Kalau kamu sudah cukup lama ngikutin kripto, kamu pasti pernah ngerasain fase ketika pasar terasa seperti lomba cepat-cepatan: siapa yang paling duluan masuk narasi, dia yang menang. Masalahnya, pola itu bikin banyak orang terbiasa menilai aset hanya dari cerita, bukan dari kenyataan yang bisa diuji.
Di fase pasar yang makin matang, cara pikir seperti itu mulai sering “kebentur” realita. Banyak token bisa trending, tapi tidak semua punya fondasi yang sanggup bertahan ketika sentimen berubah. Nah, di sinilah nama seperti Ryan Connor jadi menarik bukan karena sosoknya, tapi karena cara pandangnya mewakili pendekatan riset kripto yang lebih rasional: mengutamakan data, struktur, dan logika, bukan sekadar keyakinan kolektif di media sosial.
Siapa Ryan Connor dan Kenapa Cara Pikirnya Relevan
Ryan Connor dikenal sebagai Head of Research di Blockworks Research, sebuah tim riset yang posisinya dekat dengan kebutuhan investor yang menuntut kejelasan. Bukan tipe riset yang isinya sekadar “prediksi harga minggu depan”, tapi riset yang mencoba menjawab pertanyaan yang lebih sulit: aset mana yang punya nilai ekonomi yang masuk akal, bagaimana mekanismenya bekerja, dan risiko apa yang sering disembunyikan di balik narasi.
Kalau kamu lihat dari kacamata edukasi, value terbesarnya bukan di jabatan atau biodatanya, melainkan pola analisis yang bisa kamu tiru. Pola ini membantu kamu membedakan “proyek yang ramai” dengan “proyek yang kuat”, tanpa harus jadi analis institusional atau punya akses data premium.
Dari sini, kita bisa masuk ke poin yang paling sering luput: kenapa pendekatan ikut hype makin sering bikin orang salah langkah, dan apa gantinya kalau kamu ingin lebih rasional.
Kenapa Pendekatan Ikut Hype Makin Sering Gagal
Pasar kripto memang tidak akan pernah steril dari narasi, karena narasi itu bagian dari bagaimana nilai dibentuk. Tapi masalah muncul ketika narasi jadi satu-satunya dasar keputusan. Di siklus-siklus sebelumnya, strategi “ikut arus” kadang masih bisa selamat karena likuiditas besar dan risk appetite tinggi membuat hampir semua aset ikut terangkat.
Kondisi seperti itu tidak selalu terulang. Ketika likuiditas mengetat, investor jadi lebih selektif. Token yang dulu bisa naik hanya karena “tema”, sekarang ditanya: produknya ada tidak, penggunaannya apa, pendapatan atau aliran nilainya dari mana, dan apakah suplai tokennya akan membanjiri pasar.
Kalau kamu ingin lebih tahan banting, kamu butuh cara yang membuat keputusanmu tidak sepenuhnya bergantung pada suasana. Cara itu bukan menghilangkan emosi, tapi memberi kerangka agar emosi tidak jadi satu-satunya kompas.
Prinsip Riset Kripto yang Lebih Rasional
Kalau ditarik ke inti pemikirannya, riset kripto yang lebih rasional sebenarnya tidak rumit. Bukan soal rumus yang canggih atau akses data mahal, tapi soal urutan cara berpikir. Ryan Connor berkali-kali menekankan bahwa banyak kesalahan investor muncul bukan karena kurang informasi, melainkan karena salah menempatkan prioritas saat menilai sebuah proyek.
Alih-alih langsung terpancing cerita besar yang beredar, pendekatan ini mengajak kamu melihat fondasinya lebih dulu. Dari sini, beberapa prinsip utama mulai kelihatan dengan jelas.
Fundamental dulu, narasi belakangan
Narasi bisa bantu menjelaskan kenapa sebuah sektor menarik, tapi fundamental menentukan apakah sebuah proyek layak bertahan ketika narasi pindah ke tempat lain. Fundamental kripto di sini bukan cuma “teknologinya bagus”. Fundamental yang lebih berguna itu menyentuh hal yang bisa diuji.
