Quantity Theory of Money dan Rahasia Naik Turunnya Bitcoin
icon search
icon search

Top Performers

Quantity Theory of Money dan Rahasia Naik Turunnya Bitcoin

Home / Artikel & Tutorial / judul_artikel

Quantity Theory of Money dan Rahasia Naik Turunnya Bitcoin

Quantity Theory of Money dan Rahasia Naik Turunnya Bitcoin

Daftar Isi

Pernahkah kamu bertanya-tanya kenapa harga Bitcoin bisa naik ribuan dolar hanya dalam beberapa hari, lalu tiba-tiba anjlok tajam tanpa peringatan yang jelas? Banyak investor pemula menyebutnya takdir, keberuntungan, atau sekadar ikut-ikutan tren. Padahal, ada kerangka berpikir ekonomi yang sudah ada sejak lebih dari seratus tahun lalu yang secara diam-diam menjelaskan pola pergerakan harga aset digital ini.

Teori itu bernama Quantity Theory of Money, atau yang sering disingkat QTM. Teori ini lahir dari pemikiran para ekonom klasik seperti Irving Fisher dan kemudian diperkuat oleh Milton Friedman. Menariknya, prinsip-prinsip dasar yang mereka rumuskan jauh sebelum internet ditemukan ternyata memiliki relevansi yang kuat terhadap bagaimana harga Bitcoin dan aset kripto lainnya bergerak di era modern ini.

Artikel ini akan membawa kamu memahami QTM dari dasarnya, lalu menjembataninya ke dunia kripto dengan data terkini hingga 2025-2026. Bukan teori kering, bukan pula sekadar hype. Ini adalah cara berpikir yang bisa membuat kamu lebih tenang dan lebih cerdas dalam menghadapi volatilitas pasar crypto.

 

Apa Itu Quantity Theory of Money

Quantity Theory of Money adalah hipotesis dalam ekonomi moneter yang menyatakan bahwa tingkat harga umum barang dan jasa dalam suatu perekonomian berbanding lurus dengan jumlah uang yang beredar. Dengan kata lain, semakin banyak uang yang dicetak dan diedarkan, semakin tinggi pula harga-harga yang harus dibayar oleh konsumen. Teori ini menjadi fondasi dari aliran monetarisme dan menjadi salah satu instrumen analisis paling berpengaruh dalam kebijakan moneter global.

Secara teknis, QTM diformulasikan melalui persamaan pertukaran yang dikembangkan oleh Irving Fisher, yaitu MV = PQ. Dalam persamaan ini, M mewakili jumlah uang beredar (money supply), V adalah kecepatan perputaran uang (velocity of money), P adalah tingkat harga umum (price level), dan Q adalah jumlah output atau transaksi riil dalam perekonomian. Persamaan ini bukan sekadar rumus matematika, melainkan sebuah cara membaca hubungan antara kebijakan moneter dan dampaknya terhadap inflasi.

Asumsi inti dari teori ini adalah bahwa V dan Q cenderung stabil dalam jangka panjang. Jika kedua variabel itu tetap konstan, maka perubahan pada M secara langsung akan mendorong perubahan pada P. Inilah yang menjelaskan mengapa ketika bank sentral mencetak uang terlalu banyak, inflasi hampir selalu mengikuti. Pemahaman ini menjadi kunci untuk membaca dinamika pasar, termasuk pasar kripto yang semakin terhubung dengan likuiditas global.

 

Mengapa Quantity Theory of Money Penting Dipahami Investor Crypto

Bagi seorang investor kripto, memahami QTM bukan sekadar urusan akademis. Ini adalah soal bertahan dan mengambil keputusan yang lebih baik di tengah pasar yang bergerak liar. Ketika bank sentral seperti Federal Reserve Amerika Serikat atau Bank Sentral Eropa mengubah kebijakan suku bunga atau memperluas supply uang, dampaknya tidak hanya dirasakan di pasar saham atau obligasi, tetapi juga di pasar kripto secara signifikan.

Data dari 2022 menjadi bukti paling nyata. Ketika Fed menaikkan suku bunga secara agresif untuk menekan inflasi dan mengurangi money supply, harga Bitcoin ikut terjun bebas dari lebih dari 60.000 dolar ke bawah 20.000 dolar. Sebaliknya, ketika likuiditas global kembali mengalir di 2023 hingga 2025, Bitcoin merespons dengan reli panjang yang membawa harganya ke all-time high baru. Ini bukan kebetulan. Ini adalah QTM yang bekerja dalam format digital.

