Kalau kamu pernah membangun aplikasi Web3, ada satu masalah yang cepat atau lambat akan kamu rasakan sendiri: mengakses data blockchain itu seringnya tidak semudah yang dibayangkan. Di permukaan, semuanya terlihat rapi, tinggal panggil RPC, tarik data, selesai. Tapi begitu aplikasi mulai dipakai banyak orang, kebutuhan datanya melebar, dan kamu harus menarik data lintas blok, lintas event, lintas chain, barulah terasa bahwa “mengambil data” bisa menjadi bottleneck terbesar.
Di titik inilah nama Dmitry Zhelezov mulai sering muncul dalam percakapan para developer dan tim data Web3. Ia bukan figur yang populer karena gimmick atau kontroversi personal, melainkan karena satu hal yang sangat teknis namun krusial: ia ikut membangun SQD, sebuah data layer yang mencoba memecahkan problem akses data blockchain dengan cara yang lebih scalable dan lebih selaras dengan nilai desentralisasi.
Dari sini kamu akan melihat bahwa profil Dmitry bukan sekadar daftar jabatan dan gelar, melainkan rangkaian keputusan dan riset yang pada akhirnya bermuara pada satu misi besar: membuat data blockchain lebih mudah diakses tanpa harus sepenuhnya bergantung pada model lama yang makin terasa rapuh.
Siapa Dmitry Zhelezov?
Dmitry Zhelezov dikenal sebagai pendiri sekaligus CEO SQD, sebuah platform yang mengembangkan infrastruktur indexing dan data extraction untuk aplikasi Web3. Dalam ekosistem yang semakin bergantung pada data on-chain, peran seperti ini ibarat tulang punggung: mungkin tidak selalu terlihat di bagian depan, tapi tanpa data layer yang stabil, banyak produk Web3 akan tersendat sebelum benar-benar matang.
Yang membuat Dmitry menarik untuk dibahas bukan hanya karena ia memimpin sebuah perusahaan, tapi karena fokusnya sangat spesifik: bagaimana caranya membuat akses data blockchain menjadi lebih cepat, lebih efisien, dan tidak sepenuhnya bergantung pada pendekatan yang cenderung terpusat. Dengan kata lain, ia bergerak di wilayah yang sering luput dari perhatian publik, namun sangat menentukan kualitas pengalaman pengguna di Web3.
Setelah memahami perannya hari ini, langkah berikutnya adalah melihat fondasi yang membentuk cara berpikirnya, karena latar belakang Dmitry bukan lahir dari jalur “startup hype”, melainkan dari jalur akademik yang panjang dan disiplin.
Latar Belakang Akademik yang Membentuk Cara Berpikir
Kalau kamu melihat banyak pendiri Web3 yang datang dari jalur product, trading, atau komunitas, Dmitry datang dari spektrum yang berbeda. Ia tumbuh dari tradisi akademik yang kuat, terutama di matematika, fisika, dan ilmu komputer. Kombinasi ini bukan sekadar prestise, tetapi membentuk cara ia memandang sistem, struktur data, dan kompleksitas jaringan.
Di bagian ini, kamu akan melihat pendidikan Dmitry bukan sebagai biodata, tapi sebagai bahan bakar utama yang membantu ia mengurai masalah rumit seperti indexing, data processing, dan sistem terdistribusi.
Pendidikan Formal Dmitry Zhelezov
Riwayat pendidikan Dmitry menunjukkan jalur yang konsisten menuju penguasaan problem kompleks. Ia menempuh studi di Saint Petersburg State University dengan fokus pada fisika, matematika, dan ilmu komputer. Setelah itu ia melanjutkan ke Halmstad University pada bidang financial mathematics, lalu meraih PhD matematika di Chalmers University of Technology.
Kalau kamu bertanya, apa hubungannya matematika dan fisika dengan data Web3, jawabannya ada pada pola berpikir. Sistem blockchain pada dasarnya adalah sistem kompleks: ada jaringan, ada konsensus, ada struktur data yang terus bertambah, dan ada kebutuhan untuk mengekstrak informasi secara akurat dari sesuatu yang terus bergerak. Latar akademik semacam ini membiasakan seseorang untuk tidak hanya “membuat sesuatu jalan”, tetapi juga memahami batasnya, trade-off-nya, dan bagaimana merancang solusi yang tahan uji.
