Apa Itu Wash Trading?
Wash trading adalah praktik jual beli aset yang dilakukan secara simultan atau dalam waktu sangat singkat oleh pihak yang sama, tanpa adanya perubahan kepemilikan yang nyata. Tujuannya adalah menciptakan ilusi volume perdagangan tinggi atau mengarahkan harga aset ke tingkat tertentu untuk menipu pelaku pasar lain.
Praktik ini sering ditemukan di pasar saham, komoditas, dan kini semakin marak dalam dunia kripto.
Mengapa Wash Trading Dilarang?
Wash trading dilarang karena bertentangan dengan prinsip keadilan dan transparansi pasar. Di banyak negara, praktik ini termasuk bentuk manipulasi pasar dan bisa dikenai sanksi hukum.
Alasan Larangan Wash Trading:
- Menyesatkan pelaku pasar: Memberikan sinyal palsu tentang permintaan atau minat terhadap suatu aset.
- Menciptakan volume palsu: Menyebabkan data volume tidak mencerminkan aktivitas riil.
- Manipulasi harga: Bisa digunakan untuk menggerakkan harga naik atau turun secara tidak wajar.
- Mengurangi kepercayaan investor: Jika dibiarkan, pelaku pasar akan meragukan keabsahan aktivitas perdagangan.
Kamu mungkin tertarik dengan ini juga: Waspadai APP Scam! Ini Modus Penipuan Kripto 2025
Contoh Kasus Wash Trading
Beberapa contoh kasus terkenal mengungkap seberapa luas praktik ini dilakukan, bahkan oleh bursa ternama:
1. Bitwise vs Volume Bitcoin
Pada 2019, Bitwise Asset Management menyampaikan laporan ke SEC bahwa sekitar 95% volume perdagangan Bitcoin dari bursa tidak teregulasi merupakan hasil wash trading.
2. FCoin
Bursa asal Tiongkok ini menggunakan sistem trans-fee mining yang mendorong pengguna untuk memperdagangkan aset berulang kali demi mendapat token. Sistem ini mendorong terjadinya wash trading massal.
3. Investigasi Binance
Binance sempat melakukan investigasi terhadap sejumlah pasangan perdagangan mencurigakan karena aktivitas volume tidak wajar. Meskipun Binance telah menegaskan komitmen terhadap transparansi, investigasi pihak ketiga menunjukkan kemungkinan adanya volume manipulatif pada beberapa token kecil.
Dampak Wash Trading terhadap Pasar
Dampak Utama | Penjelasan |
Ilusi likuiditas | Volume tinggi secara artifisial membuat aset tampak mudah diperjualbelikan |
Manipulasi harga | Bisa menaikkan atau menurunkan harga dengan cepat tanpa permintaan riil |
Merugikan investor retail | Investor bisa membeli aset dengan asumsi pasar aktif, padahal volume palsu |
Kerusakan data analitik | Volume palsu merusak indikator teknikal seperti RSI dan OBV |
Ketidakpercayaan pasar | Jika terus terjadi, pasar menjadi tidak kredibel dan investor hengkang |
Bagaimana Regulator Menangani Wash Trading?
Pendekatan Regulator:
1. Penegakan Hukum
- SEC di Amerika Serikat secara aktif menindak pelaku wash trading.
- Di Indonesia OJK mengatur dan mengawasi bursa kripto berizin untuk mencegah manipulasi pasar.
2. Pelaporan dan Transparansi
- Bursa diharuskan melaporkan metode penghitungan volume.
- Audit volume perdagangan kini mulai dilakukan secara berkala.
3. Kolaborasi dengan Penyedia Data
- Bursa seperti Kraken, Coinbase, dan Binance bekerja sama dengan Chainalysis dan Coin Metrics untuk mendeteksi wash trading.
Kamu mungkin tertarik dengan ini juga: Apa Itu Scam? Kenali Tipe Bahaya Kejahatannya
Upaya Bursa Kripto untuk Mencegah Wash Trading
Indodax sebagai salah satu crypto exchange terbesar di Indonesia, menerapkan sistem pengawasan internal dan audit volume agar memastikan tidak ada aktivitas manipulatif. Indodax juga mendukung penuh peraturan dari OJK dan menjaga transparansi data volume perdagangan di platform-nya.
Tindakan Pencegahan yang Dilakukan:
- Memantau volume tidak wajar
- Menonaktifkan akun dengan aktivitas mencurigakan
- Menyediakan pelaporan kepada regulator
Langkah Pencegahan bagi Investor
Kamu dapat mencegah kerugian akibat wash trading dengan langkah berikut:
- Gunakan bursa resmi yang terdaftar di OJK
- Waspadai volume perdagangan yang melonjak tiba-tiba tanpa alasan fundamental
- Lihat data volume dari sumber terpercaya seperti CoinGecko atau CoinMarketCap
- Hindari FOMO saat volume terlihat tinggi secara mendadak
Visualisasi: Ilustrasi Skema Wash Trading
[Trader A] –> Order beli 1 BTC –>
[Exchange] <–> Order jual 1 BTC <– [Trader A]
Tidak ada perubahan kepemilikan, hanya memutar transaksi agar tampak aktif.
Kesimpulan
Wash trading adalah praktik manipulatif yang menciptakan kesan volume tinggi di pasar padahal tidak ada perdagangan nyata. Dalam dunia kripto, praktik ini berisiko tinggi karena bisa menyesatkan investor dan merusak kepercayaan terhadap ekosistem. Penting bagi kamu sebagai investor untuk memahami cara kerja wash trading dan mengenali tandanya.
Dengan semakin kuatnya pengawasan regulator dan sistem transparansi dari bursa resmi seperti Indodax, diharapkan pasar kripto di Indonesia semakin sehat, adil, dan terpercaya untuk semua
Itulah pembahasan menarik tentang Wash Trading yang akan naik yang bisa kamu pelajari lebih dalam hanya di Akademi crypto. Tidak hanya menambah wawasan tentang investasi, di sini kamu juga dapat menemukan berita crypto terkini seputar dunia kripto.
Dan untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store. Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
FAQ tentang Wash Trading
- Apa itu wash trading?
Wash trading adalah praktik manipulatif di mana seseorang membeli dan menjual aset yang sama secara cepat atau simultan untuk menciptakan ilusi volume perdagangan tinggi.
- Apakah wash trading hanya terjadi di kripto?
Tidak. Praktik ini juga ditemukan di pasar saham, komoditas, dan forex, tetapi menjadi lebih sulit dideteksi karena aturan lebih ketat di sektor tradisional.
- Bagaimana cara mendeteksi wash trading?
Beberapa tanda umum: volume melonjak tiba-tiba, pola order berulang dalam waktu singkat, dan harga bergerak tanpa dukungan fundamental.
- Apakah wash trading bisa dipidana?
Di beberapa negara seperti AS dan Korea Selatan, pelaku wash trading dapat dikenai sanksi pidana dan denda besar. Di Indonesia, pelanggaran ini akan ditindak oleh OJK dan lembaga terkait.
- Bagaimana bursa mencegah wash trading?
Bursa menerapkan sistem pengawasan otomatis, audit volume, dan bekerja sama dengan lembaga analitik pihak ketiga untuk memantau aktivitas mencurigakan.
Author: Echi Kristin