Kalau kamu sempat lihat timeline kripto dua tahun terakhir, ada satu pola yang berulang: setiap kali orang membahas “NFT di Bitcoin”, percakapannya cepat melebar ke “Ordinals”, lalu berakhir di “ORDI” dan BRC-20. Masalahnya, tiga istilah itu sering dipakai seolah-olah sama, padahal fungsinya berbeda total.
Di artikel ini kamu akan memahami tiga hal secara rapi: apa itu Bitcoin Ordinals dan bagaimana cara kerjanya, kenapa Ordinals sering disamakan dengan NFT, serta kenapa ORDI kerap ikut terseret padahal statusnya bukan “Ordinals itu sendiri”. Kalau kamu paham bedanya dari akar teknisnya, kamu jadi lebih kebal dari salah kaprah yang biasanya bikin orang FOMO tanpa peta.
Apa Itu Bitcoin Ordinals?
Bitcoin Ordinals adalah cara memberi identitas pada satoshi, unit terkecil Bitcoin, lalu menempelkan data ke satoshi tersebut melalui proses yang dikenal sebagai inscription atau inskripsi. Dengan kata lain, Ordinals membuat satoshi yang tadinya “setara satu sama lain” menjadi bisa dilacak dan dibedakan, karena setiap satoshi bisa diberi nomor urut berdasarkan kapan ia “lahir” dari proses mining.
Konsep ini populer sejak awal 2023, ketika komunitas mulai mempraktikkan ide penomoran satoshi dan penggunaan inskripsi untuk menyimpan data langsung di jaringan Bitcoin. Di titik ini, Bitcoin tidak cuma dipakai untuk transfer nilai, tapi juga jadi tempat menyimpan artefak digital: teks, gambar, bahkan potongan kode, semuanya menempel di transaksi Bitcoin.
Supaya lebih kebayang, bayangkan kamu punya uang kertas. Biasanya uang kertas bisa ditukar dengan uang kertas lain dengan nilai sama dan tidak ada bedanya. Ordinals memperlakukan satoshi seperti uang kertas yang punya nomor seri dan bisa ditempeli catatan permanen. Nilainya sebagai satoshi tetap ada, tapi satoshi itu jadi punya identitas dan cerita yang membuatnya diperlakukan sebagai koleksi.
Dari sini kamu bisa mulai melihat inti Ordinals: ini bukan koin baru, bukan blockchain baru, dan bukan token tambahan. Ini metode untuk “menandai” satoshi dan menyimpan data di dalam ruang transaksi Bitcoin.
Bagaimana Cara Kerja Bitcoin Ordinals?
Kalau definisinya sudah jelas, langkah berikutnya adalah memahami mekaniknya. Ordinals bekerja dengan dua fondasi: penomoran satoshi dan proses inskripsi data ke transaksi.
Ordinal theory: penomoran satoshi dan pelacakan
Ordinal theory pada dasarnya adalah cara menghitung dan memberi nomor pada setiap satoshi berdasarkan urutan keluarnya satoshi dari proses mining. Karena Bitcoin mencetak satoshi mengikuti aturan protokol, penomoran ini bisa dibuat konsisten dan bisa dilacak.
Dengan penomoran tersebut, sebagian komunitas kemudian memperkenalkan ide “kelangkaan” satoshi berdasarkan posisi tertentu dalam siklus blok. Di sini muncul istilah rarity yang sering kamu temui di diskusi Ordinals. Buat pemula, kamu tidak perlu menghafal kategorinya. Yang penting kamu paham logikanya: satoshi tertentu dianggap lebih “spesial” karena momen kemunculannya, lalu satoshi itu bisa jadi lebih menarik sebagai koleksi.
Namun, penomoran saja belum membuatnya jadi artefak digital. Di sinilah inskripsi masuk.
