Investasi tidak selalu harus dimulai dari memilih saham satu per satu. Banyak orang ingin mendapatkan peluang pertumbuhan dari pasar saham, tetapi belum punya waktu, pengalaman, atau keberanian untuk menganalisis emiten secara mandiri. Di sinilah equity fund menjadi salah satu pilihan yang sering dipertimbangkan, terutama oleh investor yang ingin masuk ke instrumen berbasis saham dengan cara yang lebih terkelola.
Secara sederhana, equity fund memberi akses ke sekumpulan saham dalam satu produk investasi. Kamu tidak perlu membeli banyak saham sendiri, karena dana yang masuk akan dikelola oleh manajer investasi sesuai strategi dan tujuan produk tersebut. Dari sini, equity fund sering dianggap sebagai jembatan antara investor pemula dan pasar saham yang dinamis.
Apa Itu Equity Fund?
Equity fund adalah jenis reksadana yang mayoritas dananya dialokasikan ke saham. Dalam konteks Indonesia, equity fund sering dikenal sebagai reksadana saham. Artinya, ketika kamu berinvestasi di equity fund, dana kamu akan digabung bersama dana investor lain, lalu dikelola untuk membeli berbagai saham yang dipilih berdasarkan strategi tertentu.
Konsep ini berbeda dengan membeli saham secara langsung. Saat membeli saham sendiri, kamu perlu menentukan emiten, membaca laporan keuangan, memantau harga, dan mengambil keputusan beli atau jual secara mandiri. Dalam equity fund, proses tersebut dilakukan oleh manajer investasi yang memiliki mandat untuk mengelola portofolio sesuai kebijakan produk.
Agar lebih mudah dibayangkan, equity fund seperti sebuah keranjang berisi banyak saham. Kamu tidak membeli satu saham saja, melainkan ikut memiliki bagian dari portofolio yang terdiri dari beberapa saham. Karena portofolionya berisi banyak aset, risiko tidak hanya bergantung pada satu perusahaan saja.
Pemahaman ini penting karena banyak orang mengira equity fund sama seperti saham biasa. Padahal, equity fund adalah produk kolektif. Kamu tetap mendapat eksposur ke pasar saham, tetapi dengan pengelolaan yang lebih terstruktur.
Setelah memahami pengertiannya, hal berikutnya yang perlu kamu tahu adalah bagaimana dana di dalam equity fund bekerja dari awal hingga menghasilkan potensi keuntungan.
Cara Kerja Equity Fund
Cara kerja equity fund dimulai ketika investor menyetorkan dana ke produk reksadana saham. Dana tersebut kemudian dikumpulkan bersama dana investor lain, lalu dikelola oleh manajer investasi. Manajer investasi akan memilih saham yang masuk ke portofolio berdasarkan riset, strategi, dan aturan yang tercantum dalam prospektus.
Dana dalam equity fund biasanya ditempatkan pada saham perusahaan publik. Komposisinya bisa berbeda antara satu produk dan produk lain. Ada equity fund yang fokus pada saham berkapitalisasi besar, ada yang mengejar saham pertumbuhan, dan ada juga yang mengikuti indeks tertentu.
Potensi keuntungan equity fund berasal dari dua hal utama. Pertama, kenaikan harga saham dalam portofolio. Jika saham yang dimiliki mengalami kenaikan nilai, maka nilai investasi equity fund juga berpotensi naik. Kedua, dividen dari saham yang masuk dalam portofolio. Namun, pembagian atau pengelolaan dividen bergantung pada kebijakan masing-masing produk.
Nilai investasi dalam equity fund tercermin dalam NAB atau nilai aktiva bersih. Ketika harga saham dalam portofolio naik, NAB berpotensi ikut naik. Sebaliknya, ketika pasar saham turun, NAB juga bisa menurun. Karena itu, equity fund tetap memiliki risiko pasar yang harus dipahami sejak awal.
