Dalam beberapa tahun terakhir, Web3 sering dipersepsikan sebagai ruang yang rumit, penuh istilah teknis, dan hanya dipahami oleh komunitas tertentu. Banyak produk blockchain lahir dengan teknologi canggih, tetapi gagal menyentuh kehidupan sehari-hari. Di tengah kondisi itu, konsep move-to-earn muncul sebagai pendekatan berbeda. Ia tidak meminta orang memahami blockchain terlebih dahulu, melainkan mengaitkan teknologi dengan aktivitas paling dasar yang sudah dilakukan manusia setiap hari: berjalan dan berlari.
Pendekatan inilah yang kemudian membuat STEPN mendapat perhatian luas. Namun, di balik kesederhanaan pengalaman yang ditawarkan aplikasi tersebut, ada cara berpikir yang tidak muncul begitu saja. Cara melihat teknologi bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai alat untuk menjangkau kebiasaan manusia. Untuk memahami mengapa pendekatan ini bisa lahir, kita perlu melihat lebih dekat latar belakang orang yang ikut membentuknya.
Latar Akademik Yawn Rong dan Cara Pandangnya terhadap Produk
Jika melihat latar belakangnya, Yawn Rong tidak datang dari dunia teknis atau rekayasa perangkat lunak. Pendidikan terakhirnya adalah Master di bidang Advertising, Public Relations, dan E-Marketing dari UNISA, sebuah disiplin yang sejak awal menempatkan komunikasi dan pemahaman audiens sebagai hal utama. Latar inilah yang membentuk cara pandangnya terhadap produk, terutama dalam melihat teknologi sebagai sesuatu yang perlu disampaikan dengan sederhana agar bisa diterima oleh banyak orang.
Cara berpikir tersebut tercermin jelas dalam bagaimana STEPN dirancang. Blockchain tidak ditempatkan sebagai pusat cerita, melainkan berada di balik layar. Pengalaman pengguna justru menjadi fokus utama, selaras dengan prinsip user experience dalam produk Web3, di mana antarmuka dibuat ringan, alur penggunaan disederhanakan, dan narasi produk diarahkan pada manfaat yang bisa langsung dirasakan. Dari pendekatan ini terlihat keyakinannya bahwa adopsi publik tidak ditentukan oleh kecanggihan sistem, melainkan oleh seberapa mudah teknologi tersebut dipahami dan digunakan oleh orang biasa.
Pandangan ini tidak berhenti di level konsep atau desain produk. Cara Yawn Rong memahami hubungan antara teknologi dan manusia terus terbawa dalam perjalanan profesionalnya, termasuk saat ia mulai terlibat lebih jauh di industri blockchain sebelum STEPN lahir.
Perjalanan Karier Pra-STEPN sebagai Fondasi Strategi
Sebelum STEPN dikenal luas, Yawn Rong lebih dulu membangun pemahamannya tentang pasar dari dunia yang sangat dekat dengan konsumen. Pengalamannya sebagai marketing director di industri consumer goods membuatnya terbiasa membaca perilaku pengguna dalam skala besar, mulai dari bagaimana orang merespons sebuah produk hingga bagaimana distribusi menentukan apakah sebuah gagasan bisa benar-benar sampai ke publik. Fase ini membentuk kepekaannya terhadap kenyataan bahwa produk yang baik tidak cukup hanya menarik secara konsep, tetapi harus mampu digunakan dan diterima oleh banyak orang.
Pengalaman tersebut kemudian berlanjut ke ranah blockchain ketika ia ikut mendirikan Crypto SA dan Crypto SA Labs. Di sini, fokusnya bergeser dari pemasaran produk jadi ke pendampingan startup Web3 dalam membangun model bisnis dan tokenomics. Dari fase ini, Yawn Rong berhadapan langsung dengan tantangan yang sering diabaikan proyek Web3: bagaimana menyelaraskan desain token dengan perilaku pengguna, serta bagaimana sebuah ide bisa bertahan di luar hype awal. Pemahaman ini memberinya sudut pandang praktis tentang apa yang sering gagal dan apa yang dibutuhkan agar sebuah proyek tidak berhenti sebagai konsep.
