Tidak semua tokoh kripto berdiri di panggung yang sama. Ada yang dikenal karena meluncurkan token besar, ada yang karena membangun bursa, dan ada pula yang bekerja di lapisan paling dalam lapisan yang jarang disorot, tetapi menentukan arah arsitektur sistem itu sendiri. Yannik Schrade berada di kategori terakhir.
Jika sebelumnya Academy crypto membahas sosok-sosok seperti Mitchell Demeter dalam evolusi industri kripto atau mengulas figur seperti Rowan Stone sebagai builder Web3, maka Schrade datang dari sudut yang berbeda: kriptografi tingkat lanjut dan komputasi terenkripsi.
Ia dikenal sebagai kriptografer asal Jerman dan CEO Arcium, proyek yang mengembangkan komputasi terenkripsi di atas blockchain. Namun menyebutnya sekadar pendiri startup jelas terlalu menyederhanakan. Yang ia bangun bukan sekadar aplikasi, melainkan pendekatan terhadap bagaimana data seharusnya diproses di jaringan publik.
Ketertarikan pada Privasi Bukan karena Tren
Schrade lahir pada 17 Juni 2000. Ketertarikannya pada privasi muncul jauh sebelum istilah Web3 populer. Ia pernah menyebut bahwa novel 1984 memberi pengaruh besar terhadap cara ia memandang kekuasaan dan pengawasan. Dari sana muncul pertanyaan mendasar jika informasi adalah kekuatan, siapa yang seharusnya mengendalikan informasi?
Dalam sejarah kripto, diskusi soal privasi memang selalu hadir, bahkan sejak era awal Bitcoin yang juga dibahas dalam artikel Kenalan dengan Tokoh di Dunia Kripto. Namun pendekatan Schrade lebih teknis dan berfokus pada arsitektur sistem, bukan sekadar ide kebebasan finansial.
Ketika banyak remaja seusianya mengeksplorasi internet sebagai pengguna, ia justru tertarik membongkar cara sistem bekerja. Ia belajar pemrograman secara otodidak melalui modifikasi gim. Bagi sebagian orang itu hanya eksperimen kecil, tetapi di sanalah ia mulai memahami bagaimana logika dan aturan bisa membentuk pengalaman digital.
Ia sempat mengambil jurusan hukum di Heidelberg, lalu melanjutkan ke Technical University of Munich untuk mendalami ilmu komputer dan matematika.
Di bidang kriptografi, banyak yang ia dalami sendiri melalui riset dan eksperimen. Jalur ini membentuk cara berpikirnya: tidak menerima sistem apa adanya, tetapi mempertanyakan asumsi di baliknya.
Shiftscreen: Fondasi Engineering Sebelum Blockchain
Sebelum masuk ke sektor blockchain, Schrade mendirikan Shiftscreen pada 2020. Aplikasi ini memungkinkan pengguna iOS dan iPadOS menghubungkan perangkat mereka ke layar eksternal dengan lebih fleksibel.
Shiftscreen sempat menjadi salah satu aplikasi produktivitas terlaris di App Store dan digunakan di lebih dari 130 negara, seperti informasi yang kami kutip dari website iq.wiki/.
Pengalaman membangun produk global ini penting. Ia tidak langsung melompat ke whitepaper atau tokenomics. Ia terlebih dahulu membuktikan kapasitas engineering dan pemahaman produk.
Dari sini arah kariernya bergeser. Ia mulai tertarik pada isu yang lebih kompleks dibanding sekadar aplikasi konsumen: bagaimana komputasi bisa tetap berjalan tanpa membuka data yang diproses?
Arcium dan Gagasan Komputasi Terenkripsi
Pada akhir 2022, ia bersama timnya mendirikan proyek yang awalnya bernama Elusiv, lalu berevolusi menjadi Arcium. Fokusnya adalah membangun jaringan komputasi terenkripsi terdesentralisasi.
Konsep ini relevan dengan tantangan blockchain publik. Transparansi memang menjadi kekuatan utama jaringan seperti Ethereum dan Solana. Namun bagi institusi keuangan atau perusahaan yang mengelola data sensitif, transparansi total bukan selalu solusi.