Misalnya, kamu menempatkan dana ke equity fund yang berisi saham sektor perbankan, konsumer, teknologi, dan energi. Jika sebagian besar saham tersebut naik dalam jangka panjang, nilai investasi kamu berpeluang bertumbuh. Namun, jika pasar saham sedang melemah secara luas, nilai equity fund juga bisa ikut turun meskipun portofolionya sudah terdiversifikasi.
Dari cara kerja ini, terlihat bahwa equity fund bukan produk yang menjanjikan keuntungan pasti. Produk ini memberi peluang pertumbuhan, tetapi tetap bergerak mengikuti kondisi pasar saham. Karena strategi tiap produk bisa berbeda, kamu juga perlu mengenal jenis-jenis equity fund sebelum memilihnya.
Jenis-Jenis Equity Fund
Equity fund tidak hanya terdiri dari satu tipe. Setiap produk bisa memiliki fokus, strategi, dan profil risiko yang berbeda. Perbedaan ini penting karena akan memengaruhi potensi return, tingkat volatilitas, dan kecocokan dengan tujuan investasi kamu.
Salah satu pembagian umum equity fund adalah berdasarkan kapitalisasi pasar saham yang dipilih. Ada equity fund yang fokus pada saham berkapitalisasi besar atau large cap. Produk seperti ini biasanya memilih saham perusahaan besar yang sudah mapan, memiliki likuiditas tinggi, dan sering menjadi bagian dari indeks utama. Karakternya cenderung lebih stabil dibanding saham kecil, meskipun tetap bisa turun ketika pasar melemah.
Ada juga equity fund yang fokus pada saham menengah atau mid cap. Saham dalam kategori ini biasanya memiliki ruang pertumbuhan yang lebih besar dibanding perusahaan besar, tetapi risikonya juga lebih tinggi. Untuk investor yang mencari pertumbuhan lebih agresif, jenis ini bisa menarik, namun tetap perlu dipahami bahwa fluktuasinya bisa lebih tajam.
Selain itu, ada equity fund yang menempatkan dana pada saham kecil atau small cap. Jenis ini memiliki potensi pertumbuhan tinggi jika perusahaan yang dipilih berkembang pesat. Namun, risikonya juga lebih besar karena saham kecil biasanya lebih sensitif terhadap sentimen pasar, likuiditas, dan kondisi bisnis.
Equity fund juga bisa dibedakan berdasarkan strategi investasi. Growth fund, misalnya, fokus pada saham perusahaan yang dianggap memiliki potensi pertumbuhan pendapatan tinggi. Produk seperti ini biasanya cocok untuk investor yang mengejar pertumbuhan nilai dalam jangka panjang.
Sebaliknya, value fund mencari saham yang dianggap masih undervalued atau diperdagangkan di bawah nilai wajarnya. Strategi ini membutuhkan kesabaran karena pasar tidak selalu langsung menghargai saham tersebut dalam waktu singkat.
Ada juga index fund berbasis saham yang mengikuti pergerakan indeks tertentu. Jenis ini tidak terlalu aktif memilih saham berdasarkan prediksi manajer investasi, melainkan mengikuti komposisi indeks. Karena pendekatannya lebih pasif, index fund sering dianggap lebih sederhana dan transparan.
Memahami jenis-jenis equity fund membantu kamu melihat bahwa tidak semua reksadana saham punya karakter yang sama. Ada yang defensif, ada yang agresif, ada yang mengikuti indeks, dan ada yang berbasis seleksi aktif. Setelah mengenali variasinya, kamu bisa mulai menilai apa saja kelebihan yang membuat equity fund menarik bagi banyak investor.
Kelebihan Equity Fund
Salah satu alasan equity fund banyak dipilih adalah kemampuannya memberi akses ke pasar saham tanpa harus membeli saham satu per satu. Untuk pemula, ini menjadi keuntungan besar karena pasar saham sering terasa rumit ketika harus dianalisis sendiri.
