Bitcoin (BTC) kembali jadi sorotan setelah data on-chain terbaru menunjukkan siklus market kali ini mulai berbeda.
Meski BTC sudah menembus US$81.000 dan sempat mencapai US$126.000 pada Oktober 2025, sejumlah indikator yang biasanya menandai puncak bull market justru masih terlihat dingin.
Data terbaru dari Glassnode menunjukkan bahwa pola siklus Bitcoin kali ini mulai berbeda dari era 2013, 2017, maupun 2021.
Perubahan struktur pasar, terutama akibat masuknya institusi besar dan ETF Bitcoin spot, disebut menjadi faktor utama di balik perubahan tersebut.
MVRV Z-Score Bitcoin Belum Menunjukkan Fase Puncak
Salah satu indikator yang paling banyak diperhatikan dalam membaca siklus Bitcoin adalah MVRV Z-Score. Indikator ini digunakan untuk mengukur apakah harga Bitcoin sudah terlalu mahal dibanding nilai realisasinya.
Dalam sejarahnya, indikator ini hampir selalu memberikan sinyal ketika pasar memasuki fase euforia.

Sumber Gambar: Glassnode
Pada bull market sebelumnya:
- Siklus 2013 mencetak skor di atas 12
- Siklus 2017 berada di sekitar 10
- Siklus 2021 mencapai area 7
Namun kondisi saat ini berbeda. Meski harga Bitcoin sudah melonjak tajam, MVRV Z-Score justru masih berada di kisaran 1 per Mei 2026.
Artinya, pasar belum menunjukkan overheating seperti yang biasanya terjadi menjelang puncak bull cycle.
Glassnode mencatat bahwa skor tertinggi pada siklus pasca-halving kali ini hanya mencapai sekitar 3,5. Angka itu masih jauh dari zona merah yang selama ini identik dengan fase bubble market Bitcoin.
Situasi ini membuat sebagian analis mulai mempertanyakan apakah pola siklus empat tahunan Bitcoin masih relevan digunakan untuk membaca market saat ini.
Baca juga berita lainnya: Arthur Hayes: Bitcoin Bisa Tembus Rp2 Miliar Tahun Ini Akibat Perang Iran
Supply Bitcoin di Exchange Terus Menurun
Selain indikator MVRV, perubahan besar juga terlihat dari data cadangan Bitcoin di exchange.

Sumber Gambar: Glassnode
Glassnode menunjukkan bahwa jumlah BTC yang tersimpan di exchange terus mengalami penurunan sejak 2022. Pada awal 2022, total saldo BTC di exchange sempat berada di atas 3,3 juta BTC. Kini jumlah tersebut turun mendekati 3 juta BTC.
Yang menarik, penurunan supply ini terjadi saat harga Bitcoin justru naik signifikan.
Biasanya, investor akan memindahkan BTC ke exchange ketika ingin menjual aset mereka. Namun kondisi sekarang menunjukkan hal berbeda.
Banyak investor justru menarik Bitcoin keluar dari exchange dan menyimpannya dalam custody pribadi atau institusional. Fenomena ini membuat jumlah Bitcoin yang siap diperdagangkan menjadi semakin sedikit.
Ketika supply menipis sementara permintaan meningkat, tekanan kenaikan harga menjadi lebih besar. Inilah yang dianggap menjadi salah satu alasan mengapa harga BTC tetap kuat meski belum muncul euforia retail seperti siklus sebelumnya.
ETF Bitcoin Spot Jadi Pembeda Terbesar
Perubahan paling besar dalam siklus Bitcoin kali ini datang dari kehadiran ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat.

