Saat membaca laporan keuangan perusahaan, kamu mungkin pernah melihat istilah depreciation expense. Istilah ini sering muncul dalam pembahasan akuntansi, investasi, valuasi bisnis, sampai analisis saham. Sekilas terdengar teknis, tetapi konsepnya sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bayangkan sebuah perusahaan membeli kendaraan operasional, mesin produksi, komputer kantor, atau perangkat server. Aset tersebut tidak langsung habis dalam satu hari. Namun, nilainya juga tidak tetap sama dari tahun ke tahun. Semakin sering digunakan, semakin tua usia asetnya, dan semakin besar kemungkinan performanya menurun.
Penurunan nilai inilah yang kemudian dicatat sebagai depreciation expense atau beban penyusutan. Dalam laporan keuangan, beban ini membantu perusahaan menunjukkan biaya penggunaan aset secara lebih realistis, bukan sekadar mencatat harga beli aset saat transaksi terjadi.
Bagi investor, pemahaman tentang depreciation expense juga sangat berguna. Dari angka ini, kamu bisa membaca bagaimana perusahaan mengelola aset, seberapa besar beban non-tunai yang menekan laba, dan bagaimana pengaruhnya terhadap laporan keuangan perusahaan secara keseluruhan.
Depreciation Expense Adalah?
Depreciation expense adalah beban penyusutan yang dicatat perusahaan untuk menggambarkan penurunan nilai aset tetap selama masa manfaatnya. Aset tetap yang dimaksud biasanya berupa aset berwujud, seperti gedung, mesin, kendaraan, komputer, perangkat kantor, atau alat produksi yang digunakan dalam operasional bisnis.
Konsep ini muncul karena aset tetap tidak langsung dianggap habis saat dibeli. Misalnya, perusahaan membeli mesin senilai Rp100 juta dan memperkirakan mesin tersebut bisa digunakan selama lima tahun. Jika seluruh harga mesin langsung dicatat sebagai beban pada tahun pertama, laporan keuangan bisa terlihat terlalu berat di awal, padahal mesin itu masih membantu perusahaan menghasilkan pendapatan selama beberapa tahun berikutnya.
Karena itu, biaya aset tersebut dibagi ke beberapa periode sesuai umur ekonomisnya. Pembagian biaya inilah yang disebut depreciation expense. Dengan cara ini, laporan keuangan bisa mencerminkan penggunaan aset secara lebih adil dari waktu ke waktu.
Dalam bahasa sederhana, depreciation expense adalah cara perusahaan mencatat bahwa aset yang dipakai untuk menghasilkan pendapatan juga mengalami penurunan nilai. Asetnya mungkin masih ada secara fisik, tetapi nilai ekonomisnya terus berkurang karena pemakaian, usia, keusangan teknologi, atau penurunan fungsi.
Konsep ini menjadi dasar penting sebelum masuk ke cara kerja penyusutan. Sebab, tanpa memahami kenapa aset perlu disusutkan, angka depreciation expense di laporan keuangan akan terlihat seperti biaya biasa, padahal dampaknya bisa cukup besar terhadap laba perusahaan.
Kenapa Depreciation Expense Penting dalam Bisnis?
Depreciation expense penting karena membantu laporan keuangan menggambarkan kondisi bisnis secara lebih realistis. Perusahaan tidak hanya perlu mencatat uang yang keluar, tetapi juga perlu menunjukkan bagaimana aset yang digunakan dalam operasional mengalami penurunan nilai seiring waktu.
Dalam akuntansi, ada prinsip bahwa biaya sebaiknya diakui pada periode yang sama dengan pendapatan yang dibantu oleh biaya tersebut. Jika sebuah kendaraan operasional digunakan untuk mendukung distribusi selama lima tahun, maka biaya kendaraan itu tidak ideal jika seluruhnya dibebankan hanya pada tahun pembelian. Bebannya perlu disebar mengikuti masa manfaat kendaraan tersebut.