Lebih jauh lagi, memahami teori ini membuat kamu tidak mudah panik saat terjadi koreksi. Kamu tahu bahwa pergerakan harga Bitcoin tidak sepenuhnya acak, melainkan ada variabel makroekonomi yang menjadi pendorong di baliknya. Dengan bekal ini, kamu bisa membedakan mana koreksi sehat dan mana yang merupakan sinyal perubahan tren yang lebih dalam.

 

Bagaimana Cara Kerja Quantity Theory of Money

Cara kerja QTM paling mudah dipahami melalui analogi sederhana. Bayangkan sebuah pulau kecil dengan 100 buah mangga dan 100 lembar uang beredar. Harga rata-rata satu mangga adalah 1 lembar uang. Kini, pemerintah pulau itu mencetak 100 lembar uang tambahan sehingga total uang menjadi 200 lembar. Sementara jumlah mangga tetap 100 buah. Apa yang terjadi? Harga mangga naik menjadi 2 lembar per buah. Inilah mekanisme dasar QTM dalam bentuk paling sederhana.

Dalam perekonomian nyata, mekanisme ini bekerja melalui jalur transmisi yang lebih kompleks. Ketika jumlah uang beredar meningkat, masyarakat memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan. Permintaan terhadap barang dan jasa meningkat, sementara penawaran tidak dapat langsung menyesuaikan diri. Akibatnya, harga-harga terdorong naik. Bank sentral di seluruh dunia menggunakan pemahaman ini untuk mengkalibrasi kebijakan suku bunga dan operasi pasar terbuka mereka.

Hal yang sama, meski dengan nuansa berbeda, terjadi di pasar kripto. Ketika likuiditas global meningkat, sebagian aliran modal itu masuk ke aset-aset berisiko tinggi termasuk Bitcoin dan altcoin. Di sisi lain, Bitcoin sendiri memiliki mekanisme pengendalian supply yang bersifat algoritmik melalui halving, yang membuat dinamika antara M dan P di ekosistem kripto menjadi sangat menarik untuk dianalisis menggunakan lensa QTM.

 

Framework Memahami Quantity Theory of Money di Dunia Crypto

Untuk mengaplikasikan QTM ke dalam analisis kripto, kamu perlu sedikit memodifikasi kerangkanya. Dalam konteks Bitcoin, variabel M bukan lagi jumlah uang fiat yang dicetak bank sentral, melainkan total supply Bitcoin yang beredar di pasar. Variabel P adalah harga Bitcoin itu sendiri. Variabel Q bisa diartikan sebagai volume transaksi atau aktivitas ekonomi yang menggunakan Bitcoin. Sedangkan V, kecepatan perputaran, mencerminkan seberapa aktif Bitcoin berpindah tangan.

 

Variabel QTM Ekonomi Konvensional Bitcoin / Crypto
M (Money Supply) Dicetak oleh bank sentral Maksimum 21 juta BTC, algoritmik
V (Velocity) Relatif stabil Sangat fluktuatif, dipengaruhi sentimen
P (Price Level) Harga barang dan jasa Harga Bitcoin per koin
Q (Output/Transaksi) GDP atau volume transaksi riil Volume on-chain dan DeFi activity
Pengendali Utama Bank sentral dan kebijakan fiskal Protokol, halving, dan demand pasar

 

Yang membuat framework ini menarik adalah bahwa Bitcoin dirancang dengan supply yang sangat terbatas. Tidak ada entitas tunggal yang bisa mencetak Bitcoin sesuka hati. Jadwal emisi sudah dikodekan dalam protokolnya dan tidak bisa diubah tanpa konsensus jaringan. Ini menciptakan kondisi di mana sisi M dari persamaan QTM bersifat prediktabel dan transparan, berbeda dengan mata uang fiat yang supply-nya bisa berubah sesuai keputusan politik.

Namun demikian, V atau velocity di ekosistem kripto jauh lebih tidak stabil dibanding ekonomi konvensional. Banyak pemegang Bitcoin yang memilih strategi hodl, yaitu menyimpan aset dalam waktu lama tanpa mentransaksikannya. Ketika velocity turun drastis, efek perubahan supply terhadap harga menjadi teredam. Sebaliknya, ketika sentimen pasar membaik dan velocity meningkat, harga bisa melonjak jauh lebih cepat dari yang diprediksi teori klasik.

