Lembaga riset Tiger Research menilai defi.app berpotensi menjadi salah satu platform yang mampu menjembatani kesenjangan antara keuangan tradisional dan decentralized finance (DeFi), berkat pendekatan yang berfokus pada pengalaman pengguna yang lebih sederhana.
Dalam laporan berjudul Defi App: Between Robinhood and DeFi yang diterbitkan pada 2 Juni 2026, Tiger Research menyebut hambatan terbesar adopsi DeFi saat ini bukan terletak pada kurangnya produk keuangan, melainkan kompleksitas penggunaan yang masih menyulitkan pengguna baru.
Penilaian tersebut muncul setelah defi.app mencatat volume perdagangan kumulatif sebesar US$44 miliar dan berhasil mengumpulkan sekitar 1,06 juta pengguna sejak diluncurkan pada Februari 2025.
DeFi dikatakan telah memiliki hampir seluruh fondasi layanan keuangan modern, mulai dari pertukaran aset digital, pinjaman, staking, hingga perdagangan derivatif.
Namun, mayoritas pengguna masih harus berhadapan dengan berbagai hambatan teknis seperti wallet, biaya gas, bridge lintas jaringan, hingga perbedaan antar blockchain.
DeFi Dinilai Masih Terkendala Pengalaman Pengguna
Tiger Research mengutip survei Consensys dan YouGov yang menunjukkan bahwa 93% responden global telah mengenal kripto. Namun hanya 8% yang mengaku memahami Web3 atau DeFi.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kesenjangan terbesar saat ini bukan berada pada tingkat kesadaran masyarakat terhadap kripto, melainkan pada kemudahan penggunaan produk yang tersedia.
Survei 1inch pada 2025 juga memperlihatkan bahwa biaya gas menjadi keluhan terbesar pengguna DeFi dengan porsi 27%, disusul risiko keamanan sebesar 22%, transaksi lambat 18%, dan kompleksitas bridge sebesar 14%.
Tiger Research ungkap tujuan execution layer DeFi bukan meniru bisnis Robinhood, melainkan menghadirkan pengalaman pengguna setara Robinhood untuk wilayah yang tidak dapat dimasuki Robinhood.

Sumber Gambar: Tiger Research
Menurut lembaga riset tersebut, Robinhood berhasil berkembang pesat karena mampu menyederhanakan pengalaman investasi saham melalui satu aplikasi yang mudah digunakan.
Namun, regulasi membuat platform fintech tradisional tidak dapat menawarkan layanan seperti self-custody, leverage tinggi, maupun berbagai produk keuangan tanpa izin yang menjadi ciri khas ekosistem DeFi.
Baca juga berita terkait: DeFi Sudah Tidak Menguntungkan? Investor Crypto Kini Lirik RWA
Volume US$44 Miliar dan 1 Juta Pengguna Jadi Sorotan
Untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut, defi.app menggabungkan sejumlah layanan dalam satu platform, termasuk swap, earn, dan perdagangan derivatif.
Platform ini menggunakan teknologi smart account berbasis EIP-4337 yang memungkinkan pengguna berinteraksi tanpa harus mengelola biaya gas secara terpisah.
Selain itu, transaksi lintas blockchain dapat dijalankan melalui sistem routing otomatis yang terhubung dengan berbagai agregator likuiditas.
Tiger Research mencatat bahwa pendekatan tersebut telah menghasilkan volume perdagangan kumulatif sebesar US$44 miliar sejak peluncuran platform pada Februari 2025.
Jumlah pengguna terdaftar juga telah mencapai sekitar 1,06 juta akun. Meski demikian, laporan tersebut menyoroti bahwa jumlah pengguna aktif bulanan (MAU) saat ini masih berada di kisaran 30.000 hingga 40.000 pengguna.
Angka tersebut dinilai menjadi indikator yang lebih penting dibanding jumlah pendaftaran karena menunjukkan kemampuan platform dalam mempertahankan aktivitas pengguna dalam jangka panjang.
Rocket Perps Jadi Ujian Berikutnya

Sumber Gambar: Tiger Research
Salah satu fokus utama laporan Tiger Research adalah Rocket Perps, produk perpetual futures dengan leverage hingga 1000 kali yang dikembangkan dalam ekosistem defi.app.
Berbeda dari platform derivatif tradisional, Rocket Perps menggabungkan aktivitas perdagangan dengan elemen gamifikasi melalui tampilan bergaya arcade.
Pengguna dapat mengumpulkan XP melalui aktivitas tertentu di dalam platform yang nantinya dapat diklaim menjadi token HOME.
Selama masa soft launch yang berlangsung dari 13 hingga 28 Mei 2026, sebanyak 264 pengguna tercatat menghasilkan volume perdagangan lebih dari US$400 juta.
Menurut Tiger Research, angka tersebut menunjukkan tingkat aktivitas yang tinggi dari kelompok trader berisiko tinggi yang menjadi target awal produk tersebut.
Namun, lembaga riset itu menegaskan bahwa pengujian sesungguhnya baru dimulai setelah peluncuran publik Rocket Perps yang dijadwalkan berlangsung pada 4 Juni 2026.
Pertanyaan utamanya adalah apakah fitur tersebut mampu meningkatkan retensi pengguna secara berkelanjutan atau hanya mendorong aktivitas jangka pendek.
Program Buyback HOME Jadi Perhatian Pasar
Selain pertumbuhan pengguna dan aktivitas perdagangan, Tiger Research juga menyoroti model ekonomi token HOME yang digunakan dalam ekosistem defi.app.
Melalui proposal tata kelola DIP-004, sebanyak 80% pendapatan platform dari berbagai produk direncanakan akan dialokasikan untuk program pembelian kembali token HOME.
Skema tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan model yang digunakan Hyperliquid, di mana sebagian besar pendapatan protokol dialokasikan untuk buyback token HYPE.