Dari sisi laporan laba rugi, depreciation expense akan mengurangi laba perusahaan. Namun, beban ini berbeda dari biaya tunai seperti gaji, sewa, atau pembelian bahan baku. Depreciation expense termasuk beban non-tunai karena tidak selalu diikuti arus kas keluar pada periode pencatatannya. Uang untuk membeli aset sudah keluar saat aset dibeli, sementara penyusutannya dicatat bertahap dalam laporan keuangan.
Hal ini membuat depreciation expense sering menjadi perhatian dalam analisis keuangan. Sebuah perusahaan bisa terlihat memiliki laba lebih rendah karena beban penyusutan tinggi, meskipun arus kas operasionalnya masih sehat. Sebaliknya, perusahaan yang terlalu ringan mencatat penyusutan bisa terlihat lebih untung di atas kertas, tetapi kondisi asetnya mungkin sudah menua dan membutuhkan penggantian besar pada masa depan.
Beban penyusutan juga berhubungan dengan pajak. Karena dicatat sebagai beban, depreciation expense dapat mengurangi laba kena pajak sesuai aturan yang berlaku. Bagi perusahaan, pencatatan penyusutan yang benar membantu laporan keuangan lebih tertib, patuh, dan tidak menyesatkan.
Dari sini terlihat bahwa depreciation expense bukan sekadar istilah akuntansi. Angka ini membantu perusahaan, investor, dan analis melihat bagaimana aset digunakan, bagaimana laba terbentuk, serta seberapa besar biaya tersembunyi dari penggunaan aset jangka panjang.
Cara Kerja Depreciation Expense
Cara kerja depreciation expense dimulai dari pemahaman bahwa aset tetap memiliki masa manfaat. Ketika perusahaan membeli aset, perusahaan perlu memperkirakan berapa lama aset tersebut bisa digunakan untuk mendukung operasional.
Misalnya, sebuah laptop kantor dibeli untuk digunakan selama lima tahun. Selama periode itu, laptop membantu pekerjaan karyawan, mendukung produktivitas, dan menjadi bagian dari aktivitas bisnis. Namun, nilai laptop tersebut akan menurun seiring pemakaian. Performa bisa melambat, teknologi bisa tertinggal, dan nilai jualnya turun.
Agar laporan keuangan tidak mencatat biaya secara tidak proporsional, perusahaan membagi biaya laptop tersebut selama lima tahun. Jika harga laptop Rp15 juta dan tidak ada nilai residu, maka beban penyusutannya bisa dicatat Rp3 juta per tahun dengan metode garis lurus.
Dalam praktiknya, depreciation expense dipengaruhi oleh beberapa komponen utama. Komponen pertama adalah harga perolehan aset. Ini bukan hanya harga beli, tetapi bisa mencakup biaya lain yang diperlukan agar aset siap digunakan, seperti biaya pengiriman, instalasi, atau setup awal.
Komponen kedua adalah umur ekonomis. Umur ekonomis menunjukkan estimasi berapa lama aset dapat memberikan manfaat bagi perusahaan. Mesin produksi mungkin digunakan selama sepuluh tahun, kendaraan operasional delapan tahun, sementara komputer kantor bisa lebih pendek karena perkembangan teknologi lebih cepat.
Komponen ketiga adalah nilai residu. Nilai residu adalah perkiraan nilai aset pada akhir masa manfaatnya. Misalnya, kendaraan operasional yang dibeli Rp200 juta mungkin masih bisa dijual Rp40 juta setelah beberapa tahun. Nilai Rp40 juta ini tidak ikut disusutkan karena masih dianggap bisa dipulihkan saat aset dijual.
Komponen keempat adalah pola penggunaan aset. Aset yang digunakan sangat intensif biasanya mengalami penurunan nilai lebih cepat dibanding aset yang jarang digunakan. Mesin yang beroperasi hampir setiap hari tentu berbeda dari peralatan cadangan yang hanya dipakai sesekali.
Cara kerja ini membuat depreciation expense tidak selalu sama untuk setiap aset. Perusahaan perlu memilih metode penyusutan yang paling sesuai agar laporan keuangan tetap mencerminkan kondisi aset secara wajar.
Metode Depreciation Expense yang Paling Umum
Tidak semua aset kehilangan nilai dengan pola yang sama. Ada aset yang nilainya turun stabil setiap tahun, ada juga yang lebih cepat turun di awal masa penggunaan. Karena itu, perusahaan dapat menggunakan beberapa metode depreciation expense sesuai karakteristik asetnya.
