Lisa Su: Pemimpin AMD di Tengah Perang Chip AI
icon search
icon search

Top Performers

Lisa Su: Pemimpin AMD di Tengah Perang Chip AI

Home / Artikel & Tutorial / judul_artikel

Lisa Su: Pemimpin AMD di Tengah Perang Chip AI

Lisa Su Pemimpin AMD di Tengah Perang Chip AI

Daftar Isi

Nama Lisa Su makin sering muncul ketika pembahasan beralih ke persaingan chip AI yang kini menjadi pusat perhatian industri teknologi global. Buat banyak orang, Lisa Su mungkin masih dikenal sebagai CEO AMD. Namun di titik persaingan industri saat ini, posisinya jauh lebih besar dari sekadar eksekutif perusahaan semikonduktor. Ia menjadi salah satu tokoh yang ikut menentukan bagaimana peta persaingan AI dibentuk, dari data center, GPU, hingga arah komputasi beberapa tahun ke depan.

Itulah kenapa sosok ini menarik dibahas dalam artikel edukatif. Saat banyak nama besar di industri chip lebih dulu menempati panggung utama, Lisa Su justru membangun reputasinya lewat kerja panjang, eksekusi yang disiplin, dan keputusan strategis yang membuat AMD kembali relevan. Dari perusahaan yang dulu sempat tertinggal, AMD berubah menjadi lawan serius bagi Intel di CPU dan mulai menekan Nvidia di area chip AI. Transformasi itu tidak lahir dari satu produk, melainkan dari serangkaian keputusan yang konsisten.

Karena itu, memahami Lisa Su bukan cuma soal mengenal profil seorang CEO. Ada cerita tentang kepemimpinan, strategi bisnis, inovasi semikonduktor, dan pertarungan besar di industri AI yang semuanya saling terhubung.

 

Siapa Lisa Su dan Kenapa Namanya Banyak Dibicarakan?

Lisa Su adalah Chair dan CEO AMD, perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat yang memproduksi prosesor, GPU, dan berbagai solusi komputasi berkinerja tinggi. Ia mulai memimpin AMD sebagai CEO pada 2014, ketika perusahaan itu berada dalam posisi yang tidak mudah. Sejak saat itu, namanya terus naik karena ia berhasil membawa AMD keluar dari fase berat dan mengubahnya menjadi pemain yang kembali diperhitungkan di industri chip.

Alasan kenapa nama Lisa Su sekarang banyak dibicarakan juga tidak lepas dari perubahan lanskap teknologi. Dulu, pembahasan soal AMD lebih sering berkisar pada persaingannya melawan Intel di prosesor. Kini konteksnya jauh lebih luas. AMD ikut bermain dalam perlombaan chip AI, data center, dan infrastruktur komputasi masa depan. Saat pasar melihat siapa tokoh yang berani menantang dominasi pemain besar di sektor ini, nama Lisa Su otomatis masuk ke daftar terdepan.

Di situ letak bedanya. Kalau banyak artikel hanya berhenti pada fakta bahwa ia CEO AMD, pembacaan yang lebih dalam menunjukkan bahwa Lisa Su sekarang adalah salah satu wajah utama dari pertarungan komputasi modern. Dari sinilah pembahasan tentang latar belakang dan perjalanan hidupnya jadi penting, karena arah kepemimpinannya tidak lahir begitu saja.

 

Latar Belakang dan Pendidikan Lisa Su

Lisa Su lahir di Tainan, Taiwan, pada 7 November 1969, lalu pindah ke Amerika Serikat saat masih kecil. Latar belakang ini sering disebut ketika orang membahas perjalanan kariernya, tetapi yang lebih menarik sebenarnya adalah bagaimana ia tumbuh dengan minat yang kuat pada sains dan teknik. Ketertarikannya pada dunia rekayasa tidak berhenti di level teori, melainkan terus berkembang sampai menjadi fondasi karier profesionalnya.

Ia menempuh pendidikan di Massachusetts Institute of Technology atau MIT, salah satu kampus teknik paling bergengsi. Di sana, Lisa Su meraih gelar sarjana, magister, dan doktor di bidang electrical engineering. Jejak akademiknya menunjukkan bahwa ia tidak datang ke industri chip semata sebagai manajer bisnis, melainkan sebagai orang yang benar-benar memahami inti teknologinya. Hal ini penting karena industri semikonduktor bukan bidang yang bisa dijalankan hanya dengan narasi besar. Eksekusi produk, desain chip, arsitektur, dan efisiensi manufaktur membutuhkan pemahaman teknis yang dalam.

