Ketika orang membahas aset kripto, perhatian biasanya langsung tertuju pada harga, volatilitas, atau prediksi kenaikan dalam beberapa tahun ke depan. Padahal, ada satu hal yang jauh lebih penting sebelum membahas potensi harga, yaitu fundamental dalam memahami apa itu kripto secara menyeluruh. Dari sini kamu bisa melihat apakah sebuah aset memang punya fungsi yang jelas, dipakai untuk kebutuhan nyata, dan memiliki alasan kuat untuk tetap relevan di tengah persaingan yang makin padat.
XRP menjadi contoh yang menarik karena sejak awal posisinya memang berbeda. Jika Bitcoin sering dipandang sebagai aset penyimpan nilai dan Ethereum identik dengan ekosistem smart contract, XRP lebih sering dikaitkan dengan efisiensi transfer nilai lintas negara terutama jika dilihat dalam perbandingan XRP vs Bitcoin dari sisi fungsi. Fokus inilah yang membuat pembahasan fundamental XRP tidak bisa disamakan begitu saja dengan aset kripto lain.
Di sisi lain, XRP juga selalu berada di tengah perdebatan. Ada yang menilai utilitasnya kuat karena punya fungsi konkret dalam sistem pembayaran, tetapi ada juga yang mengkritik struktur distribusi token, kedekatannya dengan Ripple, hingga persoalan regulasi yang sempat membayangi perjalanannya. Karena itu, memahami fundamental XRP tidak cukup hanya berhenti di definisi. Kamu perlu melihat bagaimana aset ini bekerja, apa fungsi utamanya, di mana letak kekuatannya, dan risiko apa yang tetap harus diperhitungkan.
Apa Itu XRP?
XRP adalah aset digital native dari XRP Ledger, yaitu blockchain publik yang dirancang untuk memproses transaksi secara cepat, murah, dan efisien, sebagaimana konsep dasar dalam apa itu blockchain. XRP Ledger sendiri diposisikan sebagai jaringan yang fokus pada perpindahan nilai, bukan sekadar tempat menyimpan aset digital. XRPL menjelaskan bahwa jaringannya bersifat publik, dijalankan komunitas global, dan sudah beroperasi lebih dari satu dekade dengan biaya transaksi rendah serta performa tinggi.
Dari titik ini, penting untuk membedakan XRP dengan Ripple, termasuk memahami lebih dulu apa itu Ripple dalam ekosistem kripto. Keduanya sering dianggap sama, padahal sebenarnya tidak identik. XRP adalah aset digitalnya, sedangkan Ripple adalah perusahaan teknologi finansial yang mengembangkan berbagai solusi pembayaran berbasis blockchain untuk institusi. Ripple saat ini memosisikan diri sebagai penyedia infrastruktur keuangan modern, mencakup pembayaran, custody, stablecoin, dan layanan bisnis lain yang berhubungan dengan aset digital.
Perbedaan ini penting karena banyak salah kaprah dalam membaca fundamental XRP. Ada yang hanya melihat XRP dari sisi tokennya, ada juga yang langsung menghubungkannya dengan seluruh aktivitas perusahaan Ripple. Padahal, untuk membaca fundamental dengan lebih jernih, kamu perlu memisahkan antara peran asetnya, fungsi jaringannya, dan posisi perusahaan yang ikut membangun ekosistem di sekitarnya.
Kalau Bitcoin lahir dengan narasi uang digital yang tidak bergantung pada otoritas pusat, XRP muncul dengan pendekatan yang lebih pragmatis. Aset ini dirancang untuk mendukung perpindahan dana yang cepat dan hemat biaya, terutama dalam konteks pembayaran lintas negara. Karena itu, pembahasan fundamental XRP hampir selalu berkaitan dengan utilitas, efisiensi transaksi, dan peluang adopsi di sektor keuangan, terutama sebagai bagian dari kategori apa itu altcoin.
Fungsi XRP dalam Sistem Keuangan
Kalau kamu ingin memahami inti dari fundamental XRP, jawabannya ada pada fungsi. XRP tidak dibangun terutama untuk menjadi “emas digital”, melainkan untuk membantu proses perpindahan nilai agar lebih cepat dan lebih efisien. Di sinilah XRP sering disebut sebagai bridge asset, yaitu aset perantara yang dapat dipakai untuk menjembatani pertukaran dua mata uang yang berbeda.