 

Faktor Penting dalam Dinamika Harga Crypto yang Terhubung QTM

Ada beberapa faktor utama yang menghubungkan QTM dengan pergerakan harga kripto secara nyata di lapangan. Memahami faktor-faktor ini akan membantumu membaca pasar dengan lebih jernih dan tidak hanya mengandalkan grafik candlestick semata.

 

1. Global M2 Money Supply dan Lag Effect

Salah satu temuan paling menarik dari analis makroekonomi kripto adalah adanya korelasi kuat antara pertumbuhan M2 global dan harga Bitcoin, dengan jeda waktu sekitar 60 hingga 90 hari. Ketika bank sentral besar dunia seperti The Fed, ECB, Bank of Japan, dan Bank of China secara bersamaan memperluas supply uang mereka, aliran likuiditas itu cenderung mengalir ke aset-aset berisiko termasuk Bitcoin dalam rentang waktu tersebut. Pada Mei 2025, ketika Bitcoin menembus 100.000 dolar untuk pertama kalinya, grafik M2 global yang digeser 90 hari ke depan menunjukkan korelasi yang sangat jelas dengan pergerakan harga tersebut.

 

2. Bitcoin Halving dan Supply Shock

Halving Bitcoin adalah peristiwa yang terjadi setiap empat tahun sekali di mana reward penambangan dipotong menjadi setengahnya. Pada April 2024, halving keempat terjadi dan reward per blok turun dari 6,25 BTC menjadi 3,125 BTC. Ini berarti jumlah Bitcoin baru yang masuk ke sirkulasi setiap harinya turun dari sekitar 900 BTC menjadi hanya 450 BTC. Dari perspektif QTM, ini adalah pengurangan M yang terprogram dan transparan, yang dalam kondisi demand stabil atau meningkat, secara teori akan mendorong P ke atas.

Per awal 2025, sudah sekitar 19,85 juta BTC dari total maksimum 21 juta BTC yang beredar. Ini berarti lebih dari 94 persen supply Bitcoin sudah ada di tangan pemegang saat ini. Kelangkaan yang semakin nyata ini memperkuat argumen bahwa Bitcoin memiliki sifat deflasioner yang semakin kuat seiring waktu, sebuah karakteristik yang sangat berbeda dari mata uang fiat mana pun.

 

3. Institutional Demand sebagai Variabel Baru

Pasca peluncuran Bitcoin ETF spot di Amerika Serikat pada Januari 2024, dinamika pasar kripto berubah signifikan. Investor institusional seperti dana pensiun, hedge fund, dan perusahaan publik mulai mengalokasikan sebagian portofolio mereka ke Bitcoin. Sepanjang 2025, produk investasi kripto secara global menarik inflows sekitar 34,1 miliar dolar, hampir menyamai seluruh inflow sepanjang 2024. Ini adalah faktor permintaan baru yang tidak pernah diprediksi oleh teori QTM klasik, namun secara logis mengikuti prinsipnya: demand naik dengan supply terbatas berarti harga naik.

 

4. Kecepatan Perputaran dan Perilaku Hodler

Velocity atau kecepatan perputaran uang adalah variabel yang paling sulit diprediksi di pasar kripto. Data on-chain menunjukkan bahwa sebagian besar Bitcoin yang beredar jarang berpindah tangan. Istilah yang populer adalah illiquid supply, yaitu BTC yang sudah bertahun-tahun tidak bergerak dari dompet pemiliknya. Ketika illiquid supply meningkat, ini artinya V menurun, dan dampak kenaikan demand terhadap harga menjadi lebih besar karena supply yang efektif di pasar semakin berkurang.

 

Contoh Quantity Theory of Money dalam Kehidupan Nyata

Untuk memperjelas bagaimana QTM bekerja secara konkret, mari kita lihat beberapa contoh nyata yang bisa kamu jadikan referensi dalam memahami pergerakan pasar.