Di luar aktivitas komersial, keterlibatannya dalam ekosistem blockchain secara kelembagaan juga memperluas wawasannya. Perannya sebagai perwakilan industri di asosiasi blockchain regional serta sebagai business ambassador untuk Algorand menempatkannya di persimpangan antara teknologi, komunitas, dan kebutuhan bisnis. Dari sini, ia melihat langsung bagaimana teknologi layer-1 dipahami, diperdebatkan, dan diadopsi oleh berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda.
Seluruh rangkaian pengalaman ini membentuk cara Yawn Rong memandang produk Web3 secara lebih realistis. Ketika akhirnya ia terlibat dalam proyek yang kelak dikenal sebagai STEPN, keputusan-keputusan yang diambil tidak lahir dari intuisi semata, melainkan dari akumulasi pembelajaran tentang perilaku pengguna, model ekonomi, dan batasan nyata industri blockchain.
Dari Ide Web3 Monopoly ke Lahirnya STEPN
STEPN tidak berangkat dari gagasan move-to-earn sejak awal. Ide yang sempat muncul justru berkaitan dengan pengembangan permainan berbasis Web3 yang lebih kompleks, terinspirasi dari konsep permainan papan digital. Pada tahap ini, fokusnya masih berada pada mekanisme permainan dan struktur game yang sarat fitur.
Namun, seiring proses pengamatan terhadap produk-produk serupa, muncul persoalan yang tidak bisa diabaikan. Model permainan yang terlalu berat cenderung menyisakan satu masalah utama: ia menuntut pemahaman, waktu, dan komitmen yang tinggi dari pengguna. Bagi audiens umum, terutama mereka yang belum akrab dengan Web3, pendekatan semacam ini justru berisiko menciptakan jarak.
Dari titik inilah arah pengembangan mulai bergeser. Yawn Rong dan tim mulai mempertanyakan ulang apa yang benar-benar bersifat universal. Jawabannya tidak ditemukan pada mekanisme permainan, melainkan pada aktivitas yang sudah dilakukan orang tanpa perlu diajari. Gerakan fisik, seperti berjalan dan berlari, tidak membutuhkan tutorial, tidak bergantung pada budaya tertentu, dan tidak menuntut adaptasi teknis.
Keputusan untuk mengaitkan aktivitas bergerak dengan insentif digital kemudian diambil sebagai jalan keluar dari persoalan tersebut. Aplikasi dirancang agar ringan dan berfokus pada penggunaan mobile, dengan kompleksitas yang ditekan seminimal mungkin. Pilihan ini bukan sekadar soal desain, tetapi mencerminkan upaya untuk menurunkan hambatan masuk bagi pengguna di luar komunitas kripto.
Ketika keputusan ini diambil, kondisi pasar sedang berada di fase optimisme tinggi. Namun, alih-alih mengejar kompleksitas atau fitur berlapis, STEPN justru memilih pendekatan yang lebih sederhana. Dari sinilah muncul pertanyaan lanjutan yang menentukan arah proyek ini: jika aktivitas bergerak dijadikan fondasi, mengapa model move-to-earn dianggap paling masuk akal untuk menjembatani teknologi dan kebiasaan manusia?
Mengapa Move-to-Earn Dipilih sebagai Model Utama
Pilihan terhadap move-to-earn bukan keputusan acak. Di baliknya ada pertimbangan yang berangkat dari kebiasaan manusia itu sendiri. Aktivitas fisik seperti berjalan dan berlari merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari miliaran orang. Ia tidak memerlukan edukasi khusus, tidak bergantung pada budaya tertentu, dan sudah menjadi rutinitas global yang dilakukan tanpa perlu instruksi.
