Disaster Recovery: Sistem Penyelamat Saat Server Down
icon search
icon search

Top Performers

Disaster Recovery: Sistem Penyelamat Saat Server Down

Home / Artikel & Tutorial / judul_artikel

Disaster Recovery: Sistem Penyelamat Saat Server Down

Disaster Recovery Sistem Penyelamat Saat Server Down

Daftar Isi

Bayangkan kamu sedang membuka aplikasi keuangan, memantau harga aset crypto, atau melakukan transaksi penting. Tiba-tiba halaman tidak bisa dimuat, tombol login gagal merespons, dan notifikasi error muncul berulang kali. Dalam hitungan menit, pengguna mulai bertanya-tanya apakah sistem sedang bermasalah, apakah data mereka aman, atau apakah transaksi yang baru saja dilakukan berhasil tercatat.

Situasi seperti ini tidak hanya terjadi pada aplikasi kecil. Platform besar, layanan cloud, bank digital, e-commerce, hingga sistem trading pun bisa mengalami gangguan. Penyebabnya beragam, mulai dari lonjakan traffic, kerusakan server, kesalahan konfigurasi, serangan siber, sampai kegagalan data center.

Namun, ada satu hal yang membedakan platform yang siap menghadapi krisis dengan platform yang tidak siap, yaitu kemampuan untuk pulih dengan cepat. Di balik proses pemulihan itu, ada konsep penting bernama disaster recovery.

Disaster recovery bukan sekadar istilah teknis milik tim IT. Konsep ini semakin relevan karena hampir semua aktivitas digital bergantung pada sistem yang harus terus tersedia. Saat server down, disaster recovery menjadi mekanisme penyelamat agar data, aplikasi, dan layanan bisa kembali berjalan secepat mungkin.

 

Apa Itu Disaster Recovery?

Disaster recovery adalah strategi, proses, dan sistem yang disiapkan untuk memulihkan layanan digital setelah terjadi gangguan besar. Gangguan ini bisa berupa server down, database rusak, serangan ransomware, kegagalan jaringan, atau bencana yang membuat sistem utama tidak bisa digunakan.

Secara sederhana, disaster recovery bekerja seperti rencana cadangan saat sesuatu yang utama gagal. Jika listrik utama mati, gedung yang punya generator cadangan tetap bisa menyala. Jika server utama bermasalah, sistem yang punya disaster recovery bisa mengalihkan layanan ke server cadangan atau memulihkan data dari infrastruktur lain.

Fokus utama disaster recovery bukan hanya menyimpan data, tetapi memastikan sistem bisa kembali beroperasi. Inilah yang membuat disaster recovery berbeda dari backup biasa. Backup hanya menjawab pertanyaan, “Apakah data masih tersimpan?” Sementara disaster recovery menjawab pertanyaan yang lebih besar, yaitu “Seberapa cepat layanan bisa hidup lagi setelah gangguan terjadi?”

Dalam praktiknya, disaster recovery mencakup beberapa elemen penting seperti backup data, server cadangan, failover, disaster recovery center, pemulihan database, serta prosedur teknis yang harus dijalankan ketika insiden terjadi. Semakin kompleks sebuah platform, semakin penting pula sistem pemulihan yang dimilikinya.

Ketika layanan digital sudah menjadi bagian dari aktivitas harian, downtime tidak lagi dianggap sebagai gangguan kecil. Beberapa menit server down bisa berdampak pada transaksi, kepercayaan pengguna, dan reputasi platform.

 

Kenapa Disaster Recovery Semakin Penting di Era Digital?

Aktivitas digital saat ini bergerak sangat cepat. Orang bisa melakukan pembayaran, trading, belanja, mengirim dokumen, menyimpan data, dan mengakses layanan finansial hanya lewat aplikasi. Semua itu membuat sistem digital harus selalu siap digunakan, bahkan ketika traffic sedang tinggi atau terjadi gangguan teknis.

Masalahnya, tidak ada sistem yang benar-benar bebas risiko. Server bisa mengalami overload ketika terlalu banyak pengguna masuk bersamaan. Database bisa error karena konfigurasi yang salah. Layanan cloud bisa terganggu. Serangan siber bisa membuat sistem tidak bisa diakses. Bahkan kesalahan manusia yang terlihat kecil pun bisa memicu downtime besar jika menyentuh komponen inti.