Dengan bekal itu, wajar kalau Dmitry tidak berhenti di ruang kuliah. Ia membawa ketelitian akademik ke dunia nyata, dan perjalanan berikutnya menunjukkan bagaimana riset membentuk intuisi teknisnya.
Dunia Riset dan Pengaruhnya pada Sistem Terdistribusi
Di luar pendidikan formal, Dmitry juga menjalani fase riset yang memperkuat reputasinya sebagai sosok teknis. Ia terlibat dalam riset matematika yang berkaitan dengan graph theory dan combinatorics, bidang yang sering terdengar abstrak, tetapi punya kaitan yang nyata dengan dunia jaringan, struktur relasi, dan optimasi.
Kalau kamu membayangkan blockchain sebagai jaringan dengan hubungan antar transaksi, antar address, antar kontrak, dan antar event, kamu sebenarnya sedang melihat bentuk graf dalam skala masif. Saat kamu ingin memetakan hubungan itu dengan cepat, meng agregasi data, atau mencari pola, kamu sedang berada di wilayah yang sama dengan cara berpikir riset graf. Inilah salah satu alasan mengapa banyak orang yang kuat di bidang ini cenderung cocok menangani problem data Web3.
Setelah fase riset yang padat, Dmitry tidak memilih jalur akademik seumur hidup. Ia bergerak ke dunia engineering, dan perpindahan itu terlihat natural karena ia membawa pola berpikir ilmiah ke pekerjaan yang benar-benar membentur realitas.
Dari Software Engineer ke Blockchain Developer
Sebelum nama Dmitry melekat pada SQD, ia lebih dulu melewati fase yang sering dilupakan orang: membangun kemampuan engineering di dunia software yang tidak ada glamornya. Di sini, kamu akan melihat bahwa pengalaman “konvensional” justru penting, karena problem Web3 pada akhirnya tetap problem software, hanya skalanya berbeda.
Bagian ini juga penting untuk membangun narasi bahwa SQD bukan lahir dari ide mendadak, melainkan dari akumulasi pengalaman teknis yang panjang.
Awal Karier di Dunia Software
Dmitry mengawali karier sebagai software developer, termasuk bekerja sebagai Java developer dan kemudian senior Java developer. Pengalaman seperti ini biasanya menempanya pada hal-hal yang sangat dasar tapi vital: membangun sistem yang stabil, menjaga performa, memikirkan maintainability, dan menghadapi kebutuhan bisnis yang berubah.
Di dunia enterprise, kamu akan cepat belajar bahwa solusi yang terlihat “pintar” tapi sulit dirawat akan cepat runtuh. Kebiasaan ini sangat relevan ketika kamu masuk ke Web3, karena ekosistem ini sering tergoda membangun sesuatu yang canggih, tapi mengorbankan reliability dan pengalaman developer.
Dari fase ini, Dmitry membawa satu kebiasaan penting: membangun dengan disiplin. Dan disiplin ini akan terlihat jelas ketika ia mulai bersentuhan dengan kripto dan blockchain.
Pertemuan Pertama dengan Kripto dan Blockchain
Dalam beberapa wawancara, Dmitry pernah menceritakan bahwa ia mulai mengenal Bitcoin sejak 2014. Menariknya, kisah awal seperti ini sering menjadi momen “klik” bagi banyak orang: kamu melihat bahwa ini bukan sekadar aset, tapi teknologi yang membuka model koordinasi baru di internet.
Bagi Dmitry, perkenalan awal itu menjadi pintu untuk eksplorasi lebih dalam. Dan semakin kamu menyelam ke blockchain, semakin kamu sadar bahwa tantangannya bukan hanya “membuat smart contract”, tetapi bagaimana mengelola data, membaca sejarah chain, dan mengekstrak insight dari sesuatu yang sangat besar dan terus bertambah.
