Mantan CEO BitMEX, Arthur Hayes, kembali melontarkan prediksi agresif terhadap Bitcoin (BTC). Ia menyebut harga Bitcoin berpotensi menembus US$126 ribu atau setara lebih dari Rp2 miliar tahun ini, dipicu oleh perang Iran dan perlombaan kecerdasan buatan (AI) antara Amerika Serikat dan China.
“Bitcoin sudah mencapai bottom di US$60 ribu dan dengan dukungan triliunan dolar serta yuan yang masih akan dicetak, kembali ke US$126 ribu adalah sesuatu yang hampir tak terhindarkan,” ujar Hayes.
Dalam tulisan terbarunya di Substack yang dikutip Cointelegraph, Hayes menilai konflik geopolitik dan belanja besar-besaran untuk pengembangan AI akan mendorong pemerintah mencetak lebih banyak uang fiat. Kondisi itu dinilai menjadi katalis kuat bagi aset kripto, khususnya Bitcoin.
“Gabungan ambisi memenangkan perlombaan AI dan kebutuhan pendanaan lewat uang cetakan serta pinjaman bank menciptakan lingkungan sempurna untuk crypto,” tulis Hayes.
Baca berita lainnya: Bukan Bitcoin, Whale Kini Fokus Akumulasi Coin AI dan Privacy Ini
Perang Iran dan AI Dinilai Picu Money Printing
Menurut Hayes, perang selalu bersifat inflasioner karena pemerintah harus mengeluarkan dana besar untuk kebutuhan militer, logistik, hingga pertahanan nasional. Konflik Iran disebut tidak berbeda.
“Perang bersifat inflasioner, dan operasi militer khusus AS-Iran juga tidak berbeda. Belanja besar untuk AI, pembangunan infrastruktur darurat, serta penimbunan komoditas menjadi alasan meningkatnya pinjaman dari bank sentral dan bank komersial,” lanjut Hayes.
Di saat yang sama, Amerika Serikat dan China juga tengah bersaing membangun dominasi AI. Persaingan ini membuat kedua negara diperkirakan terus mengguyur dana untuk:
- pembangunan data center AI
- pengembangan chip
- infrastruktur listrik
- energi
- teknologi strategis
Hayes menilai kebutuhan modal raksasa tersebut sulit dipenuhi tanpa pelonggaran moneter dan pencetakan uang dalam jumlah besar.
Ia bahkan menyebut pengeluaran AI dan elektrifikasi global akan membuat jumlah fiat terus bertambah lebih cepat dibanding sebelumnya.
Bitcoin Disebut Mulai Ungguli Emas dan Saham Teknologi
Hayes juga menyoroti performa Bitcoin sejak awal tahun. Menurutnya, Bitcoin mulai menunjukkan kekuatan dibanding aset lain seperti emas dan saham teknologi Amerika Serikat.

Sumber Gambar: cryptohayes.substack
Data CoinGecko menunjukkan Bitcoin sempat menyentuh level terendah US$62.822 pada 6 Februari sebelum kembali naik ke kisaran US$81 ribu. Artinya, BTC telah naik lebih dari 31% dari titik terendah tahun ini.
Sementara itu, emas hanya mencatat kenaikan sekitar 2% dalam periode yang sama. Hayes menganggap kondisi tersebut sebagai sinyal bahwa pasar mulai melihat Bitcoin sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan fiat.
“Para politisi mendukung pencetakan uang ini karena dianggap sebagai kebutuhan nyata maupun kebutuhan yang dipersepsikan. Itulah sebabnya Bitcoin sejak 28 Februari mampu mengungguli aset berisiko besar lainnya seperti emas dan saham teknologi AS,” jelasnya.
Baca juga: Bitcoin (BTC) Bisa Akhiri Bear Market Jika Tembus Level Ini, Kata Analis
Bitcoin Bisa Bergerak Lebih Agresif Jika Tembus US$90 Ribu
Arthur Hayes juga memperkirakan reli Bitcoin dapat bergerak lebih eksplosif apabila berhasil menembus level psikologis US$90 ribu.