 

Kasus Venezuela dan Hiperinflasi

Venezuela adalah contoh paling ekstrem dari QTM yang bekerja dalam kondisi ekstrem. Ketika pemerintah mencetak uang dalam jumlah masif untuk menutupi defisit anggaran, inflasi meledak hingga ribuan persen per tahun. Menariknya, dalam kondisi ini masyarakat Venezuela justru beralih ke Bitcoin dan kripto sebagai alat penyimpan nilai, karena supply-nya yang terbatas membuat Bitcoin lebih dipercaya dibanding mata uang lokal yang terus terdepresiasi.

 

Stimulus COVID-19 dan Reli Bitcoin 2020-2021

Ketika pandemi COVID-19 melanda dunia di 2020, bank sentral di seluruh dunia merespons dengan stimulus moneter besar-besaran. The Fed memperluas neraca keuangannya dari sekitar 4 triliun dolar menjadi lebih dari 8 triliun dolar hanya dalam hitungan bulan. Sesuai prediksi QTM, inflasi melonjak di seluruh dunia. Dan seiring melonjaknya kekhawatiran terhadap depresiasi nilai mata uang, Bitcoin naik dari sekitar 10.000 dolar di awal 2020 ke hampir 69.000 dolar di akhir 2021.

 

Pengetatan Moneter 2022 dan Koreksi Crypto

Sebaliknya, ketika The Fed memulai siklus kenaikan suku bunga paling agresif dalam empat dekade sepanjang 2022, tujuannya adalah menyedot likuiditas dari pasar untuk menekan inflasi. Hasilnya, hampir semua aset berisiko jatuh, dan Bitcoin turun lebih dari 75 persen dari puncaknya. Ini adalah ilustrasi sempurna dari hubungan terbalik antara pengetatan supply uang dan harga aset kripto.

 

Bitcoin ATH 2025

Puncak terbaru terjadi pada Oktober 2025, ketika Bitcoin mencapai all-time high di kisaran 126.198 dolar. Pencapaian ini terjadi di tengah kondisi di mana supply baru Bitcoin semakin berkurang pasca halving 2024, sementara permintaan institusional terus meningkat dan M2 global kembali ekspansif. Ketiga faktor itu bekerja selaras dan menghasilkan tekanan harga ke atas yang sangat kuat, tepat seperti yang diprediksi oleh kerangka QTM.

 

Quantity Theory of Money dalam Ekosistem Ekonomi Digital

Di era ekonomi digital, QTM mengalami transformasi interpretasi yang menarik. Munculnya stablecoin, DeFi (Decentralized Finance), dan tokenomics berbagai proyek kripto menciptakan ekosistem moneter baru yang meminjam prinsip-prinsip QTM namun mengeksekusinya dengan cara yang jauh berbeda dari sistem konvensional.

Stablecoin seperti USDT dan USDC, misalnya, adalah bentuk uang digital yang supply-nya dikontrol oleh entitas terpusat. Ketika supply stablecoin meningkat tajam, ini sering menjadi sinyal masuknya likuiditas segar ke pasar kripto, yang pada akhirnya mendorong harga Bitcoin dan altcoin ke atas. Sebaliknya, ketika supply stablecoin menyusut, ini bisa menjadi tanda bahwa likuiditas sedang keluar dari ekosistem kripto.

Di sisi lain, konsep tokenomics dalam proyek kripto pada dasarnya adalah aplikasi langsung dari QTM. Setiap proyek merancang mekanisme supply tokennya dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap harga dan utilitas. Ada yang menggunakan model deflationary dengan mekanisme burn, ada yang inflationary untuk mendorong partisipasi jaringan. Pemahaman tentang QTM membuat kamu bisa membaca white paper sebuah proyek kripto dengan jauh lebih kritis dan tidak mudah tertipu janji-janji harga tinggi yang tidak didukung fundamental supply-demand yang solid.

 

Keterbatasan dan Kesalahan Umum dalam Memahami QTM di Konteks Crypto

Sebelum kamu terlalu bersemangat menggunakan QTM sebagai satu-satunya alat analisis, penting untuk memahami keterbatasannya. Mengabaikan batasan sebuah teori sama berbahayanya dengan tidak memahami teori itu sendiri.

 

Velocity Tidak Pernah Benar-Benar Konstan

Asumsi bahwa V atau velocity stabil adalah titik lemah terbesar QTM, baik di ekonomi konvensional maupun di kripto. Di pasar kripto, sentimen bisa berubah dalam hitungan jam. Ketika pasar sedang dalam fase fear, banyak orang menyimpan crypto mereka dan tidak bertransaksi, membuat velocity turun drastis. Ketika euphoria melanda, transaksi meledak dan velocity naik tajam. Fluktuasi V ini bisa membuat prediksi harga berdasarkan QTM meleset jauh.