Metode yang paling umum adalah metode garis lurus atau straight line method. Metode ini membagi biaya penyusutan secara merata selama umur ekonomis aset. Jika sebuah mesin dibeli Rp100 juta, memiliki nilai residu Rp10 juta, dan umur ekonomisnya lima tahun, maka beban penyusutan tahunannya adalah Rp18 juta.
Rumusnya sederhana:
Depreciation Expense = (Harga Perolehan Aset – Nilai Residu) / Umur Ekonomis
Metode garis lurus banyak digunakan karena mudah dipahami dan menghasilkan beban yang stabil setiap periode. Metode ini cocok untuk aset yang manfaatnya relatif konsisten dari tahun ke tahun, seperti gedung, perabot kantor, atau peralatan yang pemakaiannya tidak terlalu fluktuatif.
Selain metode garis lurus, ada juga metode saldo menurun ganda. Metode ini mencatat beban penyusutan lebih besar pada awal masa manfaat aset, lalu semakin kecil pada tahun-tahun berikutnya. Pola ini cocok untuk aset yang nilainya turun cepat di awal, seperti kendaraan, perangkat teknologi, atau mesin tertentu.
Contohnya, kendaraan operasional biasanya kehilangan nilai cukup besar pada tahun-tahun awal setelah dibeli. Jika perusahaan menggunakan metode saldo menurun ganda, laporan keuangan akan menunjukkan beban penyusutan yang lebih tinggi di awal, lalu menurun seiring waktu.
Ada juga metode unit produksi. Berbeda dari metode yang berbasis waktu, metode ini menghitung penyusutan berdasarkan tingkat penggunaan aset. Jika sebuah mesin diperkirakan mampu memproduksi 100.000 unit barang selama masa manfaatnya, maka beban penyusutan dihitung berdasarkan jumlah unit yang benar-benar diproduksi pada periode tertentu.
Metode unit produksi cocok untuk aset yang tingkat keausannya sangat bergantung pada pemakaian. Mesin pabrik, kendaraan berbasis jarak tempuh, atau alat produksi dengan jam operasional tinggi bisa menggunakan pendekatan ini agar pencatatan penyusutannya lebih sesuai dengan kondisi aktual.
Metode lain yang juga dikenal adalah metode jumlah angka tahun. Metode ini juga termasuk penyusutan dipercepat karena beban lebih besar di awal masa manfaat dan menurun pada periode berikutnya. Walaupun tidak selalu digunakan oleh semua perusahaan, metode ini tetap relevan untuk aset yang manfaat ekonominya lebih besar pada tahun-tahun awal.
Pemilihan metode penyusutan bukan sekadar keputusan teknis. Metode yang dipilih akan memengaruhi laba, nilai aset, dan persepsi terhadap kondisi keuangan perusahaan. Karena itu, perusahaan perlu konsisten dan memiliki alasan yang jelas saat menentukan metode depreciation expense.
Contoh Perhitungan Depreciation Expense
Agar lebih mudah dipahami, bayangkan sebuah perusahaan membeli mesin produksi senilai Rp100 juta. Mesin tersebut diperkirakan bisa digunakan selama lima tahun, lalu masih memiliki nilai jual sekitar Rp10 juta pada akhir masa manfaatnya.
Dalam kasus ini, harga perolehan aset adalah Rp100 juta. Nilai residunya Rp10 juta. Umur ekonomisnya lima tahun. Jika perusahaan menggunakan metode garis lurus, maka dasar penyusutannya adalah Rp100 juta dikurangi Rp10 juta, yaitu Rp90 juta.
Nilai Rp90 juta tersebut kemudian dibagi selama lima tahun. Hasilnya, depreciation expense yang dicatat setiap tahun adalah Rp18 juta.
Artinya, setiap tahun perusahaan akan mencatat beban penyusutan Rp18 juta di laporan laba rugi. Setelah tahun pertama, akumulasi penyusutannya menjadi Rp18 juta. Setelah tahun kedua, total akumulasi penyusutannya menjadi Rp36 juta. Begitu seterusnya sampai akhir tahun kelima.