Sumber Gambar: Tiger Research
Meski demikian, Tiger Research menilai transparansi akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan strategi tersebut.
Laporan itu menyebut bahwa publikasi alamat wallet buyback dan dashboard pendapatan secara real-time dapat membantu meningkatkan kepercayaan pengguna serta investor terhadap komitmen yang telah diumumkan.
Baca selanjutnya: Bukan Lagi Sekadar Smart Contract, DeFi Kini Bergantung pada Sosok Ini
Tantangan Terbesar Masih Ada di Retensi Pengguna
Meski mencatat pertumbuhan yang cukup signifikan, Tiger Research menilai tantangan terbesar defi.app saat ini bukan lagi akuisisi pengguna baru.
Fokus utama justru berada pada kemampuan platform untuk mempertahankan pengguna setelah berbagai insentif awal berakhir.
Menurut laporan tersebut, sejumlah proyek seperti Zerion, Zapper, dan Instadapp sebelumnya juga berhasil menyederhanakan pengalaman DeFi, namun kesulitan mempertahankan pengguna ketika program reward selesai.
Karena itu, Tiger Research menilai platform yang ingin menjadi standar baru di sektor DeFi harus mampu memenuhi tiga syarat sekaligus, yakni menghilangkan hambatan teknis, menciptakan alasan bagi pengguna untuk kembali setiap hari, dan tetap menawarkan produk-produk khas kripto yang tidak dapat disediakan oleh fintech tradisional.
Kesimpulan
Tiger Research melihat defi.app sebagai salah satu proyek yang sedang mencoba menyelesaikan masalah terbesar dalam industri DeFi, yakni menghadirkan pengalaman pengguna yang lebih sederhana tanpa menghilangkan karakteristik utama kripto seperti self-custody, yield, dan perdagangan derivatif.
Volume perdagangan sebesar US$44 miliar serta lebih dari satu juta pengguna menunjukkan adanya permintaan terhadap pendekatan tersebut.
Namun keberhasilan jangka panjang platform ini masih akan ditentukan oleh kemampuan mempertahankan pengguna aktif, meningkatkan kepercayaan terhadap model buyback token HOME, dan membangun aktivitas harian yang berkelanjutan.

Artikel ini hasil Kolaborasi antara INDODAX x Tiger Research
FAQ
- Apa itu defi.app?
defi.app adalah platform decentralized finance (DeFi) yang menggabungkan layanan swap, earn, dan perpetual futures dalam satu aplikasi dengan tujuan menyederhanakan pengalaman pengguna di berbagai blockchain. - Mengapa defi.app dibandingkan dengan Robinhood?
Perbandingan muncul karena keduanya sama-sama berfokus pada kemudahan penggunaan. Bedanya, defi.app menawarkan akses ke layanan khas DeFi seperti self-custody dan perdagangan derivatif yang tidak dapat disediakan oleh fintech tradisional karena keterbatasan regulasi. - Berapa volume transaksi yang telah dicatat defi.app?
Menurut laporan Tiger Research, defi.app telah mencatat volume perdagangan kumulatif sekitar US$44 miliar sejak diluncurkan pada Februari 2025. - Apa itu Rocket Perps?
Rocket Perps merupakan produk perpetual futures dengan leverage hingga 1000x yang dikembangkan oleh defi.app dan dilengkapi elemen gamifikasi untuk meningkatkan keterlibatan pengguna. - Apa fungsi token HOME dalam ekosistem defi.app?
HOME merupakan token yang digunakan dalam ekosistem defi.app. Berdasarkan proposal DIP-004, sebanyak 80% pendapatan platform direncanakan dialokasikan untuk program buyback token tersebut. - Apa tantangan terbesar yang dihadapi aplikasi DeFi saat ini?
Selain kompleksitas penggunaan, tantangan terbesar adalah mempertahankan pengguna dalam jangka panjang setelah program insentif atau reward berakhir. Retensi pengguna masih menjadi salah satu indikator utama keberhasilan platform DeFi.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi CS Indodax
- Nomor resmi Customer Support: (021) 5065 8888
- Email bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Blockchain






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


