Pernah tidak kamu merasa istilah di ranah data makin hari makin ramai, tapi maknanya justru makin kabur. Ada yang bilang cukup pakai data warehouse, ada yang memilih data lake, ada yang menekankan Spark, lalu tiba-tiba muncul Databricks yang disebut sebagai “platform data” dan “lakehouse”. Kalau kamu bukan orang yang setiap hari bergelut di engineering, wajar kalau semuanya terdengar seperti nama-nama tool yang saling tumpang tindih.
Artikel ini sengaja dibuat untuk menjernihkan kebingungan itu dari akarnya. Bukan dengan gaya dokumentasi vendor, tapi dengan cara yang memudahkan kamu memahami konteksnya: Databricks itu apa, dipakai untuk apa, dan bagaimana cara kerjanya dalam praktik kerja tim data. Setelah kamu paham pondasinya, baru masuk akal membahas hal-hal lanjutan seperti arsitektur, use case, sampai kapan Databricks memang tepat dipilih dan kapan tidak.
Databricks Adalah Platform Data Berbasis Cloud
Databricks adalah platform data berbasis cloud yang membantu tim mengolah data dalam skala besar untuk kebutuhan data engineering, analisis, dan machine learning dalam satu lingkungan kerja. Databricks dibangun di atas Apache Spark, sehingga kuat untuk pemrosesan data besar secara cepat dan paralel. Di dalamnya, Databricks sering dikaitkan dengan konsep data lakehouse, yaitu pendekatan yang mencoba menggabungkan fleksibilitas data lake dengan kemudahan analitik ala data warehouse.
Kalau kamu pernah melihat organisasi punya banyak sistem terpisah untuk menampung data mentah, membersihkan data, membuat laporan, dan membangun model AI, Databricks mencoba merapikan itu lewat satu platform yang bisa dipakai lintas peran. Ini bukan berarti Databricks menggantikan semua hal, tapi ia menyediakan pusat kerja yang menyatukan proses penting: membawa data masuk, menyiapkannya agar rapi, menganalisisnya, lalu memakainya untuk kebutuhan yang lebih canggih seperti machine learning.
Dari sisi pengalaman pengguna, Databricks biasanya hadir sebagai workspace yang berisi notebook dan alat kolaborasi. Kamu bisa menjalankan SQL untuk kebutuhan analitik, memakai Python untuk eksplorasi data, atau menjalankan pipeline transformasi data. Intinya, Databricks memposisikan diri sebagai tempat kerja tim data, bukan sekadar satu tool kecil untuk satu tahap kerja saja.
Mengapa Databricks Dibuat dan Masalah Apa yang Diselesaikan
Kalau ditarik ke masalah yang lebih mendasar, Databricks lahir dari kebutuhan yang sering terjadi di perusahaan yang datanya terus membesar: data tersimpan di banyak tempat, diproses oleh banyak tim, dan dipakai untuk kebutuhan yang makin beragam. Di banyak organisasi, data engineering berjalan di jalurnya sendiri, tim analitik punya tooling sendiri, dan tim data science punya lingkungan sendiri. Akibatnya, satu perubahan kecil di data bisa memicu kerja ulang di beberapa tempat, lalu prosesnya terasa lambat dan rawan miskomunikasi.
Sebelum pendekatan lakehouse populer, dunia data sering dibagi dua secara tegas. Di satu sisi ada data lake, tempat menyimpan data mentah dan beragam format dengan biaya penyimpanan yang relatif efisien. Di sisi lain ada data warehouse, tempat data sudah disusun rapi agar mudah dipakai untuk analitik dan reporting. Masalahnya, pemisahan ini sering membuat organisasi perlu memindahkan data dari satu tempat ke tempat lain. Proses pemindahan dan sinkronisasi itu bukan cuma makan waktu, tapi juga menambah risiko data ganda, versi data berbeda, dan biaya operasional.