Mesinnya mungkin masih digunakan secara fisik. Namun, dalam pencatatan akuntansi, nilainya terus menurun sesuai beban penyusutan yang dicatat setiap tahun. Pada akhir masa manfaat, nilai buku mesin akan mendekati nilai residunya, yaitu Rp10 juta.
Contoh ini menunjukkan bahwa depreciation expense tidak selalu berarti perusahaan mengeluarkan uang tunai setiap tahun. Uang pembelian mesin sudah keluar di awal. Namun, beban ekonominya diakui bertahap agar laporan keuangan lebih mencerminkan penggunaan aset dalam menghasilkan pendapatan.
Bagi pembaca laporan keuangan, contoh seperti ini membantu menjelaskan kenapa laba perusahaan bisa turun karena depreciation expense, meskipun tidak ada pembayaran tunai baru pada periode tersebut.
Perbedaan Depreciation Expense dan Accumulated Depreciation
Depreciation expense dan accumulated depreciation sering dianggap sama karena sama-sama berkaitan dengan penyusutan aset. Padahal, keduanya punya fungsi dan posisi berbeda dalam laporan keuangan.
Depreciation expense adalah beban penyusutan yang dicatat pada periode tertentu. Angka ini muncul di laporan laba rugi dan memengaruhi laba bersih perusahaan. Misalnya, jika beban penyusutan tahun ini Rp18 juta, maka angka tersebut akan mengurangi laba perusahaan pada tahun berjalan.
Accumulated depreciation adalah total penyusutan yang sudah dikumpulkan sejak aset mulai digunakan. Angka ini muncul di neraca sebagai akun kontra aset. Fungsinya untuk mengurangi nilai tercatat aset tetap agar nilai buku aset lebih mendekati kondisi ekonomisnya.
Agar lebih mudah, bayangkan depreciation expense sebagai cicilan penyusutan per tahun. Sementara accumulated depreciation adalah total cicilan penyusutan yang sudah terkumpul sejak awal aset digunakan.
Jika mesin senilai Rp100 juta disusutkan Rp18 juta per tahun, maka depreciation expense tahun pertama adalah Rp18 juta. Pada saat yang sama, accumulated depreciation juga menjadi Rp18 juta. Pada tahun kedua, depreciation expense tetap Rp18 juta, sementara accumulated depreciation naik menjadi Rp36 juta.
Perbedaan ini penting karena keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda. Depreciation expense menjawab berapa beban penyusutan pada periode ini. Accumulated depreciation menjawab berapa total penyusutan yang sudah terjadi sejak aset digunakan.
Kesalahan memahami dua istilah ini bisa membuat pembacaan laporan keuangan menjadi keliru. Laba perusahaan dipengaruhi oleh depreciation expense, sedangkan nilai aset di neraca dipengaruhi oleh accumulated depreciation.
Apakah Depreciation Expense Penting untuk Investor?
Depreciation expense penting untuk investor karena angka ini membantu membaca kualitas laba perusahaan. Tidak semua penurunan laba berasal dari beban tunai. Sebagian bisa berasal dari beban penyusutan yang dicatat karena aset tetap kehilangan nilai secara bertahap.
Pada perusahaan padat aset, depreciation expense biasanya lebih besar. Contohnya perusahaan manufaktur, transportasi, pertambangan, energi, data center, dan bisnis yang membutuhkan mesin atau infrastruktur besar. Semakin banyak aset tetap yang digunakan, semakin besar pula potensi beban penyusutannya.
Dalam konteks industri teknologi dan kripto, konsep ini juga tetap relevan. Perusahaan mining Bitcoin, misalnya, menggunakan perangkat mining, server, pendingin, dan fasilitas operasional yang memiliki umur manfaat terbatas. Perangkat tersebut bisa cepat usang karena perkembangan teknologi, konsumsi energi, dan intensitas pemakaian yang tinggi.
Jika depreciation expense terlalu besar, investor perlu melihat apakah perusahaan masih mampu menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menutup beban tersebut. Beban penyusutan yang tinggi tidak selalu buruk, tetapi bisa menjadi sinyal bahwa bisnis tersebut membutuhkan belanja modal besar secara berkala.
