Banyak investor langsung tertarik ketika menemukan saham dengan cash per share tinggi. Angkanya terlihat meyakinkan karena perusahaan seolah punya cadangan uang tunai besar di balik setiap lembar saham yang beredar. Dalam kondisi pasar yang sering berubah cepat, perusahaan dengan kas besar memang tampak lebih aman dibanding perusahaan yang keuangannya tipis.
Namun, cash per share tinggi tidak otomatis berarti saham tersebut bagus untuk dibeli.
Ada perusahaan yang memiliki kas besar karena bisnisnya sehat, arus kasnya kuat, dan manajemennya disiplin menjaga neraca. Tapi ada juga perusahaan yang terlihat kaya kas karena baru menjual aset, menahan ekspansi, atau belum punya arah pertumbuhan yang jelas. Jika kamu hanya melihat angka cash per share tanpa membaca konteks bisnisnya, risiko salah menilai saham tetap terbuka lebar.
Karena itu, cash per share sebaiknya tidak diperlakukan sebagai angka sakti. Rasio ini lebih tepat dibaca sebagai pintu awal untuk memahami likuiditas perusahaan, bukan sebagai satu-satunya alasan untuk membeli saham.
Apa Itu Cash Per Share?
Cash per share adalah rasio yang menggambarkan jumlah kas dan setara kas perusahaan untuk setiap lembar saham yang beredar. Dalam bahasa yang lebih sederhana, rasio ini membantu kamu melihat berapa besar cadangan uang tunai perusahaan jika dibagi ke seluruh saham yang dimiliki investor.
Misalnya, sebuah perusahaan punya kas besar di neraca, tetapi jumlah saham beredarnya juga sangat banyak. Dalam kondisi seperti itu, cash per share bisa saja tidak terlalu tinggi. Sebaliknya, perusahaan dengan kas lebih kecil tetapi jumlah saham beredar lebih sedikit bisa memiliki cash per share yang terlihat lebih menarik.
Rasio ini sering dipakai dalam analisis fundamental karena kas merupakan salah satu komponen yang paling mudah dibaca dari laporan keuangan. Kas bisa dipakai perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek, menjaga operasional, membiayai ekspansi, membagikan dividen, sampai melakukan buyback saham.
Meski begitu, kas yang besar belum tentu selalu berarti perusahaan sedang berada dalam kondisi terbaik. Kas hanya memberi tahu berapa besar uang yang tersedia, bukan seberapa baik perusahaan menghasilkan keuntungan dari bisnis utamanya.
Itulah sebabnya, setelah memahami definisinya, kamu perlu melihat bagaimana angka ini dihitung agar tidak salah membaca maknanya.
Cara Menghitung Cash Per Share
Cash per share dihitung dengan membagi kas dan setara kas perusahaan dengan jumlah saham beredar. Kas dan setara kas biasanya dapat ditemukan dalam laporan posisi keuangan atau neraca, sedangkan jumlah saham beredar bisa dilihat di laporan keuangan, data bursa, atau platform analisis saham.
Rumusnya adalah:
Cash Per Share = Kas dan Setara Kas / Jumlah Saham Beredar
Contohnya, sebuah perusahaan memiliki kas dan setara kas sebesar Rp12 triliun. Jumlah saham beredarnya mencapai 6 miliar lembar. Jika dibagi, cash per share perusahaan tersebut adalah Rp2.000 per saham.
Artinya, setiap satu lembar saham secara teoritis memiliki dukungan kas sebesar Rp2.000. Jika harga sahamnya berada di Rp1.500, sebagian investor mungkin melihat saham tersebut menarik karena harga pasar lebih rendah dibanding kas per sahamnya.
Namun, interpretasi seperti itu tidak boleh berhenti di permukaan.
Harga saham yang lebih rendah dari cash per share memang bisa terlihat murah, tetapi kamu tetap harus mengecek utang, kualitas laba, arus kas operasional, prospek bisnis, dan alasan pasar memberi valuasi rendah pada perusahaan tersebut. Bisa saja saham terlihat murah karena pasar sedang mengantisipasi masalah yang belum terlihat dari satu rasio saja.
