Harga Bitcoin (BTC) kembali berada di bawah tekanan menjelang rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat.
Di tengah aksi jual investor institusi dan arus keluar dana dari ETF spot Bitcoin, pelaku pasar kini menunggu apakah data ekonomi tersebut mampu menjadi pemicu perubahan arah harga BTC dalam jangka pendek.
Bitcoin sempat menyentuh level US$59.100 pada Kamis (25/6), level terendah tahun ini sekaligus titik terendah dalam sekitar 21 bulan. Meski sempat pulih ke kisaran US$61.700, pergerakan BTC masih dibayangi tekanan jual yang cukup kuat.
Investor Institusi Masih Melepas Bitcoin
Salah satu faktor yang membebani harga Bitcoin adalah melemahnya permintaan dari investor institusi.

Sumber Gambar: SoSoValue
Data SoSoValue menunjukkan ETF spot Bitcoin mencatat arus keluar dana (outflow) sebesar US$469,08 juta pada Rabu (24/6), memperpanjang tren penarikan dana selama lima hari berturut-turut.
Outflow ETF berarti lebih banyak dana keluar dibandingkan dana yang masuk ke produk investasi tersebut.
Jika tren ini berlanjut, tekanan terhadap harga Bitcoin berpotensi semakin besar karena permintaan dari institusi menjadi salah satu pendorong utama pasar dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga berita terbaru: Harga BTC Tembus Zona “Bitcoin is Dead”, Sinyal Beli atau Bahaya?
Data PCE AS Jadi Sorotan Pasar
Selain aksi jual institusi, perhatian investor kini tertuju pada rilis Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index, salah satu indikator inflasi yang paling diperhatikan Federal Reserve.
Data PCE digunakan bank sentral AS untuk menilai kondisi inflasi sebelum menentukan arah kebijakan suku bunga.
Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, peluang suku bunga tetap tinggi akan semakin besar. Kondisi tersebut umumnya menjadi sentimen negatif bagi aset berisiko seperti Bitcoin.
Sebaliknya, jika inflasi menunjukkan tanda-tanda melambat, pasar dapat mulai memperkirakan kebijakan moneter yang lebih longgar, sehingga berpotensi meningkatkan minat terhadap aset kripto.
Penurunan Harga Minyak Belum Mampu Mengangkat Sentimen
Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak mentah mengalami penurunan setelah kembali dibukanya Selat Hormuz dan adanya kebijakan sementara yang mengizinkan produksi serta penjualan minyak Iran selama 60 hari.
Turunnya harga minyak dinilai dapat membantu meredakan tekanan inflasi.
Namun, perkembangan tersebut belum mampu mengangkat sentimen Bitcoin karena pasar masih dibayangi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko.
Ekspektasi Suku Bunga Masih Menekan Bitcoin
Mengutip data CME FedWatch Tool, pasar masih memperkirakan peluang lebih dari 80% bahwa kebijakan suku bunga tinggi akan tetap bertahan hingga akhir tahun.
Ekspektasi tersebut membuat dolar AS tetap kuat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS relatif tinggi. Kondisi ini umumnya mengurangi daya tarik aset seperti Bitcoin karena sebagian investor memilih instrumen yang dianggap lebih aman.
Selain itu, pelemahan saham-saham teknologi global dalam beberapa hari terakhir turut memperburuk sentimen pasar terhadap aset berisiko.
Baca selanjutnya: Suku Bunga Diprediksi Tinggi hingga 2027, Bitcoin Makin Mati Kutu?
Bitcoin Masih Berada di Area Kritis

Sumber Gambar: TradingView
Melansir FXStreet, Dari sisi analisis teknikal, Bitcoin masih bergerak di bawah rata-rata pergerakan eksponensial (EMA) 50 hari, 100 hari, dan 200 hari. Posisi ini menunjukkan tren jangka menengah hingga panjang masih didominasi tekanan bearish.
Area US$60.000 kini menjadi level psikologis yang paling diperhatikan pelaku pasar. Jika level tersebut mampu dipertahankan, peluang pemulihan harga masih terbuka.
Namun, apabila tekanan jual kembali meningkat dan Bitcoin gagal bertahan di atas level tersebut, risiko koreksi yang lebih dalam masih membayangi pergerakan BTC.
Kesimpulan
Bitcoin masih berada di bawah tekanan akibat aksi jual investor institusi dan arus keluar dana dari ETF spot Bitcoin.
Kini pasar menantikan data PCE Amerika Serikat sebagai katalis berikutnya yang dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed sekaligus menentukan arah pergerakan BTC dalam jangka pendek.
FAQ
- Apa itu data PCE AS dan mengapa penting bagi Bitcoin?
PCE (Personal Consumption Expenditures) adalah indikator inflasi yang menjadi acuan utama Federal Reserve. Data ini dapat memengaruhi kebijakan suku bunga AS, yang pada akhirnya berdampak pada pergerakan Bitcoin dan aset berisiko lainnya. - Mengapa suku bunga The Fed memengaruhi harga Bitcoin?
Suku bunga yang tinggi membuat investor cenderung memilih aset dengan risiko lebih rendah, seperti obligasi pemerintah AS. Sebaliknya, ketika suku bunga diperkirakan turun, minat terhadap aset berisiko seperti Bitcoin biasanya meningkat. - Apa arti outflow ETF spot Bitcoin?
Outflow ETF berarti dana yang keluar dari produk ETF Bitcoin lebih besar dibandingkan dana yang masuk. Kondisi ini sering dianggap sebagai sinyal melemahnya minat investor institusi terhadap Bitcoin. - Mengapa level US$60.000 dianggap penting bagi Bitcoin?
Level US$60.000 merupakan area psikologis yang banyak dipantau pelaku pasar. Jika harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang pemulihan masih terbuka. Sebaliknya, penembusan ke bawah level ini dapat memicu tekanan jual yang lebih besar. - Faktor apa saja yang dapat menggerakkan harga Bitcoin dalam waktu dekat?
Selain data inflasi PCE, harga Bitcoin juga dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga The Fed, arus dana ETF spot Bitcoin, kondisi ekonomi global, pergerakan dolar AS, serta sentimen geopolitik yang memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi CS Indodax
- Nomor resmi Customer Support: (021) 5065 8888
- Nomor resmi CS Indodax Prioritas: (021) 5036 8888
- Email bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Prediksi Harga Crypto Hari Ini, #Berita Regulasi Crypto





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