Selain bersifat universal, aktivitas bergerak juga berkaitan langsung dengan kesehatan fisik dan mental. Dalam konteks yang lebih luas, kebiasaan berjalan kaki kerap dipandang sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor dan dampak lingkungan. Dari sudut pandang ini, move-to-earn diposisikan bukan sekadar sebagai mekanisme insentif, tetapi sebagai cara mengaitkan teknologi dengan pola hidup yang sudah ada.
Pertimbangan pasar memperkuat pendekatan tersebut. Ratusan juta orang telah menggunakan aplikasi kebugaran, sementara miliaran lainnya rutin bergerak tanpa bantuan aplikasi apa pun. Potensi inilah yang dilihat sebagai peluang untuk memperkenalkan Web3 ke kelompok non-crypto, bukan dengan menuntut pemahaman teknis, melainkan dengan memberi insentif atas aktivitas yang telah mereka lakukan sehari-hari.
Pendekatan semacam ini mengubah posisi move-to-earn dari sekadar model ekonomi menjadi alat onboarding berbasis kebiasaan. Namun, alasan yang masuk akal di atas kertas tetap perlu diuji di dunia nyata. Pertanyaan berikutnya menjadi krusial: apakah pendekatan ini benar-benar berhasil menjangkau publik luas ketika diterapkan dalam sebuah produk?
STEPN sebagai Aplikasi yang Digunakan Khalayak Ramai
Pendekatan move-to-earn yang dibangun STEPN tidak berhenti sebagai gagasan di atas kertas. Dalam periode tertentu, aplikasi ini berhasil menarik jutaan pengguna dengan tingkat aktivitas yang tinggi. Pengguna datang dari berbagai negara dan latar belakang, menunjukkan bahwa pengalaman yang ditawarkan tidak terbatas pada satu komunitas atau wilayah tertentu.
Yang membedakan STEPN dari banyak aplikasi lain bukan hanya jumlah pendaftarannya, tetapi pola penggunaan yang tercatat. Aktivitas fisik yang dikumpulkan secara kolektif mencapai puluhan juta mil, sebuah angka yang merefleksikan kebiasaan bergerak yang benar-benar dilakukan, bukan sekadar interaksi digital di layar. Pengguna tidak hanya hadir, tetapi aktif berjalan dan berlari sebagai bagian dari rutinitas mereka.
Skala penggunaan ini menempatkan STEPN di posisi yang berbeda dari eksperimen Web3 lain yang berhenti pada adopsi terbatas. Ia sempat menunjukkan bahwa ketika teknologi dikaitkan langsung dengan kebiasaan manusia, Web3 dapat menjangkau publik di luar lingkaran pengguna kripto tradisional. Namun, tingginya tingkat aktivitas tersebut juga memunculkan pertanyaan lanjutan: jika jutaan orang benar-benar bergerak untuk mendapatkan insentif, bagaimana usaha fisik itu diterjemahkan menjadi nilai di dalam sistem?
Aktivitas Fisik sebagai Proof-of-Work Nyata
Ketika jutaan orang benar-benar menggunakan STEPN dan mencatat aktivitas fisik dalam skala besar, muncul implikasi penting yang tidak dimiliki banyak aplikasi Web3 lain. Insentif yang diterima pengguna tidak berasal dari klik, waktu layar, atau interaksi pasif, melainkan dari usaha fisik yang nyata. Setiap token yang dihasilkan berkaitan langsung dengan energi dan waktu yang dikeluarkan pengguna di dunia nyata.
Pendekatan ini memberi makna berbeda pada sistem insentif yang dibangun STEPN. Aktivitas berjalan dan berlari diposisikan sebagai dasar produksi nilai, menyerupai konsep proof-of-work dalam blockchain, sehingga upaya untuk memanipulasi sistem menjadi lebih sulit dibanding model yang sepenuhnya digital. Bagi pengguna awam, konsep ini relatif mudah dipahami: untuk mendapatkan hasil, ada usaha fisik yang harus dilakukan, bukan sekadar aktivitas di layar.