Bagi pengguna, server down biasanya hanya terlihat sebagai aplikasi yang tidak bisa dibuka. Namun, bagi perusahaan, dampaknya bisa jauh lebih luas. Transaksi bisa tertunda, data bisa tidak sinkron, customer support bisa banjir keluhan, dan kepercayaan pengguna bisa turun dalam waktu singkat.

Di sektor finansial dan crypto, risiko ini terasa lebih besar karena aktivitas pengguna berjalan hampir tanpa jeda. Harga aset bisa berubah cepat, market bisa bergerak dalam hitungan detik, dan pengguna membutuhkan akses yang stabil untuk mengambil keputusan. Ketika sistem tidak bisa diakses, rasa panik bisa muncul lebih cepat dibandingkan layanan digital biasa.

Karena itu, disaster recovery menjadi bagian dari fondasi keandalan platform. Bukan hanya untuk menghadapi bencana besar, tetapi juga untuk menjaga agar gangguan teknis tidak berubah menjadi krisis yang merusak kepercayaan pengguna.

Dari sini, kamu bisa melihat bahwa disaster recovery bukan hanya soal teknologi cadangan. Ia berkaitan langsung dengan rasa aman, kelancaran operasional, dan kemampuan sebuah platform untuk tetap bertahan saat kondisi sedang tidak ideal.

 

Apa Saja Gangguan yang Bisa Menyebabkan Server Down?

Server down bisa terjadi karena banyak hal. Tidak semua gangguan berasal dari hacker, dan tidak semua error berarti sistem diserang. Dalam banyak kasus, downtime muncul karena kombinasi antara beban sistem, kesalahan teknis, dan kurangnya kesiapan infrastruktur.

Salah satu penyebab yang sering terjadi adalah overload traffic. Ketika terlalu banyak pengguna mengakses aplikasi secara bersamaan, server bisa kewalahan memproses permintaan. Hal ini sering muncul saat ada momen besar, seperti lonjakan market, campaign besar, pengumuman penting, atau kepanikan pengguna yang membuat traffic naik tiba-tiba.

Selain itu, kerusakan hardware juga bisa menjadi pemicu. Server fisik, storage, router, atau komponen jaringan memiliki batas usia dan risiko gagal fungsi. Jika tidak ada sistem cadangan, kerusakan satu komponen bisa membuat layanan ikut berhenti.

Human error juga menjadi salah satu faktor yang sering diremehkan. Kesalahan saat update sistem, salah konfigurasi database, deployment yang belum matang, atau penghapusan file penting bisa menyebabkan gangguan besar. Dalam infrastruktur digital yang kompleks, satu perubahan kecil bisa berdampak luas jika tidak diuji dengan baik.

Gangguan lain yang semakin serius adalah serangan siber. Ransomware, misalnya, bisa mengunci data dan membuat sistem tidak bisa digunakan. Serangan DDoS dapat membanjiri server dengan traffic palsu sampai layanan sulit diakses oleh pengguna asli. Ada juga risiko pencurian data, perubahan file sistem, atau manipulasi akses yang membuat pemulihan menjadi lebih rumit.

Bencana fisik juga tetap perlu diperhitungkan. Kebakaran, banjir, pemadaman listrik besar, gangguan koneksi internet, atau masalah pada data center bisa membuat sistem utama tidak berfungsi. Platform yang hanya bergantung pada satu lokasi infrastruktur akan lebih rentan mengalami single point of failure ketika lokasi tersebut bermasalah.

Ancaman-ancaman ini menunjukkan bahwa server down bukan kejadian tunggal dengan satu penyebab sederhana. Karena risikonya beragam, strategi pemulihannya juga harus dirancang secara menyeluruh.

 

GooglXIDR - XStocks 2

 

Cara Kerja Disaster Recovery Saat Sistem Mengalami Gangguan

Disaster recovery tidak bekerja seperti tombol ajaib yang langsung memperbaiki semua masalah. Ia berjalan melalui kombinasi sistem teknis, prosedur pemulihan, dan keputusan operasional yang sudah disiapkan sebelum gangguan terjadi.

Ketika sistem mendeteksi adanya masalah, langkah pertama biasanya adalah mengidentifikasi sumber gangguan. Tim teknis perlu memastikan apakah masalah berasal dari server, database, jaringan, aplikasi, atau pihak ketiga seperti layanan cloud dan payment gateway. Deteksi yang cepat sangat menentukan seberapa cepat pemulihan bisa dimulai.