Di titik itulah Databricks mencoba menawarkan jalan yang lebih ringkas. Ia ingin mengurangi jarak antar tim dan antar tahap kerja. Kalau data mentah bisa diproses menjadi data siap analisis dalam satu platform, kolaborasi jadi lebih cepat. Kalau data yang dipakai analitik juga bisa dipakai oleh tim machine learning tanpa banyak duplikasi, kerja jadi lebih efisien. Dari sudut pandang bisnis, ini bukan soal mengganti satu tool dengan tool lain, tapi soal mengurangi friksi yang selama ini menghambat kecepatan pengambilan keputusan.
Fungsi Utama Databricks dalam Pengelolaan Data
Ketika orang bertanya “Databricks digunakan untuk apa”, jawabannya akan lebih jelas kalau kamu melihat fungsi-fungsinya sebagai rangkaian kerja yang saling menyambung. Databricks biasanya dipakai untuk menyiapkan data, menganalisis data, dan mengembangkan solusi AI. Tiga kebutuhan ini sering terjadi bersamaan, sehingga platform yang menyatukannya terasa masuk akal.
Data Engineering dan Pipeline Data
Bagian yang sering paling berat di kerja data bukan analisisnya, tapi menyiapkan datanya. Data datang dari banyak sumber: aplikasi, sistem transaksi, log aktivitas pengguna, CRM, hingga data eksternal. Formatnya bisa berantakan, kolomnya tidak konsisten, dan kadang ada duplikasi. Di sinilah peran data engineering muncul.
Databricks membantu tim data engineering membangun pipeline, yaitu alur kerja yang membawa data dari kondisi mentah menjadi data yang rapi dan bisa dipakai. Proses ini biasanya mencakup langkah mengambil data, membersihkan, menstandarkan format, memperkaya dengan informasi tambahan, lalu menyimpan hasil akhirnya ke bentuk yang lebih siap dipakai analitik. Yang membuat pipeline penting adalah sifatnya yang berulang dan harus bisa diandalkan. Hari ini data masuk, besok data masuk lagi, dan seterusnya. Kalau pipeline rapuh, hasil analisis akan ikut kacau.
Databricks kuat di sisi ini karena ia memanfaatkan pemrosesan terdistribusi yang cocok untuk data besar. Saat volume data meningkat, sistem harus tetap mampu memprosesnya dalam waktu yang masuk akal. Di banyak organisasi, kemampuan menskalakan pemrosesan ini menjadi pembeda antara pipeline yang bisa dipakai harian dan pipeline yang hanya bertahan di skala kecil.
Setelah data rapi, biasanya tim ingin memastikan data itu bukan sekadar “tersimpan”, tapi juga “terkelola”. Pengelolaan di sini mencakup pengaturan siapa yang boleh mengakses, bagaimana data dilacak versinya, dan bagaimana data itu bisa dipercaya sebagai rujukan. Karena itu, fungsi data engineering di Databricks sering berujung pada satu tujuan: membuat data yang bisa dipakai tim lain tanpa banyak debat soal validitasnya.
Analisis Data dan Business Intelligence
Begitu data siap, kebutuhan berikutnya adalah menjawab pertanyaan bisnis. Di sinilah analisis data dan business intelligence masuk. Banyak orang mengira Databricks hanya untuk engineer, padahal dalam praktiknya Databricks juga dipakai untuk analisis berbasis SQL dan pembuatan laporan.
Yang biasanya dicari tim analitik adalah kemudahan untuk menanyakan data dan melihat hasilnya cepat. SQL masih jadi bahasa yang paling umum di ranah ini karena mudah dibaca dan mudah diajarkan lintas tim. Databricks menyediakan kemampuan untuk menjalankan query, mengolah hasilnya, dan menghubungkannya ke dashboard atau laporan. Nilai tambahnya terasa ketika data yang dipakai analitik adalah data yang sama yang sebelumnya dirapikan oleh pipeline. Kalau dua proses itu terpisah jauh, tim analitik sering harus menunggu atau membuat salinan data sendiri.