Logikanya sederhana. Dalam sistem pembayaran lintas negara tradisional, transaksi sering melibatkan banyak perantara, waktu tunggu yang panjang, serta biaya yang tidak kecil. XRP mencoba mengatasi masalah ini dengan menyediakan aset yang dapat dikirim dengan cepat di atas jaringan blockchain, lalu dikonversi kembali ke mata uang tujuan. Dengan begitu, kebutuhan akan likuiditas yang tersebar di banyak negara bisa ditekan.
Fungsi seperti ini menjadi lebih relevan ketika dikaitkan dengan solusi bisnis Ripple. Perusahaan itu sejak lama mendorong layanan pembayaran berbasis blockchain dan sempat memperluas penggunaan On-Demand Liquidity, atau ODL, sebagai solusi yang memanfaatkan aset kripto untuk mendukung pembayaran internasional. Ripple sendiri pernah menjelaskan ekspansi ODL ke berbagai pasar payout global, yang menunjukkan arah utilitas XRP sebagai bagian dari infrastruktur pembayaran lintas batas.
Karena itu, ketika orang bertanya apa fungsi XRP, jawaban paling akurat bukan sekadar “alat pembayaran”. Fungsi XRP lebih spesifik daripada itu. Aset ini punya peran sebagai jembatan likuiditas yang dirancang untuk memangkas friksi dalam perpindahan dana antarnegara. Dari sini terlihat bahwa fundamental XRP bertumpu pada utilitas transaksi, bukan pada narasi kelangkaan seperti yang sering menempel pada Bitcoin.
Cara Kerja XRP Ledger
Setelah memahami fungsinya, langkah berikutnya adalah melihat bagaimana jaringan di belakang XRP bekerja. XRP Ledger tidak memakai mekanisme mining seperti Bitcoin. Tidak ada penambang yang berlomba memecahkan teka-teki komputasi untuk menambahkan blok baru. Sebagai gantinya, XRPL menggunakan mekanisme konsensus yang memungkinkan server independen memvalidasi transaksi dan menyepakati versi ledger terbaru. Dokumentasi XRPL menjelaskan bahwa jaringan peer-to-peer ini dijalankan oleh banyak server independen yang memproses transaksi dan mencapai konsensus mengenai ledger baru.
Bagi pengguna awam, perbedaan teknis ini terasa dalam dua hal yang paling nyata, yaitu kecepatan dan biaya. XRP Ledger dikenal mampu memproses transaksi dengan cepat, biasanya hanya dalam hitungan beberapa detik, dengan biaya yang sangat kecil. Selain itu, biaya transaksi di XRPL bukan diberikan kepada validator, melainkan dibakar sebagai mekanisme perlindungan dari spam. Dokumentasi resmi XRPL menjelaskan bahwa transaction cost adalah sejumlah kecil XRP yang dihancurkan untuk membantu melindungi ledger dari serangan spam.
Dari sudut pandang fundamental, ini adalah poin penting. Jaringan yang cepat dan murah membuat XRP punya landasan teknis yang sesuai dengan fungsi utamanya sebagai alat perpindahan nilai. Kalau sebuah aset ingin dipakai dalam konteks pembayaran, maka infrastruktur di belakangnya memang harus efisien. Tidak cukup hanya punya nama besar atau komunitas yang ramai.
Meski begitu, sisi teknis ini juga sering memicu diskusi lain, yaitu soal derajat desentralisasi. Pendukung XRP menilai model konsensus XRPL tetap berjalan di jaringan publik yang dioperasikan banyak pihak. Sebaliknya, pengkritiknya menilai tingkat desentralisasinya tidak sekuat blockchain yang lahir dari filosofi permissionless murni seperti Bitcoin. Perdebatan ini belum benar-benar selesai, dan justru menjadi bagian dari analisis fundamental XRP itu sendiri.
