Pada 2022, jaringan Ronin yang digunakan oleh game blockchain Axie Infinity mengalami peretasan besar. Lebih dari USD 600 juta aset kripto dicuri dalam satu serangan.
Investigasi menunjukkan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh kelompok peretas yang dikenal sebagai Lazarus Group, sebuah kelompok yang sering dikaitkan dengan operasi siber berskala besar. Dalam keamanan siber, pihak seperti ini disebut threat actor.
Istilah threat actor digunakan untuk menggambarkan individu atau kelompok yang melakukan aktivitas berbahaya terhadap sistem komputer, jaringan, atau data digital.
Target mereka beragam, mulai dari perusahaan teknologi, lembaga keuangan, hingga pengguna individu. Motivasinya juga tidak selalu sama—ada yang mencari keuntungan finansial, ada yang melakukan spionase, dan ada pula yang bertujuan merusak sistem.
Memahami siapa threat actor dan bagaimana mereka bekerja menjadi penting, terutama ketika aktivitas digital dan transaksi aset kripto semakin meningkat.
Apa Itu Threat Actor?
Threat actor adalah pihak yang melakukan atau mencoba melakukan serangan terhadap sistem digital. Mereka dapat memanfaatkan berbagai teknik untuk mengeksploitasi kelemahan teknologi maupun kesalahan manusia.
Serangan tidak selalu dilakukan dengan teknik peretasan kompleks. Banyak kasus justru dimulai dari metode sederhana seperti phishing email, situs palsu, atau rekayasa sosial.
Dalam situasi seperti ini, pelaku mencoba memancing korban agar memberikan informasi sensitif, seperti kata sandi atau akses akun.
Threat actor dapat bekerja secara individu, tetapi dalam banyak kasus mereka beroperasi dalam kelompok yang terorganisir.
Beberapa kelompok bahkan memiliki struktur seperti organisasi profesional, lengkap dengan pembagian tugas, pengembang malware, hingga tim yang bertugas mencuci hasil kejahatan.
Jenis-Jenis Threat Actor
Threat actor tidak hanya berasal dari satu kategori. Dalam praktik keamanan siber, terdapat beberapa tipe pelaku yang memiliki karakteristik berbeda.
Cybercriminal
Cybercriminal merupakan kelompok yang paling sering ditemukan. Tujuan utama mereka adalah keuntungan finansial. Mereka biasanya menargetkan sistem pembayaran digital, kartu kredit, atau akun pengguna yang memiliki nilai ekonomi.
Dalam ekosistem kripto, cybercriminal sering menggunakan metode phishing untuk mencuri akses dompet digital.
Situs palsu yang meniru platform kripto juga menjadi taktik yang sering digunakan. Ketika korban memasukkan informasi akun, data tersebut langsung dikirim ke pelaku.
Selain itu, malware juga sering digunakan untuk mencuri data dari perangkat korban.
Hacktivist
Hacktivist adalah kelompok yang melakukan serangan siber karena alasan ideologi atau politik. Target mereka biasanya organisasi yang dianggap bertentangan dengan pandangan mereka.
Serangan hacktivist sering berupa kebocoran data, perusakan tampilan situs web, atau gangguan layanan online. Tujuan utamanya bukan keuntungan finansial, melainkan menyampaikan pesan tertentu kepada publik.
Insider Threat
Ancaman tidak selalu datang dari luar organisasi. Dalam beberapa kasus, serangan justru berasal dari orang dalam yang memiliki akses ke sistem.
Karyawan, mantan karyawan, atau kontraktor dapat menjadi insider threat jika mereka menyalahgunakan akses yang dimiliki. Karena sudah memiliki akses resmi, aktivitas mereka sering lebih sulit dideteksi dibandingkan serangan dari luar.
Beberapa insiden kebocoran data besar di perusahaan teknologi terjadi akibat insider threat.
Nation-State Actor
Beberapa serangan siber dilakukan oleh kelompok yang memiliki dukungan pemerintah. Kelompok ini sering disebut nation-state actor.
Operasi mereka biasanya berkaitan dengan spionase, sabotase, atau kepentingan geopolitik. Serangan yang dilakukan juga cenderung lebih kompleks karena didukung sumber daya besar dan tim ahli keamanan siber.
Dalam beberapa kasus, kelompok seperti ini juga pernah dikaitkan dengan pencurian aset kripto untuk mendanai aktivitas tertentu.
Script Kiddie
Script kiddie adalah individu yang menggunakan alat peretasan yang sudah tersedia di internet tanpa memahami sepenuhnya cara kerjanya. Mereka biasanya hanya menjalankan program atau skrip yang dibuat oleh peretas lain.
Walaupun kemampuan teknisnya terbatas, script kiddie tetap dapat menimbulkan gangguan jika sistem yang mereka targetkan memiliki keamanan yang lemah.
Threat Actor dan Risiko di Ekosistem Kripto
Aset kripto menjadi target menarik bagi threat actor karena nilainya yang tinggi dan sifat transaksinya yang cepat. Ketika sebuah transaksi berhasil dilakukan, proses pembatalan hampir tidak mungkin dilakukan.
Beberapa metode yang sering digunakan untuk menargetkan pengguna kripto antara lain phishing, malware, dan situs tiruan yang meniru layanan resmi.
Contohnya adalah serangan yang menargetkan pengguna dompet kripto melalui email palsu yang terlihat seperti pemberitahuan keamanan. Ketika korban mengikuti instruksi dalam email tersebut, mereka tanpa sadar memberikan akses ke akun mereka.
Selain pengguna individu, platform kripto juga dapat menjadi target serangan. Peretasan terhadap infrastruktur platform dapat menyebabkan kerugian besar jika sistem keamanan tidak cukup kuat.
