Industri Web3 kembali menghadapi tekanan serius. Sepanjang April 2026, tercatat 12 insiden peretasan yang menimpa berbagai proyek kripto, mulai dari protokol DeFi hingga infrastruktur blockchain lintas jaringan.
Data ini menegaskan masalah keamanan di Web3 belum juga terselesaikan, bahkan semakin kompleks.
Laporan terbaru Tiger Research menunjukkan bahwa tren ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari pola yang terus berulang sejak beberapa tahun terakhir.
Serangan Terjadi Beruntun, Investor Mulai Gelisah
Kasus terbaru melibatkan Hyperbridge, protokol penghubung antara Polkadot (DOT) dan Ethereum (ETH).
Peretas memanfaatkan celah dalam sistem verifikasi untuk membuat pesan lintas jaringan palsu, lalu mencetak aset bridged secara ilegal.
Dampaknya, kerugian pengguna mencapai sekitar $2,5 juta di beberapa jaringan seperti Ethereum, Arbitrum, Base, dan BNB Chain.
Sebelumnya, Drift Protocol juga mengalami serangan besar dengan nilai kerugian mencapai $295,7 juta.

Sumber Gambar: Tiger Research
Yang mengejutkan, serangan ini tidak dilakukan dengan mengeksploitasi kode, melainkan melalui pendekatan yang jauh lebih halus.
Seiring bertambahnya jumlah insiden dalam waktu singkat, kepercayaan investor mulai tergerus. Industri yang dibangun di atas konsep transparansi justru menghadapi tantangan serius dalam hal keamanan.
Baca juga berita terbaru: Hacker Kirim Email Robinhood Palsu ke Trader Crypto, Ini Ciri-Cirinya
Bukan Lagi Bug, Hacker Kini Targetkan Manusia
Perubahan pola serangan menjadi sorotan utama. Jika sebelumnya peretasan identik dengan eksploitasi smart contract, kini pendekatannya bergeser.

Sumber Gambar: Tiger Research
Data menunjukkan bahwa:
- Pada 2021, serangan berbasis social engineering hanya menyumbang 28,7%
- Angka tersebut naik menjadi 64,3% pada 2025
- Pada kuartal pertama 2026, melonjak hingga 74,7% dari total kerugian
Kasus Drift Protocol menjadi contoh nyata. Peretas menghabiskan waktu hingga enam bulan untuk membangun kepercayaan dengan tim internal sebelum akhirnya mendapatkan akses penting ke sistem.
Pendekatan ini membuat serangan menjadi lebih sulit dideteksi. Bukan karena teknologi lemah, tetapi karena manusia menjadi titik paling rentan dalam sistem.
Dana Hilang Sulit Kembali, Recovery Tetap di Bawah 10%
Masalah tidak berhenti pada peretasan itu sendiri. Tantangan terbesar justru muncul setelah dana berhasil dicuri.
Berbeda dengan sistem keuangan tradisional yang memiliki mekanisme pembekuan atau pembatalan transaksi, Web3 berjalan di atas sistem yang tidak dapat diubah. Begitu transaksi terjadi di blockchain, tidak ada cara untuk menariknya kembali.
Sejak 2020, tingkat pemulihan dana hasil peretasan tercatat di bawah 10%. Satu-satunya anomali terjadi pada kasus Poly Network tahun 2021, ketika pelaku secara sukarela mengembalikan dana. Di luar itu, sebagian besar dana yang hilang tidak pernah kembali.
Dengan teknik pencucian dana yang semakin canggih, termasuk penggunaan mixer dan jembatan lintas chain, peluang pemulihan semakin kecil.
Bybit Bertahan, DeFi Justru Rentan Kolaps

Sumber Gambar: Tiger Research
Tidak semua entitas di Web3 bereaksi sama saat menghadapi krisis. Perbedaan mencolok terlihat antara exchange terpusat dan proyek DeFi.
Pada 2025, Bybit mengalami peretasan besar senilai $1,5 miliar. Namun, platform tersebut tetap beroperasi tanpa kerugian bagi pengguna. Hal ini dimungkinkan karena adanya cadangan dana dan koordinasi antar exchange.
Sebaliknya, proyek DeFi tidak memiliki mekanisme serupa. Ketika dana keluar dari protokol, tidak ada cadangan yang bisa menutup kerugian.
Akibatnya, banyak proyek yang langsung runtuh setelah satu kali serangan besar. Situasi ini memperlihatkan adanya kesenjangan struktur antara dua model tersebut.
Baca selanjutnya: FBI Tangkap Penipu Crypto Senilai Rp172 Miliar, Ternyata WNI
Hambatan Besar Bagi Masuknya Institusi
Di tengah meningkatnya minat institusi terhadap kripto, faktor keamanan menjadi penghalang utama.
Web3 menawarkan banyak hal menarik, mulai dari efisiensi pengelolaan aset hingga peluang imbal hasil baru.
Namun, semua itu menjadi kurang relevan jika risiko kehilangan dana masih tinggi dan tidak dapat dipulihkan.
Tingkat recovery yang rendah, ditambah frekuensi serangan yang tinggi, membuat institusi memilih untuk menunggu. Tanpa sistem perlindungan yang jelas, skala adopsi sulit berkembang lebih jauh.
Kesimpulan
Lonjakan jumlah peretasan dalam waktu singkat menunjukkan bahwa pendekatan saat ini belum cukup efektif. Fokus pada teknologi saja tidak lagi memadai.
Web3 kini berada di fase di mana struktur operasional, manajemen risiko, dan tanggung jawab menjadi faktor penentu.
Tanpa itu, kepercayaan pasar akan terus tergerus, dan peluang pertumbuhan jangka panjang bisa terhambat.

Artikel ini hasil Kolaborasi antara INDODAX x Tiger Research
FAQ
- Kenapa hack Web3 semakin sering terjadi di 2026?
Frekuensi meningkat karena kombinasi faktor, termasuk nilai aset yang besar di DeFi, sistem terbuka, dan teknik serangan yang semakin canggih seperti social engineering yang menargetkan manusia. - Apa itu social engineering dalam konteks crypto?
Social engineering adalah teknik manipulasi psikologis untuk mendapatkan akses ke sistem. Dalam Web3, ini bisa berupa penyamaran, phishing, atau membangun kepercayaan dengan tim internal. - Kenapa dana hasil hack crypto sulit dikembalikan?
Karena transaksi blockchain bersifat permanen dan tidak bisa dibatalkan. Setelah dana dipindahkan, tidak ada otoritas yang bisa memaksa pengembalian. - Apakah DeFi lebih berisiko dibanding exchange crypto?
Secara umum, DeFi lebih rentan karena tidak memiliki cadangan dana atau mekanisme perlindungan seperti exchange terpusat yang memiliki sistem manajemen risiko. - Apa dampak hack terhadap investor crypto?
Dampaknya bisa langsung berupa kehilangan dana, serta penurunan kepercayaan terhadap proyek dan industri secara keseluruhan, yang juga mempengaruhi harga pasar. - Apakah Web3 masih aman untuk investasi?
Web3 tetap menawarkan peluang, tetapi risiko keamanan masih tinggi. Investor perlu memahami risiko, memilih platform dengan sistem keamanan kuat, dan menghindari praktik yang berpotensi membuka celah serangan.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Blockchain, #Berita Scam Crypto






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