Dalam kerja sehari-hari, kebutuhan analitik bukan sekadar membuat grafik. Yang lebih penting adalah mengurangi jarak antara pertanyaan dan jawaban. Misalnya, ketika kamu ingin tahu kenapa metrik tertentu turun, kamu butuh data yang bisa digali lebih dalam tanpa menunggu proses panjang. Platform yang menyatukan data engineering dan analitik membantu proses investigasi berjalan lebih lancar, karena perubahan di data dan perubahan di query bisa dieksekusi dalam ekosistem yang sama.
Machine Learning dan AI
Setelah data rapi dan analisis berjalan, banyak organisasi ingin naik satu tingkat: bukan hanya membaca masa lalu, tapi juga membangun model yang membantu memprediksi, mengklasifikasikan, atau mengotomasi keputusan. Di sinilah machine learning dan AI jadi relevan.
Databricks sering dipakai untuk mendukung siklus hidup machine learning dari awal sampai akhir. Prosesnya biasanya dimulai dari eksplorasi data, memilih fitur yang relevan, melatih model, mengevaluasi, lalu menyimpan model yang siap dipakai. Karena tahap awal machine learning sangat bergantung pada kualitas data, platform yang juga kuat di data engineering memberi keuntungan. Tim ML tidak perlu membangun lingkungan data terpisah hanya untuk menyiapkan dataset pelatihan.
Selain itu, kebutuhan AI modern tidak hanya berhenti pada “melatih model sekali lalu selesai”. Banyak organisasi ingin bisa melacak eksperimen model, membandingkan hasil, dan menjaga model tetap konsisten ketika data berubah. Di titik ini, praktik seperti tracking eksperimen dan manajemen model menjadi penting. Databricks biasanya menyediakan komponen yang membantu proses tersebut agar tim tidak mengandalkan catatan manual.
Kamu juga akan menemukan istilah AI generatif muncul di ekosistem modern. Prinsipnya masih sama: fondasi AI tetap data. Ketika organisasi ingin membangun sistem yang memanfaatkan model modern, mereka tetap butuh alur kerja yang bisa menyiapkan data, mengelola akses, dan menjalankan pemrosesan dalam skala besar. Databricks sering diposisikan sebagai platform yang mendukung kebutuhan itu, karena ia memang berangkat dari masalah skala data dan kolaborasi tim.
Cara Kerja Databricks Secara Sederhana
Kalau kamu ingin membayangkan cara kerja Databricks tanpa tenggelam di istilah teknis, anggap saja Databricks sebagai ruang kerja yang mengatur dua hal besar: penyimpanan data dan komputasi untuk memproses data. Data disimpan di cloud, sementara komputasi bisa dinaik-turunkan sesuai kebutuhan.
Dalam praktiknya, alurnya kira-kira seperti ini. Data dari berbagai sumber masuk ke penyimpanan di cloud. Setelah itu, tim data menjalankan proses transformasi menggunakan komputasi yang disediakan Databricks, biasanya lewat cluster atau sumber daya komputasi yang bisa diskalakan. Hasil transformasi disimpan lagi sebagai data yang lebih rapi. Data rapi ini kemudian bisa dipakai untuk query analitik, pembuatan laporan, atau kebutuhan machine learning.
Yang membuat pendekatan ini terasa efektif adalah pemisahan antara data dan komputasi. Data tetap berada di penyimpanan, sementara komputasi bisa disesuaikan. Ketika beban kerja tinggi, komputasi bisa ditambah. Ketika beban kerja rendah, komputasi bisa dikurangi agar biaya lebih efisien. Dari perspektif tim, mereka tidak harus terus-menerus memikirkan server fisik. Fokusnya bergeser ke bagaimana data diproses dan dipakai.
Di sisi kolaborasi, Databricks biasanya menyediakan notebook dan workspace yang memudahkan tim bekerja di tempat yang sama. Seorang data engineer bisa menyiapkan data, lalu data analyst bisa langsung menjalankan query pada data yang sama, dan data scientist bisa memakai dataset yang sama untuk pelatihan model. Saat alur kerja ini berjalan baik, kamu tidak hanya menghemat waktu, tapi juga mengurangi risiko perbedaan versi data yang membuat diskusi tim jadi berputar-putar.