Menurutnya, kenaikan di atas area tersebut berpotensi memicu efek FOMO di pasar dan memaksa trader short position menutup posisi mereka. Situasi itu bisa mempercepat kenaikan harga Bitcoin dalam waktu singkat.
Pernyataan Hayes muncul di tengah perdebatan pasar soal kapan crypto akan kembali memasuki fase bullish penuh setelah sempat mengalami tekanan besar pada akhir tahun lalu.
Kapitalisasi pasar crypto sendiri sebelumnya sempat menyentuh US$4,28 triliun pada Oktober tahun lalu berdasarkan data CoinMarketCap.
Meski begitu, prediksi Arthur Hayes tetap bersifat opini pribadi dan bukan jaminan harga Bitcoin akan benar-benar mencapai US$126 ribu tahun ini.
Pergerakan Bitcoin masih dipengaruhi banyak faktor lain seperti:
- kebijakan suku bunga The Fed
- arus dana ETF Bitcoin
- kondisi ekonomi global
- regulasi crypto
- sentimen geopolitik
Kesimpulan
Arthur Hayes menilai perang Iran dan perlombaan AI global bisa memicu money printing besar-besaran yang berpotensi mendorong harga Bitcoin naik hingga US$126 ribu tahun ini.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat Bitcoin semakin menarik sebagai aset alternatif di tengah meningkatnya inflasi dan pelemahan fiat.
Meski begitu, pergerakan Bitcoin tetap dipengaruhi faktor lain seperti kebijakan The Fed, arus dana ETF, dan sentimen pasar global.
FAQ
- Kenapa perang Iran bisa memengaruhi harga Bitcoin?
Perang biasanya membuat pemerintah meningkatkan pengeluaran negara, terutama untuk sektor militer dan pertahanan. Kondisi ini dapat memicu inflasi dan pencetakan uang baru, yang sering dianggap positif bagi aset seperti Bitcoin. - Apa hubungan AI dengan kenaikan Bitcoin?
Arthur Hayes menilai perlombaan AI membutuhkan investasi sangat besar, mulai dari chip hingga listrik dan data center. Untuk mendanai kebutuhan tersebut, pemerintah dan bank sentral diperkirakan akan melonggarkan kebijakan moneter yang bisa mendorong kenaikan aset kripto. - Berapa prediksi harga Bitcoin menurut Arthur Hayes?
Arthur Hayes memprediksi Bitcoin bisa kembali menyentuh US$126 ribu tahun ini. Jika dikonversi ke rupiah dengan kurs saat ini, nilainya setara lebih dari Rp2 miliar per BTC. - Apakah Bitcoin benar-benar bisa menjadi lindung nilai inflasi?
Sebagian investor melihat Bitcoin sebagai aset dengan supply terbatas sehingga dinilai lebih tahan terhadap inflasi dibanding mata uang fiat. Namun, Bitcoin tetap memiliki volatilitas tinggi dan tidak sepenuhnya bebas risiko. - Apa faktor terbesar yang memengaruhi harga Bitcoin saat ini?
Selain sentimen geopolitik, harga Bitcoin juga dipengaruhi oleh kebijakan The Fed, arus dana ETF Bitcoin spot, kondisi ekonomi global, regulasi crypto, dan sentimen pasar secara keseluruhan. - Apa arti money printing dalam pasar crypto?
Money printing adalah kondisi ketika bank sentral menambah jumlah uang beredar di pasar. Dalam crypto, kondisi ini sering dianggap bullish karena investor mencari aset alternatif untuk menjaga nilai kekayaan mereka. - Mengapa level US$90 ribu dianggap penting untuk Bitcoin?
Arthur Hayes menilai level US$90 ribu bisa menjadi area pemicu FOMO pasar. Jika berhasil ditembus, tekanan beli diperkirakan meningkat dan dapat mempercepat kenaikan harga Bitcoin.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Prediksi Harga Crypto Hari Ini, #Berita Arthur Hayes, #Berita Tokoh Kripto Dunia, #Berita Timur Tengah Terkini






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