Latar pendidikan inilah yang kemudian membentuk gaya kepemimpinannya. Ia dikenal tidak banyak mengandalkan sensasi. Pendekatannya cenderung presisi, disiplin, dan fokus pada apa yang bisa dieksekusi. Dari kampus teknik yang ketat, ia masuk ke industri yang bahkan lebih keras. Maka sesudah melihat fondasi akademiknya, langkah berikutnya adalah memahami bagaimana kariernya berkembang sebelum akhirnya memimpin AMD.

 

Perjalanan Karier hingga Menjadi CEO AMD

Karier Lisa Su tidak dibangun dalam semalam. Sebelum masuk AMD, ia sudah menempuh jalur panjang di industri teknologi. Ia pernah bekerja di IBM dan terlibat dalam pengembangan teknologi semikonduktor, termasuk area silicon-on-insulator yang punya peran penting dalam efisiensi dan performa chip. Pengalaman itu membentuk reputasinya sebagai sosok yang kuat secara teknis sekaligus memahami arah industri.

Setelah itu, ia juga menempati posisi penting di Texas Instruments dan Freescale Semiconductor. Dari sini terlihat bahwa Lisa Su tidak bergerak acak. Jalur kariernya konsisten berada di pusat perkembangan chip dan komputasi. Ia memahami bagaimana produk dibangun, bagaimana bisnis teknologi berjalan, dan bagaimana keputusan teknis bisa memengaruhi posisi perusahaan di pasar.

Lisa Su bergabung dengan AMD pada 2012. Pada fase ini, AMD belum berada di posisi yang nyaman. Perusahaan menghadapi tekanan besar, baik dari sisi persaingan produk maupun persepsi pasar. Dua tahun kemudian, pada 2014, Lisa Su ditunjuk sebagai CEO. Penunjukan itu bukan sekadar pergantian kursi pimpinan. Di mata banyak pengamat, AMD saat itu seperti perusahaan yang sedang mencari jalan keluar dari tekanan berkepanjangan.

Agar dampak kepemimpinannya terasa jelas, kita memang perlu melihat titik awal AMD ketika ia datang. Tanpa konteks itu, transformasi yang terjadi setelahnya akan terlihat seperti pertumbuhan biasa, padahal kenyataannya jauh lebih dramatis.

 

Kondisi AMD Sebelum Dipimpin Lisa Su

Sebelum Lisa Su memimpin, AMD berada dalam fase sulit. Nama perusahaan ini memang sudah dikenal lama sebagai pesaing Intel, tetapi posisinya terus melemah. Pangsa pasar tertekan, performa produk tidak selalu meyakinkan, dan kepercayaan investor juga tidak sedang tinggi. Di banyak pembahasan industri saat itu, AMD lebih sering dilihat sebagai pihak yang tertinggal daripada penantang serius.

Masalahnya bukan cuma satu. Dalam bisnis semikonduktor, ketertinggalan produk bisa cepat menjalar menjadi masalah bisnis yang lebih besar. Ketika produk tidak cukup kompetitif, margin tertekan. Ketika margin tertekan, ruang untuk berinvestasi dalam riset dan pengembangan ikut menyempit. Siklus seperti ini bisa membuat perusahaan makin sulit mengejar lawan yang sudah lebih dulu unggul.

AMD saat itu berada dekat dengan lingkaran masalah semacam itu. Karena itulah banyak orang kemudian menyebut masa kepemimpinan Lisa Su sebagai salah satu contoh turnaround paling menonjol di industri teknologi. Namun turnaround tidak pernah terjadi hanya karena pergantian CEO. Yang menentukan adalah strategi apa yang diambil setelah itu, dan di titik inilah nama Lisa Su mulai benar-benar meninggalkan jejak.

