Behavioral Finance: Saat Psikologi Bikin Salah Investasi
icon search
icon search

Top Performers

Behavioral Finance: Saat Psikologi Kacaukan Uangmu

Home / Artikel & Tutorial / judul_artikel

Behavioral Finance: Saat Psikologi Kacaukan Uangmu

Behavioral Finance Saat Psikologi Kacaukan Uangmu 01

Daftar Isi

Pernah gak kamu beli kripto karena takut ketinggalan? Teman udah cuan, grup chat rame bahas token baru, akhirnya kamu ikut beli meski gak tahu pasti kenapa.

Tapi, tenang, kamu gak sendirian kok. Banyak keputusan keuangan, termasuk investasi, sering kali lebih dipengaruhi oleh emosi daripada logika.

Rasa takut ketinggalan (FOMO), terlalu percaya diri, atau sekadar ikut-ikutan bisa membuat kita mengambil langkah yang sebenarnya tidak rasional.

Bukan karena kita bodoh, melainkan lantaran otak manusia memang punya cara kerja tertentu saat berhadapan dengan risiko, peluang, dan tekanan sosial.

Nah, inilah yang coba dijelaskan oleh behavioral finance, yaitu sebuah pendekatan ilmiah yang menggabungkan psikologi dan ekonomi untuk memahami kenapa keputusan keuangan kita kadang melenceng dari perhitungan yang rasional.

Untuk lebih memahami tentang apa itu behavioral finance, mari simak penjelasan selengkapnya berikut ini!

 

Apa Itu Behavioral Finance?

Behavioral Finance Saat Psikologi Kacaukan Uangmu 03

Pernah mengalami situasi kayak gini: Kamu sadar bahwa investasi tanpa riset itu berisiko. Namun, karena ramai orang cerita soal untung besar dari kripto, kamu pun ikut tergoda.

Logikamu sebenarnya menyarankan untuk bersabar, tetapi perasaanmu malah mendesak, “Kalau gak ambil sekarang, bisa-bisa ketinggalan!”

Nah, inilah salah satu contoh bagaimana psikologi bisa mempengaruhi keputusan finansial.

Pada dasarnya, behavioral finance adalah cabang ilmu yang mempelajari bagaimana emosi, bias, pengalaman, budaya, dan tekanan sosial mempengaruhi keputusan keuangan seseorang.

Dalam konsep ini, keputusan seseorang untuk membelanjakan, menabung, berinvestasi, bahkan berutang, tidak hanya didorong oleh perhitungan logis, tetapi juga oleh cara mereka merespons emosi dan lingkungan.

Berbeda dengan teori keuangan klasik yang berasumsi bahwa investor selalu rasional dan membuat keputusan berdasarkan data serta analisis objektif, behavioral finance justru melihat sisi manusiawinya.

Ia memahami bahwa investor bisa terlalu percaya diri saat pasar naik, atau panik saat pasar turun, bahkan ketika mereka tahu bahwa itu bukan keputusan terbaik secara jangka panjang.

Behavioral finance berusaha menjawab pertanyaan: “Kenapa seseorang tetap membuat keputusan buruk, meskipun ia tahu risikonya?”

Jawabannya terletak pada bias psikologis seperti overconfidence, loss aversion, dan herd mentality—hal-hal yang membuat kita lebih impulsif atau terlalu berhati-hati, tergantung situasinya.

Pendekatan behavioral finance kini semakin relevan dalam dunia bisnis dan keuangan. Banyak praktisi dan analis mulai menggabungkannya dengan teori ekonomi tradisional.

Tujuannya adalah merancang strategi keuangan yang tidak hanya logis di atas kertas, tetapi juga selaras dengan perilaku nyata manusia.

Dengan memahami behavioral finance, kita bisa mulai mengenali pola pikir dan kebiasaan yang mengganggu stabilitas finansial kita.

Dan dari situ, kita bisa melatih diri untuk mengambil keputusan yang lebih sadar, rasional, dan sesuai dengan tujuan hidup kita.

Kamu mungkin tertarik dengan ini juga: Loss Aversion vs. Risk Aversion: Apa Bedanya?