Dari rumus yang sederhana ini, pembacaan cash per share bisa berkembang menjadi analisis yang lebih luas.
Kenapa Investor Memperhatikan Cash Per Share?
Investor memperhatikan cash per share karena rasio ini memberi gambaran awal tentang kekuatan likuiditas perusahaan. Perusahaan dengan kas besar biasanya punya ruang gerak lebih luas saat menghadapi tekanan bisnis, perubahan ekonomi, atau kondisi pasar yang tidak stabil.
Dalam situasi sulit, kas bisa menjadi bantalan. Perusahaan yang memiliki kas cukup besar biasanya lebih leluasa membayar kewajiban jangka pendek, menjaga operasional tetap berjalan, dan menghindari kebutuhan pendanaan darurat yang mahal. Bagi investor, kondisi seperti ini memberi rasa aman karena perusahaan tidak terlalu bergantung pada utang baru atau penerbitan saham tambahan.
Cash per share juga sering dilihat oleh investor yang mencari saham undervalued. Mereka biasanya tertarik pada perusahaan yang harga sahamnya rendah, tetapi memiliki kas besar di neraca. Secara teori, semakin besar kas perusahaan dibanding harga sahamnya, semakin besar pula margin of safety yang bisa dianalisis lebih lanjut.
Namun, margin of safety bukan hanya soal angka kas.
Perusahaan tetap harus punya bisnis yang mampu menghasilkan pendapatan dan laba secara berkelanjutan. Jika kas besar tetapi pendapatan terus turun, arus kas operasional negatif, dan strategi bisnis tidak jelas, maka cash per share tinggi bisa berubah menjadi sinyal yang perlu diwaspadai.
Karena itu, pertanyaan utama bukan hanya “berapa besar cash per share perusahaan?”, tetapi “kenapa cash per share itu bisa tinggi dan bagaimana perusahaan menggunakannya?”
Cash Per Share Tinggi Apakah Selalu Bagus?
Cash per share tinggi bisa menjadi sinyal bagus, tetapi tidak selalu. Rasio ini baru benar-benar bernilai jika didukung oleh kualitas bisnis yang sehat.
Dalam skenario positif, cash per share tinggi bisa menandakan perusahaan memiliki neraca yang kuat. Perusahaan seperti ini biasanya mampu menjaga kas dari hasil operasional, bukan hanya dari aksi korporasi sesaat. Jika laba stabil, arus kas operasional positif, utang terkendali, dan manajemen punya strategi jelas, kas besar bisa menjadi modal penting untuk ekspansi.
Perusahaan dengan kas besar juga punya fleksibilitas lebih tinggi. Mereka bisa membiayai pertumbuhan tanpa terlalu bergantung pada pinjaman, membeli aset strategis, melakukan riset produk, memperluas pasar, atau membagikan dividen kepada pemegang saham.
Namun, ada juga skenario yang kurang sehat.
Cash per share tinggi bisa muncul karena perusahaan baru menjual aset besar. Angkanya terlihat menarik, tetapi belum tentu mencerminkan kemampuan bisnis utama menghasilkan uang. Bisa juga perusahaan menumpuk kas karena tidak punya proyek ekspansi yang menarik. Dalam jangka panjang, kas yang diam terlalu lama justru bisa membuat pertumbuhan perusahaan melambat.
Masalah lain muncul ketika kas besar tidak sebanding dengan utang. Perusahaan bisa saja terlihat punya kas tinggi, tetapi pada saat yang sama memiliki kewajiban besar yang akan jatuh tempo. Jika kamu hanya melihat cash per share tanpa melihat total debt dan net cash, gambaran yang muncul bisa terlalu optimistis.
Di pasar saham, kondisi seperti ini sering membuat investor pemula terjebak. Saham terlihat murah karena cash per share tinggi, tetapi bisnisnya menurun, pendapatannya melemah, dan pasar sudah lebih dulu memberi diskon besar karena prospeknya tidak menarik.
Inilah alasan cash per share harus dibaca sebagai sinyal awal, bukan keputusan akhir.