Setelah sumber masalah diketahui, sistem cadangan bisa mulai diaktifkan. Dalam skenario tertentu, layanan dapat dialihkan ke server lain melalui mekanisme failover. Jika server utama tidak bisa digunakan, server cadangan mengambil alih agar pengguna tetap bisa mengakses layanan.

Failover menjadi salah satu elemen penting dalam disaster recovery. Mekanisme ini memungkinkan sistem berpindah dari infrastruktur utama ke infrastruktur cadangan. Pada platform yang dirancang dengan baik, proses ini bisa berlangsung otomatis atau semi-otomatis, tergantung tingkat kompleksitas dan kebijakan perusahaan.

Selain failover, backup dan replication juga punya peran besar. Backup adalah salinan data yang dibuat secara berkala. Sementara replication adalah proses menyalin data ke sistem lain secara lebih dekat dengan waktu nyata. Jika backup membantu menyelamatkan data, replication membantu menjaga agar data di sistem cadangan tetap mendekati kondisi terbaru.

Di level infrastruktur yang lebih besar, perusahaan bisa menggunakan disaster recovery center atau lokasi cadangan. Lokasi ini menyimpan sistem, server, atau data yang bisa digunakan ketika pusat utama bermasalah. Ada juga pendekatan multi-region, yaitu menyebar infrastruktur ke beberapa lokasi agar gangguan di satu area tidak langsung melumpuhkan seluruh layanan.

Cara kerja disaster recovery yang efektif biasanya tidak hanya mengandalkan satu lapisan perlindungan. Backup, replication, failover, monitoring, prosedur incident response, dan pengujian rutin harus berjalan bersama. Tanpa pengujian, rencana pemulihan bisa terlihat bagus di dokumen, tetapi gagal ketika benar-benar dibutuhkan.

Dengan memahami cara kerja ini, terlihat jelas bahwa disaster recovery bukan hanya tentang menyimpan salinan data. Tujuan akhirnya adalah menghidupkan kembali sistem agar pengguna bisa kembali mengakses layanan dengan aman.

 

Apa Bedanya Backup Data dan Disaster Recovery?

Backup data dan disaster recovery sering dianggap sama, padahal keduanya punya fungsi yang berbeda. Backup adalah proses menyimpan salinan data agar bisa dipulihkan jika data utama rusak, hilang, atau tidak sengaja terhapus. Disaster recovery memiliki cakupan yang lebih luas karena berfokus pada pemulihan operasional sistem secara menyeluruh.

Agar lebih mudah, bayangkan backup seperti menyimpan dokumen penting di tempat aman. Jika dokumen asli hilang, kamu masih punya salinannya. Namun, disaster recovery tidak berhenti di sana. Ia juga memastikan tempat kerja, perangkat, akses, dan sistem pendukung bisa digunakan lagi setelah terjadi gangguan.

Dalam konteks server, backup memang sangat penting. Tanpa backup, data yang hilang bisa sulit atau bahkan mustahil dikembalikan. Namun, backup saja tidak selalu cukup untuk membuat layanan langsung hidup kembali. Data bisa saja aman, tetapi aplikasi belum bisa berjalan. Database bisa dipulihkan, tetapi koneksi ke server masih bermasalah. File cadangan tersedia, tetapi proses restore memakan waktu lama.

Di sinilah disaster recovery menjadi lebih lengkap. Ia mengatur bagaimana data dipulihkan, di mana sistem cadangan dijalankan, siapa yang bertanggung jawab, berapa lama pemulihan harus selesai, dan bagaimana layanan dikembalikan ke pengguna.

Perbedaan ini penting karena banyak orang merasa aman hanya karena punya backup. Padahal, ketika gangguan besar terjadi, pertanyaan utamanya bukan hanya “apakah data masih ada?” tetapi juga “kapan layanan bisa digunakan lagi?”

Platform digital yang matang biasanya tidak memisahkan backup dan disaster recovery. Backup menjadi salah satu bagian dari strategi disaster recovery yang lebih besar. Dengan begitu, data tetap aman dan layanan tetap punya jalur pemulihan yang jelas.

 

Kenapa Disaster Recovery Sangat Penting untuk Platform Crypto?

