Fear Of Missing Out
icon search
icon search

Top Performers

Home / Kamus / judul_artikel

Fear Of Missing Out

3 indodax indodax academy glossary poster Fear Of Missing Out FOMO e1591180287715

FOMO adalah singkatan dari “Fear Of Missing Out.” Konsep ini pertama kali dijelaskan pada tahun 2000 oleh Dr. Dan Herman dalam makalah akademis berjudul “The Journal of Brand Management.” Namun, akronim FOMO diciptakan beberapa tahun kemudian oleh Patrick McGinnis dalam sebuah opini yang diterbitkan pada tahun 2004 di majalah Amerika “The Harbus.”

Konsep ini mengacu pada perasaan cemas atau gagasan bahwa orang lain berbagi pengalaman positif atau unik saat kita melewatkannya. Ini adalah fenomena yang cukup umum di media sosial, dengan feed dari orang lain yang sering menyoroti dan menekankan bagian positif dan bermanfaat dari kehidupan mereka, membuat pembaca merasa sedih atau tidak memadai dengan pengalaman mereka sendiri.

Dalam konteks pasar keuangan dan perdagangan, FOMO mengacu pada ketakutan yang dirasakan pedagang atau investor karena kehilangan peluang investasi atau perdagangan yang berpotensi menguntungkan. Perasaan FOMO sangat lazim ketika aset naik nilainya secara signifikan dalam waktu yang relatif singkat. Ini memiliki potensi bagi seorang individu (dan komunitas pasar secara keseluruhan) untuk membuat keputusan pasar berdasarkan emosi (takut ketinggalan) alih-alih logika dan penalaran. Ini sangat berbahaya bagi investor ritel yang tidak disiplin, karena sering kali dapat menyebabkan situasi di mana perdagangan dilakukan untuk aset yang terlalu mahal, menimbulkan risiko kerugian finansial yang jauh lebih besar.

Berikut ini adalah 3 tips agar tidak FOMO dalam berinvestasi :

1. Kelola resiko

Mengelola risiko adalah langkah penting dalam mencegah FOMO dalam berinvestasi. Pengelolaan risiko yang matang bisa menjadi pengaman supaya kerugian yang kita alami tidak terlalu parah.

2. Membuat jurnal trading 

Jurnal setiap orang memang akan berbeda-beda, tergantung tujuan investasi masing-masing. Jurnal atau catatan untuk aktivitas jual beli aset kripto dapat membantumu memantau setiap aktivitas dan mengevaluasinya. Dengan begitu, kita menjadi lebih sadar apa saja konsekuensi yang mungkin terjadi.

3. Bijak dalam menggunakan media sosial 

Media sosial bisa membantu para investor. Namun, ketika sudah merasa ketinggalan terus dari yang lain, kita juga harus hati-hati. Jangan cuma mengandalkan informasi dari media sosial sebagai acuan untuk berinvestasi. Kalian bisa lebih banyak belajar mengenai aset kripto di Indodax Academy!

Apakah artikel ini membantu?

Beri nilai untuk artikel ini

You already voted!