Direct Selling Adalah Sistem Lama, Dipakai Lagi di Kripto
icon search
icon search

Top Performers

Direct Selling Adalah Sistem Lama, Dipakai Lagi di Kripto

Home / Artikel & Tutorial / judul_artikel

Direct Selling Adalah Sistem Lama, Dipakai Lagi di Kripto

Direct Selling Adalah Sistem Lama, Dipakai Lagi di Kripto

Daftar Isi

Banyak yang Bilang Ini Direct Selling, Padahal…

Kamu pernah dengar proyek kripto yang katanya pakai sistem direct selling? Katanya legal, sistemnya jelas, dan bisa bikin cuan gede asal ngajak orang. Banyak yang tergoda dengan iming-iming keuntungan berlipat dalam waktu singkat.

Tapi makin kamu dalami, makin terasa janggal. Nggak ada produk fisik yang dijual, nggak jelas siapa yang jual, dan anehnya semua orang suruh rekrut member. Yang lebih mencurigakan lagi, fokus utamanya bukan pada teknologi blockchain atau utility token, melainkan pada sistem perekrutan yang terus-menerus.

Nah, dari sinilah banyak kebingungan dimulai. Padahal kalau kamu tahu arti sebenarnya dari direct selling, kamu bakal lebih waspada sama model-model seperti ini. Memahami perbedaan antara sistem penjualan langsung yang legitimate dengan skema yang hanya menggunakan istilah tersebut sebagai kedok sangatlah penting.

Mari kita bahas lebih dalam tentang apa sebenarnya direct selling itu dan bagaimana istilah ini disalahgunakan di dunia kripto.

 

Apa Itu Direct Selling?

 

Sebelum bahas kripto, kamu perlu paham dulu konsep dasar direct selling. Ini bukan istilah baru sudah digunakan sejak lama di dunia penjualan konvensional dan memiliki definisi yang sangat spesifik.

Direct selling adalah sistem penjualan langsung dari produsen ke konsumen tanpa melalui toko retail atau perantara lainnya. Dalam sistem ini, penjual bertemu langsung dengan pembeli, biasanya melalui pertemuan tatap muka, presentasi produk, atau home party. Sistem ini memungkinkan konsumen untuk melihat, mencoba, dan memahami produk secara langsung sebelum membeli.

Contoh nyata dari direct selling yang sudah dikenal luas adalah Oriflame dengan produk kosmetiknya, Tupperware dengan peralatan rumah tangga, dan Herbalife dengan suplemen kesehatan. Perusahaan-perusahaan ini memiliki produk fisik yang jelas, katalog yang detail, dan sistem distribusi yang terstruktur.

Ciri khas dari direct selling yang legitimate adalah adanya produk atau jasa yang memiliki nilai intrinsik, sistem pembayaran yang jelas, dan fokus pada penjualan produk bukan pada perekrutan member. Biasanya menggunakan sistem katalog yang rapi, mengadakan home party untuk demonstrasi produk, dan dalam beberapa kasus menggunakan sistem MLM (Multi-Level Marketing) yang legal dan diawasi.

Nah, setelah paham konsep dasarnya, sekarang mari kita lihat bagaimana istilah ini mulai dipakai di kripto dan mengapa konteksnya menjadi sangat berbeda.

 

Direct Selling di Kripto: Salah Kaprah yang Sering Terjadi

 

Banyak proyek kripto mengklaim pakai sistem direct selling, tapi konteksnya beda jauh dari definisi aslinya. Bahkan kadang istilah ini cuma dipakai buat kelihatan legal dan profesional di mata calon investor yang awam.

Dalam dunia kripto, tidak ada yang namanya “tatap muka” dalam arti sesungguhnya. Semua transaksi dilakukan secara digital melalui platform online, wallet digital, dan smart contract. Tidak ada katalog fisik yang bisa dipegang, tidak ada produk yang bisa dilihat secara langsung, dan tidak ada home party untuk demonstrasi.

Distribusi token biasanya dilakukan melalui beberapa cara yang sudah established di dunia kripto, seperti melalui DEX (Decentralized Exchange), sistem airdrop berdasarkan kontribusi komunitas, atau launchpad resmi seperti Binance Launchpad. Semua ini dilakukan secara transparan melalui blockchain dan smart contract.