Mengurangi Risiko Serangan Siber
Tidak ada sistem yang sepenuhnya kebal dari serangan siber, tetapi risiko dapat dikurangi dengan langkah keamanan yang tepat.
Salah satu langkah penting adalah menjaga keamanan akun dengan kata sandi yang kuat dan autentikasi dua faktor. Langkah sederhana ini dapat mencegah banyak upaya akses ilegal.
Selain itu, pengguna juga perlu berhati-hati terhadap tautan atau situs yang mencurigakan. Banyak serangan berhasil terjadi karena korban tidak menyadari bahwa mereka sedang berinteraksi dengan situs palsu.
Memperbarui perangkat lunak secara berkala juga penting karena banyak serangan memanfaatkan celah keamanan pada sistem yang sudah usang.
Kesadaran keamanan digital menjadi kunci utama dalam menghadapi aktivitas threat actor.
Kesimpulan
Threat actor bukan sekadar istilah teknis dalam keamanan siber. Di balik istilah tersebut terdapat individu, kelompok kriminal, hingga organisasi yang secara aktif mencari celah dalam sistem digital.
Aktivitas mereka tidak selalu dimulai dari serangan kompleks; sering kali justru berasal dari kelemahan sederhana seperti kata sandi yang lemah, email palsu yang terlihat meyakinkan, atau kebiasaan pengguna yang kurang waspada.
Dalam beberapa tahun terakhir, pola serangan juga mengalami perubahan. Banyak threat actor tidak lagi bergantung sepenuhnya pada eksploitasi teknis tingkat tinggi.
Sebaliknya, mereka memanfaatkan faktor manusia—melalui rekayasa sosial, phishing, atau manipulasi psikologis—karena metode ini sering lebih efektif daripada meretas sistem secara langsung.
Hal ini menjadi semakin relevan ketika aset digital seperti kripto semakin banyak digunakan. Nilai ekonomi yang besar, transaksi yang cepat, dan akses global membuat ekosistem ini menarik bagi pelaku serangan siber.
Dalam konteks tersebut, keamanan tidak hanya bergantung pada teknologi platform, tetapi juga pada keputusan pengguna sehari-hari: bagaimana seseorang mengelola akses akun, memverifikasi informasi, dan mengenali potensi penipuan.
Memahami bagaimana threat actor beroperasi membantu kita melihat keamanan digital secara lebih realistis.
Ancaman siber bukan sesuatu yang hanya terjadi pada perusahaan besar atau lembaga pemerintah. Banyak insiden justru dimulai dari target individu yang dianggap lebih mudah ditembus.
Karena itu, pendekatan terbaik bukan sekadar mengandalkan sistem keamanan, tetapi juga membangun kebiasaan digital yang lebih sadar risiko. Ketika pengguna memahami cara kerja ancaman, ruang gerak threat actor menjadi jauh lebih terbatas.
Itulah informasi menarik tentang Tutorial yang bisa kamu dalami lebih lanjut di kumpulan artikel kripto dari Indodax Academy. Selain mendapatkan insight mendalam lewat berbagai artikel edukasi crypto terpopuler, kamu juga bisa memperluas wawasan lewat kumpulan tutorial serta memilih dari beragam artikel populer yang sesuai minatmu.
Selain update pengetahuan, kamu juga bisa langsung pantau harga aset digital di Indodax Market dan ikuti perkembangan terkini lewat berita crypto terbaru. Untuk pengalaman trading lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading dari Indodax. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu nggak ketinggalan informasi penting seputar blockchain, aset kripto, dan peluang trading lainnya.
Kamu juga bisa ikutin berita terbaru kami lewat Google News agar akses informasi lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan aset kripto kamu dengan fitur INDODAX staking crypto, cara praktis buat dapetin penghasilan pasif dari aset yang disimpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
FAQ
- Apakah threat actor selalu peretas dengan kemampuan teknis tinggi?
Tidak selalu. Beberapa serangan siber yang paling berhasil justru tidak membutuhkan teknik peretasan yang rumit. Banyak threat actor memanfaatkan rekayasa sosial, seperti email phishing atau situs tiruan, yang bertujuan memancing korban agar memberikan akses secara sukarela. - Mengapa banyak serangan siber menargetkan individu, bukan perusahaan besar?
Individu sering dianggap sebagai titik masuk yang lebih mudah. Akun pribadi, perangkat yang kurang terlindungi, atau kebiasaan digital yang kurang hati-hati dapat memberikan akses awal bagi pelaku untuk melakukan serangan lebih lanjut. - Apakah transaksi kripto membuat serangan siber lebih menarik bagi pelaku?
Ya. Aset kripto memiliki nilai ekonomi tinggi dan transaksi yang bersifat langsung. Ketika akses ke dompet digital berhasil diperoleh, aset dapat dipindahkan dengan cepat, sehingga menarik bagi threat actor yang mencari keuntungan finansial. - Bagaimana cara membedakan situs kripto asli dan situs phishing?
Perhatikan alamat situs secara detail, gunakan bookmark untuk mengakses platform resmi, dan hindari masuk melalui tautan dari email atau pesan yang tidak jelas sumbernya. Banyak situs phishing terlihat hampir identik dengan layanan asli. - Apakah autentikasi dua faktor benar-benar efektif mencegah serangan?
Autentikasi dua faktor tidak membuat akun sepenuhnya kebal, tetapi dapat secara signifikan mengurangi risiko akses ilegal. Banyak serangan yang gagal ketika pelaku tidak dapat melewati lapisan verifikasi tambahan ini.
Author: ON





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