Teknologi Inti di Balik Databricks
Agar pemahaman kamu makin kokoh, ada dua fondasi yang sering disebut ketika orang membahas Databricks: Apache Spark dan konsep lakehouse. Kamu tidak harus menjadi engineer untuk memahami intinya, tapi mengenal perannya akan membantu kamu memahami kenapa Databricks dianggap kuat untuk skala besar.
Apache Spark
Apache Spark bisa dianggap sebagai mesin pemrosesan data yang memungkinkan komputasi berjalan cepat dan paralel. Saat data masih kecil, kamu bisa memprosesnya di satu mesin. Tapi ketika data sudah sangat besar, pemrosesan di satu mesin menjadi lambat atau tidak mungkin. Spark membantu memecah pekerjaan menjadi bagian-bagian kecil lalu menjalankannya di banyak mesin secara bersamaan.
Databricks dibangun di atas Spark, sehingga banyak kekuatan pemrosesannya berasal dari sana. Itu salah satu alasan mengapa Databricks sering disebut cocok untuk big data. Ketika kamu mendengar orang mengatakan Databricks cepat untuk transformasi data, biasanya itu berkaitan dengan kemampuan Spark memproses data terdistribusi.
Delta Lake dan Konsep Lakehouse
Konsep lakehouse muncul dari kebutuhan untuk menggabungkan fleksibilitas data lake dengan keteraturan data warehouse. Dalam data lake, kamu bisa menyimpan data apa pun, kapan pun, dalam format beragam. Namun kelemahannya, ketika data dipakai untuk analitik, kamu butuh konsistensi dan keandalan. Data warehouse terkenal lebih rapi untuk analitik, tapi biasanya lebih ketat dan bisa lebih mahal untuk menyimpan data mentah dalam jumlah sangat besar.
Delta Lake sering disebut dalam konteks Databricks karena ia berkaitan dengan membuat data di data lake lebih bisa diandalkan untuk analitik, termasuk aspek konsistensi dan pengelolaan perubahan data. Intinya, pendekatan lakehouse bertujuan agar data mentah dan data siap analisis bisa berada dalam satu jalur yang lebih terpadu, tanpa memaksa organisasi memindahkan data berkali-kali antar sistem.
Bagi kamu yang melihat dari sisi praktik, maknanya sederhana: tim bisa bergerak lebih cepat karena mereka tidak terjebak pada proses memindahkan data antar tempat hanya untuk membuat laporan atau melatih model. Data tetap bisa berkembang, tapi tetap ada mekanisme agar data itu bisa dipercaya.
Databricks Digunakan oleh Siapa dan untuk Kebutuhan Apa
Databricks biasanya dipakai oleh beberapa peran sekaligus, dan justru di situ nilai utamanya. Seorang data engineer akan memakainya untuk membangun pipeline. Seorang data analyst akan memakainya untuk query dan analisis berbasis SQL. Seorang data scientist akan memakainya untuk eksplorasi data dan pelatihan model. Ketika semua peran ini bekerja pada data yang sama di satu platform, koordinasi jadi lebih sederhana.
Namun, penting juga untuk jujur bahwa Databricks tidak selalu diperlukan. Kalau kebutuhan kamu hanya analisis sederhana dengan data yang tidak besar, atau kamu sudah punya sistem warehouse yang sangat memadai dan tidak punya kebutuhan pemrosesan skala besar, Databricks bisa terasa berlebihan. Di beberapa kasus, organisasi bisa memulai dari tooling yang lebih sederhana, lalu naik level ketika kompleksitas data benar-benar menuntut.
Jadi, pertanyaan yang lebih tepat bukan “Databricks bagus atau tidak”, melainkan “kapan Databricks masuk akal”. Biasanya ia masuk akal ketika data semakin besar, sumber data semakin banyak, tim semakin beragam, dan kebutuhan analitik serta AI mulai berjalan bersamaan.