Kelebihan pertama equity fund adalah diversifikasi. Dengan satu produk, kamu bisa memiliki eksposur ke banyak saham sekaligus. Diversifikasi ini membantu mengurangi ketergantungan pada satu emiten yang dalam dunia investasi dikenal sebagai strategi diversifikasi portofolio untuk menekan risiko. Jika satu saham dalam portofolio turun, dampaknya bisa tertahan oleh saham lain yang bergerak lebih baik.
Kelebihan kedua adalah pengelolaan profesional. Equity fund dikelola oleh manajer investasi , yaitu pihak profesional yang bertugas memilih saham dan mengatur strategi portofolio, mengatur komposisi portofolio, dan menyesuaikan strategi sesuai kondisi pasar. Bagi kamu yang belum terbiasa membaca laporan keuangan atau memantau pasar setiap hari, pengelolaan ini bisa membantu membuat proses investasi lebih praktis.
Kelebihan berikutnya adalah potensi return jangka panjang. Karena mayoritas dana ditempatkan di saham, equity fund memiliki peluang pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding instrumen yang lebih konservatif. Namun, potensi ini biasanya lebih masuk akal jika dilihat dalam horizon investasi panjang, bukan dalam hitungan minggu atau bulan.
Equity fund juga relatif mudah diakses. Investor tidak harus memiliki modal besar untuk mulai masuk ke produk reksadana saham. Dengan nominal yang lebih terjangkau, kamu bisa mulai membangun portofolio berbasis saham secara bertahap.
Meski begitu, kelebihan equity fund tidak boleh membuat investor menutup mata terhadap risikonya. Produk ini tetap bergerak mengikuti pasar saham, sehingga fluktuasi harga adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan.
Risiko Equity Fund yang Perlu Kamu Tahu
Equity fund memiliki potensi pertumbuhan, tetapi juga membawa risiko investasi yang lebih tinggi dibanding instrumen konservatif. Karena mayoritas portofolionya berisi saham, nilai investasi bisa naik dan turun mengikuti kondisi pasar.
Risiko pertama adalah volatilitas. Harga saham bisa bergerak tajam karena banyak faktor, mulai dari kinerja perusahaan, suku bunga, inflasi, kondisi ekonomi, hingga sentimen global. Ketika pasar saham sedang turun, equity fund juga bisa mengalami penurunan nilai.
Risiko kedua adalah risiko strategi pengelolaan. Setiap manajer investasi memiliki pendekatan berbeda dalam memilih saham. Jika strategi yang digunakan tidak sesuai dengan kondisi pasar, performa equity fund bisa tertinggal dari produk lain atau dari indeks acuannya.
Risiko ketiga adalah risiko likuiditas saham dalam portofolio. Jika equity fund banyak berinvestasi pada saham yang likuiditasnya rendah, proses penyesuaian portofolio bisa menjadi lebih sulit ketika pasar bergerak cepat.
Selain itu, investor juga harus memahami bahwa performa masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Sebuah equity fund bisa mencetak return bagus dalam periode tertentu, tetapi belum tentu mengulang performa yang sama di periode berikutnya.
Contohnya, ketika pasar saham sedang berada dalam tren naik, equity fund bisa terlihat sangat menarik karena nilainya ikut bertumbuh. Namun, saat terjadi koreksi besar, produk yang sama bisa mengalami penurunan signifikan. Di momen seperti ini, investor yang tidak siap secara mental sering mengambil keputusan terburu-buru.
Karena itu, equity fund lebih cocok dipahami sebagai instrumen pertumbuhan jangka panjang. Setelah memahami risikonya, pertanyaan berikutnya biasanya muncul: lebih baik memilih equity fund atau membeli saham langsung?
Equity Fund vs Saham, Mana Lebih Baik?
Equity fund dan saham sama-sama memberi eksposur ke pasar ekuitas, tetapi cara kerjanya berbeda. Perbedaan ini membuat keduanya cocok untuk tipe investor yang berbeda pula.
