Banyak orang menganggap risiko investasi sama dengan volatilitas. Ketika harga naik turun tajam, itu dianggap berisiko. Ketika harga stabil, itu dianggap aman. Padahal, bagi sebagian besar investor, yang benar-benar terasa sebagai risiko bukanlah fluktuasi, melainkan kerugian.
Di sinilah downside deviation menjadi relevan. Berbeda dengan konsep dalam artikel standar deviasi dalam investasi yang menghitung semua penyimpangan dari rata-rata, downside deviation hanya fokus pada return yang berada di bawah batas minimum yang kamu anggap layak. Artinya, metrik ini secara spesifik mengukur risiko penurunan. Artikel ini akan membahas secara lengkap apa itu downside deviation, rumusnya, cara menghitungnya dengan contoh, hingga relevansinya dalam investasi dan trading kripto.
Apa Itu Downside Deviation?
Untuk memahami cara menghitungnya, kamu perlu memahami dulu konsep dasarnya. Downside deviation adalah ukuran risiko yang hanya menghitung penyimpangan return di bawah Minimum Acceptable Return atau MAR. MAR adalah tingkat pengembalian minimum yang kamu anggap dapat diterima.
Jika suatu investasi menghasilkan return di atas MAR, maka fluktuasi tersebut tidak dianggap sebagai risiko dalam perhitungan downside deviation. Sebaliknya, jika return berada di bawah MAR, barulah selisihnya dihitung sebagai risiko.
Berbeda dengan standar deviasi yang memperlakukan kenaikan dan penurunan secara sama, downside deviation mengabaikan sisi positif. Fokusnya murni pada deviasi negatif. Inilah yang membuat metrik ini lebih dekat dengan cara berpikir investor pada umumnya, karena kerugian jauh lebih memengaruhi keputusan dibandingkan keuntungan tambahan.
Dengan memahami definisi ini, kamu mulai melihat bahwa downside deviation bukan sekadar angka statistik, melainkan alat untuk mengukur risiko penurunan secara lebih realistis.
Mengapa Standar Deviasi Tidak Selalu Cukup?
Standar deviasi sering digunakan untuk mengukur volatilitas. Namun, volatilitas tidak selalu berarti buruk. Bayangkan ada dua investasi dengan rata-rata return yang sama. Investasi pertama naik 40 persen di satu periode dan 20 persen di periode lainnya. Investasi kedua stabil di angka 5 persen setiap tahun.
Secara statistik, investasi pertama memiliki standar deviasi lebih tinggi karena fluktuasinya besar. Namun apakah itu berarti lebih berisiko? Tidak selalu. Jika seluruh fluktuasi tersebut tetap berada di atas target return kamu, maka secara praktis tidak ada kerugian yang terjadi.
Standar deviasi menghitung semua penyimpangan dari rata-rata, baik ke atas maupun ke bawah. Padahal dalam praktik manajemen risiko, yang benar-benar ingin dihindari adalah penyimpangan negatif. Konsep ini sejalan dengan teori perilaku keuangan yang menyebutkan bahwa investor cenderung lebih sensitif terhadap kerugian dibandingkan keuntungan.
Di sinilah downside deviation memberikan gambaran yang lebih fokus. Ia tidak menghukum investasi karena naik terlalu tinggi, melainkan hanya karena turun di bawah batas yang kamu tetapkan.
Rumus Downside Deviation
Setelah memahami alasan di balik penggunaannya, sekarang saatnya masuk ke aspek teknis. Secara matematis, rumus downside deviation adalah:
Downside Deviation = ? [ ? (Ri ? MAR)² / n ]
Keterangan:
Ri adalah return pada periode ke-i
MAR adalah minimum acceptable return
n adalah jumlah total periode observasi
Langkah penting dalam rumus ini adalah hanya memasukkan nilai (Ri ? MAR) yang negatif. Jika hasilnya positif atau nol, maka tidak dihitung dalam deviasi negatif.
MAR sendiri bisa berbeda-beda tergantung tujuan kamu. Beberapa investor menggunakan 0 persen sebagai batas minimal. Ada juga yang menggunakan suku bunga bebas risiko. Bahkan dalam konteks portofolio pribadi, MAR bisa berupa target return tertentu, misalnya 8 persen per tahun.
Pilihan MAR akan sangat memengaruhi hasil downside deviation. Semakin tinggi MAR, semakin besar kemungkinan suatu return dianggap sebagai deviasi negatif.