Struktur dua token digunakan untuk menjaga keseimbangan di dalam ekosistem. Token dengan fungsi utilitas mendukung aktivitas harian pengguna, sementara token dengan fungsi tata kelola ditempatkan pada lapisan yang lebih strategis. Dalam praktiknya, desain ini dimaksudkan agar aktivitas fisik tidak hanya menjadi gimmick, tetapi benar-benar berperan sebagai fondasi ekonomi aplikasi.
Namun, ketika aktivitas fisik dijadikan sumber nilai utama, tantangan baru pun muncul. Skala penggunaan yang besar, perbedaan perilaku pengguna, hingga tekanan pasar membuat keseimbangan antara insentif dan keberlanjutan menjadi semakin sulit dijaga. Dari sinilah berbagai persoalan mulai terlihat, dan respons terhadap persoalan-persoalan inilah yang kemudian menentukan arah STEPN selanjutnya.
Tantangan Nyata dan Cara STEPN Merespons
Ketika STEPN mulai digunakan dalam skala besar dan aktivitas fisik benar-benar menjadi sumber nilai di dalam sistem, berbagai gesekan mulai muncul. Tantangan pertama datang dari sisi keamanan. Akun pengguna menjadi target serangan, dan celah-celah teknis yang sebelumnya tidak terasa signifikan mulai berdampak nyata ketika jumlah pengguna meningkat.
Di saat yang sama, tekanan juga datang dari faktor di luar teknologi. Perbedaan regulasi di berbagai negara memunculkan persoalan baru, mulai dari aspek perpajakan hingga kepatuhan terhadap kebijakan platform digital. Masalah ini tidak muncul secara terpisah, tetapi saling berkaitan dengan pertumbuhan pengguna yang cepat dan lintas wilayah.
Selain itu, masukan dari komunitas memperlihatkan kebutuhan yang lebih beragam dari sekadar insentif ekonomi. Isu aksesibilitas dan pengalaman penggunaan menjadi sorotan, menunjukkan bahwa aplikasi yang dipakai jutaan orang harus mampu mengakomodasi kondisi dan kemampuan pengguna yang berbeda-beda. Dalam situasi ini, pengembangan produk tidak lagi bisa bergerak satu arah.
Respons terhadap berbagai tantangan tersebut dilakukan melalui serangkaian penyesuaian, baik di sisi keamanan maupun fitur. Namun, setiap perbaikan membawa konsekuensi baru. Semakin kompleks sistem yang dibangun untuk menjawab masalah, semakin besar pula tantangan menjaga keseimbangan antara pengalaman pengguna dan keberlanjutan ekonomi aplikasi. Ketegangan inilah yang kemudian semakin terasa ketika kondisi pasar berubah drastis.
Bear Market dan Ujian Sustainability Move-to-Earn
Ketika kondisi pasar kripto mulai memburuk,memasuki fase bear market kripto, tekanan terhadap model move-to-earn tidak lagi bersifat teoritis. Penurunan harga aset berdampak langsung pada insentif yang diterima pengguna, sementara biaya dan usaha fisik yang dikeluarkan tetap sama. Di titik ini, hubungan antara aktivitas pengguna dan imbalan yang mereka terima mulai terasa timpang bagi sebagian orang.
Penurunan insentif tersebut perlahan memengaruhi perilaku pengguna. Aktivitas harian menurun, bukan karena konsep bergerak kehilangan relevansi, tetapi karena keseimbangan antara usaha dan hasil tidak lagi sejelas sebelumnya. Bagi produk yang bertumpu pada partisipasi aktif, perubahan ini menjadi tekanan serius yang tidak bisa diabaikan.
Dari sisi pengelolaan produk, kondisi pasar yang memburuk juga memaksa penyesuaian. Skala operasional dievaluasi ulang, prioritas pengembangan dipersempit, dan fokus tidak lagi bisa hanya bertumpu pada pertumbuhan pengguna. Dalam situasi ini, adopsi massal yang sebelumnya menjadi kekuatan justru berubah menjadi tantangan ketika tidak ditopang oleh model yang tahan terhadap perubahan siklus pasar.