Mulai dari pertanyaan sederhana: proyek ini menyelesaikan masalah apa. Setelah itu, lihat apakah penyelesaiannya benar dipakai orang. Banyak proyek terlihat meyakinkan di presentasi, tapi penggunaan nyatanya kecil. Di tahap ini kamu bisa mencari sinyal yang lebih objektif lewat data on-chain, seperti aktivitas pengguna, jumlah transaksi, atau konsistensi penggunaan fitur utama dari waktu ke waktu, atau hanya lonjakan sesaat.
Ketika kamu menempatkan fundamental di depan, narasi tidak hilang, tapi posisinya berubah. Narasi jadi konteks, bukan alasan utama.
Ikuti aliran nilai: dari mana “uangnya” datang
Salah satu cara paling rasional untuk menilai proyek kripto adalah memahami aliran nilai. Di kripto, orang sering mencampuradukkan volume, fee, dan pendapatan kripto. Padahal tiga hal itu berbeda.
Volume bisa besar karena insentif, bukan karena kebutuhan. Fee bisa besar tapi tidak berarti proyek “menghasilkan” nilai untuk pemegang token. Pendapatan pun bisa bermakna berbeda tergantung desainnya: apakah fee dibakar, masuk treasury, dibagikan ke staker, atau hanya jadi pemasukan pihak tertentu yang tidak mengalir ke token.
Kamu tidak harus memburu model yang “membayar” token holder, karena itu juga punya konsekuensi regulasi dan risiko. Yang lebih penting adalah memahami mekanismenya secara jernih. Kalau ada aliran nilai, ke mana ia pergi. Kalau tidak ada, apa alasan token tetap punya peran. Di titik ini, kamu mulai melihat perbedaan antara token yang sekadar “stiker harga” dengan token yang punya fungsi ekonomi.
Begitu kamu paham aliran nilai, kamu akan lebih kebal terhadap kalimat-kalimat promosi yang terdengar kuat, tapi tidak nyambung ke desain ekonominya.
Tokenomics dibaca seperti kontrak sosial, bukan brosur
Tokenomics sering disajikan seperti brosur marketing, padahal kalau dibaca dengan benar, tokenomics adalah kontrak sosial yang menentukan siapa diuntungkan, kapan suplai masuk pasar, dan bagaimana tekanan harga bisa terbentuk. Cara baca yang lebih rasional adalah menganggap tokenomics sebagai kontrak sosial antara tim, investor awal, pengguna, dan pasar publik.
Mulai dari suplai. Bedakan circulating supply dengan total supply dan fully diluted valuation. Banyak token terlihat murah karena circulating kecil, tapi jika unlock besar menunggu di belakang, tekanan jual bisa muncul berkali-kali. Kamu tidak perlu menebak tanggal dengan akurat untuk memahami risikonya. Yang kamu butuhkan adalah gambaran struktur: siapa yang memegang porsi besar, kapan distribusinya mulai longgar, dan apakah ada mekanisme yang menyeimbangkan suplai.
Lalu masuk ke insentif. Apakah token dipakai untuk mendorong penggunaan yang nyata, atau hanya untuk “membeli” aktivitas. Insentif jangka pendek bisa menaikkan metrik, tapi kalau pengguna pergi ketika insentif berhenti, berarti produk belum berdiri di atas kebutuhan.
Setelah kamu melihat tokenomics sebagai kontrak sosial, kamu akan lebih mudah menangkap konflik kepentingan yang sering tersembunyi di angka-angka.
Transparansi bukan bonus, tapi pondasi
Riset rasional sulit dilakukan kalau informasi inti tidak tersedia. Karena itu, salah satu tema penting di riset kripto modern adalah transparansi token. Dalam konteks ini, Blockworks lewat inisiatif seperti Token Transparency Framework mengarah pada standar disclosure yang lebih jelas: informasi yang perlu dipublikasikan proyek agar pasar bisa menilai dengan lebih adil.