Cara Hitung Downside Deviation dengan Contoh
Agar lebih jelas, mari gunakan contoh sederhana. Misalkan sebuah investasi memiliki return tahunan sebagai berikut:
Tahun 1: -2 persen
Tahun 2: 16 persen
Tahun 3: 31 persen
Tahun 4: 17 persen
Tahun 5: -11 persen
Tahun 6: 21 persen
Tahun 7: 26 persen
Tahun 8: -3 persen
Tahun 9: 38 persen
Misalkan kamu menetapkan MAR sebesar 1 persen.
Langkah pertama adalah mengurangi setiap return dengan MAR.
Tahun 1: -2% – 1% = -3%
Tahun 2: 16% – 1% = 15%
Tahun 3: 31% – 1% = 30%
Tahun 4: 17% – 1% = 16%
Tahun 5: -11% – 1% = -12%
Tahun 6: 21% – 1% = 20%
Tahun 7: 26% – 1% = 25%
Tahun 8: -3% – 1% = -4%
Tahun 9: 38% – 1% = 37%
Langkah berikutnya adalah mengambil hanya nilai negatif, yaitu -3 persen, -12 persen, dan -4 persen.
Kemudian kuadratkan masing-masing nilai tersebut:
(-3)² = 9
(-12)² = 144
(-4)² = 16
Jumlahkan hasil kuadratnya:
9 + 144 + 16 = 169
Bagi dengan jumlah periode observasi, yaitu 9:
169 / 9 = 18,78
Terakhir, ambil akar kuadrat dari 18,78.
Hasilnya sekitar 4,33 persen.
Angka 4,33 persen inilah downside deviation dari investasi tersebut. Semakin kecil nilainya, semakin rendah risiko penurunan relatif terhadap MAR yang kamu tetapkan. Angka ini memungkinkan kamu membandingkan dua investasi dengan rata-rata return yang sama tetapi tingkat risiko penurunan berbeda.
Perbedaan Downside Deviation, Sharpe Ratio, dan Sortino Ratio
Dalam praktik analisis investasi, downside deviation jarang berdiri sendiri. Ia sering digunakan dalam perhitungan Sortino ratio.
Sharpe ratio dalam investasi menggunakan standar deviasi untuk mengukur risk-adjusted return. Artinya, semua volatilitas dianggap sebagai risiko. Sortino ratio berbeda karena menggunakan downside deviation sebagai pengganti standar deviasi.
Dengan pendekatan ini, Sortino ratio hanya menghitung risiko penurunan. Jika dua investasi memiliki return rata-rata yang sama, tetapi salah satunya memiliki downside deviation lebih kecil, maka investasi tersebut akan memiliki Sortino ratio lebih tinggi.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa downside deviation merupakan fondasi dalam evaluasi risk-adjusted performance yang lebih fokus pada kerugian.
Kelebihan dan Kelemahan Downside Deviation
Sebagai alat analisis risiko, downside deviation memiliki sejumlah kelebihan. Ia lebih relevan bagi investor yang ingin menghindari kerugian besar. Ia juga fleksibel karena MAR dapat disesuaikan dengan profil risiko masing-masing individu. Dalam manajemen portofolio, metrik ini membantu mengevaluasi konsistensi return terhadap target yang diharapkan.
Namun, downside deviation juga memiliki keterbatasan. Ia tidak memberikan informasi tentang potensi keuntungan. Dua investasi bisa memiliki downside deviation yang sama, tetapi salah satunya memiliki potensi kenaikan jauh lebih besar. Selain itu, karena berbasis data historis, hasilnya tetap bergantung pada kondisi masa lalu yang belum tentu terulang.
Karena itu, penggunaan downside deviation sebaiknya dikombinasikan dengan metrik lain seperti Sharpe ratio, maximum drawdown, dan analisis volatilitas.
Relevansi Downside Deviation dalam Trading Crypto
Pasar kripto tidak hanya volatil, tetapi juga asimetris. Kenaikan bisa cepat, namun penurunan sering kali lebih tajam dan lebih brutal. Dalam beberapa siklus, harga aset kripto mampu naik ratusan persen, tetapi dalam fase koreksi, penurunan 50 hingga 80 persen bukan hal yang langka.
Dalam kondisi seperti itu, standar deviasi sering terlihat tinggi, tetapi angka tersebut tidak menjelaskan satu hal penting: seberapa dalam strategi kamu benar-benar jatuh di bawah target yang kamu anggap layak. Di sinilah downside deviation menjadi relevan secara praktis, bukan hanya teoritis.