Sebaliknya, perusahaan dengan depreciation expense rendah belum tentu lebih sehat. Bisa saja model bisnisnya memang ringan aset, atau bisa juga asetnya sudah tua dan hampir habis disusutkan. Dalam kondisi tertentu, perusahaan mungkin perlu mengeluarkan biaya besar untuk mengganti aset lama, meski hal itu belum terlihat jelas dari laba saat ini.
Karena itu, investor tidak cukup hanya melihat laba bersih. Depreciation expense perlu dibaca bersama arus kas, belanja modal, nilai aset tetap, dan strategi operasional perusahaan sebagai bagian dari analisis fundamental sebuah bisnis. Dari gabungan data tersebut, gambaran bisnis bisa terlihat lebih utuh.
Apakah Semua Aset Mengalami Depreciation?
Tidak semua aset mengalami depreciation. Penyusutan biasanya berlaku untuk aset tetap berwujud yang memiliki masa manfaat terbatas. Aset seperti mesin, kendaraan, gedung, komputer, peralatan kantor, dan alat produksi umumnya bisa disusutkan karena nilainya menurun seiring pemakaian dan waktu.
Namun, tanah biasanya tidak disusutkan. Alasannya, tanah tidak memiliki masa manfaat terbatas seperti kendaraan atau mesin. Nilainya tidak turun karena dipakai dalam arti yang sama seperti aset operasional lain. Bahkan dalam banyak kasus, nilai tanah bisa naik karena faktor lokasi, permintaan, atau perkembangan wilayah.
Selain tanah, aset tertentu seperti investasi keuangan juga tidak diperlakukan seperti aset tetap yang disusutkan. Cara pencatatannya mengikuti karakter aset tersebut. Jika asetnya berupa saham, obligasi, atau instrumen keuangan lain, perlakuan akuntansinya berbeda dari mesin atau kendaraan.
Perbedaan ini penting karena setiap jenis aset memiliki cara pencatatan yang tidak sama. Aset berwujud dengan umur manfaat terbatas biasanya masuk dalam skema depreciation. Aset tidak berwujud seperti hak paten, lisensi, atau software tertentu lebih sering dikaitkan dengan amortization dalam pencatatan akuntansi perusahaan.
Dengan memahami aset mana yang bisa disusutkan dan mana yang tidak, kamu bisa membaca laporan keuangan dengan lebih jernih. Tidak semua penurunan nilai dicatat dengan cara yang sama, dan tidak semua aset mengalami penyusutan seperti kendaraan atau mesin.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menghitung Depreciation Expense
Kesalahan dalam menghitung depreciation expense bisa membuat laporan keuangan terlihat tidak akurat. Dampaknya tidak kecil, karena angka penyusutan memengaruhi laba, nilai aset, pajak, dan keputusan bisnis.
Salah satu kesalahan paling umum adalah keliru menentukan umur ekonomis aset. Jika umur manfaat dibuat terlalu panjang, beban penyusutan per tahun menjadi terlalu kecil. Akibatnya, laba terlihat lebih tinggi dari kondisi yang seharusnya. Sebaliknya, jika umur manfaat dibuat terlalu pendek, beban penyusutan menjadi terlalu besar dan laba bisa terlihat terlalu rendah.
Kesalahan lain adalah mengabaikan nilai residu. Dalam beberapa aset, nilai residu masih cukup signifikan. Kendaraan, mesin tertentu, atau peralatan produksi bisa saja masih memiliki nilai jual setelah masa manfaatnya selesai. Jika nilai residu tidak dihitung dengan benar, beban penyusutan bisa menjadi tidak proporsional.
Pemilihan metode yang tidak sesuai juga bisa menjadi masalah. Aset yang nilainya turun cepat di awal mungkin kurang cocok menggunakan metode garis lurus jika perusahaan ingin laporan yang lebih mencerminkan kondisi ekonomis aset. Sebaliknya, aset yang manfaatnya stabil dari tahun ke tahun tidak selalu perlu menggunakan metode penyusutan dipercepat.