Perbedaan Cash Per Share dan Cash Flow Per Share
Cash per share dan cash flow per share sering terdengar mirip, tetapi keduanya membaca hal yang berbeda. Kesalahan memahami dua istilah ini bisa membuat investor salah menilai kesehatan keuangan perusahaan.
Cash per share menggambarkan posisi kas perusahaan pada satu waktu tertentu. Angka ini berasal dari neraca dan menunjukkan berapa besar kas yang tersedia setelah dibagi dengan jumlah saham beredar.
Sementara itu, cash flow per share menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas dalam periode tertentu. Rasio ini lebih dekat dengan aktivitas bisnis karena melihat uang yang benar-benar masuk dan keluar dari operasi perusahaan.
Dengan kata lain, cash per share berbicara tentang uang yang sedang dimiliki perusahaan, sedangkan cash flow per share berbicara tentang uang yang mampu dihasilkan perusahaan.
Perbedaan ini sangat penting dalam analisis saham.
Sebuah perusahaan bisa punya cash per share tinggi karena masih menyimpan kas besar dari masa lalu. Namun, jika cash flow per share terus melemah, artinya bisnis perusahaan mungkin tidak lagi menghasilkan uang sekuat sebelumnya. Sebaliknya, perusahaan dengan cash per share tidak terlalu tinggi tetapi cash flow per share terus membaik bisa saja memiliki prospek yang lebih sehat.
Karena itu, investor tidak cukup hanya bertanya apakah kas perusahaan besar. Pertanyaan yang lebih tajam adalah apakah bisnis perusahaan masih mampu menciptakan kas baru secara konsisten.
Cara Membaca Cash Per Share dalam Saham
Saat membaca cash per share, langkah pertama yang bisa kamu lakukan adalah membandingkannya dengan harga saham. Jika cash per share berada jauh di bawah harga saham, artinya kas bukan komponen utama yang mendukung valuasi perusahaan. Dalam kondisi seperti ini, investor biasanya lebih fokus pada pertumbuhan laba, prospek bisnis, dan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas.
Namun, jika cash per share mendekati atau bahkan lebih tinggi dari harga saham, situasinya menjadi lebih menarik bagi investor yang menggunakan pendekatan value investing. Ini bisa menandakan pasar sedang memberi valuasi rendah terhadap perusahaan. Bagi value investor, kondisi seperti ini sering menjadi bahan screening awal untuk mencari saham yang mungkin undervalued.
Meski begitu, kamu tetap harus mencari alasan kenapa pasar menghargai saham tersebut rendah. Bisa jadi pasar sedang meremehkan perusahaan, tetapi bisa juga pasar sedang membaca risiko yang lebih besar, seperti penurunan laba, masalah tata kelola, utang tinggi, atau prospek bisnis yang memburuk.
Selain membandingkan dengan harga saham, kamu juga perlu melihat tren kas perusahaan. Cash per share yang naik secara konsisten selama beberapa tahun biasanya lebih sehat dibanding lonjakan mendadak dalam satu periode. Kenaikan yang konsisten bisa menandakan perusahaan mampu menjaga arus kas dan mengelola bisnis dengan baik.
Sebaliknya, lonjakan kas yang tiba-tiba perlu ditelusuri penyebabnya. Jika kenaikan terjadi karena penjualan aset, penerbitan saham baru, atau pinjaman besar, maka kualitas kas tersebut berbeda dengan kas yang berasal dari operasional bisnis.
Utang juga tidak boleh diabaikan. Kas besar bisa terlihat aman, tetapi jika utangnya juga besar, posisi keuangan perusahaan belum tentu kuat. Dalam analisis yang lebih seimbang, investor biasanya melihat net cash, yaitu kas dikurangi total utang. Jika perusahaan memiliki kas besar dan utang rendah, sinyalnya lebih sehat dibanding perusahaan yang kasnya besar tetapi kewajibannya juga menumpuk.
Konteks industri juga memengaruhi cara membaca cash per share. Perusahaan teknologi, energi, komoditas, dan keuangan bisa memiliki karakter kas yang berbeda. Ada sektor yang memang membutuhkan cadangan kas besar karena siklus bisnisnya fluktuatif. Ada juga sektor yang lebih efisien menggunakan kas untuk ekspansi dan tidak perlu menyimpan terlalu banyak uang tunai.