Inskripsi: menempelkan data langsung ke jaringan Bitcoin
Inskripsi adalah proses menulis data ke transaksi Bitcoin, sehingga data tersebut tersimpan on-chain memanfaatkan pembaruan seperti Taproot yang memungkinkan penyimpanan data lebih fleksibel di jaringan Bitcoin. Ketika orang berkata “NFT di Bitcoin”, yang dimaksud biasanya adalah gambar atau data yang diinskripsikan, lalu dikaitkan dengan satoshi tertentu.
Hal yang membuat Ordinals terasa berbeda dibanding NFT di banyak jaringan lain adalah tingkat “kedekatan” data dengan chain. Pada banyak NFT, gambar atau metadata sering disimpan di luar blockchain, misalnya melalui storage terdistribusi seperti IPFS, sementara blockchain hanya menyimpan pointer atau referensi. Pada Ordinals, data inskripsi disimpan di jaringan Bitcoin lewat transaksi, sehingga jejaknya melekat pada chain.
Di sisi lain, konsekuensinya juga jelas. Kalau semakin banyak orang menulis data besar, ruang blok Bitcoin jadi lebih padat.
Dampak ke jaringan: block space, fee, dan debat yang tak pernah sepi
Begitu Ordinals populer, jumlah inskripsi meningkat dan memakan block space. Ketika block space penuh, persaingan memasukkan transaksi naik, dan fee transaksi cenderung ikut terdorong. Itulah sebabnya Ordinals sering muncul dalam perdebatan: ada yang menganggapnya inovasi yang memperluas utilitas Bitcoin, ada juga yang menganggapnya beban karena membuat transaksi menjadi lebih mahal dan memadati jaringan.
Perdebatan ini penting kamu pahami karena ia menjelaskan kenapa Ordinals bukan sekadar tren koleksi digital. Ordinals menyentuh isu fundamental di Bitcoin: prioritas penggunaan jaringan dan batasan ruang blok.
Di bagian ini biasanya kebingungan mulai mereda, karena kamu bisa membedakan mana “mekanisme” dan mana “produk”. Mekanismenya adalah Ordinals. Produknya bisa berupa koleksi inskripsi, bisa juga mengarah ke hal lain seperti BRC-20.
Apa Itu NFT dan Mengapa Sering Disamakan?
Ordinals sering disebut “NFT di Bitcoin” karena dari sisi pengalaman pengguna terlihat mirip: ada aset digital unik, bisa koleksi, bisa diperdagangkan, dan punya komunitas. Tapi kesamaan itu lebih banyak di permukaan.
NFT pada umumnya adalah aset digital unik yang dikelola lewat smart contract di blockchain yang mendukung kontrak pintar. Di jaringan seperti Ethereum, standar NFT yang paling dikenal adalah ERC-721, lalu ada juga ERC-1155 yang lebih fleksibel. Lewat smart contract, NFT bisa punya fitur seperti royalty, mekanisme mint, supply, metadata terstruktur, sampai aturan transfer tertentu.
Perbedaan mendasarnya muncul di sini: Ordinals tidak bergantung pada smart contract untuk “menciptakan” keunikannya. Keunikan Ordinals muncul dari satoshi yang diberi identitas dan data yang diinskripsikan. NFT pada umumnya bergantung pada kontrak pintar dan standar token untuk mengatur kepemilikan dan perilaku asetnya.
Karena itu, ketika kamu mendengar “Ordinals itu NFT”, terjemahan yang lebih akurat adalah: “Ordinals memungkinkan artefak digital unik di Bitcoin, walau mekanismenya tidak sama dengan NFT berbasis smart contract.”
Setelah perbedaan fondasi ini kebaca, kita bisa masuk ke akar kebingungan terbesar di SERP: ORDI.
Apa Itu ORDI dan Hubungannya dengan Bitcoin Ordinals?
Kalau Ordinals adalah metode, ORDI adalah salah satu produk yang lahir karena metode itu. ORDI biasanya dibahas sebagai token BRC-20 yang sempat jadi simbol meledaknya tren token berbasis inskripsi.