Jadi sebenarnya tidak cocok sama sekali untuk disebut “penjualan langsung” dalam arti klasik. Yang terjadi adalah distribusi token digital melalui protokol blockchain yang sudah terdesentralisasi. Konsep direct selling tradisional yang mengandalkan interaksi personal dan demonstrasi produk tidak ada dalam ekosistem kripto.

Tapi kenapa proyek-proyek itu tetap pakai istilah ini? Ternyata ada alasan strategis di balik penggunaan istilah yang familiar ini, dan sayangnya tidak selalu dengan niat baik.

 

Kenapa Direct Selling Dipakai Lagi? Strategi atau Tipuan?

 

Buat sebagian proyek, menyebut “direct selling” adalah strategi branding yang calculated. Tapi untuk yang lain, ini justru jadi pintu masuk ke skema penipuan yang merugikan banyak orang.

Penggunaan istilah yang sudah familiar di masyarakat awam ini memang strategi marketing yang cerdik. Kebanyakan orang Indonesia sudah mengenal direct selling melalui berbagai produk rumah tangga dan kosmetik, jadi ketika mendengar istilah ini, mereka merasa sudah familiar dan cenderung lebih percaya. Ini membuat proyek kripto terkesan lebih legitimate dan mudah dipahami.

Selain itu, dengan menggunakan istilah direct selling, proyek tersebut seolah-olah membuat kesan bahwa mereka legal dan diawasi oleh otoritas yang berwenang. Padahal kenyataannya, banyak proyek kripto yang menggunakan istilah ini justru beroperasi di area abu-abu hukum atau bahkan ilegal.

Yang lebih berbahaya lagi, istilah direct selling sering digabung dengan sistem referral atau MLM yang fokus pada perekrutan member daripada utility token itu sendiri. Ini menciptakan struktur piramida yang tidak sustainable dan pada akhirnya akan merugikan investor yang bergabung belakangan.

Kalau sudah seperti ini, kamu harus bisa membedakan mana yang benar-benar legitimate dan mana yang hanya menjual janji kosong tanpa fundamental yang kuat.

 

Ciri-Ciri Token Abal-Abal Berkedok Direct Selling

 

Banyak korban jatuh karena gak tahu tanda-tanda proyek mencurigakan. Berikut beberapa ciri yang patut kamu waspadai ketika melihat proyek kripto yang mengklaim menggunakan sistem direct selling.

Pertama, perhatikan struktur insentifnya. Jika bonus terbesar datang dari rekrut orang bukan dari utility atau value token itu sendiri, ini red flag besar. Proyek yang legitimate akan fokus pada pengembangan ekosistem dan adopsi teknologi, bukan pada skema perekrutan yang berkesinambungan.

Kedua, cek keberadaan token di exchange resmi. Token yang tidak ada listing di exchange terkenal seperti Binance, Coinbase, atau bahkan exchange lokal seperti Indodax patut dipertanyakan. Biasanya token abal-abal hanya beredar di platform internal mereka sendiri dengan likuiditas yang terbatas.

Ketiga, website dan marketing materialnya penuh dengan janji cuan cepat tanpa risiko. Mereka menggunakan testimonial palsu, menampilkan lifestyle mewah, dan memberikan janji ROI yang tidak realistis. Proyek yang serius akan fokus pada teknologi dan use case, bukan pada iming-iming keuntungan instan.

Keempat, tidak ada whitepaper yang proper atau whitepaper yang sangat umum tanpa detail teknis. Whitepaper yang legitimate akan menjelaskan teknologi, tokenomics, roadmap, dan tim pengembang dengan detail yang komprehensif.

Supaya lebih jelas, mari kita bandingkan dengan distribusi token yang sah dan bagaimana ekosistem kripto yang sehat seharusnya bekerja.

 

Distribusi Token di Kripto yang Legal dan Transparan

 

Biar kamu gak salah langkah, penting banget untuk tahu bagaimana distribusi token yang sehat dilakukan di dunia kripto. Ini akan jadi patokan kamu untuk menilai apakah suatu proyek legitimate atau tidak.

Launchpad resmi seperti CoinList, Binance Launchpad, atau platform serupa memiliki proses seleksi yang ketat. Mereka melakukan due diligence mendalam terhadap proyek, tim pengembang, teknologi, dan model bisnis sebelum memutuskan untuk melisting token tersebut. Proses ini memastikan bahwa hanya proyek dengan fundamental kuat yang bisa melakukan token sale.