Analisis Fundamental XRP dari Sisi Utilitas
Pada level paling dasar, fundamental sebuah aset kripto biasanya bisa dibaca dari pertanyaan sederhana: dipakai untuk apa, oleh siapa, dan apakah fungsi itu benar-benar dibutuhkan. Dalam kasus XRP, jawaban utamanya ada pada utilitas dalam perpindahan nilai.
XRP menarik karena tidak menjual mimpi yang terlalu abstrak. Ia hadir dengan proposisi yang cukup konkret, yaitu efisiensi transfer lintas negara. Selama masalah pembayaran global masih ada, ruang relevansi untuk XRP tetap terbuka. Ini membuat fundamental XRP punya pijakan yang lebih mudah dipahami dibanding proyek yang hanya hidup dari jargon teknologi tanpa kebutuhan pasar yang jelas.
Selain itu, arah penggunaan XRP juga tidak semata bertumpu pada pasar ritel. Sejak awal, narasi terkuatnya justru menyasar lembaga keuangan, penyedia pembayaran, dan kebutuhan likuiditas bisnis. Ini memberi warna berbeda dalam cara pasar membaca aset tersebut. Kalau sebagian aset kripto tumbuh karena komunitas retail dan hype, XRP lebih sering dinilai dari peluang integrasi ke sistem keuangan yang lebih besar.
Namun, di titik ini juga muncul batasannya. Utilitas yang jelas belum otomatis berarti adopsi masif. Di industri keuangan, keputusan integrasi teknologi tidak bergerak secepat sentimen pasar kripto. Ada faktor kepatuhan, risiko hukum, kesiapan infrastruktur, dan kepastian regulasi yang selalu ikut bermain. Artinya, utilitas XRP memang kuat sebagai fondasi, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada sejauh mana fungsi itu benar-benar diadopsi dalam skala luas.
Analisis Fundamental XRP dari Sisi Teknologi
Kalau utilitas adalah alasan mengapa XRP menarik, maka teknologi adalah alasan mengapa utilitas itu mungkin dijalankan. XRP Ledger dibangun untuk performa tinggi, biaya rendah, dan proses transaksi yang cepat. Ini bukan sekadar atribut tambahan, melainkan inti dari nilainya. Blockchain untuk pembayaran harus efisien. Kalau lambat dan mahal, seluruh proposisi nilainya akan runtuh.
XRPL sendiri menekankan performa tinggi, sustainability, dan biaya rendah sebagai keunggulan utamanya. Narasi ini konsisten dengan peran XRP sebagai alat perpindahan nilai yang ingin memangkas friksi dalam transaksi global.
Yang membuatnya relevan bukan cuma soal cepat atau murah, tetapi juga soal fokus. Banyak blockchain ingin menjadi segalanya sekaligus. XRP Ledger sejak lama lebih menonjol sebagai jaringan untuk value transfer. Fokus seperti ini bisa menjadi keunggulan karena membuat positioning-nya lebih jelas. Dalam SEO, kamu akan menyebutnya sebagai content intent yang spesifik. Dalam fundamental aset, logikanya mirip. Jaringan yang tahu apa masalah yang ingin diselesaikan biasanya lebih mudah dibaca nilainya.
Meski demikian, teknologi yang baik tetap tidak berdiri sendiri. Pasar tidak akan memberi premi besar hanya karena infrastrukturnya efisien. Ia juga harus punya ekosistem, kepercayaan, serta alur penggunaan yang terus bertumbuh. Maka, penilaian teknis terhadap XRP sebaiknya tidak dibaca secara terpisah, melainkan selalu dikaitkan dengan utilitas dan tingkat adopsinya.
Tokenomics XRP dan Pengaruhnya terhadap Fundamental
Tidak mungkin membahas fundamental XRP tanpa masuk ke tokenomics. Ini salah satu bagian yang paling sering memecah opini. Di satu sisi, XRP punya fungsi yang jelas. Di sisi lain, banyak investor tetap berhati-hati karena struktur pasokannya dianggap berbeda dari aset yang benar-benar terdesentralisasi dari awal.
