Banyak investor merasa frustrasi ketika harga aset yang mereka miliki tidak banyak bergerak. Tidak turun, tapi juga tidak benar-benar naik signifikan.
Dalam situasi seperti ini, ada pendekatan yang sering digunakan oleh investor berpengalaman untuk tetap menghasilkan arus kas tambahan: covered call. Strategi ini bukan soal menebak harga melonjak tinggi, melainkan memaksimalkan aset yang sudah ada di portofolio.
Covered call menjadi menarik karena menggabungkan kepemilikan saham dengan penjualan opsi call. Artinya, kamu tetap memegang saham, tetapi sekaligus menerima premi dari pihak lain yang membeli hak untuk membeli saham tersebut di harga tertentu.
Apa Itu Covered Call?
Covered call adalah strategi opsi di mana investor menjual (menulis) call option atas saham yang sudah mereka miliki. Dalam praktiknya, satu kontrak opsi biasanya mewakili 100 lembar saham. Karena sahamnya sudah dimiliki, posisi ini disebut “covered” atau terlindungi.
Investor menerima premi dari penjualan opsi tersebut. Sebagai gantinya, mereka berkewajiban menjual sahamnya pada harga tertentu (strike price) jika pembeli opsi menggunakan haknya sebelum atau saat jatuh tempo.
Berbeda dengan menjual call tanpa memiliki saham (naked call), covered call relatif lebih terkontrol risikonya karena saham sudah ada di tangan. Namun, bukan berarti tanpa konsekuensi.
Cara Kerja Covered Call
Cara kerjanya sederhana secara konsep, tetapi perlu pemahaman detail dalam praktik.
Pertama, investor membeli atau sudah memiliki minimal 100 lembar saham. Misalnya, kamu memiliki 100 saham PT XYZ di harga Rp1.000 per lembar.
Kedua, kamu menjual call option dengan strike price Rp1.100 dan menerima premi, misalnya Rp50 per saham. Artinya, kamu langsung mendapatkan Rp5.000 (Rp50 x 100 saham) sebagai pendapatan.
Ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi saat jatuh tempo:
Jika harga saham tetap di bawah Rp1.100, opsi kemungkinan tidak dieksekusi. Kamu tetap memegang saham dan menyimpan premi sebagai keuntungan tambahan.
Jika harga saham naik melewati Rp1.100, sahammu bisa “dipanggil” (dijual) pada harga Rp1.100. Kamu tetap untung dari kenaikan harga saham ditambah premi, tetapi tidak menikmati kenaikan di atas Rp1.100.
Jika harga saham turun tajam, kamu tetap mengalami kerugian dari penurunan harga saham, tetapi premi sedikit membantu mengurangi dampaknya.
Struktur ini membuat covered call sering dianggap sebagai strategi income, bukan strategi agresif mengejar capital gain besar.
Tujuan Utama: Menghasilkan Income Tambahan
Banyak investor institusi menggunakan covered call untuk menciptakan arus kas rutin dari portofolio saham yang relatif stabil. Daripada hanya menunggu dividen atau kenaikan harga, mereka “menyewakan” sahamnya melalui opsi.
Strategi ini cocok ketika ekspektasi pasar cenderung netral atau naik tipis. Jika kamu merasa saham tidak akan melonjak drastis dalam waktu dekat, menjual call bisa menjadi cara mengoptimalkan aset.
Premi yang diterima dapat digunakan untuk menambah posisi, diversifikasi, atau sekadar menjadi tambahan cash flow. Dalam portofolio jangka panjang, konsistensi premi ini bisa signifikan jika dilakukan disiplin.
Namun, penting untuk memahami bahwa covered call membatasi potensi keuntungan maksimal. Strategi ini lebih fokus pada kestabilan dibanding lonjakan imbal hasil.
Kondisi Pasar yang Cocok
Covered call paling efektif ketika pasar bergerak sideways atau naik perlahan. Dalam kondisi ini, probabilitas opsi berakhir tanpa dieksekusi lebih tinggi, sehingga investor dapat terus mengumpulkan premi.
Saat volatilitas pasar meningkat, premi opsi biasanya lebih mahal. Ini bisa menjadi peluang menarik karena income yang diterima lebih besar. Namun, volatilitas tinggi juga berarti risiko pergerakan harga ekstrem meningkat.
Sebaliknya, jika kamu yakin saham akan naik tajam karena katalis kuat seperti laporan keuangan luar biasa atau sentimen positif besar, covered call bisa membuatmu kehilangan potensi keuntungan tambahan.
Strategi ini bukan untuk pasar bearish tajam, karena kerugian dari penurunan harga saham tetap bisa besar meski sudah menerima premi.