Jika kamu membeli saham langsung, kamu memiliki kontrol penuh terhadap pilihan emiten. Kamu bisa memilih saham tertentu, menentukan waktu beli, mengatur strategi, dan memutuskan kapan menjual. Kontrol ini bisa menjadi kelebihan bagi investor yang punya pengetahuan, waktu, dan disiplin analisis.
Namun, kontrol penuh juga berarti tanggung jawab penuh. Kamu harus memahami laporan keuangan, valuasi, prospek industri, sentimen pasar, hingga risiko teknikal. Jika keputusan yang diambil salah, dampaknya langsung terasa pada portofolio.
Equity fund lebih praktis karena keputusan investasi dilakukan oleh manajer investasi. Kamu tidak perlu memilih saham satu per satu. Produk ini cocok untuk investor yang ingin mendapatkan eksposur ke pasar saham, tetapi tidak ingin terlalu aktif mengelola portofolio.
Dari sisi risiko, saham langsung bisa lebih terkonsentrasi jika kamu hanya membeli beberapa emiten. Equity fund biasanya lebih terdiversifikasi karena berisi banyak saham. Namun, diversifikasi tidak berarti bebas risiko. Jika pasar saham turun secara luas, equity fund tetap bisa ikut terkoreksi.
Dari sisi potensi keuntungan, saham langsung bisa memberi return lebih besar jika kamu berhasil memilih emiten yang tepat. Namun, peluang return tinggi biasanya datang bersama risiko yang lebih tinggi. Equity fund cenderung menawarkan pendekatan yang lebih terkelola, meskipun performanya tetap bergantung pada kualitas strategi dan kondisi pasar.
Jadi, mana yang lebih baik? Jawabannya bergantung pada profil kamu. Jika kamu punya waktu dan kemampuan analisis, saham langsung bisa menjadi pilihan. Jika kamu ingin pendekatan yang lebih praktis dan terdiversifikasi, equity fund bisa lebih sesuai.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa equity fund bukan pengganti mutlak saham langsung. Keduanya punya fungsi berbeda. Agar pemahaman makin konkret, mari lihat contoh bentuk equity fund dalam praktik investasi.
Contoh Equity Fund
Contoh paling mudah dari equity fund adalah reksadana saham yang mengalokasikan mayoritas portofolionya ke saham perusahaan publik. Di Indonesia, produk seperti ini biasanya dikelola oleh manajer investasi dan memiliki kebijakan investasi yang dijelaskan dalam prospektus.
Misalnya, sebuah equity fund memiliki portofolio yang terdiri dari saham sektor perbankan, konsumer, telekomunikasi, energi, dan teknologi. Komposisi tersebut bisa berubah sesuai strategi manajer investasi. Jika manajer investasi melihat sektor tertentu punya prospek lebih baik, bobot saham di sektor tersebut bisa ditambah.
Ada juga equity fund yang fokus pada saham berkapitalisasi besar. Produk seperti ini biasanya memilih perusahaan yang sudah mapan dan memiliki likuiditas tinggi. Karakternya relatif lebih stabil dibanding produk yang fokus pada saham kecil.
Contoh lain adalah global equity fund. Produk ini berinvestasi pada saham perusahaan di berbagai negara. Tujuannya adalah memberi eksposur ke pasar saham global, bukan hanya pasar domestik. Jenis ini bisa menarik bagi investor yang ingin diversifikasi geografis, meskipun risikonya juga melibatkan faktor nilai tukar dan kondisi ekonomi global.
Selain itu, ada equity fund yang mengikuti indeks saham tertentu. Produk seperti ini bertujuan mencerminkan pergerakan indeks yang menjadi acuannya. Jika indeks naik, nilai produk berpotensi naik. Jika indeks turun, nilai produk juga bisa ikut melemah.