Jadi, cash per share tidak bisa dinilai dengan satu standar untuk semua perusahaan. Angka yang terlihat tinggi di satu sektor bisa saja biasa saja di sektor lain.
Apakah Cash Per Share Cocok untuk Screening Saham?
Cash per share cocok digunakan sebagai salah satu filter awal dalam screening saham. Rasio ini membantu kamu menemukan perusahaan yang memiliki cadangan kas cukup besar dibanding jumlah saham beredarnya.
Dalam praktiknya, investor fundamental sering memakai cash per share untuk mencari perusahaan yang terlihat murah dari sisi neraca. Screening seperti ini bisa berguna, terutama saat pasar sedang bearish dan banyak saham berkualitas ikut turun karena sentimen negatif.
Namun, screening berbasis cash per share harus dilanjutkan dengan analisis lain. Jika hanya memakai satu indikator, hasilnya bisa menyesatkan.
Misalnya, sebuah saham terlihat menarik karena cash per share tinggi. Setelah dicek lebih dalam, ternyata laba bersihnya terus turun, arus kas operasional negatif, dan utangnya besar. Dalam kondisi seperti ini, kas besar hanya menjadi satu bagian kecil dari cerita yang lebih rumit.
Agar screening lebih kuat, cash per share bisa digabungkan dengan rasio lain seperti price to book value, price earning ratio, return on equity, debt to equity ratio, free cash flow, dan pertumbuhan pendapatan. Kombinasi beberapa metrik akan memberi gambaran yang lebih utuh tentang kualitas perusahaan.
Cash per share juga lebih cocok dipakai untuk menganalisis perusahaan yang sudah memiliki laporan keuangan stabil. Untuk perusahaan yang masih berada di fase pertumbuhan agresif, kas besar bisa saja cepat terpakai untuk ekspansi. Dalam kasus seperti ini, investor harus membaca strategi pertumbuhan perusahaan, bukan hanya melihat saldo kasnya.
Dengan pendekatan yang lebih lengkap, cash per share bisa menjadi alat bantu yang berguna, bukan jebakan angka yang membuat keputusan investasi terlalu sederhana.
Kesalahan Umum Saat Membaca Cash Per Share
Kesalahan paling umum adalah menganggap cash per share tinggi pasti berarti saham murah. Padahal, saham murah tidak hanya ditentukan oleh kas. Kualitas bisnis, prospek pertumbuhan, efisiensi operasional, struktur utang, dan kemampuan menghasilkan laba tetap harus dibaca bersama.
Kesalahan kedua adalah hanya melihat satu periode laporan keuangan. Angka cash per share pada satu kuartal bisa berubah karena banyak faktor. Perusahaan bisa menerima pembayaran besar, menjual aset, menunda belanja modal, atau mendapatkan pendanaan baru. Jika kamu tidak melihat tren beberapa tahun, sulit menilai apakah kas tersebut berasal dari bisnis yang sehat atau kejadian sementara.
Kesalahan ketiga adalah mengabaikan arus kas operasional. Perusahaan yang sehat bukan hanya memiliki kas, tetapi juga mampu menciptakan kas baru dari aktivitas bisnisnya. Jika kas besar terus berkurang dari waktu ke waktu sementara arus kas operasional negatif, maka perusahaan sedang membakar uang. Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini bisa menekan valuasi saham.
Kesalahan lain adalah membandingkan perusahaan dari sektor yang berbeda. Cash per share perusahaan teknologi tidak selalu bisa dibandingkan langsung dengan perusahaan komoditas atau perbankan. Setiap sektor memiliki kebutuhan modal, siklus bisnis, dan karakter risiko yang berbeda.
Investor juga sering lupa melihat aksi korporasi. Buyback, penerbitan saham baru, pembagian dividen besar, atau akuisisi bisa mengubah cash per share secara signifikan. Jika jumlah saham beredar berubah, angka cash per share juga ikut berubah.