Kesalahan berikutnya adalah tidak memperbarui estimasi saat kondisi aset berubah. Jika aset rusak lebih cepat, teknologi berubah, atau pola penggunaan meningkat tajam, umur manfaat aset bisa berubah. Perusahaan perlu menilai kembali apakah estimasi penyusutan masih wajar.
Ada juga kesalahan dalam mencatat waktu mulai penyusutan. Depreciation expense idealnya dihitung saat aset sudah siap digunakan, bukan hanya saat aset dibeli. Jika aset dibeli tetapi belum digunakan karena masih menunggu instalasi, perusahaan perlu memastikan pencatatannya tidak terburu-buru.
Kesalahan-kesalahan ini menunjukkan bahwa depreciation expense bukan sekadar rumus. Ada pertimbangan bisnis, teknis, dan akuntansi di dalamnya. Semakin tepat perusahaan mencatat penyusutan, semakin akurat pula laporan keuangan yang dibaca oleh manajemen, investor, dan pihak lain yang berkepentingan.
Depreciation Expense dalam Laporan Keuangan
Depreciation expense biasanya muncul di laporan laba rugi sebagai bagian dari beban perusahaan. Posisinya dapat berbeda tergantung jenis aset dan penggunaannya. Jika aset digunakan untuk produksi, penyusutannya bisa terkait dengan beban pokok atau biaya produksi. Jika aset digunakan untuk administrasi, penyusutannya bisa masuk ke beban operasional.
Dampak paling langsung dari depreciation expense adalah penurunan laba. Saat beban penyusutan dicatat, laba sebelum pajak dan laba bersih bisa berkurang. Namun, karena depreciation expense bersifat non-tunai, angka ini perlu dibaca bersama laporan arus kas agar tidak menimbulkan kesimpulan keliru.
Dalam laporan arus kas, depreciation expense sering ditambahkan kembali pada arus kas dari aktivitas operasi. Ini terjadi karena beban tersebut mengurangi laba di laporan laba rugi, tetapi tidak menyebabkan kas keluar pada periode yang sama.
Di neraca, dampak depreciation expense terlihat melalui accumulated depreciation. Akumulasi penyusutan ini mengurangi nilai tercatat aset tetap. Dengan begitu, nilai buku aset bisa mencerminkan sisa manfaat ekonomis yang masih dimiliki perusahaan.
Hubungan antara laporan laba rugi, neraca, dan arus kas membuat depreciation expense menjadi salah satu penghubung penting dalam analisis keuangan. Angka ini tidak berdiri sendiri, tetapi ikut membentuk gambaran tentang profitabilitas, efisiensi aset, dan kebutuhan investasi perusahaan ke depan.
Kesimpulan
Depreciation expense adalah beban penyusutan yang mencerminkan penurunan nilai aset tetap selama masa manfaatnya. Konsep ini membantu perusahaan mencatat biaya penggunaan aset secara lebih adil, sehingga laporan keuangan tidak hanya menampilkan transaksi pembelian, tetapi juga menggambarkan bagaimana aset tersebut dipakai dari waktu ke waktu.
Bagi perusahaan, pencatatan depreciation expense membantu menjaga akurasi laporan keuangan, mengukur kondisi aset, dan merencanakan kebutuhan penggantian aset. Bagi investor, angka ini membantu membaca kualitas laba, efisiensi operasional, serta karakter bisnis yang sedang dianalisis.
Depreciation expense juga menunjukkan bahwa laba perusahaan tidak selalu bisa dibaca secara permukaan. Ada beban non-tunai yang bisa menekan laba, ada aset yang terus kehilangan nilai, dan ada kebutuhan belanja modal yang mungkin muncul pada masa depan.
Dengan memahami cara kerja depreciation expense, kamu bisa melihat laporan keuangan dengan sudut pandang yang lebih matang. Bukan hanya melihat apakah perusahaan untung atau rugi, tetapi juga memahami bagaimana aset bekerja, bagaimana nilainya menurun, dan bagaimana hal itu memengaruhi kesehatan bisnis secara keseluruhan.
FAQ
1. Depreciation expense masuk ke laporan apa?
Depreciation expense masuk ke laporan laba rugi sebagai beban perusahaan. Beban ini mengurangi laba pada periode berjalan karena mencerminkan penurunan nilai aset tetap yang digunakan untuk operasional bisnis.