Pengalaman ini memperlihatkan batas dari pendekatan move-to-earn jika berdiri sendiri. Ketika insentif ekonomi melemah, produk dituntut untuk memiliki alasan keberadaan yang lebih luas daripada sekadar imbalan. Dari sinilah kebutuhan untuk meninjau ulang arah STEPN mulai menguat, mendorong pencarian bentuk baru yang tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi pasar kripto.
Evolusi STEPN ke Arah Web3 Lifestyle
Tekanan yang muncul selama fase pasar menurun memaksa STEPN untuk meninjau ulang peran yang ingin dijalankan oleh produknya. Ketika insentif ekonomi tidak lagi cukup untuk mempertahankan partisipasi pengguna, menjadi jelas bahwa aplikasi ini tidak bisa bergantung sepenuhnya pada mekanisme move-to-earn dalam bentuk awalnya.
Perubahan arah mulai terlihat dari cara STEPN memosisikan dirinya di luar sekadar aplikasi insentif aktivitas fisik. Fokus tidak lagi berhenti pada berapa banyak token yang bisa diperoleh pengguna, tetapi pada bagaimana pengalaman menggunakan aplikasi tersebut terhubung dengan rutinitas sehari-hari. Aktivitas offline, interaksi sosial, dan elemen gaya hidup mulai mendapat porsi yang lebih besar dalam pengembangan produk.
Langkah ini mencerminkan pergeseran cara pandang terhadap Web3 itu sendiri. Alih-alih ditempatkan sebagai sistem insentif yang berdiri sendiri, teknologi mulai diperlakukan sebagai lapisan pendukung dari pengalaman yang sudah dikenal pengguna. Dalam konteks ini, move-to-earn tidak ditinggalkan, tetapi ditempatkan sebagai salah satu komponen, bukan pusat dari seluruh ekosistem.
Perubahan arah tersebut menunjukkan bahwa STEPN sedang mencari bentuk yang lebih tahan terhadap perubahan siklus pasar. Ketika nilai sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh insentif ekonomi, tetapi juga oleh keterikatannya dengan kebiasaan dan identitas pengguna, ruang untuk berkembang menjadi lebih luas. Pendekatan inilah yang kemudian membuka jalan bagi pengembangan produk dan inisiatif lain di luar STEPN itu sendiri.
Ekosistem Find Satoshi Labs di Bawah Yawn Rong
Perubahan arah yang terjadi pada STEPN tidak berdiri sendiri. Di baliknya, Yawn Rong terlibat dalam upaya yang lebih luas melalui Find Satoshi Labs, sebuah studio pengembangan produk Web3 yang tidak bertumpu pada satu aplikasi saja. Pendekatan ini mencerminkan pemahaman bahwa ketahanan sebuah produk tidak cukup dibangun dari satu model, terutama dalam industri yang bergerak cepat dan sangat dipengaruhi oleh siklus pasar.
Di bawah payung Find Satoshi Labs, berbagai produk dikembangkan dengan fokus yang berbeda-beda. Ada yang diarahkan pada identitas digital, ada yang menyasar marketplace, dan ada pula yang mengeksplorasi interaksi sosial berbasis Web3. Ragam ini bukan sekadar diversifikasi, melainkan respon terhadap keterbatasan pendekatan tunggal yang telah diuji sebelumnya melalui STEPN.
Pendekatan ekosistem memungkinkan setiap produk berdiri dengan fungsi dan perannya masing-masing, tanpa harus memikul seluruh beban keberhasilan di satu titik. Bagi Yawn Rong, pengembangan ekosistem semacam ini memberi ruang untuk bereksperimen dengan berbagai bentuk interaksi antara teknologi dan pengguna, sambil tetap menjaga kesinambungan visi yang sama: membawa Web3 lebih dekat ke kehidupan sehari-hari.