Di titik ini, perjalanan Dmitry mulai mengarah pada ranah yang lebih spesifik: infrastruktur. Ia tidak berhenti sebagai pengguna teknologi, melainkan masuk lebih dalam sebagai pembangun sistem yang akan dipakai orang lain.
Masuk Lebih Dalam ke Web3 dan Infrastruktur Blockchain
Saat kamu masuk ke dunia Web3, ada dua jenis developer yang sering terlihat. Ada yang fokus pada front-end dan product experience, dan ada yang fokus pada lapisan fondasi: protokol, data, jaringan, sistem terdistribusi. Dmitry jelas berada di jalur kedua.
Bagian ini akan menunjukkan bagaimana pengalaman teknisnya mengerucut ke satu tema: akses data on-chain yang bisa diandalkan.
Peran Teknis di Proyek Blockchain Awal
Dmitry sempat menjalani berbagai peran yang memperkaya perspektifnya, termasuk peran full stack dan keterlibatan di lingkungan yang menuntut pemahaman sistem terdistribusi. Ada pula fase di mana ia bersentuhan dengan analisis trading, yang sering kali mempertegas satu kebutuhan: data yang cepat, bersih, dan bisa dipercaya.
Namun yang paling relevan adalah bagaimana ia akhirnya terlibat dalam pekerjaan yang menuntut rancangan protokol komunikasi dan sistem data yang terdistribusi. Di sinilah kamu mulai melihat pola: Dmitry tertarik pada bagian yang biasanya tidak terlihat oleh pengguna, tetapi menentukan apakah sebuah aplikasi bisa benar-benar scale.
Ketertarikan ini makin terasa saat ia masuk ke wilayah Substrate dan Hydra, karena di sana problem data on-chain menjadi sangat nyata.
Hydra, Substrate, dan Fondasi Data Indexing
Salah satu fase yang penting dalam perjalanan Dmitry adalah keterlibatannya sebagai Hydra core developer, fokus pada query node framework untuk blockchain berbasis Substrate. Jika kamu familiar dengan ekosistem Polkadot dan Substrate, kamu tahu bahwa kebutuhan tooling untuk query data dan indexing bukan hal sepele.
Di lapisan inilah banyak produk tersendat. Tanpa query node yang baik, developer kesulitan menarik data historis, membangun dashboard analytics, atau membuat aplikasi yang responsif. Bahkan jika smart contract-mu aman dan bagus, pengalaman pengguna bisa tetap buruk kalau data retrieval lambat.
Pengalaman ini bisa dibaca sebagai “batu loncatan” yang sangat logis menuju SQD. Dmitry melihat langsung bahwa masalah data tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah RPC endpoint atau mengandalkan satu penyedia. Dibutuhkan pendekatan yang berbeda, dan di situlah bab berikutnya dimulai.
SQD dan Kritik terhadap Model RPC
Kalau kamu pernah mengandalkan RPC untuk aplikasi yang trafiknya meningkat, kamu tahu rasanya: kadang stabil, kadang tidak, dan sering mahal ketika kebutuhan data makin kompleks. RPC memang cara standar untuk mengakses blockchain, tetapi saat Web3 berkembang, model ini mulai memperlihatkan batasnya.
Di bagian ini, kita masuk ke inti: mengapa Dmitry dan timnya melihat RPC sebagai sesuatu yang perlu dilampaui, dan bagaimana SQD hadir sebagai alternatif.
Mengapa RPC Dianggap Tidak Cukup untuk Web3
RPC pada dasarnya adalah jalur komunikasi yang membuat aplikasi bisa “bertanya” ke node: ambil data transaksi ini, ambil event itu, cek status kontrak ini. Masalahnya muncul ketika pertanyaanmu makin banyak dan makin kompleks.
Ada beberapa titik lemah yang sering dirasakan developer:
Pertama, RPC sering menjadi bottleneck saat aplikasi butuh data historis dan agregasi skala besar.
Kedua, ketergantungan pada penyedia RPC tertentu bisa membuat pengalaman developer rapuh. Ketika layanan lambat atau error, aplikasi ikut terdampak.