Secara praktis, ini menyentuh hal-hal seperti struktur alokasi, jadwal unlock, pihak yang punya kontrol besar, kebijakan treasury, hingga data yang menunjukkan bagaimana protokol beroperasi. Semakin transparan sebuah proyek, semakin mudah kamu memeriksa klaimnya. Semakin banyak area yang gelap, semakin besar beban risiko yang kamu tanggung sebagai pembeli di pasar.
Yang menarik, transparansi tidak otomatis berarti proyek bagus. Transparansi hanya membuat penilaian menjadi mungkin. Tapi justru itu yang kamu butuhkan kalau tujuanmu bukan berjudi, melainkan membuat keputusan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Kerangka Praktis: Cara Kamu Menerapkan Riset Rasional
Setelah memahami prinsipnya, langkah berikutnya adalah mengubahnya jadi kebiasaan. Kamu tidak perlu membuat laporan riset 30 halaman. Kamu cukup membangun rutinitas pertanyaan yang konsisten.
Pertama, pastikan kamu paham objeknya. Token yang kamu nilai itu token dari jaringan, token governance, token fee, atau token yang fungsinya lebih ke insentif. Dua token bisa sama-sama “DeFi”, tapi mekanisme nilainya jauh berbeda.
Kedua, cek penggunaan yang bisa diverifikasi. Cari indikator yang relevan dengan fungsi inti proyeknya. Untuk DEX, misalnya, kamu bisa lihat aktivitas trading yang bertahan, bukan hanya lonjakan musiman. Untuk lending, lihat kesehatan pasar pinjam-meminjam, bukan hanya TVL yang bisa berubah karena insentif.
Ketiga, baca tokenomics dengan fokus pada risiko suplai. Lihat unlock, konsentrasi kepemilikan, dan bagaimana token masuk ke pasar. Kalau kamu menemukan suplai akan meningkat agresif sementara permintaan belum jelas, itu sinyal risiko yang harus dihargai, bukan diabaikan.
Keempat, pahami aliran nilai dan siapa yang menikmatinya. Tidak semua token harus punya “cash flow” seperti saham, tapi setiap token seharusnya punya alasan ekonomi yang konsisten. Jika alasannya kabur, kamu perlu ekstra hati-hati.
Kelima, masukkan faktor keamanan dan tata kelola. Apakah ada audit, bagaimana sejarah insiden, bagaimana keputusan diambil, dan apakah ada risiko sentralisasi. Banyak orang melewatkan ini karena terdengar teknis, padahal ini sering jadi pembeda antara proyek yang bertahan dan yang runtuh ketika terjadi masalah.
Dengan rutinitas ini, kamu sedang membangun kebiasaan yang tidak bergantung pada satu influencer atau satu timeline. Kamu boleh tetap mengikuti berita, tapi keputusanmu punya fondasi.
Apa yang Bisa Kamu Ambil dari Cara Pikir Ryan Connor
Nilai utama dari cara pikir Ryan Connor bukan terletak pada daftar metrik atau framework yang ia gunakan, melainkan pada bagaimana ia memosisikan risiko dan ketidakpastian sejak awal. Pendekatan ini berangkat dari kesadaran bahwa pasar kripto tidak pernah sepenuhnya efisien, dan justru karena itulah keputusan yang diambil tanpa struktur berpikir sering berujung pada bias dan overconfidence.
Alih-alih mencoba menebak ke mana harga akan bergerak, riset yang lebih rasional memaksa kamu untuk lebih jujur terhadap apa yang benar-benar kamu pahami. Apakah kamu tahu dari mana nilai sebuah token berasal, siapa yang paling diuntungkan oleh desain ekonominya, dan kondisi apa yang bisa membuat tesis investasimu runtuh. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jarang dibahas saat pasar euforia, tapi justru menjadi penentu ketika kondisi berubah.
Cara pikir ini juga menggeser fokus dari “seberapa besar potensi untung” ke “seberapa jelas struktur risikonya”. Dalam banyak kasus, kegagalan investor kripto bukan karena salah memilih aset, melainkan karena tidak memahami konsekuensi dari suplai yang terus bertambah, insentif yang tidak berkelanjutan, atau ketergantungan proyek pada satu sumber likuiditas.
