Harga Bitcoin (BTC) sempat menembus level US$64.000 pada Selasa (14/7) malam setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) untuk Juni dirilis lebih rendah dari ekspektasi pasar.

Sumber Gambar: X.com/CryptoPatel
Kondisi tersebut kembali memunculkan optimisme bahwa Federal Reserve (The Fed) memiliki ruang lebih besar untuk memangkas suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.
Sentimen ini langsung mendorong aset berisiko, termasuk Bitcoin, yang sempat diperdagangkan di kisaran US$63.800-US$64.000, naik sekitar 2% dalam sehari setelah sebelumnya tertekan oleh aksi deleveraging dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
Inflasi AS Melandai, Harapan Rate Cut Kembali Menguat

Sumber Gambar: X.com/GreyBTC
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa Consumer Price Index (CPI) secara bulanan turun 0,1% (month-on-month/MoM) pada Juni 2026. Sementara itu, inflasi tahunan turun menjadi sekitar 3,9%, dari 4,2% pada Mei.
Penurunan tersebut sebagian besar dipicu oleh anjloknya harga bensin yang mencapai hampir 10% dibandingkan bulan sebelumnya.
Data ini memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa tekanan inflasi mulai mereda sehingga The Fed tidak perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat terlalu lama.
Sejalan dengan rilis data tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yields) melemah, indeks dolar AS terkoreksi, pasar saham bergerak menguat, dan harga emas turut mencatat kenaikan.
Bagi Bitcoin, ekspektasi suku bunga yang lebih rendah menjadi sentimen positif karena dapat meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko yang tidak menawarkan imbal hasil tetap, seperti BTC.
Baca juga berita terkait: Bitcoin (BTC) Makin Langka di Exchange, Kenapa Harganya Belum Meledak?
Inflasi Inti Masih Jadi Perhatian
Meski data inflasi utama memberikan angin segar, pasar belum sepenuhnya tenang.
Pasalnya, Core CPI, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, masih bertahan di sekitar 2,9% secara tahunan, atau masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.
Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga di sektor lain belum benar-benar mereda.
Dengan kata lain, peluang pemangkasan suku bunga memang meningkat, tetapi bank sentral AS masih memiliki alasan untuk bersikap hati-hati dalam menentukan arah kebijakan berikutnya.
Sebelum data inflasi dirilis, pasar futures memperkirakan peluang sekitar dua banding tiga bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%-3,75% pada pertemuan 28-29 Juli, sementara sisanya masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan sebesar 25 basis poin.
Harga Minyak dan Pernyataan The Fed Jadi Risiko Baru
Di tengah optimisme tersebut, sejumlah faktor masih berpotensi membatasi kenaikan Bitcoin.
Risalah rapat The Fed sebelumnya menyoroti meningkatnya kebutuhan energi akibat perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai salah satu faktor yang dapat memicu tekanan inflasi baru.
Selain itu, situasi geopolitik kembali memanas setelah Presiden Donald Trump mengumumkan pemulihan blokade laut terhadap pengiriman Iran serta memperketat kontrol di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah kembali bergerak di atas US$80 per barel.
Apabila harga energi terus meningkat, inflasi berpotensi kembali naik sehingga ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga menjadi lebih terbatas. Skenario tersebut dapat mengurangi sentimen positif yang saat ini menopang pergerakan Bitcoin.
Arus Dana ETF Bitcoin Masih Belum Pulih
Di sisi lain, analis Bitfinex menilai Bitcoin masih sangat dipengaruhi kondisi makroekonomi global.
Melansir Bitcoin Magazine, Bitfinex menyebut permintaan terhadap ETF Bitcoin spot belum sepenuhnya stabil. Minat investor institusi cenderung meningkat ketika kondisi pasar tenang, namun kembali melemah saat volatilitas meningkat.

Sumber Gambar: SoSoValue
Rata-rata arus dana bersih ETF Bitcoin telah berada dalam fase net outflow sejak pertengahan Mei 2026.
Meski demikian, tekanan jual mulai melambat. Nilai penarikan dana harian turun dari sekitar US$193 juta pada awal Juni menjadi sekitar US$88,9 juta, meski belum menunjukkan tanda-tanda arus masuk yang konsisten.
Baca lainnya: Investor Tesla Sebut Michael Saylor Hancurkan Bitcoin, Ini 3 Alasannya
Bitcoin Masih Menunggu Katalis Berikutnya
Dalam sepekan terakhir, Bitcoin bergerak di kisaran US$61.600 hingga US$64.700.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada laporan keuangan sejumlah bank besar AS, seperti JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Wells Fargo, dan Bank of America, sebelum berlanjut ke keputusan suku bunga The Fed pada akhir Juli.
Kedua agenda tersebut diperkirakan akan menjadi katalis utama yang menentukan apakah reli Bitcoin mampu berlanjut atau justru kembali menghadapi tekanan.
Kesimpulan
Meredanya inflasi AS berhasil menghidupkan kembali optimisme pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed, yang langsung memberikan dorongan bagi harga Bitcoin hingga menyentuh level US$64.000.
Namun, peluang reli lanjutan masih bergantung pada sejumlah faktor penting, mulai dari perkembangan inflasi inti, arah kebijakan The Fed, kondisi geopolitik yang memengaruhi harga energi, hingga kembalinya arus dana institusional melalui ETF Bitcoin spot.
FAQ
- Apa itu CPI AS dan mengapa berpengaruh terhadap harga Bitcoin?
CPI (Consumer Price Index) adalah indikator inflasi yang mengukur perubahan harga barang dan jasa di Amerika Serikat. Ketika inflasi melambat, peluang The Fed menurunkan suku bunga meningkat, sehingga aset berisiko seperti Bitcoin biasanya mendapat sentimen positif. - Mengapa penurunan suku bunga bisa mendorong harga Bitcoin?
Suku bunga yang lebih rendah membuat instrumen berbunga seperti obligasi menjadi kurang menarik. Akibatnya, sebagian investor cenderung mengalihkan dana ke aset berisiko, termasuk Bitcoin, saham, maupun emas. - Apa yang dimaksud Core CPI?
Core CPI adalah inflasi yang tidak menghitung harga makanan dan energi karena kedua komponen tersebut sangat fluktuatif. Indikator ini sering dijadikan acuan utama The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter. - Mengapa ETF Bitcoin penting bagi pergerakan harga BTC?
ETF Bitcoin spot memudahkan investor institusi memperoleh eksposur terhadap Bitcoin. Ketika dana yang masuk ke ETF meningkat, permintaan terhadap BTC juga cenderung bertambah sehingga dapat mendukung kenaikan harga. - Faktor apa saja yang dapat memengaruhi harga Bitcoin dalam waktu dekat?
Selain keputusan suku bunga The Fed, investor juga akan mencermati data inflasi berikutnya, laporan keuangan perusahaan besar AS, arus dana ETF Bitcoin, kondisi geopolitik, serta pergerakan harga minyak yang dapat memengaruhi ekspektasi inflasi global.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi CS Indodax
- Nomor resmi Customer Support: (021) 5065 8888
- Nomor resmi CS Indodax Prioritas: (021) 5036 8888
- Email bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Etf Bitcoin, #Prediksi Harga Crypto Hari Ini, #Berita Pergerakan Harga Crypto, Berita Consumer Price Index






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