Ketiga, model ini cenderung mendorong sentralisasi, karena tidak semua pihak mampu menjalankan infrastruktur RPC yang kuat.
Perdebatan teknisnya muncul di sini: Web3 ingin desentralisasi, tapi akses data sering kembali ke jalur yang lebih terpusat terutama ketika jaringan tumbuh dan isu skalabilitas blockchain makin terasa. SQD lahir dari ketegangan ini.
Dan begitu kamu melihat problemnya, kamu akan paham kenapa SQD memilih positioning sebagai data layer, bukan sekadar layanan pendukung.
Lahirnya SQD sebagai Alternatif Data Layer
SQD didirikan pada Mei 2021 dan dikenal sebelumnya sebagai Subsquid. Yang menarik, Dmitry pada awalnya memegang peran yang tidak biasa untuk startup teknologi: ia sempat menyebut posisinya sebagai “Philosopher” sebelum menjadi CEO. Ini bukan gimmick semata, karena dari sini kamu bisa membaca bahwa SQD lahir bukan hanya dari kebutuhan bisnis, tetapi dari cara berpikir yang mempersoalkan fondasi: bagaimana seharusnya data on-chain diakses dalam ekosistem yang ingin permissionless.
SQD berusaha menawarkan jalur yang lebih scalable untuk indexing dan data extraction, memungkinkan developer membangun pipeline data yang lebih efisien. Alih-alih mengandalkan RPC untuk semua hal, SQD menyediakan fondasi agar data bisa diambil, diproses, dan disajikan dengan cara yang lebih sesuai untuk kebutuhan aplikasi modern.
Setelah memahami mengapa SQD lahir, langkah berikutnya adalah melihat apa yang sebenarnya dibangun. Di sinilah detail teknisnya mulai terlihat, tetapi tetap bisa dibuat mudah dicerna jika kita membahasnya sebagai “fungsi” bukan jargon.
Teknologi yang Dikembangkan oleh SQD
Banyak orang menyebut SQD sebagai indexing platform, tapi sebenarnya yang dibangun lebih luas dari sekadar indeks. SQD mencoba membangun ekosistem tooling yang membantu developer mengakses data blockchain dengan cara yang lebih fleksibel, lebih cepat, dan pada akhirnya lebih siap untuk scale.
Di bagian ini, kita pecah menjadi dua area utama: fondasi data dan tooling untuk developer.
Decentralized Data Lake dan Light Clients
Decentralized data lake bisa kamu bayangkan sebagai tempat data blockchain disusun agar bisa diakses dan diproses tanpa harus selalu kembali ke node tradisional. Tujuannya bukan mengubah blockchain menjadi sesuatu yang baru, tapi menyediakan lapisan data yang lebih ramah untuk kebutuhan aplikasi.
Sementara konsep light clients di konteks SQD sering dikaitkan dengan upaya menghadirkan pengalaman yang lebih ringkas dan praktis, mirip cara orang memakai database lokal yang cepat, tetapi tetap relevan untuk ekosistem Web3. Dalam bahasa sederhana, SQD ingin membuat developer bisa bekerja dengan data on-chain tanpa selalu terjebak pada cara akses yang berat dan tidak efisien.
Di ujungnya, semua ini mengarah pada satu hal: mengurangi friksi. Ketika friksi turun, developer bisa fokus pada product, bukan berkelahi dengan data retrieval.
Setelah fondasi data terbentuk, barulah masuk ke bagian yang paling sering disentuh developer sehari-hari: portal dan SDK.
SQD Portal dan SDK untuk Developer Web3
SQD Portal dirancang untuk menjadi pintu masuk tooling data yang lebih lengkap. Di sini, developer bisa mengakses data melalui mekanisme yang lebih siap untuk kebutuhan streaming, decoding, dan agregasi. Sementara SQD SDK mempermudah pembuatan pipeline data dan integrasi ke aplikasi.