Namun, dampaknya juga terlihat di neraca melalui accumulated depreciation. Jika depreciation expense menunjukkan beban penyusutan per periode, accumulated depreciation menunjukkan total penyusutan yang sudah terkumpul sejak aset mulai digunakan.
2. Apa bedanya depreciation expense dan accumulated depreciation?
Depreciation expense adalah beban penyusutan pada periode tertentu, sedangkan accumulated depreciation adalah total penyusutan yang sudah dicatat sejak aset digunakan.
Depreciation expense muncul di laporan laba rugi dan memengaruhi laba bersih. Accumulated depreciation muncul di neraca sebagai pengurang nilai aset tetap. Keduanya saling berkaitan, tetapi tidak memiliki fungsi yang sama.
3. Apakah depreciation expense termasuk biaya operasional?
Depreciation expense bisa termasuk biaya operasional jika aset yang disusutkan digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan. Misalnya, penyusutan kendaraan distribusi, komputer kantor, atau peralatan administrasi.
Namun, klasifikasinya dapat berbeda tergantung fungsi aset. Jika aset digunakan dalam produksi, penyusutannya bisa dikaitkan dengan biaya produksi. Karena itu, posisi depreciation expense perlu dilihat berdasarkan penggunaan aset dalam bisnis.
4. Kenapa tanah tidak mengalami depreciation?
Tanah umumnya tidak mengalami depreciation karena tidak memiliki umur manfaat terbatas seperti kendaraan, mesin, atau komputer. Tanah tidak aus karena pemakaian operasional dalam cara yang sama seperti aset tetap lainnya.
Selain itu, nilai tanah bisa naik dalam jangka panjang karena faktor lokasi, permintaan, dan perkembangan wilayah. Karena alasan ini, tanah biasanya tidak disusutkan dalam pencatatan akuntansi.
5. Apakah depreciation expense memengaruhi laba perusahaan?
Ya, depreciation expense memengaruhi laba perusahaan karena dicatat sebagai beban dalam laporan laba rugi. Semakin besar beban penyusutan, semakin rendah laba yang dilaporkan pada periode tersebut.
Meski begitu, depreciation expense termasuk beban non-tunai. Artinya, beban ini tidak selalu diikuti kas keluar pada periode yang sama. Karena itu, investor sering membaca depreciation expense bersama arus kas agar analisisnya lebih akurat.
6. Metode depreciation mana yang paling sering digunakan?
Metode garis lurus atau straight line method adalah salah satu metode yang paling sering digunakan. Alasannya, metode ini sederhana, mudah dihitung, dan menghasilkan beban penyusutan yang stabil setiap periode.
Metode ini cocok untuk aset yang manfaatnya relatif konsisten dari tahun ke tahun. Untuk aset yang cepat turun nilainya di awal, perusahaan bisa menggunakan metode lain seperti saldo menurun ganda.
7. Apakah perusahaan crypto juga memiliki depreciation expense?
Ya, perusahaan yang bergerak di sektor crypto bisa memiliki depreciation expense jika menggunakan aset tetap dalam operasionalnya. Contohnya perusahaan mining Bitcoin yang memakai mesin mining, server, sistem pendingin, dan fasilitas data center.
Aset-aset tersebut memiliki umur manfaat terbatas dan bisa cepat usang karena pemakaian intensif atau perkembangan teknologi. Karena itu, beban penyusutan tetap relevan dalam membaca kondisi keuangan perusahaan berbasis teknologi dan aset digital.
8. Apakah depreciation expense sama dengan amortization?
Depreciation expense dan amortization sama-sama mencatat alokasi biaya aset selama masa manfaatnya, tetapi objek asetnya berbeda. Depreciation digunakan untuk aset berwujud seperti mesin, kendaraan, gedung, dan komputer.
Amortization digunakan untuk aset tidak berwujud seperti lisensi, paten, hak cipta, atau software tertentu. Jadi, keduanya mirip secara konsep, tetapi berbeda dari jenis aset yang dicatat.
Itulah informasi menarik tentang Depreciation Expense yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