DEX listing tanpa pihak ketiga juga merupakan cara distribusi yang transparan. Melalui Uniswap, PancakeSwap, atau DEX lainnya, siapa saja bisa melakukan listing dengan menyediakan liquidity pool. Semua transaksi tercatat di blockchain dan bisa diverifikasi oleh siapa saja, menciptakan transparansi penuh.

Airdrop berbasis kontribusi komunitas adalah metode distribusi yang fokus pada membangun ekosistem. Token dibagikan kepada pengguna yang sudah berkontribusi pada platform, seperti early adopter, developer, atau community contributor. Ini bukan berdasarkan sistem rekrut, tapi berdasarkan value yang diberikan ke ekosistem.

Semua ini dijalankan melalui smart contract yang transparan, bukan sistem rekrut orang atau skema MLM yang rumit. Kode smart contract bisa diaudit oleh siapa saja, dan mekanisme distribusinya jelas dan terverifikasi.

Dengan pemahaman ini, kamu bisa jauh lebih siap dan terhindar dari jebakan proyek-proyek yang hanya menggunakan istilah direct selling sebagai kedok.

 

Cara Melindungi Diri dari Skema Tipuan Berkedok Direct Selling

 

Nggak cukup cuma tahu, kamu juga harus siap menghadapi kenyataan di lapangan. Ini beberapa langkah praktis yang bisa kamu lakukan untuk melindungi diri dari proyek-proyek mencurigakan.

Pertama, selalu cek apakah token tersebut ada di platform exchange resmi seperti Indodax, Binance, atau Coinbase. Jika token hanya bisa dibeli melalui platform internal mereka atau melalui sistem rekrut, itu sudah red flag besar. Exchange resmi memiliki standar listing yang ketat dan tidak akan sembarangan melisting token abal-abal.

Kedua, luangkan waktu untuk baca whitepaper dan analisis tokenomics-nya dengan seksama. Whitepaper yang legitimate akan menjelaskan use case yang jelas, teknologi yang digunakan, dan distribusi token yang masuk akal. Jika whitepaper terlalu general atau fokus pada sistem reward daripada teknologi, kamu perlu waspada.

Ketiga, hindari proyek yang memberikan janji ROI tetap atau iming-iming bonus referral yang tidak realistis. Di dunia kripto, tidak ada yang namanya return pasti tanpa risiko. Semua investasi memiliki risiko, dan proyek yang menjanjikan keuntungan pasti biasanya menggunakan skema Ponzi.

Keempat, aktif bertanya di forum kripto tepercaya seperti Reddit, Discord komunitas kripto Indonesia, atau platform diskusi lainnya sebelum memutuskan untuk ikut. Biasanya komunitas kripto yang experienced akan memberikan warning jika ada proyek yang mencurigakan.

Sekarang saatnya kita simpulkan poin-poin penting yang sudah kamu pelajari dalam pembahasan ini.

 

Jangan Asal Percaya Kalau Dengar “Direct Selling”

 

Dunia kripto tidak sama dengan sistem penjualan konvensional. Ketika kamu dengar istilah “direct selling” di dunia token, penting untuk skeptis dan teliti karena konteksnya sangat berbeda dari direct selling tradisional.

Direct selling adalah sistem lama yang sudah established di dunia penjualan konvensional dengan ciri khas adanya produk fisik, interaksi tatap muka, dan fokus pada penjualan produk bukan perekrutan member. Sistem ini memiliki regulasi yang jelas dan sudah dikenal luas di masyarakat.

Di dunia kripto, istilah direct selling sering disalahgunakan sebagai strategi marketing atau bahkan untuk mengaburkan niat penipuan. Banyak proyek menggunakan istilah ini untuk terlihat legitimate padahal sebenarnya tidak ada kaitannya dengan direct selling yang sesungguhnya.

Untuk melindungi diri, selalu pastikan legalitas dan utility dari proyek kripto yang kamu ikuti. Cek listing di exchange resmi, baca whitepaper dengan teliti, dan jangan tergiur dengan janji keuntungan yang tidak realistis. Ingat, investasi kripto yang sehat adalah investasi pada teknologi dan adoption, bukan pada skema perekrutan.

 

Itulah informasi menarik tentang “Direct selling adalah” yang  bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market. jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.

 

Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.

Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan.

