fed pada posisi yang sulit, karena bank sentral harus menyeimbangkan stabilitas harga dengan kondisi ekonomi yang masih penuh ketidakpastian.
Ke depan, arah kebijakan suku bunga akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, pergerakan harga energi, serta dinamika geopolitik yang masih berlangsung.
FAQ
- Apa itu rate cut The Fed dan mengapa penting bagi pasar?
Rate cut adalah kebijakan penurunan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve. Kebijakan ini biasanya dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan membuat biaya pinjaman lebih murah. Penurunan suku bunga juga sering meningkatkan likuiditas di pasar keuangan. - Mengapa konflik geopolitik bisa memengaruhi keputusan suku bunga The Fed?
Konflik geopolitik dapat mengganggu rantai pasokan global, terutama energi. Jika harga minyak dan komoditas naik, inflasi bisa meningkat. Ketika inflasi tinggi, bank sentral biasanya menahan atau menunda pemangkasan suku bunga. - Apa hubungan harga minyak dengan inflasi global?
Harga minyak berperan besar dalam biaya transportasi, produksi, dan distribusi barang. Jika harga energi naik, biaya produksi meningkat dan akhirnya harga barang konsumsi ikut naik. Kondisi ini dapat mendorong inflasi. - Mengapa pasar memperhatikan imbal hasil obligasi AS 10 tahun?
Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sering dijadikan indikator ekspektasi ekonomi dan suku bunga jangka panjang. Jika yield naik, biasanya pasar memperkirakan suku bunga akan tetap tinggi atau inflasi meningkat. - Apakah penurunan suku bunga The Fed selalu berdampak pada pasar kripto?
Tidak selalu, tetapi kebijakan suku bunga sering memengaruhi likuiditas global. Saat suku bunga turun, biaya pinjaman lebih murah dan investor cenderung mencari aset berisiko lebih tinggi seperti saham dan kripto. Sebaliknya, suku bunga tinggi sering membuat investor lebih berhati-hati.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Referensi:
- CoinGape – Fed Rate Cut Odds Drop as Inflation Fears Rise Due To U.S. Iran Conflict, diakses pada 4 Maret 2026
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Regulasi Crypto, #Berita The Fed, #Berita Timur Tengah Terkini






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