Bayangkan dua strategi trading kripto dengan rata-rata return tahunan yang sama, misalnya 25 persen. Strategi pertama mengalami beberapa periode penurunan tajam hingga minus 30 persen sebelum pulih. Strategi kedua jarang turun lebih dari minus 8 persen dari targetnya. Secara rata-rata, keduanya terlihat sama. Namun dari sisi tekanan psikologis dan risiko likuidasi, keduanya sangat berbeda.
Downside deviation menangkap perbedaan itu.
Dengan menetapkan MAR sesuai profil risiko, misalnya 0 persen atau bahkan 5 persen, kamu dapat mengukur konsistensi strategi dalam menjaga return tetap di atas batas minimalsebagai bagian dari manajemen risiko trading kripto yang disiplin. Ini penting terutama bagi trader yang menggunakan leverage, staking, atau strategi berbasis yield. Penurunan yang terlalu dalam bisa memicu margin call, forced liquidation, atau hilangnya kepercayaan terhadap sistem trading yang digunakan.
Dalam konteks manajemen portofolio kripto, downside deviation juga membantu menjawab pertanyaan yang lebih strategis: apakah return tinggi yang kamu peroleh sebanding dengan risiko penurunan yang kamu tanggung? Jika dua aset kripto menghasilkan imbal hasil serupa, tetapi salah satunya memiliki downside deviation jauh lebih kecil, maka aset tersebut secara struktural lebih stabil terhadap target return yang kamu tetapkan.
Di titik inilah downside deviation berubah dari sekadar rumus statistik menjadi alat kontrol risiko. Ia memaksa kamu melihat performa secara disiplin, bukan sekadar terpukau oleh angka keuntungan.
Kesimpulan
Mengukur risiko tidak cukup hanya dengan melihat seberapa besar harga bergerak. Yang lebih menentukan adalah seberapa dalam performa investasi turun di bawah standar yang kamu anggap layak. Downside deviation memberikan kerangka yang lebih tajam untuk melihat sisi itu.
Dengan memahami cara hitung downside deviation dan interpretasinya, kamu tidak lagi menilai investasi hanya dari rata-rata return. Kamu mulai menilai konsistensi terhadap target, kestabilan terhadap tekanan pasar, dan kualitas manajemen risiko yang dijalankan.
Dalam pasar yang volatil seperti kripto, pendekatan ini menjadi semakin relevan. Return tinggi memang menarik, tetapi keberlanjutan strategi jauh lebih ditentukan oleh kemampuan mengendalikan penurunan. Downside deviation membantu kamu melihat apakah performa yang terlihat impresif benar-benar terkendali, atau hanya hasil dari fluktuasi ekstrem yang berisiko.
Keputusan investasi yang matang selalu berdiri di atas pemahaman risiko yang jelas. Dan downside deviation adalah salah satu alat yang membantu kamu melihat risiko itu dengan lebih jujur dan terukur.
Itulah informasi menarik tentang Downside deviation yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
FAQ
1. Apa itu downside deviation dalam investasi?
Downside deviation adalah ukuran risiko yang menghitung penyimpangan return di bawah minimum acceptable return. Metrik ini fokus pada risiko penurunan, bukan seluruh volatilitas.
2. Apa bedanya downside deviation dan standar deviasi?
Standar deviasi menghitung semua penyimpangan dari rata-rata return, baik positif maupun negatif. Downside deviation hanya menghitung penyimpangan negatif di bawah MAR.
3. Apa itu minimum acceptable return atau MAR?
MAR adalah tingkat pengembalian minimum yang kamu tetapkan sebagai batas layak. Return di bawah angka ini dianggap sebagai risiko dalam perhitungan downside deviation.
4. Apakah downside deviation lebih baik dari Sharpe ratio?
Downside deviation bukan pengganti Sharpe ratio, melainkan komponen dalam Sortino ratio. Untuk fokus pada risiko penurunan, downside deviation dan Sortino ratio sering dianggap lebih representatif.
5. Bagaimana cara menghitung downside deviation di Excel?
Kamu dapat menggunakan fungsi IF untuk menyaring nilai return yang berada di bawah MAR, kemudian mengkuadratkan selisihnya, menghitung rata-ratanya, dan mengambil akar kuadrat menggunakan fungsi SQRT.





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