 

Strategi Lisa Su Mengubah AMD dari Tertinggal Jadi Pesaing

Salah satu kekuatan terbesar Lisa Su adalah kemampuannya memilih prioritas. Ia tidak mencoba memperbaiki semuanya sekaligus dengan cara yang gaduh. Langkahnya cenderung fokus, tetapi tajam. AMD diarahkan untuk kembali serius pada pengembangan produk berkinerja tinggi, terutama CPU dan kemudian GPU, sambil membangun fondasi bisnis yang lebih disiplin.

Perubahan besar terlihat ketika AMD mulai mendorong lini prosesor Ryzen dan arsitektur yang lebih kompetitif. Di sini, strategi Lisa Su bukan cuma soal meluncurkan produk baru, melainkan memastikan AMD kembali punya identitas yang kuat di pasar. Konsumen, gamer, pengembang, sampai perusahaan data center mulai melihat AMD sebagai pilihan yang benar-benar layak, bukan sekadar alternatif murah.

Yang membuat transformasi ini menarik adalah ritmenya. Lisa Su tidak menjual janji besar tanpa hasil. Ia membangun reputasi AMD lewat eksekusi yang bertahap tapi konsisten. Satu produk yang membaik membuka ruang bagi produk berikutnya. Kinerja yang membaik mulai mengubah persepsi pasar. Persepsi pasar yang berubah memberi napas lebih panjang bagi AMD untuk terus berinvestasi. Dari situ, perusahaan yang dulu tampak tertinggal perlahan kembali masuk ke percakapan utama industri.

Tetapi persaingan teknologi tidak pernah berhenti di satu arena. Setelah AMD berhasil memperkuat pijakan di CPU, medan tempur bergeser ke area yang jauh lebih panas: perang chip AI.

 

Perang Chip AI: AMD vs Nvidia vs Intel

Beberapa tahun terakhir, pusat gravitasi industri semikonduktor berpindah semakin dekat ke AI. Bukan berarti CPU kehilangan arti, tetapi pertumbuhan terbesar, perhatian investor, dan narasi masa depan semuanya banyak mengarah ke chip AI, GPU, akselerator, serta infrastruktur data center. Di sinilah persaingan AMD, Nvidia, dan Intel dibaca dengan cara yang berbeda dibanding era sebelumnya.

Nvidia masih menjadi nama yang paling dominan dalam percakapan AI. Ekosistemnya kuat, produknya lebih dulu tertanam dalam banyak sistem, dan posisinya sangat menonjol di pasar data center. Intel juga tetap punya pengaruh besar, terutama karena sejarah panjangnya di prosesor dan infrastruktur komputasi. Namun AMD datang dengan pendekatan yang tidak bisa lagi dianggap kecil. Perusahaan ini terus mendorong lini Instinct, EPYC, dan strategi komputasi berkinerja tinggi untuk merebut ruang di pasar AI.

Di tengah persaingan itu, Lisa Su tidak mengambil posisi sebagai komentator. Ia menempatkan AMD sebagai perusahaan yang siap menantang dominasi lama. Ini penting, karena perang chip AI bukan cuma soal siapa yang punya chip paling cepat. Ada persoalan kapasitas komputasi, efisiensi energi, ekosistem software, ketersediaan memori, supply chain, dan kemampuan menjalin kemitraan strategis. Semua itu menjadikan peran seorang CEO jauh lebih besar dari sekadar urusan presentasi produk.

Lalu 2026 datang dengan tekanan baru sekaligus peluang baru. Di sinilah langkah-langkah terbaru Lisa Su membuat pembahasannya menjadi jauh lebih relevan untuk artikel edukatif hari ini.

 

Langkah Terbaru Lisa Su di Era AI pada 2026

Sepanjang 2026, posisi Lisa Su di panggung teknologi makin kuat karena AMD secara terbuka menegaskan ambisinya di AI. Pada CES 2026, Lisa Su mempresentasikan arah AMD dengan pesan yang jelas: AI tidak lagi hanya milik laboratorium, melainkan bergerak ke mana-mana, dari data center sampai perangkat yang dipakai sehari-hari. Dalam konteks ini, ia tidak hanya bicara soal produk, tetapi juga soal skala perubahan yang sedang terjadi.

AMD memperkenalkan pembaruan penting dalam portofolio AI-nya, termasuk Instinct MI455X dan platform Helios untuk kebutuhan komputasi skala besar. Pesan yang ingin dibangun AMD terasa tegas, yaitu bahwa perusahaan ini ingin menjadi pemain utama dalam infrastruktur AI, bukan sekadar penonton yang mengejar tren. Arah tersebut memperkuat posisi Lisa Su sebagai pemimpin yang sedang membawa AMD lebih dalam ke wilayah yang selama ini identik dengan Nvidia.