 

Jenis-jenis Bias Psikologis yang Sering Muncul

Dalam behavioral finance, setidaknya ada lima bias utama yang kerap memengaruhi cara investor berpikir dan bertindak. Bias-bias ini sering terjadi tanpa disadari, tetapi dampaknya bisa besar terhadap hasil investasi. Berikut ini penjelasannya, yaitu:

 

1.Overconfidence Bias

Bias ini muncul ketika investor terlalu yakin pada kemampuan atau analisis pribadinya. Akibatnya, mereka cenderung meremehkan risiko dan mengabaikan informasi penting yang bisa memperingatkan potensi kerugian.

 

2.Loss Aversion

Investor yang mengalami bias ini merasa takut rugi lebih besar dibanding keinginan untuk untung. Karena itu, mereka sering kali enggan menjual aset yang nilainya turun, meskipun sudah jelas tidak menguntungkan, hanya karena enggan mengakui kerugian.

 

3.Herding Bias

Herding terjadi saat investor mengikuti mayoritas pasar tanpa analisis pribadi. Mereka membeli atau menjual aset hanya karena orang lain melakukannya, bukan karena ada data atau strategi yang mendasari keputusan tersebut.

 

4.Anchoring Bias

Dalam bias ini, investor terlalu terpaku pada informasi awal, biasanya harga beli pertama. Ini membuat mereka tidak objektif menilai situasi pasar saat ini dan sulit mengambil keputusan berdasarkan kondisi yang aktual.

 

5.Confirmation Bias

Investor cenderung hanya mencari informasi yang mendukung pandangan atau keputusan yang sudah mereka yakini sejak awal. Sinyal peringatan atau data yang bertentangan sering diabaikan, karena dianggap mengganggu keyakinan mereka.

 

Dampak Bias Ini pada Investor Ritel

Bias psikologis tidak hanya terjadi di teori sebab dampaknya nyata, terutama bagi investor ritel yang sering kali berinvestasi berdasarkan emosi. Berikut ini beberapa akibat yang umum terjadi, antara lain:

 

1. Mengambil keputusan impulsif saat pasar sedang FOMO atau crash

Investor terdorong membeli aset saat hype tinggi tanpa analisis matang, atau panik menjual saat harga jatuh, meski belum tentu waktunya tepat.

 

2. Panik jual di dasar atau beli di puncak

Karena pengaruh bias seperti herding dan loss aversion, investor kerap terjebak membeli saat harga sudah tinggi atau menjual saat harga sedang rendah, yang justru merugikan.

 

3. Tidak melakukan diversifikasi karena terlalu yakin pada satu aset

Overconfidence dan anchoring membuat investor “jatuh cinta” pada aset tertentu dan mengabaikan prinsip diversifikasi sehingga portofolio jadi rentan.

 

4. Sulit mengevaluasi portofolio secara objektif

Bias konfirmasi dan anchoring membuat investor terus merasa keputusan awalnya benar, walaupun kinerja portofolio menunjukkan sebaliknya.

Agar tidak terjebak, investor perlu mengenali bias-bias ini sejak awal dan mulai membangun kebiasaan investasi yang lebih rasional serta berbasis data.

 

Behavioral Finance dalam Dunia Kripto

Dunia kripto bukan hanya soal teknologi dan angka, melainkan juga soal emosi. Di pasar yang bergerak sangat cepat, dengan volatilitas tinggi dan banjir informasi dari media sosial, investor ritel sangat mudah terbawa perasaan.

Di situlah peran behavioral finance menjadi sangat relevan untuk memahami kenapa banyak keputusan investasi kripto terlihat tidak rasional.

 

Kenapa Kripto Rentan terhadap Bias?

Pasar kripto memiliki karakter unik, yaitu harga yang bisa berubah drastis dalam waktu singkat, aliran berita yang cepat, dan pengaruh besar dari hype media sosial. Kondisi ini membuat emosi lebih dominan dibanding logika.

Investor jadi rentan mengambil keputusan secara impulsif karena terlalu terpicu oleh ketakutan, keserakahan, atau tekanan dari komunitas. Di sinilah berbagai bias psikologis muncul dan memengaruhi cara berpikir serta bertindak para pelaku pasar.