 

Faktor Spekulasi Mendominasi Jangka Pendek

QTM pada dasarnya adalah model jangka panjang. Dalam jangka pendek, harga crypto jauh lebih dipengaruhi oleh sentimen, berita regulasi, pergerakan whale (pemegang besar), dan dinamika likuiditas pasar yang tidak tercakup dalam persamaan MV=PQ. Menggunakan QTM untuk memprediksi pergerakan harga Bitcoin minggu depan adalah kesalahan yang sering dilakukan pemula.

 

Korelasi M2 Mulai Melemah Pasca ETF

Sebuah temuan menarik dari penelitian terbaru menunjukkan bahwa korelasi antara M2 global dan harga Bitcoin yang sangat kuat hingga awal 2024, mulai melemah setelah masuknya investor institusional melalui ETF. Ini mengindikasikan bahwa pasar Bitcoin semakin matang dan memiliki dinamika internalnya sendiri yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kondisi moneter global. Ini bukan berarti QTM tidak relevan, tetapi menunjukkan bahwa analisis yang baik harus multidimensi.

 

Altcoin Memiliki Dinamika yang Jauh Lebih Kompleks

Jika Bitcoin relatif bisa dianalisis dengan kerangka QTM karena supply-nya yang transparan dan terbatas, hal yang sama tidak berlaku untuk kebanyakan altcoin. Banyak altcoin memiliki supply yang tidak terbatas, mekanisme inflasi yang agresif, atau tokenomics yang kompleks dengan vesting schedule dan unlock yang bisa tiba-tiba memperkenalkan jutaan token baru ke pasar. Menerapkan QTM mentah-mentah ke altcoin tanpa memahami detail tokenomics-nya adalah resep menuju kerugian.

 

Hubungan Quantity Theory of Money dengan Konsep Lain

QTM tidak berdiri sendiri dalam ekosistem pemikiran ekonomi dan investasi. Teori ini memiliki koneksi yang erat dengan berbagai konsep lain yang sama-sama penting untuk dipahami oleh investor kripto yang ingin membangun fondasi analisis yang kokoh.

 

QTM dan Stock-to-Flow Model

Model Stock-to-Flow yang dipopulerkan oleh analis bernama PlanB adalah salah satu kerangka valuasi Bitcoin yang paling terkenal. Model ini mengukur kelangkaan Bitcoin berdasarkan rasio antara total supply yang beredar dengan jumlah supply baru yang diproduksi per tahun. Semakin tinggi rasio ini, semakin langka Bitcoin, dan secara historis semakin tinggi pula harganya. Koneksi dengan QTM sangat jelas: Stock-to-Flow pada dasarnya adalah cara mengukur perubahan M dalam persamaan QTM dari sisi penawaran.

 

QTM dan Teori Siklus Bisnis

Siklus ekspansi dan kontraksi ekonomi yang dipelajari dalam teori siklus bisnis memiliki hubungan langsung dengan QTM. Fase ekspansi biasanya ditandai dengan peningkatan money supply dan kredit, yang mendorong investasi di aset berisiko termasuk kripto. Fase kontraksi ditandai dengan pengetatan likuiditas yang menekan harga. Memahami di mana posisi siklus ekonomi global saat ini memberikan konteks makro yang sangat berharga untuk timing investasi kripto kamu.

 

QTM dan Inflasi vs Deflasi

Bitcoin sering disebut sebagai aset deflasioner karena supply-nya yang semakin langka seiring berjalannya waktu. Ini adalah kebalikan langsung dari sifat mata uang fiat yang cenderung inflasioner karena bank sentral memiliki kemampuan mencetak uang tanpa batas teoritis. Pemahaman tentang QTM membuat kamu bisa mengapresiasi argumen Bitcoin sebagai digital gold, yaitu penyimpan nilai yang lebih andal dalam jangka panjang dibanding mata uang yang terus tergerus inflasi.

 

QTM dan On-Chain Analytics

Di era modern, analisis on-chain memberikan data granular tentang pergerakan supply dan velocity Bitcoin di blockchain. Metrik seperti HODL waves, coin days destroyed, dan exchange inflow/outflow pada dasarnya adalah cara mengukur V dan komponen M yang efektif dalam persamaan QTM secara real-time. Menggabungkan pemahaman QTM dengan kemampuan membaca data on-chain adalah kombinasi analisis yang sangat powerful untuk investor kripto.