Dari contoh-contoh ini, kamu bisa melihat bahwa equity fund bisa memiliki pendekatan yang sangat beragam. Ada yang fokus lokal, global, aktif, pasif, agresif, atau lebih defensif. Karena itu, memilih equity fund tidak cukup hanya melihat nama produk. Kamu perlu memahami isi portofolio, strategi, biaya, risiko, dan horizon investasinya.
Setelah mengetahui contohnya, langkah berikutnya adalah memahami siapa yang paling cocok menggunakan equity fund sebagai bagian dari strategi investasi.
Siapa yang Cocok Investasi Equity Fund?
Equity fund cocok untuk investor yang ingin mengejar pertumbuhan nilai dalam jangka panjang. Karena berbasis saham, instrumen ini lebih ideal untuk tujuan investasi yang tidak membutuhkan dana dalam waktu dekat.
Jika kamu sedang membangun dana untuk tujuan lima tahun ke atas, equity fund bisa menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan. Jangka waktu panjang memberi ruang bagi portofolio untuk melewati naik turun pasar. Semakin pendek horizon investasi, semakin besar risiko kamu harus menjual ketika pasar sedang turun.
Equity fund juga cocok untuk kamu yang ingin masuk ke pasar saham, tetapi belum siap memilih saham sendiri. Dengan produk ini, kamu tetap mendapat eksposur ke saham, tetapi proses pemilihan dan pengelolaan portofolio dilakukan oleh manajer investasi.
Selain itu, equity fund bisa cocok untuk investor yang ingin melakukan diversifikasi. Jika portofolio kamu terlalu banyak berada di instrumen konservatif, equity fund bisa menjadi bagian pertumbuhan. Namun, porsinya tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko.
Sebaliknya, equity fund kurang cocok untuk investor yang tidak siap melihat nilai investasi turun dalam jangka pendek. Jika kamu mudah panik ketika pasar koreksi, produk ini bisa terasa terlalu fluktuatif. Dalam kondisi seperti itu, instrumen yang lebih stabil mungkin lebih sesuai.
Equity fund juga kurang ideal untuk dana darurat. Dana darurat sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang lebih likuid dan stabil. Karena nilai equity fund bisa naik turun, menempatkan dana darurat di instrumen ini bisa membuat kamu rugi ketika harus mencairkan dana di saat pasar turun.
Pada akhirnya, kecocokan equity fund bukan hanya soal potensi return. Yang lebih penting adalah apakah karakter risikonya sesuai dengan tujuan, jangka waktu, dan kesiapan mental kamu sebagai investor.
Kesimpulan
Equity fund adalah reksadana berbasis saham yang memberi akses ke pasar ekuitas melalui portofolio yang dikelola secara profesional. Produk ini cocok untuk investor yang ingin mengejar pertumbuhan jangka panjang tanpa harus memilih saham satu per satu.
Daya tarik utama equity fund ada pada diversifikasi, pengelolaan profesional, dan potensi return yang lebih tinggi dibanding instrumen konservatif. Namun, semua itu datang bersama risiko volatilitas pasar saham. Nilai investasi bisa naik dan turun, terutama dalam jangka pendek.
Karena itu, equity fund sebaiknya tidak dilihat sebagai jalan cepat untuk mendapatkan keuntungan. Instrumen ini lebih tepat dipahami sebagai bagian dari strategi membangun aset dalam jangka panjang. Jika kamu memahami cara kerjanya, mengenali risikonya, dan menyesuaikannya dengan tujuan keuangan, equity fund bisa menjadi pilihan yang relevan dalam portofolio investasi.
Keputusan terbaik bukan memilih produk yang terlihat paling menguntungkan, melainkan memilih instrumen yang paling sesuai dengan profil risiko dan tujuan kamu. Dalam konteks itu, equity fund bisa menjadi pilihan menarik bagi investor yang ingin bertumbuh bersama pasar saham dengan pendekatan yang lebih terkelola.