Yang menarik, narasi yang dibangun Lisa Su juga tidak sempit. Ia berbicara tentang AI untuk lebih banyak orang, bukan hanya untuk perusahaan raksasa. Di saat yang sama, ia juga menekankan era komputasi skala sangat besar, termasuk kebutuhan daya komputasi yang melonjak tajam dalam beberapa tahun ke depan. Ini membuat pembahasan tentang dirinya tidak lagi berhenti di level profil tokoh, tetapi masuk ke wilayah visi industri.

Pergerakannya juga terlihat di luar panggung presentasi. Pada Maret 2026, sorotan pasar tertuju pada kunjungannya ke Korea Selatan dan perkembangan kerja sama AMD dengan Samsung terkait memori HBM untuk chip AI generasi berikutnya. Langkah ini memperlihatkan satu hal penting: perang chip AI tidak hanya ditentukan oleh desain GPU, tetapi juga oleh akses ke komponen penting dalam rantai pasok. Seorang pemimpin yang ingin menang di sektor ini harus memahami teknologi sekaligus geopolitik manufaktur.

Dengan kata lain, Lisa Su sedang memimpin AMD di dua front sekaligus. Satu front ada di level produk dan performa. Front lain berada di level ekosistem, kemitraan, dan pasokan komponen. Setelah melihat manuver ini, pembahasan selanjutnya jadi lebih luas: seberapa besar dampak kepemimpinannya bagi industri teknologi secara keseluruhan.

 

Dampak Kepemimpinan Lisa Su ke Industri Teknologi

Dampak kepemimpinan Lisa Su terasa setidaknya di tiga lapisan. Lapisan pertama adalah persaingan. Dengan bangkitnya AMD, pasar chip tidak lagi sesederhana dominasi tunggal beberapa nama besar. Konsumen, perusahaan, dan pengembang punya lebih banyak pilihan. Dalam industri teknologi, pilihan seperti ini sering kali berujung pada percepatan inovasi karena tiap pemain dipaksa bergerak lebih cepat.

Lapisan kedua adalah perubahan persepsi terhadap AMD. Dulu, AMD kerap ditempatkan sebagai opsi kedua. Sekarang perusahaan itu berdiri sebagai salah satu nama penting dalam high-performance computing, data center, dan AI. Perubahan citra seperti ini bukan urusan branding semata. Ia memengaruhi kemitraan bisnis, kepercayaan pasar, minat talenta terbaik, sampai keberanian perusahaan lain untuk membangun solusi di atas ekosistem AMD.

Lapisan ketiga adalah relevansi yang lebih luas terhadap infrastruktur digital. Ketika AI berkembang, kebutuhan komputasi ikut naik. Itu berdampak pada data center, cloud, riset ilmiah, otomasi industri, sampai sektor-sektor yang membutuhkan daya olah besar. Bahkan jika dilihat dari jarak yang lebih lebar, perkembangan chip AMD juga punya hubungan tidak langsung dengan area seperti blockchain, mining, dan infrastruktur komputasi yang menopang ekonomi digital. Jadi, pembahasan tentang Lisa Su sebenarnya ikut menyentuh masa depan sistem teknologi yang lebih besar.

Sesudah melihat dampaknya ke industri, ada sisi lain yang juga menarik untuk dibahas. Sosok seperti Lisa Su tidak hanya relevan karena jabatannya, tetapi juga karena detail-detail personal dan profesional yang membuat namanya terus menonjol.

 

Fakta Menarik tentang Lisa Su

Salah satu fakta yang paling sering menarik perhatian publik adalah hubungan keluarganya dengan Jensen Huang, CEO Nvidia. Keduanya disebut memiliki hubungan kekerabatan, dan fakta ini membuat persaingan AMD dan Nvidia terasa makin menarik di mata publik. Bukan karena persaingan itu berubah menjadi drama personal, melainkan karena dua tokoh dengan pengaruh besar di industri chip datang dari lingkar keluarga yang sama.