Karena itu, cash per share sebaiknya dibaca dengan sikap hati-hati. Angka ini bisa membantu menemukan peluang, tetapi juga bisa menipu jika kamu tidak memahami cerita di baliknya.
Kapan Cash Per Share Tinggi Bisa Menjadi Sinyal Positif?
Cash per share tinggi bisa menjadi sinyal positif ketika perusahaan memiliki bisnis yang sehat, utang terkendali, dan arus kas operasional yang kuat. Dalam kondisi seperti ini, kas besar bukan sekadar angka di neraca, tetapi hasil dari kinerja bisnis yang benar-benar menghasilkan uang.
Sinyal positif juga terlihat ketika perusahaan menggunakan kasnya secara produktif. Misalnya untuk ekspansi yang terukur, pengembangan produk, akuisisi strategis, pembayaran dividen yang sehat, atau buyback saat valuasi saham dianggap murah. Penggunaan kas seperti ini menunjukkan manajemen tidak hanya menumpuk uang, tetapi juga mampu mengalokasikannya untuk meningkatkan nilai perusahaan.
Cash per share tinggi juga menarik ketika perusahaan berada di industri yang siklusnya fluktuatif. Dalam sektor yang mudah terdampak harga komoditas, suku bunga, atau perlambatan ekonomi, cadangan kas besar bisa membantu perusahaan bertahan saat kondisi pasar memburuk.
Namun, sinyal positif ini tetap harus dikonfirmasi. Kamu perlu melihat apakah kas tersebut stabil, berasal dari aktivitas bisnis, dan tidak dibayangi utang besar. Jika semua faktor ini mendukung, cash per share tinggi bisa menjadi salah satu tanda perusahaan memiliki fondasi keuangan yang kuat.
Dengan kata lain, cash per share tinggi baru benar-benar menarik jika perusahaan tahu cara menjaga dan menggunakan kas tersebut.
Kapan Cash Per Share Tinggi Justru Berbahaya?
Cash per share tinggi bisa menjadi sinyal bahaya ketika kas besar tidak diikuti oleh pertumbuhan bisnis. Perusahaan mungkin terlihat aman karena menyimpan banyak uang, tetapi pendapatan dan laba terus melemah. Jika kondisi ini berlangsung lama, investor perlu bertanya apakah perusahaan masih memiliki mesin pertumbuhan yang efektif.
Kas besar juga bisa berbahaya jika berasal dari sumber yang tidak berulang. Misalnya penjualan aset, pelepasan anak usaha, atau pendanaan baru. Angka kas memang naik, tetapi bukan karena bisnis utama menghasilkan uang. Jika investor tidak membaca penyebabnya, cash per share tinggi bisa terlihat lebih menarik daripada kenyataannya.
Risiko lain muncul ketika manajemen tidak mampu mengalokasikan kas dengan baik. Perusahaan yang menyimpan terlalu banyak kas tanpa strategi jelas bisa kehilangan peluang pertumbuhan. Di sisi lain, perusahaan juga bisa menggunakan kas untuk akuisisi mahal, ekspansi yang tidak matang, atau proyek yang tidak memberi hasil sepadan.
Cash per share tinggi juga perlu dicurigai jika pasar memberi valuasi sangat rendah dalam waktu lama. Kadang pasar memang keliru, tetapi sering juga pasar sedang memberi sinyal bahwa ada masalah mendasar pada bisnis tersebut. Masalahnya bisa berupa penurunan daya saing, tata kelola yang buruk, konflik pemegang saham, atau industri yang sedang menyusut.
Jadi, bahaya terbesar bukan pada angka cash per share yang tinggi, melainkan pada cara investor membacanya terlalu cepat.
Kesimpulan
Cash per share adalah rasio yang berguna untuk melihat berapa besar kas perusahaan di balik setiap lembar saham yang beredar. Rasio ini bisa membantu kamu memahami kekuatan likuiditas perusahaan, terutama saat ingin menilai apakah sebuah saham memiliki bantalan keuangan yang cukup kuat.
Namun, cash per share tinggi tidak boleh langsung dianggap sebagai sinyal beli. Angka tinggi bisa berasal dari bisnis yang sehat, tetapi bisa juga muncul karena penjualan aset, pendanaan baru, atau minimnya peluang ekspansi. Tanpa membaca konteks, investor mudah terjebak pada kesan bahwa perusahaan terlihat murah hanya karena kasnya besar.