Arcium menggunakan pendekatan generalized Multi-Party Computation untuk memungkinkan pemrosesan data tanpa harus mendekripsinya. Data tetap terenkripsi, tetapi tetap dapat dihitung. Pendekatan ini menawarkan keseimbangan antara auditabilitas dan kerahasiaan.
Proyek ini telah mengumpulkan pendanaan lebih dari 15 juta dolar dan meluncurkan Mainnet Alpha di jaringan Solana pada kuartal akhir 2025. Langkah tersebut menempatkan Arcium sebagai salah satu proyek infrastruktur privasi yang diperhatikan di ekosistem Solana.
Bukan Sekadar CEO: Kontribusi di Level Protokol
Berbeda dengan beberapa tokoh kripto yang lebih dikenal karena perannya sebagai pendiri platform besar—seperti Brandon Chez di balik CoinMarketCap—Schrade tetap aktif di level teknis.
Ia terlibat dalam pengembangan Cerberus MPC Protocol yang dirancang untuk kondisi dishonest majority. Sistem ini memungkinkan identifikasi pihak yang merusak proses komputasi, sehingga cocok untuk aplikasi terdesentralisasi yang tidak mengandalkan kepercayaan tunggal.
Ia juga memperkenalkan MPC Scaling Law untuk memodelkan batas skalabilitas protokol MPC berbasis pertumbuhan bandwidth. Selain itu, ia mengembangkan w25519, pustaka kriptografi berbasis Curve25519 yang relevan dalam pertukaran kunci dan integrasi dengan sistem Zero-Knowledge Proof.
Kontribusi semacam ini jarang menjadi sorotan media umum, tetapi justru menjadi fondasi penting bagi pengembang yang ingin membangun aplikasi berbasis enkripsi.
Kritik terhadap Trusted Execution Environment
Salah satu posisi teknis yang cukup tegas dari Schrade adalah kritiknya terhadap Trusted Execution Environment. Banyak sistem komputasi aman bergantung pada enclave perangkat keras seperti Intel SGX. Menurutnya, pendekatan ini tetap menyisakan titik kepercayaan pada produsen perangkat keras.
Ia lebih memilih solusi kriptografi murni seperti Multi-Party Computation, yang tidak mengandalkan satu titik kontrol. Pendekatan ini sejalan dengan semangat awal kripto yang ingin meminimalkan kepercayaan terhadap entitas terpusat.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa baginya, arsitektur keamanan bukan sekadar fitur tambahan, melainkan inti dari sistem.
Relevansi di Era Institutional Blockchain
Perkembangan terbaru di sektor kripto menunjukkan peningkatan minat terhadap tokenisasi aset nyata, kepatuhan regulasi, dan integrasi institusi. Dalam konteks tersebut, kebutuhan terhadap lapisan privasi menjadi semakin jelas.
Arsitektur seperti yang dikembangkan Arcium mencoba menjawab kebutuhan tersebut tanpa kembali ke sistem tertutup tradisional. Jika pendekatan ini matang secara teknis, ia berpotensi menjadi infrastruktur yang menopang aplikasi finansial generasi berikutnya.
Melihat perjalanan Yannik Schrade, terlihat bahwa kontribusinya tidak berdiri sendiri. Ia melengkapi ekosistem yang sebelumnya juga diwarnai oleh figur-figur dengan latar belakang berbeda, dari pionir infrastruktur awal hingga builder Web3 modern.
Di tengah dinamika sektor kripto yang cepat berubah, sosok seperti Schrade menunjukkan bahwa pengembangan protokol dan kriptografi tetap menjadi inti dari kemajuan teknologi ini. Infrastruktur mungkin tidak selalu terlihat, tetapi justru di sanalah sistem benar-benar diuji.
Kesimpulan
Melihat perjalanan Yannik Schrade, yang menarik bukan hanya usianya yang relatif muda atau perannya sebagai CEO Arcium. Yang lebih relevan justru konsistensi arah yang ia pilih.
Dari membangun aplikasi produktivitas hingga merancang protokol kriptografi, benang merahnya selalu sama: bagaimana sistem dibangun agar tidak bergantung pada kepercayaan terhadap satu pihak.
Di tengah perkembangan blockchain yang makin didorong oleh institusi, regulasi, dan tokenisasi aset, isu privasi tidak lagi sekadar idealisme cypherpunk.