Sumber Gambar: Glassnode
Sebelum Januari 2024, instrumen ini belum tersedia. Namun kini, ETF Bitcoin spot telah menjadi salah satu pemain terbesar dalam pasar BTC.
Data Glassnode menunjukkan total kepemilikan ETF Bitcoin spot AS sudah mendekati 1,3 juta BTC atau sekitar 6,5% dari total supply beredar Bitcoin.
BlackRock IBIT menjadi pemegang terbesar, disusul Fidelity FBTC dan produk milik Grayscale.
Yang membuat situasi semakin menarik, ETF terus menyerap Bitcoin bahkan ketika harga sedang stagnan. Ini menunjukkan bahwa pembelian dilakukan sebagai bagian dari strategi alokasi aset jangka panjang, bukan sekadar aksi FOMO retail.
Dalam beberapa periode, jumlah BTC yang dibeli ETF bahkan melampaui jumlah Bitcoin baru yang dihasilkan miner setiap hari. Kondisi ini menciptakan persaingan terhadap supply BTC yang semakin terbatas.
Berbeda dengan bull market 2021 yang dipenuhi euforia investor ritel, siklus kali ini dinilai lebih banyak didorong oleh akumulasi institusi.
Baca selanjutnya: Bitcoin dan XRP Langsung Melonjak Usai CLARITY Act Maju di Senat AS
Kesimpulan
Data on-chain terbaru menunjukkan bahwa siklus Bitcoin saat ini mulai bergerak berbeda dibanding era sebelumnya.
MVRV Z-Score belum memasuki zona euforia, supply BTC di exchange terus menurun, sementara ETF Bitcoin spot menyerap jutaan BTC dari pasar.
Kombinasi faktor tersebut membuat banyak analis percaya bahwa pola bull cycle klasik Bitcoin mungkin sudah mulai berubah.
Meski belum ada kepastian apakah model siklus lama benar-benar “mati”, data menunjukkan bahwa market Bitcoin 2026 tidak lagi bergerak dengan pola yang sama seperti satu dekade terakhir.
FAQ
- Apa itu MVRV Z-Score Bitcoin?
MVRV Z-Score adalah indikator on-chain yang digunakan untuk mengukur apakah harga Bitcoin sudah terlalu mahal atau masih undervalued dibanding nilai realisasinya. Indikator ini sering dipakai untuk membaca potensi puncak dan dasar siklus Bitcoin. - Kenapa ETF Bitcoin dianggap mengubah siklus BTC?
ETF Bitcoin spot memungkinkan institusi besar membeli Bitcoin dalam jumlah besar secara legal dan mudah. Arus dana institusi ini membuat permintaan BTC meningkat signifikan dan mengurangi supply yang tersedia di pasar. - Apa arti supply Bitcoin di exchange terus menurun?
Penurunan supply BTC di exchange biasanya menunjukkan investor memilih menyimpan aset dalam jangka panjang daripada menjualnya. Kondisi ini sering dianggap bullish karena jumlah BTC yang siap dijual semakin sedikit. - Apakah Bitcoin masih mengikuti siklus 4 tahunan?
Sebagian analis percaya siklus 4 tahunan Bitcoin masih berlaku karena dipengaruhi halving. Namun muncul pandangan baru bahwa dominasi ETF dan institusi bisa membuat pola lama menjadi berbeda. - Apakah harga Bitcoin masih bisa naik meski retail belum masuk?
Bisa. Saat ini kenaikan harga BTC tidak hanya bergantung pada investor retail. Institusi besar dan ETF juga menjadi sumber permintaan utama yang mampu mendorong harga naik. - Apa risiko terbesar jika ETF Bitcoin mendominasi pasar?
Jika terjadi arus keluar dana besar dari ETF, tekanan jual Bitcoin bisa meningkat cepat. Karena itu, konsentrasi kepemilikan BTC di institusi besar juga dianggap membawa risiko baru bagi market kripto.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Referensi:
- Be(in)crypto – On-Chain Data Proves Bitcoin Cycle Has Changed, diakses pada 15 Mei 2026
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #ETF Bitcoin, #Prediksi Harga Crypto Hari Ini





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