Artikel menarik lainnya untuk kamu: Apa Itu FOMO dalam Dunia Kripto? Bagaimana Menghindarinya?

 

Contoh Nyata Bias Psikologis di Kripto

 

Kita bisa melihat berbagai bentuk bias dalam perilaku investor kripto sehari-hari, misalnya sebagai berikut:

 

  1. Overconfidence dan FOMO

Banyak orang tidak melakukan analisis mendalam, tetapi memilih membeli koin seperti DOGE, SHIB, atau PEPE hanya karena lagi ramai diperbincangkan, bukan lantaran nilai fundamental atau riset yang kuat

 

  1. Loss Aversion dan Anchoring

Investor tetap menahan koin micin yang sudah nyangkut karena merasa “sayang kalau dijual rugi” dan yakin nilainya akan kembali.

 

  1. Confirmation Bias

Pengaruh influencer membuat investor hanya mencari opini yang sejalan dengan keyakinan mereka, sambil menolak data yang bertentangan.

Tanpa disadari, bias-bias ini dapat memperbesar risiko kerugian. Karena itu, memahami behavioral finance bukan cuma teori, melainkan juga bisa jadi alat penting agar tetap rasional di tengah panasnya pasar kripto.

 

Pelajaran Penting buat Investor Kripto

Dalam pasar kripto, psikologi sering kali punya pengaruh lebih besar dibanding analisis teknikal. Grafik dan indikator bisa membantu, tetapi jika mental tidak disiplin maka keputusan tetap bisa melenceng.

Untuk bisa bertahan di market yang volatil ini, investor butuh pengendalian diri yang kuat, kesadaran akan bias pribadi, dan konsistensi dalam strategi. Tanpa itu, potensi keuntungan bisa dengan mudah berubah jadi kerugian.

 

Cara Menghindari Bias saat Mengambil Keputusan

Behavioral Finance Saat Psikologi Kacaukan Uangmu 02

Mengambil keputusan investasi tanpa disadari sering dipengaruhi oleh bias psikologis. Untuk menjaga objektivitas, berikut ini beberapa cara agar tetap rasional saat berinvestasi, di antaranya:

 

1.Gunakan Rencana Investasi Tertulis

Buatlah dokumen rencana investasi sebagai panduan agar kamu bisa tetap konsisten dan tidak mudah terpengaruh oleh perubahan suasana hati atau opini orang lain.

 

2.Review Portofolio secara Rutin

Luangkan waktu secara berkala untuk meninjau kinerja portofolio kamu agar bisa mengetahui mana yang perlu dipertahankan atau disesuaikan.

 

3.Terapkan Dollar-Cost Averaging (DCA)

Gunakan strategi DCA crypto pembelian bertahap secara konsisten agar kamu bisa mengurangi pengaruh fluktuasi harga yang tajam dan tekanan emosional saat berinvestasi.

 

4.Hindari Keputusan saat Emosi Dominan

Jangan mengambil keputusan penting ketika kamu sedang terlalu senang, cemas, marah, atau takut karena emosi dapat mengganggu logika.

 

5.Pakai Tools & Indikator Objektif

Manfaatkan alat bantu analisis seperti MACD, RSI, atau moving average untuk membuat keputusan yang berdasarkan logika, bukan sekadar saran dari orang lain maupun teman.

 

Kesimpulan: Uangmu Gak Selalu Rasional

Nah, itulah tadi pembahasan menarik tentang Behavioral Finance: Saat Psikologi Kacaukan Uangmu yang dapat kamu baca selengkapnya di Akademi crypto di INDODAX Academy.

Sebagai kesimpulan, behavioral finance menunjukkan bahwa kesalahan dalam keputusan finansial seringkali bukan karena kurang pintar, melainkan lantaran pikiran kita dipengaruhi emosi dan bias bawah sadar.

Di dunia kripto yang bergerak cepat dan penuh spekulasi, memahami cara kerja bias ini bisa memberimu keunggulan dibandingkan investor lain.