Platform crypto memiliki karakter yang berbeda dari banyak layanan digital lain. Market crypto berjalan 24 jam, harga aset bergerak cepat, dan pengguna bisa melakukan aktivitas kapan saja. Dalam kondisi seperti ini, stabilitas sistem menjadi bagian penting dari pengalaman pengguna.

Ketika platform crypto mengalami server down, dampaknya tidak hanya sebatas pengguna gagal login. Ada potensi transaksi tertunda, order tidak tereksekusi sesuai harapan, deposit atau withdrawal membutuhkan pengecekan tambahan, hingga muncul kekhawatiran tentang keamanan saldo. Walaupun tidak semua gangguan berarti aset pengguna bermasalah, persepsi pengguna bisa berubah cepat saat akses ke platform terputus.

Sistem crypto exchange juga terdiri dari banyak komponen. Ada matching engine untuk mempertemukan order beli dan jual, sistem wallet untuk deposit dan withdrawal, database user, sistem keamanan, API, hingga monitoring transaksi. Jika salah satu komponen inti bermasalah, pengalaman pengguna bisa terganggu.

Disaster recovery membantu platform crypto memiliki jalur pemulihan ketika komponen utama mengalami gangguan. Misalnya, jika server utama tidak stabil, traffic bisa dialihkan ke infrastruktur cadangan. Jika database mengalami masalah, data bisa dipulihkan dari backup atau replication. Jika traffic melonjak saat market sedang volatile, sistem cadangan dapat membantu mengurangi tekanan pada infrastruktur utama.

Hal ini juga berkaitan dengan digital trust. Pengguna crypto membutuhkan platform yang tidak hanya aman dari sisi akun, tetapi juga andal dari sisi operasional. Keamanan tidak lagi hanya soal password, two-factor authentication, atau perlindungan akun. Keamanan juga mencakup kemampuan platform untuk menjaga layanan tetap berjalan dan memulihkan sistem saat terjadi gangguan.

Karena itu, disaster recovery menjadi bagian dari kesiapan teknis yang penting bagi platform crypto. Bukan untuk menjanjikan bahwa gangguan tidak akan pernah terjadi, tetapi untuk memastikan bahwa ketika gangguan muncul, sistem punya cara yang jelas untuk pulih.

 

Apakah Disaster Recovery Bisa Mencegah Semua Server Down?

Disaster recovery tidak membuat sistem menjadi kebal dari gangguan. Server tetap bisa down, aplikasi tetap bisa error, dan layanan digital tetap bisa mengalami masalah. Tidak ada infrastruktur yang benar-benar sempurna, apalagi ketika sistem melibatkan banyak komponen, vendor, jaringan, database, dan pengguna dalam jumlah besar.

Namun, disaster recovery membuat dampak gangguan bisa ditekan. Tanpa disaster recovery, sebuah platform bisa membutuhkan waktu lama untuk memahami masalah, mencari data cadangan, menyiapkan server pengganti, lalu memulihkan layanan secara manual. Dengan disaster recovery, jalur pemulihan sudah disiapkan sejak awal.

Dalam disaster recovery, ada dua istilah yang sering digunakan, yaitu Recovery Time Objective dan Recovery Point Objective. Recovery Time Objective atau RTO adalah target waktu maksimal untuk memulihkan sistem setelah gangguan terjadi. Jika sebuah platform menetapkan RTO satu jam, artinya sistem dirancang agar bisa kembali berjalan dalam rentang waktu tersebut.

Sementara Recovery Point Objective atau RPO berkaitan dengan seberapa banyak data yang masih dapat ditoleransi untuk hilang berdasarkan titik pemulihan terakhir. Jika RPO ditetapkan lima menit, maka sistem berusaha memastikan data cadangan tidak tertinggal terlalu jauh dari kondisi terbaru.

Dua konsep ini membantu perusahaan memahami risiko secara lebih konkret. Semakin kecil RTO dan RPO, semakin cepat sistem harus pulih dan semakin sedikit data yang boleh tertinggal. Namun, semakin ketat targetnya, semakin kompleks dan mahal juga infrastruktur yang dibutuhkan.

Jadi, disaster recovery bukan janji bahwa server tidak akan pernah down. Fungsinya adalah membuat platform lebih siap, lebih terukur, dan lebih cepat pulih ketika gangguan terjadi. Bagi pengguna, kesiapan seperti ini sangat penting karena layanan digital sudah menjadi bagian dari aktivitas harian.