FAQ
1. Apa perbedaan equity fund dan reksadana saham?
Equity fund dan reksadana saham pada dasarnya merujuk pada konsep yang sama. Equity fund adalah istilah global untuk produk investasi kolektif yang mayoritas dananya ditempatkan pada saham. Di Indonesia, istilah yang lebih umum digunakan adalah reksadana saham.
Perbedaannya lebih banyak pada penggunaan istilah. Jika kamu membaca referensi internasional, istilah equity fund lebih sering muncul. Sementara dalam konteks produk investasi domestik, istilah reksadana saham lebih mudah ditemukan.
2. Apakah equity fund aman untuk pemula?
Equity fund bisa dipilih oleh pemula, tetapi tetap harus dipahami sebagai instrumen berisiko. Produk ini lebih praktis dibanding membeli saham langsung karena dikelola oleh manajer investasi dan biasanya sudah terdiversifikasi.
Namun, aman bukan berarti bebas rugi. Karena portofolionya berisi saham, nilai equity fund tetap bisa turun ketika pasar melemah. Pemula sebaiknya memahami profil risiko, membaca informasi produk, dan tidak memakai dana yang dibutuhkan dalam waktu dekat.
3. Apakah equity fund bisa rugi?
Ya, equity fund bisa rugi. Nilainya bisa turun ketika harga saham dalam portofolio melemah. Penurunan ini bisa terjadi karena koreksi pasar, pelemahan sektor tertentu, perubahan suku bunga, kondisi ekonomi, atau sentimen global.
Risiko rugi biasanya lebih terasa dalam jangka pendek. Karena itu, equity fund lebih cocok untuk tujuan jangka panjang, ketika investor punya waktu lebih panjang untuk menghadapi naik turun pasar.
4. Equity fund cocok untuk jangka pendek atau jangka panjang?
Equity fund lebih cocok untuk jangka panjang. Karena berbasis saham, instrumen ini memiliki volatilitas yang lebih tinggi dibanding produk konservatif. Dalam jangka pendek, nilai investasi bisa bergerak tajam dan sulit diprediksi.
Untuk tujuan jangka panjang, fluktuasi tersebut bisa lebih mudah dikelola karena investor memiliki waktu lebih panjang untuk menunggu pemulihan pasar. Itulah sebabnya equity fund sering digunakan untuk tujuan seperti pertumbuhan aset, dana pendidikan jangka panjang, atau persiapan masa depan.
5. Apa saja yang harus dicek sebelum memilih equity fund?
Sebelum memilih equity fund, kamu perlu melihat beberapa hal penting, seperti strategi investasi, isi portofolio, performa historis, biaya, profil risiko, dan reputasi manajer investasi. Jangan hanya melihat return tertinggi dalam satu periode, karena performa jangka pendek bisa dipengaruhi kondisi pasar sementara.
Kamu juga perlu menyesuaikan produk dengan tujuan investasi. Equity fund yang agresif mungkin menarik dari sisi potensi return, tetapi belum tentu cocok jika kamu tidak siap menghadapi penurunan nilai yang tajam.
6. Apakah equity fund sama dengan index fund?
Tidak selalu. Index fund bisa menjadi salah satu jenis equity fund jika portofolionya berisi saham dan mengikuti indeks saham tertentu. Namun, tidak semua equity fund adalah index fund.
Equity fund aktif biasanya dikelola dengan strategi pemilihan saham oleh manajer investasi. Sementara index fund lebih pasif karena mengikuti komposisi indeks tertentu. Perbedaan ini memengaruhi cara pengelolaan, biaya, dan ekspektasi performanya.
7. Apa bedanya equity fund dan mutual fund?
Mutual fund adalah istilah umum untuk reksadana. Di dalam mutual fund, terdapat berbagai jenis produk, seperti equity fund, bond fund, money market fund, dan balanced fund.
Equity fund adalah salah satu jenis mutual fund yang fokus pada saham. Jadi, semua equity fund bisa disebut bagian dari mutual fund, tetapi tidak semua mutual fund adalah equity fund.
Itulah informasi menarik tentang Apa itu Equity Fund yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