Risiko yang Perlu Dipahami
Banyak orang mengira covered call adalah strategi “aman”. Kenyataannya, tetap ada risiko signifikan.
Risiko utama adalah opportunity loss. Jika harga saham melonjak jauh di atas strike price, kamu tetap wajib menjual di harga yang sudah disepakati. Selisih kenaikan di atas strike tidak kamu nikmati.
Selain itu, jika harga saham turun drastis, kerugian tetap terjadi. Premi hanya berfungsi sebagai bantalan kecil. Misalnya, jika saham turun dari Rp1.000 ke Rp800, premi Rp50 tidak banyak membantu.
Ada juga risiko likuiditas dan eksekusi dini (early assignment), terutama pada saham dengan dividen. Pembeli opsi bisa mengeksekusi sebelum jatuh tempo jika dianggap menguntungkan.
Karena itu, pemilihan strike price dan waktu jatuh tempo menjadi keputusan strategis, bukan sekadar formalitas.
Contoh Perhitungan Sederhana
Misalkan kamu membeli 100 saham PT ABC di harga Rp2.000. Total modal Rp200.000.
Kamu menjual call dengan strike Rp2.200 dan menerima premi Rp100 per saham. Total premi Rp10.000.
Skenario pertama, harga saham di jatuh tempo Rp2.150. Opsi tidak dieksekusi. Kamu masih memiliki saham senilai Rp215.000 dan sudah menerima premi Rp10.000. Total nilai efektif Rp225.000.
Skenario kedua, harga saham Rp2.400. Opsi dieksekusi di Rp2.200. Kamu menjual saham di Rp2.200 dan mendapat Rp220.000, ditambah premi Rp10.000. Total Rp230.000. Kamu tetap untung, tetapi kehilangan potensi tambahan Rp20.000 yang bisa didapat jika menjual di pasar Rp2.400.
Skenario ketiga, harga saham turun ke Rp1.800. Nilai saham menjadi Rp180.000, tetapi kamu masih memiliki premi Rp10.000. Total efektif Rp190.000. Kerugian bersih Rp10.000 dibanding modal awal Rp200.000.
Dari sini terlihat bahwa covered call menggeser profil risiko-return menjadi lebih defensif.
Perbandingan Dengan Strategi Opsi Lain
Covered call sering dibandingkan dengan protective put. Jika covered call bertujuan menghasilkan income dengan mengorbankan upside, protective put bertujuan melindungi downside dengan membeli asuransi berupa put option.
Ada juga strategi naked call, di mana investor menjual call tanpa memiliki saham. Ini jauh lebih berisiko karena potensi kerugian tidak terbatas jika harga melonjak tinggi.
Strategi cash-secured put juga sering dipakai untuk menghasilkan premi, tetapi pendekatannya berbeda karena fokus pada potensi membeli saham di harga diskon.
Dibanding strategi agresif seperti long call atau long put yang bertaruh pada arah harga, covered call lebih cocok untuk investor yang sudah memiliki saham dan ingin memaksimalkan aset yang ada tanpa spekulasi besar.
Covered Call di Saham vs Opsi Kripto (BTC/ETH)
Secara struktur, covered call di saham dan di kripto terlihat mirip, kamu memiliki underlying asset, lalu menjual call option untuk menerima premi. Namun karakter pasar membuat eksekusinya terasa sangat berbeda.
Di pasar saham, volatilitas cenderung lebih terukur. Banyak saham blue-chip bergerak dalam rentang yang relatif stabil, sehingga covered call menjadi strategi income yang cukup konsisten. Likuiditas opsi pada saham besar juga tinggi, sehingga spread harga lebih efisien dan eksekusi lebih mudah.
Di pasar kripto, terutama pada Bitcoin dan Ethereum, volatilitas jauh lebih agresif. Lonjakan dua digit dalam waktu singkat bukan hal aneh. Artinya, strike price yang terlihat “aman” bisa dengan cepat ditembus. Trader yang menjual covered call di kripto harus benar-benar siap kehilangan asetnya jika terjadi breakout kuat.
Selain itu, implied volatility di kripto sering kali lebih tinggi dibanding saham tradisional. Ini berarti premi yang diterima juga bisa lebih besar. Di satu sisi menarik karena income lebih tinggi, tetapi di sisi lain mencerminkan risiko pergerakan harga yang lebih ekstrem.
Ada juga perbedaan pada mekanisme settlement. Beberapa platform opsi kripto menggunakan cash settlement, bukan physical delivery. Ini berarti ketika opsi dieksekusi, penyelesaian dilakukan dalam bentuk selisih nilai, bukan perpindahan aset langsung. Trader perlu memahami aturan platform sebelum menerapkan strategi.
