Harga Bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan setelah turun ke sekitar US$60.700, atau lebih dari 50% dari rekor tertinggi (ATH) US$126.000 yang dicapai pada Oktober 2025.
Koreksi tajam tersebut membuat BTC untuk kedua kalinya dalam sejarah keluar dari batas bawah Bitcoin Rainbow Chart dan masuk ke area yang dikenal sebagai zona “Bitcoin Is Dead”.
Label itu sejak awal digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika sentimen pasar berada pada tingkat pesimisme yang sangat tinggi.
Kondisi ini langsung memicu perdebatan di kalangan analis. Sebagian melihat harga Bitcoin saat ini sebagai sinyal aset sedang berada di area undervalued yang berpotensi menjadi peluang akumulasi.
Apa Itu Bitcoin Rainbow Chart?
Bitcoin Rainbow Chart merupakan model valuasi jangka panjang yang dibuat oleh pengguna Reddit bernama Azop pada 2014.
Model ini menggunakan logarithmic regression untuk memetakan tren pertumbuhan harga Bitcoin dalam jangka panjang.
Grafik tersebut membagi pergerakan harga Bitcoin ke dalam sembilan pita warna. Setiap warna merepresentasikan tingkat valuasi dan psikologi pasar, mulai dari area yang dianggap murah hingga zona yang dinilai terlalu mahal.
Selama bertahun-tahun, Rainbow Chart banyak digunakan investor sebagai acuan sederhana untuk melihat apakah harga Bitcoin berada di bawah nilai wajarnya atau justru sudah terlalu tinggi.
Namun, pembuat maupun banyak analis selalu menegaskan bahwa grafik ini bukan alat prediksi harga.
Baca juga berita terkait: Alarm untuk Bitcoin, Ethereum, dan XRP! Tekanan Bearish Belum Mereda
Sebagian Investor Menilai Ini Peluang Beli
Sebagian pendukung Bitcoin menilai posisi BTC yang kembali masuk ke zona “Bitcoin is Dead” pada Rainbow Chart sebagai peluang beli.
Perbandingan tersebut juga disoroti oleh analis sekaligus kreator konten kripto CryptoRover melalui unggahannya di platform X.
Ia membandingkan kondisi saat ini dengan 2022, ketika Bitcoin berada di kisaran US$15.000 sebelum mencapai titik terendah pada siklus saat itu.
“Bitcoin baru dua kali menembus batas bawah Rainbow Chart sepanjang sejarah. Kejadian pertama terjadi pada 2022, saat harga Bitcoin berada di sekitar US$15.500. Kini, hal yang sama kembali terjadi ketika harga BTC turun ke kisaran US$62.000,” tulisnya.

Sumber Gambar: X.com/CryptoRover
Analis: Bukan Bitcoin yang Mati, Tapi Modelnya yang Mulai Usang
Perdebatan terbesar justru bukan mengenai kondisi Bitcoin, melainkan efektivitas Rainbow Chart itu sendiri.
Co-founder XYO Markus Levin menilai keluarnya Bitcoin dari batas bawah Rainbow Chart menunjukkan adanya perubahan struktur pasar.
“Untuk pertama kalinya, harga Bitcoin menembus batas bawah Rainbow Chart yang telah bertahan lebih dari 10 tahun. Ini menunjukkan adanya perubahan struktural pada model tersebut,” ujar Co-founder XYO, Markus Levin, dikutip dari CoinDesk.
Menurutnya, bukan Bitcoin yang gagal, melainkan model Rainbow Chart yang mulai kehilangan relevansinya.
Levin menjelaskan bahwa Rainbow Chart dibuat ketika Bitcoin masih didominasi investor ritel dengan likuiditas yang relatif kecil. Kini kondisi pasar berubah drastis setelah hadirnya ETF Bitcoin spot, meningkatnya partisipasi institusi, serta besarnya pengaruh faktor makroekonomi terhadap pembentukan harga.
“Saya tidak menganggap Bitcoin yang mati, melainkan Rainbow Chart yang mulai kehilangan relevansinya. Justru itu menjadi sinyal positif bahwa Bitcoin telah berkembang menjadi aset yang jauh lebih matang,” lanjutnya.
Dengan kapitalisasi pasar yang jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu, pertumbuhan harga Bitcoin dinilai tidak lagi mengikuti pola eksponensial seperti saat Rainbow Chart pertama kali dikembangkan.
Rainbow Chart Masih Berguna, Tetapi Bukan Alat Prediksi
Pendapat berbeda disampaikan Ryan Lee, Chief Analyst Bitget.