Dengan kerangka seperti ini, kamu tidak sedang mencari aset yang selalu benar, tapi membangun disiplin untuk mengenali kapan sebuah aset tidak lagi sesuai dengan asumsi awal. Di sinilah riset berfungsi sebagai alat kontrol, bukan alat pembenaran. Ketika data berubah, keputusan pun ikut disesuaikan, bukan dipertahankan hanya karena sudah terlanjur percaya.
Pendekatan inilah yang membuat riset kripto menjadi proses berkelanjutan, bukan sekadar ritual sebelum membeli. Bukan untuk menghilangkan risiko, tapi untuk memastikan bahwa risiko yang kamu ambil memang kamu pahami sepenuhnya.
Kesimpulan
Pendekatan riset kripto yang lebih rasional pada akhirnya bukan soal menemukan aset yang “paling benar”, tapi soal membangun disiplin berpikir di tengah pasar yang penuh distorsi. Dalam praktiknya, banyak keputusan buruk lahir bukan karena kurangnya informasi, melainkan karena terlalu cepat menyimpulkan sebelum struktur nilainya dipahami.
Cara pikir yang dibawa Ryan Connor menunjukkan bahwa riset berfungsi sebagai alat penyaring. Ia membantu kamu mengenali batas pemahaman sendiri, membaca potensi konflik kepentingan dalam desain proyek, dan menyadari sejak awal kondisi apa saja yang bisa membatalkan asumsi yang kamu pegang. Ini membuat keputusan tidak lagi berdiri di atas keyakinan, tapi di atas kesadaran akan risiko.
Dengan fondasi seperti ini, perubahan pasar tidak selalu harus disikapi dengan panik atau euforia. Kamu mungkin tetap salah dalam membaca arah harga, tapi kecil kemungkinan kamu salah memahami apa yang sebenarnya kamu pegang. Dan dalam ekosistem kripto yang terus berubah, pemahaman semacam ini sering kali lebih berharga daripada sekadar mencari momen yang terasa paling tepat.
Itulah informasi menarik tentang Ryan Connor yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
FAQ
1. Apa yang dimaksud riset kripto yang rasional
Riset kripto yang rasional adalah cara menilai aset kripto berbasis data dan mekanisme yang bisa diverifikasi, seperti penggunaan produk, tokenomics, aliran nilai, risiko suplai, keamanan, dan transparansi informasi. Fokusnya bukan menebak harga, melainkan memahami struktur nilai dan risikonya.
2. Apakah riset fundamental kripto selalu bisa memprediksi harga
Tidak. Fundamental membantu kamu menilai kelayakan dan risiko, tapi harga tetap dipengaruhi sentimen, likuiditas, dan kondisi makro. Riset fundamental lebih berguna untuk menghindari keputusan yang rapuh dan memperjelas alasan kamu memegang sebuah aset.
3. Metrik apa yang paling penting untuk analisis proyek kripto
Tidak ada satu metrik yang menang sendiri. Umumnya kamu perlu kombinasi: indikator penggunaan yang relevan, data suplai dan jadwal unlock, aliran nilai seperti fee dan distribusinya, serta indikator risiko seperti sentralisasi, audit, dan riwayat insiden. Yang paling penting adalah konsistensi antara klaim proyek dan data yang terlihat.
4. Apa itu transparansi token dan kenapa jadi isu besar
Transparansi token adalah keterbukaan informasi inti sebuah proyek, seperti alokasi, vesting, konsentrasi kepemilikan, kebijakan treasury, dan mekanisme ekonomi token. Ini penting karena tanpa disclosure yang jelas, investor sulit menilai risiko secara adil dan pasar lebih mudah dipenuhi asimetri informasi.
5. Bagaimana cara mulai membangun kebiasaan riset kripto yang benar
Mulai dari rutinitas pertanyaan yang sama setiap kali menilai token: token ini fungsinya apa, dipakai untuk apa, data penggunaan relevannya bagaimana, risiko suplai dari unlock seperti apa, aliran nilainya ke mana, dan seberapa transparan proyeknya. Kalau kamu konsisten dengan pertanyaan itu, kualitas keputusanmu biasanya naik tanpa perlu proses yang rumit.





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