 

Kesimpulan

Disaster recovery adalah fondasi penting dalam menjaga keandalan sistem digital. Ia tidak hanya berhubungan dengan server, backup, atau data center, tetapi juga dengan kepercayaan pengguna terhadap sebuah platform.

Saat server down, pengguna biasanya hanya melihat layar error. Namun, di balik layar, ada banyak proses yang menentukan apakah layanan bisa pulih dalam hitungan menit, jam, atau bahkan lebih lama. Di sinilah disaster recovery berperan sebagai sistem penyelamat.

Backup data memang penting, tetapi backup saja tidak cukup. Platform digital membutuhkan strategi pemulihan yang jelas, mulai dari failover, replication, disaster recovery center, hingga prosedur teknis yang sudah diuji. Tanpa itu, data mungkin masih tersimpan, tetapi layanan belum tentu bisa kembali berjalan dengan cepat.

Bagi industri crypto, disaster recovery semakin relevan karena aktivitas pengguna berlangsung tanpa jeda. Harga bergerak cepat, transaksi berjalan real-time, dan kepercayaan pengguna sangat bergantung pada stabilitas platform. Ketika sistem bermasalah, pemulihan yang cepat bisa menjadi pembeda antara gangguan sementara dan krisis kepercayaan.

Keamanan digital tidak hanya bicara tentang mencegah serangan. Keamanan juga bicara tentang kesiapan ketika gangguan terjadi. Disaster recovery membantu platform tetap punya arah pemulihan saat kondisi sedang tidak ideal, sehingga layanan bisa kembali berjalan dan pengguna tetap merasa aman.

 

FAQ

1. Apa tujuan utama disaster recovery?

Tujuan utama disaster recovery adalah memulihkan sistem, data, aplikasi, dan layanan digital setelah terjadi gangguan besar. Fokusnya bukan hanya menyelamatkan data, tetapi juga memastikan layanan bisa kembali digunakan secepat mungkin.

Dalam platform digital, disaster recovery membantu mengurangi downtime, menjaga kepercayaan pengguna, dan meminimalkan kerugian akibat sistem yang tidak bisa diakses. Semakin cepat sistem pulih, semakin kecil dampak gangguan terhadap pengguna dan operasional.

2. Apa beda disaster recovery dan backup data?

Backup data adalah proses menyimpan salinan data agar bisa dipulihkan jika data utama rusak atau hilang. Disaster recovery memiliki cakupan yang lebih luas karena mencakup strategi untuk mengembalikan seluruh layanan digital agar bisa berjalan lagi.

Backup bisa dianggap sebagai salah satu bagian dari disaster recovery. Namun, disaster recovery juga mencakup server cadangan, failover, replication, prosedur pemulihan, dan target waktu pemulihan sistem.

3. Apa itu failover dalam disaster recovery?

Failover adalah proses pengalihan layanan dari sistem utama ke sistem cadangan saat terjadi gangguan. Jika server utama tidak bisa digunakan, sistem cadangan mengambil alih agar layanan tetap bisa berjalan.

Dalam disaster recovery, failover membantu mengurangi downtime. Mekanisme ini sangat berguna untuk platform yang membutuhkan akses stabil, seperti aplikasi finansial, layanan cloud, e-commerce, dan platform crypto.

4. Kenapa platform crypto membutuhkan disaster recovery?

Platform crypto membutuhkan disaster recovery karena aktivitasnya berjalan 24 jam dan melibatkan transaksi real-time. Saat server down, pengguna bisa kesulitan login, melakukan trading, memantau harga, atau mengakses fitur deposit dan withdrawal.

Disaster recovery membantu platform crypto memiliki jalur pemulihan saat terjadi gangguan. Dengan sistem cadangan yang baik, risiko downtime panjang bisa ditekan dan kepercayaan pengguna lebih terjaga.

5. Apakah semua perusahaan digital memiliki disaster recovery?

Tidak semua perusahaan digital memiliki disaster recovery dengan kualitas yang sama. Perusahaan kecil mungkin hanya mengandalkan backup sederhana, sementara platform besar biasanya membutuhkan strategi pemulihan yang lebih kompleks.

Kebutuhan disaster recovery bergantung pada skala layanan, jumlah pengguna, jenis data, risiko bisnis, dan seberapa besar dampak downtime terhadap operasional. Semakin kritikal sebuah layanan, semakin besar kebutuhan untuk memiliki disaster recovery yang matang.