Kalau kamu terbiasa membuat dApp yang butuh dashboard, analytics, atau feed event real time, kamu akan paham betapa pentingnya tooling yang menyederhanakan kerja data. Developer tidak hanya butuh “data ada”, tetapi data yang bisa dikelola dengan efisien dan bisa dipakai tanpa membuat sistem berantakan.
Bagian ini juga membantu kita memahami mengapa SQD kemudian memperkenalkan model insentif lewat token. Karena ketika kamu berbicara tentang jaringan data yang lebih terbuka, kamu butuh cara agar partisipasi jaringan tetap berjalan.
Token SQD dan Model Ekonomi Jaringan
SQD meluncurkan token native pada Mei 2024 sebagai bagian dari desain ekonomi jaringan. Dalam konteks infrastruktur seperti ini, token biasanya bukan sekadar label, melainkan mekanisme untuk menjaga jaringan tetap hidup, mendorong partisipasi, dan menciptakan struktur insentif yang selaras dengan desentralisasi.
Poin penting yang perlu kamu garis bawahi adalah fungsi. Token bisa digunakan untuk mendorong operator, kontributor, atau pihak lain yang membantu jaringan berjalan. Selain itu, token juga sering dikaitkan dengan governance, terutama jika proyek ingin membuat pengambilan keputusan lebih terbuka.
Di sini, pembahasan sengaja tidak masuk ke ranah spekulasi harga. Untuk profil tokoh dan artikel edukatif, yang relevan adalah bagaimana token menjadi bagian dari arsitektur jaringan, bukan bagaimana performanya di pasar.
Setelah token dibahas sebagai mekanisme, kita bisa kembali ke pertanyaan yang lebih besar: dampaknya apa? Apakah SQD benar-benar dipakai, dan di mana posisinya dalam ekosistem Web3 global?
Dampak SQD di Ekosistem Web3 Global
Salah satu ukuran penting untuk infrastruktur data adalah adopsi. SQD dikenal mendukung data dari ratusan jaringan blockchain, dan layanannya dipakai untuk kebutuhan indexing serta data pipeline di berbagai konteks Web3. Ini menempatkannya sebagai pemain yang cukup signifikan di ranah data layer, terutama karena problem ini tidak bisa diselesaikan oleh solusi satu ukuran untuk semua.
Ada detail profil yang juga membuat narasi ini lebih “hidup” dan konkret. SQD beroperasi dengan basis yang sering diasosiasikan dengan ekosistem kripto Eropa, termasuk Swiss sebagai salah satu pusat perusahaan kripto global. Dmitry sendiri berbasis di Bretagne, Prancis, dan SQD didirikan bersama co-founder lain, Marcel Fohrmann. Kombinasi ini memperlihatkan bahwa proyek ini tidak hanya lahir dari satu kota atau satu komunitas, tetapi dari jaringan kerja yang memang terbentuk lintas negara.
Ketika dampak dan konteks geografis sudah jelas, sekarang kita bisa melihat satu sisi yang sering membuat profil tokoh menjadi lebih bernilai: pemikiran dan kontribusinya di ruang publik.
Pemikiran, Tulisan, dan Peran Publik Dmitry Zhelezov
Walau Dmitry dikenal sebagai figur teknis, ia juga aktif menyampaikan gagasan melalui wawancara dan diskusi publik. Dalam beberapa podcast, ia membahas bagaimana SQD dibangun, mengapa RPC perlu dilampaui, dan bagaimana tantangan data blockchain akan semakin besar seiring meningkatnya penggunaan Web3.
Yang menarik, narasi Dmitry cenderung konsisten: ia tidak menjual mimpi, melainkan mencoba menyelesaikan problem yang dirasakan developer sehari-hari. Ia menekankan bahwa kamu bisa mengejar performa tanpa mengorbankan nilai desentralisasi, tetapi itu butuh rancangan yang benar, bukan sekadar menambah kapasitas server.
Kontribusi seperti ini penting karena ekosistem Web3 sering terbelah antara idealisme dan pragmatisme. Dmitry berdiri di titik yang berusaha menghubungkan keduanya.