Cara membaca cash per share yang lebih matang adalah dengan menggabungkannya bersama arus kas operasional, utang, laba, tren pendapatan, kualitas manajemen, dan karakter industri. Semakin lengkap konteks yang kamu baca, semakin kecil risiko mengambil keputusan dari satu angka yang terlihat menarik.
Cash per share bukan jawaban akhir dalam analisis saham. Rasio ini lebih mirip alarm awal yang memberi tahu kamu bahwa ada sesuatu yang layak diperiksa lebih dalam. Jika setelah dicek bisnisnya sehat, utangnya rendah, dan arus kasnya kuat, cash per share tinggi bisa menjadi sinyal menarik. Namun jika bisnisnya melemah dan kasnya hanya tampak besar sementara, angka tersebut justru bisa menjadi jebakan.
FAQ
1. Apa itu cash per share?
Cash per share adalah rasio yang menunjukkan jumlah kas dan setara kas perusahaan untuk setiap lembar saham yang beredar. Rasio ini digunakan untuk membaca seberapa besar cadangan uang tunai perusahaan jika dibagi ke seluruh saham yang dimiliki investor.
2. Cash per share tinggi artinya apa?
Cash per share tinggi berarti perusahaan memiliki kas yang cukup besar dibanding jumlah saham beredarnya. Angka ini bisa menandakan likuiditas yang kuat, tetapi tetap harus dibandingkan dengan utang, arus kas operasional, dan kondisi bisnis perusahaan.
3. Apakah cash per share tinggi selalu bagus?
Tidak selalu. Cash per share tinggi bisa bagus jika berasal dari bisnis yang sehat dan arus kas yang kuat. Namun, bisa menjadi sinyal bahaya jika muncul karena penjualan aset, pendanaan baru, atau bisnis yang sedang kehilangan pertumbuhan.
4. Berapa cash per share yang bagus?
Tidak ada angka pasti karena setiap sektor memiliki karakter berbeda. Cash per share lebih baik dibandingkan dengan harga saham, utang perusahaan, tren kas beberapa tahun, dan perusahaan lain dalam industri yang sama.
5. Apa beda cash per share dan EPS?
Cash per share mengukur kas perusahaan per saham, sedangkan EPS mengukur laba bersih per saham. Cash per share fokus pada likuiditas, sementara EPS fokus pada profitabilitas perusahaan.
6. Apa beda cash per share dan cash flow per share?
Cash per share menunjukkan kas yang dimiliki perusahaan pada satu waktu tertentu. Cash flow per share menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas dalam periode tertentu. Keduanya saling melengkapi dalam analisis fundamental.
7. Apakah cash per share bisa dipakai untuk mencari saham undervalued?
Bisa, tetapi hanya sebagai filter awal. Saham dengan cash per share tinggi dibanding harga saham bisa terlihat saham undervalued, tetapi investor tetap harus mengecek utang, laba, arus kas, prospek bisnis, dan kualitas manajemen.
8. Mengapa saham dengan cash per share tinggi bisa tetap murah?
Saham bisa tetap murah meski cash per share tinggi karena pasar melihat risiko lain. Misalnya pertumbuhan bisnis melemah, utang besar, tata kelola kurang baik, industri sedang turun, atau kas perusahaan tidak digunakan secara produktif.
9. Apakah cash per share cocok untuk investor pemula?
Cocok sebagai rasio dasar untuk memahami likuiditas perusahaan. Namun, investor pemula sebaiknya tidak memakai cash per share sebagai satu-satunya dasar keputusan. Rasio ini harus dibaca bersama indikator fundamental lain.
10. Di mana melihat cash per share saham?
Kamu bisa melihat cash per share melalui laporan keuangan perusahaan, situs bursa, atau platform analisis saham. Jika data tidak tersedia langsung, kamu bisa menghitungnya dari kas dan setara kas dibagi jumlah saham beredar.
Itulah informasi menarik tentang Cash Per Share yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