Bagi pemegang aset jangka panjang seperti BTC atau ETH, covered call bisa menjadi cara menghasilkan yield tambahan. Namun strategi ini hanya masuk akal jika memang siap melepas aset di strike price tertentu. Dalam siklus bull market kripto yang agresif, terlalu sering menjual call bisa membuat trader kehilangan potensi kenaikan besar.
Pada akhirnya, covered call di kripto membutuhkan disiplin lebih tinggi dibanding saham. Volatilitas memberi premi besar, tetapi juga menguji kesabaran dan kesiapan melepas posisi.
Kesimpulan
Covered call bukan strategi untuk mengejar lonjakan spektakuler, melainkan alat disiplin untuk mengoptimalkan aset yang sudah dimiliki. Ia mengubah saham yang “diam” menjadi sumber arus kas, tetapi dengan harga: potensi kenaikan yang dibatasi.
Strategi ini paling masuk akal ketika investor sudah memiliki saham yang memang ingin dipegang, lalu secara sadar bersedia melepasnya di harga tertentu. Artinya, covered call bukan soal memaksakan income, tetapi soal menyelaraskan ekspektasi pasar dengan tujuan portofolio.
Banyak kesalahan terjadi ketika investor menjual call tanpa benar-benar siap kehilangan sahamnya. Di situlah frustrasi muncul, bukan karena strategi salah, tetapi karena niat awal tidak konsisten. Covered call bekerja optimal saat digunakan secara terencana, bukan reaktif.
Pada akhirnya, covered call adalah strategi manajemen ekspektasi. Ia menukar kemungkinan keuntungan tanpa batas dengan kepastian premi yang lebih stabil. Bagi investor yang menghargai konsistensi dan struktur risiko yang jelas, pendekatan ini bisa menjadi bagian penting dari portofolio jangka panjang.
Itulah informasi menarik tentang Covered call yang bisa kamu dalami lebih lanjut di kumpulan artikel kripto dari Indodax Academy. Selain mendapatkan insight mendalam lewat berbagai artikel edukasi crypto terpopuler, kamu juga bisa memperluas wawasan lewat kumpulan tutorial serta memilih dari beragam artikel populer yang sesuai minatmu.
Selain update pengetahuan, kamu juga bisa langsung pantau harga aset digital di Indodax Market seperti harga Bitcoin (BTC to IDR) atau aset lainnya dan ikuti perkembangan terkini lewat berita crypto terbaru. Untuk pengalaman trading lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading dari Indodax. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu nggak ketinggalan informasi penting seputar blockchain, aset kripto, dan peluang trading lainnya.
Kamu juga bisa ikutin berita terbaru kami lewat Google News agar akses informasi lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan aset kripto kamu dengan fitur INDODAX staking crypto, cara praktis buat dapetin penghasilan pasif dari aset yang disimpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
FAQ
1. Apakah covered call bisa dilakukan berulang setiap bulan?
Bisa, dan banyak investor memang melakukannya secara berkala. Namun hasilnya sangat tergantung pada volatilitas, kondisi pasar, dan pemilihan strike price. Konsistensi income tidak selalu berarti konsistensi keuntungan total jika harga saham bergerak ekstrem.
2. Apa yang terjadi jika saham “dipanggil” tetapi saya masih ingin memilikinya?
Kamu tetap wajib menjual saham di strike price jika opsi dieksekusi. Jika ingin memilikinya kembali, kamu harus membelinya lagi di pasar dengan harga terbaru. Karena itu, penting memilih strike price di level yang memang rela kamu lepas.
3. Apakah covered call cocok saat pasar bullish kuat?
Kurang ideal. Dalam tren naik tajam, strategi ini membatasi potensi capital gain. Covered call lebih cocok ketika ekspektasi pasar cenderung datar atau naik moderat.
4. Apakah strategi ini bisa diterapkan di pasar kripto?
Secara konsep bisa, terutama di platform derivatif kripto yang menyediakan opsi Bitcoin atau Ethereum. Namun likuiditas, volatilitas, dan risiko pasar kripto jauh lebih tinggi dibanding saham tradisional, sehingga manajemen risiko harus lebih ketat.
5. Apakah covered call mengurangi risiko kerugian sepenuhnya?
Tidak. Premi hanya berfungsi sebagai bantalan kecil terhadap penurunan harga. Jika saham jatuh tajam, kerugian tetap signifikan. Covered call mengubah profil risiko, bukan menghilangkannya.
Author: EH





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