Dari sini terlihat bahwa peran Yawn Rong tidak berhenti pada penciptaan satu tren atau satu aplikasi. Melalui Find Satoshi Labs, ia terlibat dalam proses membangun fondasi yang lebih luas, tempat berbagai pendekatan bisa diuji, gagal, disesuaikan, lalu berkembang. Cara kerja inilah yang kemudian memberi konteks lebih besar terhadap kontribusinya di ranah Web3 secara keseluruhan.
Persembahan Yawn Rong bagi Bidang Web3
Apa yang dilakukan Yawn Rong melalui STEPN dan pendekatan move-to-earn tidak berhenti pada penciptaan produk atau tren sesaat. Di level yang lebih dalam, ia terlibat dalam sebuah eksperimen yang jarang dibicarakan secara terbuka di Web3: mencoba mengaitkan teknologi dengan perubahan perilaku manusia, bukan sekadar dengan insentif finansial.
Selama ini, banyak produk Web3 bertumpu pada mekanisme ekonomi sebagai penggerak utama. STEPN justru menguji batas pendekatan tersebut dengan menempatkan aktivitas fisik sebagai prasyarat nilai. Ketika berjalan dan berlari dijadikan bagian dari sistem, teknologi tidak lagi berdiri sendiri, melainkan bergantung pada kebiasaan yang sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari. Di titik ini, move-to-earn berubah dari sekadar model insentif menjadi percobaan tentang bagaimana Web3 bisa masuk ke ruang yang biasanya berada di luar layar.
Eksperimen ini tidak berjalan tanpa batasan. Tekanan pasar, perubahan perilaku pengguna, dan kebutuhan untuk beradaptasi menunjukkan bahwa mengubah kebiasaan manusia jauh lebih kompleks dibanding merancang tokenomics. Namun justru di sanalah letak kontribusinya. Pendekatan Yawn Rong membuka ruang diskusi baru tentang arah Web3 ke depan: apakah teknologi ini akan terus bergantung pada insentif ekonomi, atau mulai mencari relevansi melalui keterikatan yang lebih nyata dengan aktivitas manusia.
Pertanyaan inilah yang kemudian membuat kontribusi Yawn Rong melampaui satu aplikasi atau satu fase pasar. Ia tidak menawarkan jawaban final, tetapi meninggalkan jejak penting tentang kemungkinan lain bagi Web3 ketika teknologi ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan, bukan sebagai tujuan itu sendiri.
Kesimpulan
Apa yang bisa dipetik dari perjalanan Yawn Rong bukanlah keberhasilan satu aplikasi atau popularitas satu konsep. Pelajaran terpentingnya justru terletak pada cara ia membaca masalah yang lebih mendasar di Web3. Banyak produk gagal menjangkau publik bukan karena teknologinya terlalu rumit, melainkan karena ia tidak berangkat dari kebiasaan manusia yang sudah ada.
Move-to-earn, dalam konteks ini, bukan jawaban final. Ia hanyalah salah satu cara untuk menguji gagasan bahwa teknologi akan lebih mudah diterima ketika tidak memaksa orang berubah, tetapi menyesuaikan diri dengan rutinitas yang telah mereka jalani. Ketika pendekatan ini diuji dalam skala besar, batasannya terlihat jelas, sekaligus membuka pemahaman baru tentang apa yang dibutuhkan agar Web3 tidak berhenti sebagai wacana.
Di sinilah posisi Yawn Rong menjadi relevan. Ia tidak sedang menawarkan cetak biru masa depan Web3, tetapi menunjukkan bahwa arah pengembangannya perlu dimulai dari perilaku manusia, bukan dari mekanisme teknologi. Cara berpikir inilah yang membuat kontribusinya layak dibaca sebagai bagian dari proses belajar industri, bukan sekadar kisah sukses atau kegagalan sebuah produk.