Total pasokan XRP sejak awal ditetapkan sebesar 100 miliar token. Karakter ini membuat XRP berbeda dari Bitcoin yang mengandalkan proses mining dan suplai maksimum 21 juta koin. Dalam pandangan pendukung XRP, struktur ini memberi kepastian pasokan. Namun bagi pengkritiknya, model distribusi awal dan keterkaitan historis dengan Ripple membuat persepsi sentralisasi sulit dihilangkan.
Di sinilah analisis fundamental XRP menjadi lebih kompleks. Fundamental yang baik tidak hanya soal fungsi, tetapi juga soal bagaimana pasar memandang fairness distribusinya. Jika pasar percaya bahwa suplai dapat menjadi sumber tekanan jual atau terlalu dipengaruhi pihak tertentu, maka narasi utilitas yang kuat bisa tertahan oleh kekhawatiran struktural.
Meski begitu, tokenomics XRP tidak bisa dibaca secara hitam putih. Bagi sebagian pelaku pasar, yang terpenting justru bukan bagaimana token itu pertama kali diterbitkan, melainkan apakah aset tersebut tetap memiliki kegunaan yang relevan, likuiditas yang tinggi, dan posisi yang cukup kuat di pasar global. Karena itu, tokenomics XRP lebih tepat dibaca sebagai faktor penyeimbang. Ia tidak otomatis merusak fundamental, tetapi jelas memengaruhi cara orang menilainya.
Regulasi dan Dampaknya terhadap Fundamental XRP
Kalau ada satu faktor yang paling kuat membentuk persepsi pasar terhadap XRP selama beberapa tahun terakhir, jawabannya adalah regulasi. Kasus antara SEC dan Ripple membuat XRP tidak pernah dinilai hanya dari teknologinya. Setiap perkembangan hukum ikut memengaruhi sentimen, kepercayaan, dan peluang adopsinya.
SEC pada 2025 mengumumkan settlement framework untuk menyelesaikan perkara perdata terhadap Ripple dan para eksekutifnya, lalu pada 2025 juga mengumumkan joint stipulation of dismissal yang menghentikan appeal dan cross-appeal sehingga sengketa itu bergerak menuju penyelesaian. Dalam pernyataan SEC terkait perkara tersebut, dijelaskan pula bahwa putusan summary judgment sebelumnya menyatakan penjualan institusional XRP oleh Ripple melanggar Section 5, sementara secondary offers and sales tidak dinyatakan sebagai penawaran sekuritas yang sama.
Buat pembaca umum, inti yang perlu dipahami adalah ini: kejelasan regulasi sangat penting bagi fundamental XRP karena aset ini sejak awal diposisikan dekat dengan kebutuhan institusi dan infrastruktur pembayaran. Lembaga keuangan tidak akan nyaman mengadopsi teknologi jika status hukumnya terus diperdebatkan. Jadi, ketika tekanan regulasi mulai mereda, pasar cenderung menilai itu sebagai angin segar bagi prospek XRP.
Namun, ada hal yang tetap perlu dijaga agar pembahasannya tidak misleading. Regulasi yang lebih jelas bukan berarti semua tantangan selesai. Ia hanya mengurangi satu hambatan besar. Di luar itu, XRP masih harus membuktikan bahwa utilitasnya benar-benar diterjemahkan menjadi penggunaan yang konsisten dan bernilai ekonomi. Dengan kata lain, regulasi yang membaik memperkuat peluang fundamental, tetapi bukan satu-satunya penentu.
Apakah Fundamental XRP Bagus?
Pertanyaan ini sering muncul karena banyak orang ingin jawaban yang sederhana. Sayangnya, fundamental XRP tidak cocok dijawab dengan hitam atau putih. Lebih tepat kalau pertanyaannya diubah menjadi: bagus untuk konteks apa?
Kalau ukuran yang dipakai adalah utilitas pembayaran, efisiensi transaksi, dan peluang penggunaan dalam infrastruktur keuangan, maka fundamental XRP jelas punya kekuatan. Ia memiliki fungsi yang mudah dipahami, jaringan yang cepat, biaya rendah, serta positioning yang cukup unik dibanding aset lain. Belum banyak aset kripto besar yang identik dengan use case pembayaran lintas negara sejelas XRP. XRPL juga terus diposisikan sebagai blockchain publik berperforma tinggi, sementara Ripple pada 2026 masih aktif memperluas layanannya dan memperoleh milestone regulasi penting di Inggris untuk memperluas Ripple Payments.