Namun, diskusi tentang data layer selalu membawa kita ke realitas yang tidak bisa dihindari: trade-off. Dan di sinilah perdebatan teknis sering muncul.
Tantangan dan Perdebatan di Balik Data Web3
Membangun data layer terdesentralisasi bukan pekerjaan mudah. Ada perdebatan yang selalu hadir: apakah kamu bisa benar-benar terdesentralisasi sambil tetap secepat sistem terpusat? Banyak solusi data yang sangat cepat justru lahir dari pendekatan yang lebih sentral, karena lebih mudah dikontrol, lebih mudah dioptimasi, dan lebih mudah dijaga stabilitasnya.
Di sisi lain, pendekatan yang ingin lebih permissionless dan trustless sering menghadapi tantangan performa, biaya, dan koordinasi. SQD hadir di ruang ini, mencoba mengambil jalan yang tidak ekstrem: mengejar efisiensi, tapi tidak mengorbankan prinsip secara total.
Perdebatan ini bukan kontroversi personal, melainkan kontroversi teknis yang wajar di industri. Jika kamu developer, kamu akan melihatnya sebagai pertanyaan desain: kamu mau memilih jalur mana untuk produkmu, dan apa konsekuensinya.
Ketika kamu menaruh Dmitry dalam konteks ini, kamu akan lebih paham mengapa ia dilihat sebagai figur penting. Ia bukan orang yang sekadar ikut tren, tetapi orang yang ikut membentuk diskusi tentang bagaimana Web3 seharusnya dibangun dari fondasinya.
Kesimpulan
Dmitry Zhelezov adalah contoh tokoh Web3 yang bekerja dari lapisan yang jarang disorot publik, tetapi sangat menentukan masa depan ekosistem: infrastruktur data. Dengan latar akademik yang kuat, pengalaman engineering yang panjang, serta keterlibatan teknis di area indexing dan query node, ia sampai pada satu titik yang logis: membangun SQD sebagai data layer alternatif untuk kebutuhan Web3 yang makin menuntut.
SQD sendiri hadir sebagai jawaban atas problem akses data blockchain yang semakin kompleks. Ketika aplikasi Web3 makin matang, kebutuhan data akan makin besar, dan kemampuan mengakses data secara cepat, efisien, serta tidak rapuh akan menjadi pembeda utama.
Kalau kamu ingin memahami Web3 bukan dari sisi hype, melainkan dari sisi fondasi, profil Dmitry memberi kamu satu pelajaran sederhana: masa depan Web3 tidak hanya ditentukan oleh token dan aplikasi, tetapi juga oleh orang-orang yang mengurus hal yang paling berat, yaitu data.
Itulah informasi menarik tentang Dimitry Zhelezov yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
FAQ
1. Siapa Dmitry Zhelezov dan apa perannya di Web3?
Dmitry Zhelezov adalah pendiri dan CEO SQD, platform data layer yang berfokus pada indexing dan akses data blockchain untuk aplikasi Web3.
2. Apa itu SQD dan fungsinya di blockchain?
SQD adalah infrastruktur data untuk Web3 yang membantu developer mengekstrak, memproses, dan mengakses data blockchain dengan cara yang lebih scalable dibanding mengandalkan RPC untuk semua kebutuhan.
3. Dari mana latar belakang pendidikan Dmitry Zhelezov?
Dmitry memiliki latar akademik di fisika, matematika, dan ilmu komputer, termasuk PhD matematika dari Chalmers University of Technology, serta studi di Saint Petersburg State University dan Halmstad University.
4. Mengapa SQD dianggap alternatif RPC?
Karena RPC sering menjadi bottleneck untuk kebutuhan data skala besar dan bisa mendorong ketergantungan pada penyedia tertentu. SQD menawarkan pendekatan data layer yang lebih siap untuk indexing dan pemrosesan data yang kompleks.
5. Apa tantangan utama data blockchain saat ini?
Tantangan utamanya adalah menjaga akses data tetap cepat dan efisien tanpa mendorong sentralisasi berlebihan, terutama saat aplikasi Web3 membutuhkan data historis, agregasi, dan real time dalam skala besar.





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