Kuncinya bukan sekadar tahu strategi, melainkan mampu tetap tenang saat market panik dan tidak tergoda ikut-ikutan. Kendalikan bias, bukan dikendalikan emosi supaya setiap langkah investasimu tetap jernih dan rasional.

Oya, selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market. jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.

Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.

Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan.

 

Follow Sosmed Twitter Indodax sekarang

Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram

 

FAQ 

1. Apa itu behavioral finance?

Teori yang menjelaskan pengaruh psikologi terhadap keputusan keuangan individu.

 

2. Kenapa penting memahami psikologi dalam investasi?

Karena banyak kerugian bukan dari salah analisis, tapi salah ambil keputusan karena emosi.

 

3. Apa contoh bias psikologis dalam investasi?

Overconfidence, loss aversion, herding, anchoring, dan confirmation bias.

 

4. Gimana bias ini muncul dalam kripto?

Beli token viral karena takut ketinggalan, atau terlalu yakin token nyangkut bakal balik.

 

5. Gimana cara menghindari bias saat trading/investasi?

Gunakan rencana, evaluasi rutin, jangan ambil keputusan saat emosi tinggi, dan pakai data objektif.

 

DISCLAIMER:  Segala bentuk transaksi aset kripto memiliki risiko dan berpeluang untuk mengalami kerugian. Tetap berinvestasi sesuai riset mandiri sehingga bisa meminimalisir tingkat kehilangan aset kripto yang ditransaksikan (Do Your Own Research/ DYOR). Informasi yang terkandung dalam publikasi ini diberikan secara umum tanpa kewajiban dan hanya untuk tujuan informasi saja. Publikasi ini tidak dimaksudkan untuk, dan tidak boleh dianggap sebagai, suatu penawaran, rekomendasi, ajakan atau nasihat untuk membeli atau menjual produk investasi apa pun dan tidak boleh dikirimkan, diungkapkan, disalin, atau diandalkan oleh siapa pun untuk tujuan apa pun.
 

 

Author: Boy

 

 

Lebih Banyak dari Tutorial

Koin Baru dalam Blok

Pelajaran Dasar

Calculate Staking Rewards with INDODAX earn

Select an option
dot Polkadot 10.84%
bnb BNB 0.3%
sol Solana 5.23%
eth Ethereum 1.84%
ada Cardano 1.25%
pol Polygon Ecosystem Token 1.93%
trx Tron 2.39%
DOT
0
Berdasarkan harga & APY saat ini
Stake Now

Pasar

Nama Harga 24H Chg
MSHD/IDR
MASHIDA
125
40.45%
KUNCI/IDR
Kunci Coin
4
33.33%
DCT/IDR
Degree Cry
81.997
26.12%
L3/IDR
Layer3
824
24.28%
VIDY/USDT
VIDY
0
20%
Nama Harga 24H Chg
KOK/IDR
Kok
2
-33.33%
VSYS/IDR
v.systems
11
-21.43%
HNST/IDR
Honest
56
-15.15%
CRO/IDR
Cronos
4.558
-13.9%
GTC/IDR
Gitcoin
5.153
-13.31%
Apakah artikel ini membantu?

Beri nilai untuk artikel ini

You already voted!
Artikel Terkait

Temukan lebih banyak artikel berdasarkan topik yang diminati.

Perbedaan Virus dan Malware, Jangan Salah Kaprah!
29/08/2025
Perbedaan Virus dan Malware, Jangan Salah Kaprah!

Banyak orang masih menyamakan istilah virus dengan semua bentuk ancaman

29/08/2025
Bahaya Raccoon Stealer, Ancaman Buat Investor Kripto
28/08/2025
Bahaya Raccoon Stealer, Ancaman Buat Investor Kripto

Malware jenis info-stealer kini semakin sering menargetkan pengguna kripto karena

28/08/2025
Strike Price Adalah Senjata Trader Pro, Kok Bisa?
27/08/2025
Strike Price Adalah Senjata Trader Pro, Kok Bisa?

Bagi pemula, istilah strike price sering terdengar, tetapi masih membingungkan.

27/08/2025