Ia menjadi kebutuhan praktis. Perusahaan tidak bisa memindahkan seluruh proses bisnis ke jaringan publik tanpa mekanisme perlindungan data yang memadai. Di sisi lain, kembali ke sistem tertutup juga bertentangan dengan semangat desentralisasi.
Pendekatan seperti yang dikembangkan Arcium berada di titik temu itu. Komputasi terenkripsi bukan hanya jargon teknis, tetapi upaya menjawab dilema transparansi dan kerahasiaan secara struktural.
Apakah model ini akan menjadi standar baru masih terbuka, tetapi arah yang diambil Schrade menunjukkan bahwa masa depan blockchain tidak hanya soal kecepatan transaksi atau biaya murah, melainkan bagaimana data diproses secara aman di lingkungan terbuka.
Dalam konteks tersebut, sosok seperti Yannik Schrade merepresentasikan fase baru dalam evolusi kripto: fase di mana arsitektur keamanan dan kriptografi tingkat lanjut menjadi fondasi utama, bukan sekadar fitur tambahan.
Itulah informasi menarik tentang profil tokoh kripto yaitu Yannik Schrade, yang bisa kamu dalami lebih lanjut di kumpulan artikel kripto dari Indodax Academy. Selain mendapatkan insight mendalam lewat berbagai artikel edukasi crypto terpopuler, kamu juga bisa memperluas wawasan lewat kumpulan tutorial serta memilih dari beragam artikel populer yang sesuai minatmu.
Selain update pengetahuan, kamu juga bisa langsung pantau harga aset digital di Indodax Market seperti harga Bitcoin (BTC to IDR) atau aset lainnya dan ikuti perkembangan terkini lewat berita crypto terbaru. Untuk pengalaman trading lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading dari Indodax. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu nggak ketinggalan informasi penting seputar blockchain, aset kripto, dan peluang trading lainnya.
Kamu juga bisa ikutin berita terbaru kami lewat Google News agar akses informasi lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan aset kripto kamu dengan fitur INDODAX staking crypto, cara praktis buat dapetin penghasilan pasif dari aset yang disimpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
FAQ
1. Apakah Yannik Schrade lebih dikenal sebagai akademisi atau founder startup?
Ia lebih dikenal sebagai founder yang aktif di level teknis, bukan akademisi murni. Meski mendalami ilmu komputer dan matematika, reputasinya terbentuk dari kontribusi langsung pada protokol kriptografi dan pengembangan Arcium, bukan dari publikasi akademik semata.
2. Mengapa Arcium dianggap berbeda dari proyek privasi lainnya?
Banyak proyek privasi fokus pada anonimitas transaksi. Arcium menempatkan fokus pada komputasi terenkripsi, yaitu bagaimana data tetap dalam kondisi terenkripsi tetapi tetap bisa diproses. Pendekatan ini lebih luas karena tidak hanya menyasar transaksi, tetapi juga aplikasi dan sistem yang berjalan di atas blockchain.
3. Apa tantangan terbesar dari Multi-Party Computation di blockchain?
Tantangan utamanya adalah skalabilitas dan efisiensi. Protokol MPC secara alami lebih kompleks dan membutuhkan koordinasi antarpartisipan. Itulah sebabnya pendekatan seperti MPC Scaling Law penting, karena mencoba memahami batasan teknis yang realistis dalam penerapan di jaringan publik.
4. Mengapa ia menolak Trusted Execution Environment?
Menurut pandangannya, sistem yang bergantung pada perangkat keras tertentu tetap menyisakan titik kepercayaan pada vendor. Ia memilih pendekatan kriptografi murni karena keamanan bertumpu pada matematika dan desain protokol, bukan pada asumsi bahwa perangkat keras tidak akan gagal atau dieksploitasi.
5. Apakah Arcium relevan untuk institusi keuangan?
Secara konsep, ya. Institusi membutuhkan perlindungan data tanpa harus meninggalkan jaringan publik. Komputasi terenkripsi membuka kemungkinan tersebut. Namun adopsi luas tetap bergantung pada kematangan teknologi, efisiensi biaya, dan integrasi dengan regulasi yang berlaku.
Author: AL





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