 

Kesimpulan

Quantity Theory of Money adalah lensa yang sangat berharga untuk memahami pergerakan harga Bitcoin dan aset kripto secara lebih rasional. Teori yang lahir lebih dari satu abad yang lalu ini membuktikan relevansinya di era digital melalui berbagai peristiwa pasar yang dapat dijelaskan dengan prinsip dasarnya: ketika supply terbatas dan demand meningkat, harga akan naik. Ketika likuiditas global menyusut, hampir semua aset berisiko akan ikut tertekan.

Bitcoin, dengan mekanisme supply yang algoritmik dan transparan melalui halving, sebenarnya adalah implementasi paling murni dari prinsip QTM dalam bentuk aset digital. Supply-nya bisa diprediksi, tidak bisa dimanipulasi oleh kepentingan politik, dan semakin langka seiring berjalannya waktu. Kombinasi karakteristik ini, ditambah dengan meningkatnya adopsi institusional yang mencapai 34,1 miliar dolar inflows sepanjang 2025, menciptakan fondasi fundamental yang semakin kuat.

Namun, QTM bukan alat prediksi yang sempurna. Kecepatan perputaran yang sangat fluktuatif, dominasi spekulasi jangka pendek, dan munculnya faktor-faktor baru seperti ETF dan institutional adoption membuat analisis pasar kripto harus selalu multidimensi. Gunakan QTM sebagai kompas makro, bukan sebagai oracle harga. Dengan begitu, kamu akan memiliki kerangka berpikir yang jauh lebih matang dan tidak mudah terbawa euforia ataupun panik saat pasar bergerak liar.

 

FAQ

1. Apakah Quantity Theory of Money berlaku untuk semua cryptocurrency?

Tidak sepenuhnya. QTM paling relevan untuk Bitcoin karena supply-nya yang terbatas dan transparan. Untuk altcoin, penerapan QTM jauh lebih kompleks karena banyak altcoin memiliki mekanisme supply yang tidak terbatas, inflasi tokenomics yang agresif, atau program unlock yang bisa tiba-tiba meningkatkan jumlah koin beredar secara signifikan. Setiap aset kripto memiliki karakteristik supply yang berbeda dan harus dianalisis secara individual.

2. Mengapa harga Bitcoin tidak selalu naik meski supply-nya terbatas?

Karena harga tidak hanya ditentukan oleh supply, tetapi juga oleh demand dan velocity. Ketika likuiditas global menyusut, ketika regulasi memperketat ruang gerak kripto, atau ketika sentimen pasar memburuk, demand bisa turun lebih cepat dari penurunan supply. Selain itu, QTM adalah model jangka panjang. Dalam jangka pendek, faktor spekulasi, manipulasi pasar, dan psikologi massa mendominasi pergerakan harga.

3. Apa itu halving Bitcoin dan hubungannya dengan QTM?

Halving Bitcoin adalah peristiwa terprogram yang terjadi setiap empat tahun sekali, di mana jumlah Bitcoin baru yang dihasilkan per blok dipotong menjadi setengahnya. Halving terakhir terjadi pada April 2024, menurunkan produksi harian Bitcoin dari 900 menjadi 450 BTC. Dari perspektif QTM, halving adalah mekanisme pengurangan M yang sangat prediktabel. Jika demand tetap stabil atau meningkat sementara supply baru berkurang, teori ini memprediksi tekanan harga ke atas dalam jangka menengah hingga panjang.

4. Bagaimana cara menggunakan QTM untuk membuat keputusan investasi kripto?

Gunakan QTM sebagai kompas makro, bukan sinyal beli atau jual. Pantau kondisi M2 global: ketika bank sentral besar memperluas supply uang, ini cenderung positif untuk Bitcoin dalam 60 hingga 90 hari ke depan. Pantau juga siklus halving Bitcoin untuk memahami perubahan supply baru. Kombinasikan analisis QTM dengan data on-chain seperti exchange inflow, HODL waves, dan supply di bursa untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap sebelum mengambil keputusan.

