Harga Bitcoin (BTC) masih berada di bawah tekanan meski sempat pulih sekitar US$5.000 dari titik terendahnya pada 1 Juli 2026 yang berada di bawah US$58.000.
Sejumlah percobaan menembus level resistance juga belum berhasil mengubah tren pasar secara signifikan.
Melansir dari CryptoPotato, kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor makroekonomi, melemahnya permintaan institusional, hingga perubahan sentimen investor.
Kelima faktor tersebut dinilai menjadi alasan utama mengapa reli Bitcoin masih tertahan.
1. Konflik Geopolitik Kembali Meningkat
Faktor pertama berasal dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas.
Situasi memburuk setelah gencatan senjata berakhir dan kedua negara kembali melancarkan serangan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan bahwa nota kesepahaman antara kedua negara kemungkinan telah berakhir, meski kemudian mengklaim Iran kembali membuka komunikasi untuk membahas perdamaian.
Ketidakpastian seperti ini umumnya membuat investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin dan aset kripto lainnya.
Baca juga berita terkait: Bitcoin Miner Beralih ke AI, Investor Langsung Memburu Sahamnya
2. Kebijakan The Fed Masih Menekan Pasar
Selain faktor geopolitik, kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi tekanan bagi pasar kripto. Federal Reserve hingga kini belum menunjukkan sinyal untuk memangkas suku bunga.
Bahkan, sejumlah pejabat bank sentral disebut mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) berikutnya.
Pertimbangannya berasal dari meningkatnya harga minyak akibat konflik geopolitik yang berpotensi kembali mendorong inflasi.
Suku bunga yang tetap tinggi biasanya membuat investor lebih memilih instrumen pendapatan tetap seperti obligasi dibanding aset berisiko.
3. Strategy Mulai Menjual Sebagian Bitcoin
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh langkah Strategy, perusahaan yang dipimpin Michael Saylor dan selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu pembeli Bitcoin terbesar.
Dalam beberapa bulan terakhir, Strategy tercatat telah dua kali melakukan penjualan Bitcoin. Transaksi terbaru bahkan melibatkan lebih dari 3.500 BTC.
Meski jumlah tersebut masih relatif kecil dibanding total kepemilikan perusahaan, perubahan strategi ini memicu kekhawatiran sebagian investor.
Pasalnya, selama ini akumulasi Bitcoin oleh Strategy sering dianggap sebagai salah satu pendorong utama sentimen bullish di pasar.
4. Dana Keluar dari ETF Bitcoin Masih Besar
Faktor berikutnya berasal dari melemahnya permintaan melalui produk Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin spot.
Data yang dikutip CryptoPotato menunjukkan ETF Bitcoin telah mencatat arus dana keluar (outflow) lebih dari US$8 miliar dalam sekitar dua bulan terakhir.
Bahkan, dalam salah satu pekan perdagangan, total dana yang keluar mencapai lebih dari US$1,5 miliar hanya dalam lima hari.
Walaupun ETF sempat kembali mencatat arus dana masuk dalam tiga dari empat hari perdagangan terakhir, besarnya outflow sebelumnya menunjukkan minat beli institusional masih belum pulih sepenuhnya.
Baca lainnya: BlackRock Balik Akumulasi Bitcoin, Serok $250 Juta BTC dalam Dua Hari
5. Coinbase Premium Index Negatif Selama Lebih dari 50 Hari
Salah satu indikator yang paling banyak menjadi perhatian analis adalah Coinbase Bitcoin Premium Index.
Indikator ini mengukur selisih harga Bitcoin di Coinbase, salah satu bursa kripto terbesar di Amerika Serikat, dengan harga rata-rata Bitcoin di bursa global.
Apabila nilainya positif, berarti harga Bitcoin di Coinbase lebih tinggi dibanding pasar global yang biasanya menunjukkan permintaan investor Amerika sedang meningkat.
Sebaliknya, nilai negatif mengindikasikan permintaan dari investor AS masih lemah.
Coinbase Bitcoin Premium Index Hits Record 50-Day Negative Premium Streak
According to Coinglass data, the Coinbase Bitcoin Premium Index has remained negative for 50 consecutive days since May 19, extending the longest negative streak since the indicator was launched. The… pic.twitter.com/jwGfPK6iCj
— Wu Blockchain (@WuBlockchain) July 7, 2026
Mengutip data Wu Blockchain, Coinbase Premium Index telah berada di zona negatif selama 50 hari berturut-turut, menjadi periode terlama sepanjang 2026.
Sebagai perbandingan, ketika indikator tersebut akhirnya kembali positif pada awal tahun ini setelah sempat negatif selama sekitar 40 hari, harga Bitcoin melonjak dari sekitar US$64.000 menjadi US$76.000 hanya dalam waktu kurang lebih satu bulan.
Kondisi tersebut membuat banyak analis menilai pemulihan permintaan dari investor Amerika akan menjadi salah satu indikator penting untuk menentukan arah pergerakan Bitcoin selanjutnya.
Kesimpulan
Meski Bitcoin berhasil bangkit dari titik terendah awal Juli, tekanan terhadap harga masih belum sepenuhnya mereda.
Konflik geopolitik, kebijakan suku bunga tinggi The Fed, penjualan Bitcoin oleh Strategy, derasnya arus dana keluar dari ETF, serta lemahnya permintaan investor Amerika yang tercermin dari Coinbase Premium Index menjadi kombinasi faktor yang menahan laju kenaikan BTC.
Selama faktor-faktor tersebut belum menunjukkan perubahan signifikan, volatilitas diperkirakan masih akan mendominasi pergerakan harga Bitcoin dalam jangka pendek.
FAQ
- Apa yang menyebabkan harga Bitcoin sulit naik saat ini?
Beberapa faktor utama meliputi ketidakpastian geopolitik, kebijakan suku bunga tinggi The Fed, melemahnya permintaan ETF Bitcoin, penjualan Bitcoin oleh Strategy, serta rendahnya minat beli investor di Amerika Serikat. - Apa itu Coinbase Premium Index?
Coinbase Premium Index adalah indikator yang membandingkan harga Bitcoin di Coinbase dengan harga rata-rata di bursa global. Nilai positif biasanya menunjukkan permintaan investor AS sedang kuat, sedangkan nilai negatif mengindikasikan permintaan masih lemah. - Mengapa suku bunga The Fed memengaruhi harga Bitcoin?
Suku bunga yang tinggi membuat investor cenderung memilih aset berisiko rendah seperti obligasi. Akibatnya, dana yang masuk ke aset berisiko seperti Bitcoin dan kripto lainnya menjadi berkurang. - Apakah arus dana keluar ETF Bitcoin selalu berdampak pada harga BTC?
Tidak selalu secara langsung. Namun, outflow dalam jumlah besar dapat menjadi sinyal bahwa minat investor institusional sedang melemah sehingga berpotensi memberikan tekanan terhadap harga Bitcoin. - Apakah Bitcoin masih berpeluang naik dalam waktu dekat?
Peluang tersebut tetap ada apabila sentimen makro membaik, permintaan melalui ETF kembali meningkat, dan indikator seperti Coinbase Premium Index kembali bergerak ke wilayah positif. Namun, pergerakan harga Bitcoin tetap dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global dan sentimen pasar yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi CS Indodax
- Nomor resmi Customer Support: (021) 5065 8888
- Nomor resmi CS Indodax Prioritas: (021) 5036 8888
- Email bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Prediksi Harga Crypto Hari Ini, #Berita Pergerakan Harga Crypto





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