Follow IG Indodax

Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram

 

FAQ: Bedain Direct Selling Asli vs Tipuan Kripto

 

1. Semua proyek kripto yang punya referral pasti penipuan ya?

Nggak selalu. Sistem referral bisa jadi cara promosi yang sah, apalagi kalau tujuannya bangun komunitas. Tapi kalau referral jadi sumber cuan utama dan bukan utility token kamu patut curiga.

3. Kenapa sih istilah direct selling sering dipakai di kripto?

Karena istilah itu sudah familiar di masyarakat. Banyak yang langsung percaya tanpa tanya-tanya. Sayangnya, ini sering dimanfaatkan proyek bodong untuk kelihatan legal dan meyakinkan.

4. Apa ciri direct selling yang benar-benar legal?

Ada produk atau jasa nyata, sistem pembayarannya jelas, dan fokusnya di penjualan, bukan rekrutmen. Kalau ada unsur MLM, harus terdaftar dan diawasi badan resmi seperti APLI.

5. Lalu gimana bedain proyek kripto yang pakai sistem sehat?

Cek whitepaper-nya lengkap atau enggak. Lihat juga apakah token-nya punya fungsi jelas (utility), terdaftar di exchange resmi, dan proyeknya transparan soal tim & roadmap.

6. Kalau udah telanjur ikut proyek mencurigakan, gimana?

Jangan tambah modal dulu. Segera tarik aset kalau masih bisa. Simpan bukti transaksi, lalu cari bantuan komunitas atau laporkan ke otoritas kayak OJK atau Bappebti. Jangan diam aja.

 

Author: RB

DISCLAIMER:  Segala bentuk transaksi aset kripto memiliki risiko dan berpeluang untuk mengalami kerugian. Tetap berinvestasi sesuai riset mandiri sehingga bisa meminimalisir tingkat kehilangan aset kripto yang ditransaksikan (Do Your Own Research/ DYOR). Informasi yang terkandung dalam publikasi ini diberikan secara umum tanpa kewajiban dan hanya untuk tujuan informasi saja. Publikasi ini tidak dimaksudkan untuk, dan tidak boleh dianggap sebagai, suatu penawaran, rekomendasi, ajakan atau nasihat untuk membeli atau menjual produk investasi apa pun dan tidak boleh dikirimkan, diungkapkan, disalin, atau diandalkan oleh siapa pun untuk tujuan apa pun.
  

Lebih Banyak dari Tutorial

Koin Baru dalam Blok

Pelajaran Dasar

Calculate Staking Rewards with INDODAX earn

Select an option
dot Polkadot 10.84%
bnb BNB 0.3%
sol Solana 5.23%
eth Ethereum 1.84%
ada Cardano 1.25%
pol Polygon Ecosystem Token 1.93%
trx Tron 2.39%
DOT
0
Berdasarkan harga & APY saat ini
Stake Now

Pasar

Nama Harga 24H Chg
PYTH/IDR
Pyth Netwo
3.800
92.99%
ATT/IDR
Attila
3
50%
HNST/IDR
Honest
64
48.84%
NEON/IDR
Neon EVM
2.556
38.84%
W/IDR
Wormhole
1.628
26.1%
Nama Harga 24H Chg
JELLYJELLY/IDR
Jelly-My-J
247
-17.18%
KDAG/IDR
King DAG
77
-16.3%
VSYS/IDR
v.systems
11
-15.38%
CRO/IDR
Cronos
4.985
-13.24%
HART/IDR
Hara Token
41
-12.77%
Apakah artikel ini membantu?

Beri nilai untuk artikel ini

You already voted!
Artikel Terkait

Temukan lebih banyak artikel berdasarkan topik yang diminati.

Rally Base Rally: Strategi Demand Zone untuk Cuan Kripto

Kenapa Rally Base Rally Relevan di 2025? Kalau kamu perhatikan

Rekonsiliasi Bank adalah: Pentingnya di Era Digital 2025
28/08/2025
Rekonsiliasi Bank adalah: Pentingnya di Era Digital 2025

Dari Pencatatan Manual ke Era Digital Dulu, rekonsiliasi bank dianggap

28/08/2025
Rollover adalah: Definisi, Cara Kerja, & Risiko 2025
28/08/2025
Rollover adalah: Definisi, Cara Kerja, & Risiko 2025

Dari Istilah Biasa Jadi Strategi Finansial Kalau kamu pernah dengar

28/08/2025