Selain itu, Lisa Su juga sering disebut sebagai salah satu pemimpin perempuan paling berpengaruh di industri teknologi dan semikonduktor. Penyebutan ini bukan lahir dari simbolisme semata. Reputasinya dibangun oleh hasil kerja yang nyata, terutama karena ia berhasil memimpin perubahan besar di AMD dalam industri yang terkenal keras dan sangat teknis.

Hal lain yang menonjol adalah gaya kepemimpinannya. Dibanding figur teknologi yang gemar tampil dengan narasi bombastis, Lisa Su cenderung lebih tenang, terukur, dan fokus pada eksekusi. Gaya seperti ini justru membuatnya semakin kuat di mata investor dan pengamat industri, karena hasilnya terlihat langsung pada perkembangan AMD dari tahun ke tahun.

Dari semua itu, muncul pertanyaan yang lebih relevan untuk pembaca: apa yang sebenarnya bisa dipetik dari perjalanan Lisa Su, selain kekaguman pada kariernya?

 

Apa yang Bisa Kamu Pelajari dari Lisa Su?

Hal pertama yang terasa dari perjalanan Lisa Su adalah pentingnya fokus. Ia tidak mencoba membuat AMD menang di semua lini dalam waktu singkat. Ia memilih medan yang bisa dimenangkan, memperbaiki fondasi, lalu mendorong perusahaan naik sedikit demi sedikit sampai kembali punya posisi tawar yang kuat.

Hal kedua adalah kedalaman pemahaman. Dalam industri yang rumit seperti semikonduktor, pemimpin yang hanya kuat di narasi sering tidak cukup. Lisa Su menunjukkan bahwa kombinasi antara kemampuan teknis, disiplin strategi, dan ketahanan eksekusi bisa menghasilkan perubahan besar. Ini memberi pelajaran bahwa kepemimpinan bukan cuma soal tampil meyakinkan, tetapi juga soal memahami substansi dari keputusan yang diambil.

Hal ketiga adalah kemampuan membaca arah zaman. Lisa Su tidak berhenti ketika AMD berhasil bangkit di CPU. Ia membawa AMD masuk lebih dalam ke high-performance computing dan AI saat industri mulai bergeser ke sana. Ini menunjukkan bahwa mempertahankan kemenangan sering kali lebih sulit daripada meraihnya. Untuk tetap relevan, perusahaan harus terus menyesuaikan arah tanpa kehilangan identitas.

Dari sini, kita bisa melihat bahwa pembahasan tentang Lisa Su sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang lebih besar dari satu nama. Ia berbicara tentang bagaimana teknologi, strategi, dan kepemimpinan bertemu dalam satu momentum industri yang sangat menentukan.

 

Kesimpulan

Lisa Su bukan sekadar CEO AMD yang sukses memperbaiki performa perusahaan. Ia adalah figur yang memimpin AMD saat industri chip memasuki fase paling menentukan dalam beberapa tahun terakhir. Dari kebangkitan AMD melawan Intel hingga dorongan baru untuk menantang Nvidia di pasar AI, perannya terus berada di pusat perubahan.

Yang membuat sosoknya penting bukan hanya gelarnya, melainkan konteks di sekelilingnya. Ia memimpin perusahaan yang dulu sempat dipandang tertinggal, lalu membawanya kembali ke arena persaingan global dengan strategi yang terukur. Kini saat AI menjadi medan tempur utama di industri teknologi, Lisa Su berdiri sebagai salah satu tokoh yang ikut membentuk arahnya.

Itu sebabnya nama Lisa Su layak dibahas bukan cuma sebagai profil tokoh teknologi, tetapi sebagai pintu masuk untuk memahami bagaimana perang chip AI, masa depan komputasi, dan persaingan industri semikonduktor sedang berlangsung hari ini.

 

FAQ

1. Siapa Lisa Su?

Lisa Su adalah Chair dan CEO AMD, perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat. Ia dikenal luas karena berhasil membawa AMD bangkit dari masa sulit dan menjadikannya kembali kompetitif di pasar prosesor, GPU, dan chip AI.

2. Lisa Su CEO perusahaan apa?

Lisa Su memimpin AMD atau Advanced Micro Devices. Perusahaan ini bergerak di bidang semikonduktor dan mengembangkan berbagai produk seperti prosesor Ryzen, EPYC, GPU Radeon, serta chip AI untuk data center.