BRC-20 sendiri adalah pendekatan untuk membuat token fungible di Bitcoin dengan memanfaatkan inskripsi. Jadi kalau NFT cenderung identik dengan aset unik, BRC-20 mengarah ke token yang sifatnya bisa dipertukarkan, mirip konsep token standar di chain lain, tetapi cara kerjanya berbeda karena Bitcoin tidak memakai smart contract dengan model yang sama.
Di sinilah kamu perlu memegang satu kalimat kunci supaya tidak salah baca pasar: Ordinals adalah jalurnya, BRC-20 adalah formatnya, ORDI adalah salah satu tokennya. Kalau kamu menukar urutan ini, kamu akan gampang terseret headline yang mencampuradukkan istilah.
Supaya lebih jelas dalam satu tarikan napas:
Bitcoin Ordinals adalah cara memberi identitas pada satoshi dan menempelkan data melalui inskripsi. BRC-20 adalah skema token fungible yang memanfaatkan inskripsi tersebut. ORDI adalah token yang menggunakan skema BRC-20, sehingga namanya sering muncul bareng kata “Ordinals” di SERP, meski ia bukan definisi Ordinals itu sendiri.
Setelah ini kamu mungkin bertanya, kalau token bisa muncul dari inskripsi, apakah perkembangan ini berhenti di BRC-20 saja. Ternyata tidak. Evolusinya berlanjut, dan salah satu kata yang sering muncul belakangan adalah Runes.
Kontroversi dan Evolusi: Dari Ordinals ke Runes
Ordinals memicu dua reaksi sekaligus: kreativitas dan gesekan. Di satu sisi, orang melihat peluang baru untuk memanfaatkan jaringan Bitcoin di luar transfer nilai. Di sisi lain, muncul kekhawatiran soal biaya transaksi, kepadatan mempool, dan penggunaan block space untuk data non-keuangan.
Ketika BRC-20 muncul dan trafik inskripsi meningkat, kebutuhan akan format token yang lebih rapi dan efisien ikut menguat. Dari sana, pembahasan bergeser ke pendekatan baru yang mencoba menyederhanakan konsep token di Bitcoin. Di banyak diskusi, Runes sering dibawa sebagai evolusi yang mencoba menjawab keterbatasan dan kompleksitas model token berbasis inskripsi sebelumnya.
Buat kamu yang fokusnya edukasi dan pemahaman, bagian terpenting dari evolusi ini bukan “mana yang menang”, tetapi pelajarannya: begitu sebuah jaringan punya ruang inovasi, eksperimen akan terus bermunculan, dan setiap eksperimen akan menguji batas desain awal jaringan itu.
Pemahaman ini berguna ketika kamu membaca berita yang terlihat heboh. Kamu bisa menilai apakah itu sekadar hype koleksi, atau benar-benar perubahan cara ekosistem bekerja.
Jadi, Apa Perbedaan Bitcoin Ordinals, NFT, dan ORDI?
Sekarang kita rapikan semuanya dalam satu pemahaman yang mudah kamu pegang.
Bitcoin Ordinals adalah metode untuk memberi identitas pada satoshi dan menempelkan data lewat inskripsi di jaringan Bitcoin. Ia membuat artefak digital bisa eksis secara Bitcoin-native, tanpa menciptakan blockchain baru.
NFT adalah kategori aset digital unik yang umumnya dibangun di blockchain yang mendukung smart contract, dengan standar token yang mengatur kepemilikan, metadata, dan aturan transfer. Banyak NFT menyimpan data besar di luar chain dan hanya menyimpan referensi di chain, tergantung desain proyeknya.
ORDI adalah token, bukan metode. Ia adalah salah satu token BRC-20 yang dibuat dengan memanfaatkan inskripsi yang populer lewat Ordinals. Karena itu ORDI sering muncul di pencarian “Bitcoin Ordinals price”, padahal yang dicari orang sebenarnya harga token ORDI, bukan “harga Ordinals” sebagai konsep.
Kalau kamu menaruh tiga definisi ini di kepala, kamu akan lebih aman saat melihat SERP yang mencampur artikel edukasi, halaman harga, marketplace, dan explorer dalam satu keyword yang sama.