Ia menilai Rainbow Chart masih memiliki fungsi sebagai referensi visual untuk memahami siklus pasar jangka panjang, tetapi tidak boleh dijadikan dasar utama dalam mengambil keputusan investasi.
Menurut Lee, model tersebut hanya dibangun berdasarkan data historis dan regresi logaritmik sehingga belum memperhitungkan faktor fundamental, arus dana ETF, aktivitas pasar derivatif, maupun kondisi ekonomi global.
“Rainbow Chart dibangun berdasarkan regresi logaritmik dan data historis pergerakan harga, bukan dengan mempertimbangkan faktor fundamental, makroekonomi, maupun struktur pasar yang saat ini semakin berpengaruh terhadap harga Bitcoin,” kata Lee.
Baca juga: Analisis Prediksi November 2026 Jadi Bulan Terbaik Akumulasi Bitcoin, Kenapa?
ETF dan Institusi Dinilai Mengubah Cara Bitcoin Bergerak
Beberapa analis sepakat bahwa masuknya investor institusi telah mengubah karakter pergerakan Bitcoin.
Arus dana dari ETF spot, meningkatnya aktivitas pasar derivatif, hingga pengaruh kebijakan moneter membuat pembentukan harga Bitcoin kini jauh lebih kompleks dibanding beberapa tahun lalu.
Levin mengatakan volatilitas Bitcoin kemungkinan akan terus berkurang seiring meningkatnya likuiditas pasar.
Akibatnya, model-model historis yang dibangun berdasarkan siklus empat tahunan dan lonjakan harga ekstrem menjadi semakin sulit menggambarkan kondisi pasar secara akurat.
Ia juga menilai peluang koreksi menuju kisaran US$50.000 masih ada apabila sentimen risiko kembali memburuk, tetapi Rainbow Chart tidak dapat digunakan untuk menentukan di mana titik terendah pasar akan terbentuk.
Kesimpulan
Masuknya harga BTC ke zona “Bitcoin is Dead” tidak berarti Bitcoin telah kehilangan nilainya.
Sebaliknya, peristiwa ini memicu perdebatan baru mengenai apakah Bitcoin sedang berada di area undervalued atau justru menunjukkan bahwa Rainbow Chart mulai kehilangan relevansinya di tengah meningkatnya peran ETF, investor institusi, dan faktor makroekonomi dalam pergerakan harga Bitcoin.
FAQ
- Apa yang dimaksud zona “Bitcoin is Dead” pada Rainbow Chart?
Zona “Bitcoin is Dead” adalah pita paling bawah dalam Bitcoin Rainbow Chart yang menggambarkan kondisi sentimen pasar sangat pesimis. Nama tersebut bukan berarti Bitcoin benar-benar mati, melainkan hanya label pada model valuasi tersebut. - Apakah Bitcoin pernah masuk zona “Bitcoin is Dead” sebelumnya?
Ya. Sebelum 2026, Bitcoin pernah memasuki zona tersebut pada 2022 ketika harga berada di sekitar US$15.000. Setelah itu, BTC membentuk dasar siklus dan kembali mengalami kenaikan pada periode berikutnya. - Apakah Rainbow Chart bisa memprediksi harga Bitcoin?
Tidak. Rainbow Chart dirancang sebagai alat visual untuk melihat valuasi jangka panjang berdasarkan data historis. Banyak analis menilai indikator ini tidak bisa digunakan sebagai alat prediksi harga yang akurat. - Mengapa Rainbow Chart mulai dipertanyakan analis?
Analis menilai struktur pasar Bitcoin telah berubah sejak hadirnya ETF spot, meningkatnya investasi institusi, serta besarnya pengaruh faktor makroekonomi. Perubahan tersebut membuat pola historis lama tidak selalu mencerminkan kondisi pasar saat ini. - Apakah masuk ke zona “Bitcoin is Dead” berarti saat yang tepat membeli Bitcoin?
Belum tentu. Sebagian investor menganggap area tersebut sebagai sinyal harga murah berdasarkan sejarah, tetapi keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan analisis fundamental, kondisi ekonomi global, dan manajemen risiko karena tidak ada indikator yang mampu memprediksi arah harga secara pasti.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi CS Indodax
- Nomor resmi Customer Support: (021) 5065 8888
- Nomor resmi CS Indodax Prioritas: (021) 5036 8888
- Email bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Prediksi Harga Crypto Hari Ini






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