3. Kenapa Lisa Su terkenal di industri teknologi?

Ia terkenal karena memimpin salah satu turnaround paling menonjol di industri teknologi. Saat AMD berada dalam posisi berat, Lisa Su mengarahkan perusahaan untuk fokus pada produk berkinerja tinggi dan strategi jangka panjang hingga akhirnya kembali menjadi pesaing serius di industri chip.

4. Apa hubungan Lisa Su dengan Nvidia?

Lisa Su tidak bekerja di Nvidia, tetapi ia sering dikaitkan dengan perusahaan itu karena AMD bersaing langsung dengan Nvidia di pasar GPU dan chip AI. Nama keduanya juga sering dibahas bersamaan karena Lisa Su dan Jensen Huang disebut memiliki hubungan keluarga.

5. Apa peran AMD dalam industri AI saat ini?

AMD sedang memperkuat posisinya dalam industri AI melalui GPU Instinct, prosesor EPYC, dan platform komputasi untuk data center. Di bawah Lisa Su, AMD berupaya menjadi salah satu pemain utama dalam infrastruktur AI, terutama untuk kebutuhan komputasi berskala besar.

 

Itulah informasi menarik tentang Lisa Su yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.

Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.

 

Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.

Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!

Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.

 

Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]

 

Follow Sosmed Twitter Indodax sekarang

Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram

 

 

Author : RB

DISCLAIMER:  Segala bentuk transaksi aset kripto memiliki risiko dan berpeluang untuk mengalami kerugian. Tetap berinvestasi sesuai riset mandiri sehingga bisa meminimalisir tingkat kehilangan aset kripto yang ditransaksikan (Do Your Own Research/ DYOR). Informasi yang terkandung dalam publikasi ini diberikan secara umum tanpa kewajiban dan hanya untuk tujuan informasi saja. Publikasi ini tidak dimaksudkan untuk, dan tidak boleh dianggap sebagai, suatu penawaran, rekomendasi, ajakan atau nasihat untuk membeli atau menjual produk investasi apa pun dan tidak boleh dikirimkan, diungkapkan, disalin, atau diandalkan oleh siapa pun untuk tujuan apa pun.
  

Lebih Banyak dari Blockchain

Pelajaran Dasar

Calculate Staking Rewards with INDODAX earn

Select an option
dot Polkadot 2.25%
bnb BNB 0.52%
sol Solana 4.62%
eth Ethereum 2.32%
ada Cardano 1.02%
pol Polygon Ecosystem Token 1.87%
trx Tron 2.75%
DOT
0
Berdasarkan harga & APY saat ini
Stake Now

Pasar

Nama Harga 24H Chg
BICO/IDR
Biconomy
1.060
70.69%
CBG/IDR
Chainbing
10
66.67%
DEFI/IDR
DeFi
5
66.67%
ALICE/IDR
MyNeighbou
3.000
61.03%
UW3S/IDR
Utility We
4
33.33%
Nama Harga 24H Chg
DVI/IDR
Dvision Ne
2
-33.33%
ACT/IDR
Act I : Th
166
-20.19%
MYX/IDR
MYX Financ
2.195
-18.85%
JTO/IDR
Jito
12.001
-14.7%
RDNT/IDR
Radiant Ca
12
-14.29%
Apakah artikel ini membantu?

Beri nilai untuk artikel ini

You already voted!
Artikel Terkait

Temukan lebih banyak artikel berdasarkan topik yang diminati.

Monad vs Solana: Mana Lebih Kuat di Dunia Crypto?
19/06/2026
Monad vs Solana: Mana Lebih Kuat di Dunia Crypto?

Dinamika blockchain Layer-1 dalam beberapa tahun terakhir berkembang sangat cepat.

19/06/2026
Duel Maut S&P 500 vs Bitcoin, Mana Lebih Untung?
19/06/2026
Duel Maut S&P 500 vs Bitcoin, Mana Lebih Untung?

Dunia investasi modern punya dua kubu yang sama-sama yakin bahwa

19/06/2026
Cara Cek Tipe HP dan Kelayakan untuk Trading
19/06/2026
Cara Cek Tipe HP dan Kelayakan untuk Trading

Banyak orang memakai HP setiap hari tanpa benar-benar memahami perangkat

19/06/2026