5. Apakah stablecoin termasuk dalam analisis QTM kripto?

Ya, dan ini adalah aspek yang sering diabaikan. Supply stablecoin seperti USDT dan USDC di ekosistem kripto berfungsi mirip dengan M dalam persamaan QTM untuk pasar kripto secara keseluruhan. Ketika supply stablecoin di exchange meningkat, ini menandakan likuiditas segar siap masuk ke pasar, yang cenderung bullish untuk harga kripto. Sebaliknya, penurunan supply stablecoin di exchange bisa menjadi tanda melemahnya daya beli di pasar.

6. Apakah Bitcoin benar-benar bisa menjadi lindung nilai terhadap inflasi?

Secara teori QTM, Bitcoin memiliki karakteristik yang ideal sebagai lindung nilai inflasi karena supply-nya yang terbatas dan tidak bisa dimanipulasi oleh kebijakan moneter. Bukti empiris menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, Bitcoin memang cenderung mempertahankan dan meningkatkan daya beli pemegangnya. Namun dalam jangka pendek, volatilitas Bitcoin yang ekstrem membuatnya bukan instrumen hedging yang sempurna. Investor yang menggunakan Bitcoin sebagai lindung nilai inflasi perlu memiliki horizon investasi yang panjang, minimal tiga hingga empat tahun, untuk merasakan manfaat sesungguhnya dari karakteristik deflasioner Bitcoin.

 

 

Itulah informasi menarik tentang Quantity Theory of Money yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.

Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.

 

Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.

Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!

Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.

 

Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]

 

Follow Sosmed Twitter Indodax sekarang

Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram

 

 

Author : RB

DISCLAIMER:  Segala bentuk transaksi aset kripto memiliki risiko dan berpeluang untuk mengalami kerugian. Tetap berinvestasi sesuai riset mandiri sehingga bisa meminimalisir tingkat kehilangan aset kripto yang ditransaksikan (Do Your Own Research/ DYOR). Informasi yang terkandung dalam publikasi ini diberikan secara umum tanpa kewajiban dan hanya untuk tujuan informasi saja. Publikasi ini tidak dimaksudkan untuk, dan tidak boleh dianggap sebagai, suatu penawaran, rekomendasi, ajakan atau nasihat untuk membeli atau menjual produk investasi apa pun dan tidak boleh dikirimkan, diungkapkan, disalin, atau diandalkan oleh siapa pun untuk tujuan apa pun.
  

Lebih Banyak dari Bitcoin

Pelajaran Dasar

Calculate Staking Rewards with INDODAX earn

Select an option
dot Polkadot 2.25%
bnb BNB 0.52%
sol Solana 4.62%
eth Ethereum 2.32%
ada Cardano 1.02%
pol Polygon Ecosystem Token 1.87%
trx Tron 2.75%
DOT
0
Berdasarkan harga & APY saat ini
Stake Now

Pasar

Nama Harga 24H Chg
DODO/IDR
DODO
1.450
147.44%
RVM/IDR
Realvirm
5
66.67%
BP/IDR
Backpack
4.284
39.77%
LIT/IDR
Lighter
31.521
35.83%
CHT/IDR
CyberHarbo
4
33.33%
Nama Harga 24H Chg
UB/IDR
Unibase
1.966
-48.45%
EVER/IDR
Everscale
113
-46.7%
DEFI/IDR
DeFi
3
-25%
PRCL/IDR
Parcl
161
-23.7%
HOME/IDR
Defi App
736
-22.53%
Apakah artikel ini membantu?

Beri nilai untuk artikel ini

You already voted!
Artikel Terkait

Temukan lebih banyak artikel berdasarkan topik yang diminati.

Cara Beli Saham IHSG, Apakah Bisa Dilakukan Langsung?
03/06/2026
Cara Beli Saham IHSG, Apakah Bisa Dilakukan Langsung?

Banyak investor pemula mencari cara beli saham IHSG karena mengira

03/06/2026
Cara Mendapatkan Centang Biru di TikTok, Ini Syarat Barunya
03/06/2026
Cara Mendapatkan Centang Biru di TikTok, Ini Syarat Barunya

Centang biru TikTok sering dianggap sebagai tanda bahwa sebuah akun

03/06/2026
Cara Mendapatkan 1000 Subscriber Gratis dan Aman
03/06/2026
Cara Mendapatkan 1000 Subscriber Gratis dan Aman

Mendapatkan 1000 subscriber pertama sering menjadi target besar bagi kreator

03/06/2026