6. Apa itu disaster recovery center?

Disaster recovery center adalah lokasi atau infrastruktur cadangan yang digunakan untuk memulihkan sistem ketika pusat utama mengalami gangguan. Lokasi ini bisa berupa data center lain, cloud region berbeda, atau lingkungan server cadangan yang sudah disiapkan.

Fungsi disaster recovery center adalah memberi jalur alternatif agar layanan tidak sepenuhnya bergantung pada satu lokasi. Jika sistem utama bermasalah, layanan bisa dipindahkan atau dipulihkan melalui infrastruktur cadangan tersebut.

7. Apa yang terjadi jika disaster recovery gagal?

Jika disaster recovery gagal, downtime bisa berlangsung lebih lama. Dampaknya bisa berupa layanan tidak bisa diakses, transaksi tertunda, data sulit dipulihkan, dan reputasi platform menurun.

Pada layanan digital yang sensitif seperti fintech atau crypto, kegagalan pemulihan bisa memicu kepanikan pengguna. Karena itu, disaster recovery perlu diuji secara berkala agar rencana yang tertulis benar-benar bisa berjalan saat dibutuhkan.

 

Itulah informasi menarik tentang Disaster Recovery yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.

Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.

 

Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.

Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!

Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.

 

Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]

 

Follow Sosmed Twitter Indodax sekarang

Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram

 

 

Author : RB

DISCLAIMER:  Segala bentuk transaksi aset kripto memiliki risiko dan berpeluang untuk mengalami kerugian. Tetap berinvestasi sesuai riset mandiri sehingga bisa meminimalisir tingkat kehilangan aset kripto yang ditransaksikan (Do Your Own Research/ DYOR). Informasi yang terkandung dalam publikasi ini diberikan secara umum tanpa kewajiban dan hanya untuk tujuan informasi saja. Publikasi ini tidak dimaksudkan untuk, dan tidak boleh dianggap sebagai, suatu penawaran, rekomendasi, ajakan atau nasihat untuk membeli atau menjual produk investasi apa pun dan tidak boleh dikirimkan, diungkapkan, disalin, atau diandalkan oleh siapa pun untuk tujuan apa pun.
  

Lebih Banyak dari Tutorial

Pelajaran Dasar

Calculate Staking Rewards with INDODAX earn

Select an option
dot Polkadot 2.25%
bnb BNB 0.52%
sol Solana 4.62%
eth Ethereum 2.32%
ada Cardano 1.02%
pol Polygon Ecosystem Token 1.87%
trx Tron 2.75%
DOT
0
Berdasarkan harga & APY saat ini
Stake Now

Pasar

Nama Harga 24H Chg
DLC/IDR
Diverge Lo
463
104.87%
PIPPIN/IDR
Pippin
460
67.88%
SOLAYER/IDR
Solayer
1.555
51.71%
DODO/IDR
DODO
903
38.5%
BEAT/IDR
Audiera
75.845
35.09%
Nama Harga 24H Chg
KUNCI/IDR
Kunci Coin
1
-50%
STIK/IDR
Staika
437
-41.89%
CHT/IDR
CyberHarbo
2
-33.33%
EPIC/IDR
Epic Chain
8.934
-27.37%
GNO/IDR
Gnosis
1.601K
-23.79%
Apakah artikel ini membantu?

Beri nilai untuk artikel ini

You already voted!
Artikel Terkait

Temukan lebih banyak artikel berdasarkan topik yang diminati.

Cara Mencairkan USDT ke Rupiah, Ternyata Semudah Ini
03/06/2026
Cara Mencairkan USDT ke Rupiah, Ternyata Semudah Ini

Punya USDT tapi bingung cara mengubahnya menjadi Rupiah? Situasi ini

03/06/2026
Cara Mendapatkan Centang Hijau di WhatsApp Business Resmi
02/06/2026
Cara Mendapatkan Centang Hijau di WhatsApp Business Resmi

Bagi pemilik bisnis, WhatsApp bukan lagi sekadar aplikasi untuk membalas

02/06/2026
5 Cara Memulai Investasi Cryptocurrency untuk Gen Z
29/05/2026
5 Cara Memulai Investasi Cryptocurrency untuk Gen Z

Di era digital seperti sekarang, semakin banyak Gen Z yang

29/05/2026