Tetapi kalau ukuran yang dipakai adalah tingkat desentralisasi murni, distribusi token yang dianggap ideal, atau narasi store of value, maka sebagian orang akan menilai fundamental XRP tidak sekuat Bitcoin. Begitu juga bila fokusmu ada pada pertumbuhan ekosistem aplikasi seperti yang sering dilekatkan pada Ethereum, XRP mungkin tidak otomatis jadi pilihan utama.
Karena itu, menilai fundamental XRP harus dimulai dari posisi aset ini sendiri. XRP tidak sedang mencoba menjadi Bitcoin kedua, dan tidak sedang berlomba menjadi Ethereum versi lain. Ia berdiri di jalur yang berbeda. Kalau kamu memaksanya dinilai dengan kacamata aset lain, hasilnya pasti terasa janggal. Tapi kalau kamu menilainya sesuai fungsi aslinya, kamu akan melihat bahwa XRP memang punya fondasi yang cukup khas.
Fundamental XRP Dibanding Bitcoin dan Ethereum
Perbandingan dengan Bitcoin dan Ethereum sering muncul karena ketiganya sama-sama berada di lapisan atas pasar kripto. Walau begitu, fondasi mereka berbeda.
Bitcoin kuat pada narasi kelangkaan, keamanan jaringan, dan posisinya sebagai aset digital yang sering diperlakukan seperti penyimpan nilai. Ethereum kuat pada fleksibilitas, smart contract, dan kemampuannya menjadi fondasi bagi berbagai aplikasi terdesentralisasi. Sementara XRP menonjol karena efisiensi perpindahan nilai dan fokusnya pada pembayaran lintas batas.
Dari sini terlihat bahwa persaingannya sebenarnya tidak selalu berada di medan yang sama. Bitcoin tidak harus kalah agar XRP bisa relevan. Ethereum juga tidak harus melemah agar XRP punya ruang. Justru yang menarik dari XRP adalah kemampuannya bertahan dengan identitas yang berbeda. Dalam pasar kripto yang sering dipenuhi proyek dengan narasi mirip, diferensiasi seperti ini punya nilai tersendiri.
Pada saat yang sama, diferensiasi saja tidak cukup. Pasar tetap akan melihat hasil akhirnya. Apakah fungsi itu dipakai? Apakah jaringan berkembang? Apakah hambatan regulasi berkurang? Apakah pihak yang selama ini diharapkan menjadi pengguna utama benar-benar masuk? Semua pertanyaan itu akan terus menentukan apakah perbedaan XRP menjadi kekuatan atau malah membatasi ruang geraknya.
Risiko yang Tetap Harus Diperhatikan
Fundamental yang menarik bukan berarti bebas risiko. Justru aset dengan narasi kuat sering mengundang ekspektasi yang tinggi, dan di sinilah risiko mulai terasa.
Pertama, ada risiko persepsi sentralisasi. Walau XRP Ledger adalah jaringan publik dengan validator independen, hubungan historis XRP dengan Ripple masih membuat sebagian pelaku pasar merasa aset ini terlalu dekat dengan satu entitas. Persepsi seperti ini penting karena pasar tidak bergerak hanya berdasarkan fakta teknis, tetapi juga berdasarkan kepercayaan.
Kedua, ada risiko bahwa utilitas yang bagus tidak selalu diterjemahkan menjadi permintaan token yang sebanding dengan ekspektasi pasar. Ini adalah jebakan yang sering terjadi dalam aset utilitas. Produk dan teknologinya bisa masuk akal, tetapi pasar tokennya belum tentu bergerak sesuai logika yang sama.
Ketiga, persaingan juga tidak bisa diabaikan. Pasar pembayaran digital terus berubah. Stablecoin makin kuat, infrastruktur pembayaran tradisional ikut berbenah, dan berbagai jaringan blockchain lain juga ingin mengambil peran dalam transfer nilai global. Jadi, fundamental XRP memang menarik, tetapi ia tetap beroperasi di medan yang tidak mudah.