Kesimpulan
Ordinals, NFT, dan ORDI terlihat mirip dari permukaan karena semuanya bersinggungan dengan aset digital yang bisa dikoleksi dan diperdagangkan. Tapi begitu kamu menurunkan kacamata ke lapisan teknisnya, perannya berbeda.
Ordinals adalah cara baru memanfaatkan satoshi sebagai pembawa data, sehingga Bitcoin bisa menampung artefak digital secara native. NFT adalah konsep aset unik yang biasanya hidup di ekosistem smart contract dengan standar token yang mapan. ORDI adalah token yang lahir dari skema BRC-20 dan memanfaatkan popularitas inskripsi, sehingga namanya sering ikut terbawa dalam pembahasan Ordinals.
Kalau kamu ingin membaca tren dengan lebih tenang, pegang prinsip sederhana: jangan menyamakan metode, aset, dan token dalam satu keranjang. Ketiganya bisa saling terkait, tapi tidak pernah benar-benar sama. Dengan pemahaman itu, kamu bisa menilai apakah sebuah berita membawa inovasi nyata, atau hanya memanfaatkan kebingungan istilah yang memang sedang ramai.
FAQ
1. Apakah Bitcoin Ordinals sama dengan NFT di Ethereum?
Tidak. Bitcoin Ordinals adalah metode inskripsi data pada satoshi di jaringan Bitcoin, sedangkan NFT di Ethereum dibuat menggunakan smart contract dengan standar seperti ERC-721 atau ERC-1155.
Perbedaannya ada pada arsitektur. Ordinals melekat langsung pada transaksi Bitcoin dan disimpan on-chain, sementara NFT Ethereum biasanya menyimpan metadata terpisah dari chain dan hanya mereferensikannya melalui smart contract. Karena itu, meskipun sama-sama berupa aset digital unik, mekanismenya berbeda secara fundamental.
2. Apakah ORDI adalah koin resmi dari jaringan Bitcoin?
Bukan. ORDI adalah token yang dibuat menggunakan standar BRC-20 yang memanfaatkan sistem inskripsi Ordinals.
Bitcoin sendiri tidak memiliki token tambahan bawaan selain BTC. ORDI muncul sebagai eksperimen token fungible berbasis inskripsi. Jadi ORDI bukan upgrade resmi Bitcoin dan bukan bagian inti dari protokol Bitcoin.
3. Kenapa Bitcoin Ordinals bisa mempengaruhi biaya transaksi?
Karena setiap inskripsi menggunakan ruang blok (block space) di jaringan Bitcoin.
Ketika aktivitas inskripsi meningkat, transaksi bersaing untuk masuk ke dalam blok , yang pada akhirnya dapat mempengaruhi biaya transaksi Bitcoin karena ruang blok menjadi semakin terbatas. Persaingan ini membuat biaya transaksi atau fee ikut naik. Inilah sebabnya Ordinals sempat memicu lonjakan fee ketika tren inskripsi sedang tinggi.
4. Apa perbedaan antara Ordinals, BRC-20, dan Runes?
Ordinals adalah metode untuk memberi identitas pada satoshi dan menempelkan data melalui inskripsi.
BRC-20 adalah format token fungible yang memanfaatkan sistem inskripsi tersebut.
Runes adalah pendekatan yang lebih baru untuk token di Bitcoin yang dirancang agar lebih efisien dan terstruktur dibanding BRC-20. Ketiganya berada dalam ekosistem yang sama, tetapi memiliki fungsi yang berbeda.
5. Apakah Bitcoin Ordinals cocok untuk investasi jangka panjang?
Ordinals sendiri bukan aset investasi, melainkan metode inskripsi.
Yang bisa diperdagangkan adalah koleksi inskripsi atau token seperti ORDI. Nilainya sangat bergantung pada permintaan pasar, utilitas, dan sentimen. Karena itu, memahami struktur teknisnya jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren.
Itulah informasi menarik tentang Bitcoin ordinals yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