Itulah informasi menarik tentang Yawn Rong yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
FAQ
1. Jika STEPN sempat banyak digunakan, mengapa sebagian pengguna kemudian berhenti?
Pengalaman STEPN menunjukkan bahwa adopsi berbasis insentif sangat dipengaruhi oleh persepsi keseimbangan antara usaha dan hasil. Ketika nilai insentif menurun akibat kondisi pasar, sebagian pengguna merasa aktivitas fisik yang sama tidak lagi memberikan imbalan yang sepadan. Hal ini tidak selalu berarti konsepnya gagal, melainkan memperlihatkan bahwa motivasi berbasis ekonomi bersifat dinamis. Dari sini terlihat bahwa keberlanjutan move-to-earn tidak bisa hanya mengandalkan insentif, tetapi perlu alasan penggunaan yang tetap relevan meskipun kondisi pasar berubah.
2. Mengapa STEPN bisa menarik pengguna non-crypto, padahal banyak aplikasi Web3 gagal?
STEPN tidak meminta pengguna memahami blockchain di awal. Fokusnya bukan pada teknologi, tetapi pada kebiasaan yang sudah ada, yaitu bergerak. Dengan menempatkan teknologi di belakang layar, aplikasi ini menurunkan hambatan masuk bagi pengguna awam. Pendekatan ini berbeda dari banyak produk Web3 lain yang menuntut pemahaman teknis sejak awal, sehingga sering kali berhenti di komunitas terbatas.
3. Dampak paling nyata apa yang ditinggalkan Yawn Rong terhadap arah produk STEPN?
Dampak terbesarnya terlihat pada cara STEPN diposisikan sebagai produk yang tidak menuntut pemahaman teknis di awal. Pendekatan ini memengaruhi banyak keputusan penting, mulai dari desain antarmuka yang ringan hingga penempatan teknologi blockchain di balik layar. Alih-alih membangun produk yang “menunjukkan” kecanggihan Web3, STEPN dirancang agar pengguna bisa langsung beraktivitas tanpa merasa sedang berinteraksi dengan sistem kompleks. Pendekatan ini kemudian menjadi pembeda utama dibanding banyak produk GameFi lain yang gagal menurunkan hambatan masuk bagi pengguna awam.
4. Mengapa banyak proyek move-to-earn kesulitan bertahan setelah hype mereda?
Model move-to-earn sangat bergantung pada keseimbangan antara usaha pengguna dan insentif yang diterima. Ketika kondisi pasar berubah dan nilai insentif menurun, motivasi pengguna ikut terpengaruh. Tanpa alasan penggunaan yang lebih luas di luar imbalan ekonomi, banyak proyek kesulitan mempertahankan partisipasi. Pengalaman STEPN memperlihatkan bahwa move-to-earn perlu dikombinasikan dengan nilai lain agar lebih tahan terhadap siklus pasar.
5. Apakah move-to-earn masih relevan, atau hanya eksperimen yang gagal?
Move-to-earn tidak bisa dilihat sebagai jawaban final. Ia lebih tepat dipahami sebagai eksperimen tentang bagaimana teknologi bisa memengaruhi perilaku manusia. Dalam beberapa konteks, pendekatan ini berhasil membuka pintu adopsi, tetapi juga memperlihatkan batasannya. Relevansinya ke depan bergantung pada kemampuan proyek untuk menjadikan aktivitas fisik sebagai bagian dari pengalaman, bukan satu-satunya sumber nilai.
6. Apa perbedaan STEPN dengan aplikasi kebugaran biasa jika dilihat lebih dalam?
Perbedaannya tidak hanya pada insentif berbasis blockchain. STEPN menguji bagaimana aktivitas fisik bisa dijadikan bagian dari sistem ekonomi digital, lengkap dengan konsekuensi dan risikonya. Aplikasi kebugaran tradisional berfokus pada kesehatan dan pelacakan aktivitas, sementara STEPN menambahkan lapisan ekonomi yang membuat perilaku pengguna memiliki dampak finansial, sekaligus membuka tantangan baru terkait keberlanjutan.





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