Semua itu membuat satu hal menjadi jelas: membaca fundamental XRP harus dilakukan dengan kepala dingin. Terlalu optimistis bisa membuat kamu menutup mata pada risiko. Terlalu skeptis juga bisa membuat kamu gagal melihat keunikan nilainya.
Kesimpulan
Fundamental XRP berdiri di atas tiga pilar utama: fungsi yang jelas, infrastruktur yang efisien, dan peluang penggunaan dalam sistem pembayaran global. Inilah yang membuat XRP terus relevan dibahas, bahkan ketika pasar kripto bergerak sangat cepat dan narasinya terus berganti. Di tengah banyak aset yang hidup dari hype sesaat, XRP punya sesuatu yang lebih konkret untuk diperdebatkan, yaitu utilitas.
Namun, kekuatan itu tidak datang tanpa bayangan. Tokenomics, persepsi sentralisasi, dan faktor regulasi membuat XRP selalu membawa ruang debat yang lebih besar dibanding aset yang narasinya lebih sederhana. Justru karena itulah analisis fundamental XRP terasa penting. Aset ini tidak cocok dipahami secara dangkal. Ia harus dibaca dari fungsi, teknologi, posisi pasar, serta konteks regulasinya sekaligus.
Pada akhirnya, XRP bukan aset yang menarik hanya karena harganya bisa naik atau turun. Ia menarik karena membawa pertanyaan yang lebih besar: apakah blockchain benar-benar bisa mengambil peran penting dalam infrastruktur perpindahan nilai global? Selama pertanyaan itu masih relevan, fundamental XRP akan tetap layak untuk dibahas.
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan fundamental XRP?
Fundamental XRP adalah penilaian terhadap kekuatan dasar aset ini, mulai dari fungsi, teknologi, utilitas, tokenomics, hingga faktor regulasi yang memengaruhi prospeknya. Jadi, pembahasannya bukan soal harga semata, tetapi soal apakah XRP memang punya alasan kuat untuk tetap relevan.
2. Apa fungsi utama XRP?
Fungsi utama XRP adalah membantu perpindahan nilai secara cepat dan efisien, terutama dalam konteks pembayaran lintas negara. Karena itu, XRP sering diposisikan sebagai bridge asset yang menjembatani pertukaran antar mata uang.
3. Apakah XRP sama dengan Ripple?
Tidak. XRP adalah aset digitalnya, sedangkan Ripple adalah perusahaan teknologi finansial yang mengembangkan berbagai solusi bisnis berbasis blockchain. Keduanya berkaitan, tetapi tidak identik.
4. Apakah fundamental XRP bagus untuk jangka panjang?
Fundamental XRP bisa dianggap menarik untuk jangka panjang jika kamu melihat nilainya dari utilitas pembayaran, efisiensi jaringan, dan peluang adopsi di sektor keuangan. Meski begitu, faktor regulasi, persepsi sentralisasi, dan persaingan tetap perlu diperhatikan.
5. Apa yang membuat XRP berbeda dari Bitcoin?
Bitcoin lebih kuat pada narasi penyimpan nilai dan kelangkaan aset, sedangkan XRP lebih menonjol dalam efisiensi transfer nilai. Jadi, keduanya punya fungsi utama yang berbeda dan tidak selalu tepat dibandingkan dengan ukuran yang sama.
6. Kenapa XRP sering dianggap kontroversial?
XRP sering dianggap kontroversial karena dua hal utama: hubungan historisnya dengan Ripple dan persoalan hukum yang pernah melibatkan SEC. Dua faktor ini membuat pembahasan XRP hampir selalu bersentuhan dengan isu sentralisasi dan regulasi.
7. Apakah teknologi XRP Ledger mendukung fundamental XRP?
Ya. XRP Ledger dirancang untuk transaksi cepat, biaya rendah, dan efisiensi tinggi. Karakter ini sejalan dengan fungsi XRP sebagai aset yang difokuskan pada perpindahan nilai, sehingga sisi teknologinya mendukung fondasi fundamentalnya.
Itulah informasi menarik tentang Fundamental XRP yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