Contoh Penggunaan Databricks dalam Praktik
Agar kamu tidak berhenti di konsep, bayangkan beberapa pola penggunaan yang sering terjadi.
Di perusahaan berbasis aplikasi, log aktivitas pengguna bisa sangat besar. Setiap klik, setiap halaman dibuka, setiap error, semuanya menghasilkan data. Tim ingin merapikan log itu menjadi dataset yang bisa dianalisis untuk memahami perilaku pengguna, menemukan titik drop-off, atau mengukur performa fitur baru. Databricks bisa dipakai untuk memproses log mentah menjadi tabel rapi yang bisa dipakai analis.
Di sektor yang punya transaksi tinggi, data transaksi harus diproses rutin untuk kebutuhan laporan, rekonsiliasi, dan deteksi anomali. Data mentah dari sistem transaksi bisa diolah menjadi data yang lebih siap dipakai untuk pengawasan risiko. Ketika kebutuhan bertambah, dataset yang sama bisa dipakai untuk membangun model yang membantu mendeteksi pola tertentu.
Di organisasi yang serius membangun AI, Databricks bisa dipakai sebagai tempat menyiapkan dataset pelatihan, menjalankan eksperimen model, lalu mengelola model yang dipakai di tahap produksi. Nilai tambahnya terasa ketika siklus ini harus dilakukan berulang, bukan sekali. Data berubah, model perlu dievaluasi ulang, dan tim harus bisa menelusuri perubahan yang terjadi.
Semua contoh ini punya benang merah: Databricks bukan dipakai karena namanya populer, tapi karena organisasi butuh cara kerja yang menyatukan data, pemrosesan, dan kolaborasi dalam satu jalur yang lebih rapi.
Databricks vs Platform Data Lain Secara Umum
Perbandingan sering membuat diskusi jadi bias, karena setiap platform punya konteks penggunaan sendiri. Maka, lebih aman membandingkan Databricks berdasarkan pendekatan, bukan sekadar siapa lebih baik.
Jika kamu membandingkan Databricks dengan data warehouse tradisional, perbedaannya sering muncul pada fleksibilitas format data dan skala pemrosesan. Data warehouse biasanya sangat kuat untuk analitik SQL dan reporting dengan data yang sudah rapi. Databricks cenderung lebih fleksibel untuk menangani data mentah dan pemrosesan besar, lalu tetap menyediakan jalur agar data itu bisa dipakai untuk analitik.
Jika kamu membandingkan Databricks dengan tool analitik yang lebih ringan, Databricks biasanya unggul ketika kamu butuh pipeline data yang kompleks, pemrosesan terdistribusi, atau integrasi yang lebih erat dengan machine learning. Tool analitik ringan bisa sangat cukup untuk kebutuhan laporan, tapi bisa kewalahan ketika data dan kebutuhan bertambah cepat.
Cara paling masuk akal untuk menilai adalah melihat kebutuhan kamu. Kalau kamu butuh satu tempat yang bisa melayani transformasi data besar, analitik, dan ML dalam satu alur yang saling terhubung, Databricks biasanya relevan. Kalau kebutuhan kamu hanya satu tahap kecil, kemungkinan ada pilihan yang lebih sederhana.
Kelebihan dan Keterbatasan Databricks
Kelebihan Databricks paling sering terasa di tiga hal: skala, kolaborasi, dan keterpaduan alur kerja. Ketika data membesar, kemampuan pemrosesan terdistribusi membantu pekerjaan tetap selesai tepat waktu. Ketika tim bertambah, workspace yang terpusat mengurangi kerja ganda. Ketika kebutuhan analitik dan ML berjalan bersamaan, jalur data yang lebih terpadu membuat kerja tim tidak saling menghambat.
Namun, keterbatasannya juga nyata. Databricks bisa terasa kompleks bagi tim yang baru masuk ranah big data. Ada kurva adaptasi yang perlu dilewati, terutama untuk memahami konsep pemrosesan terdistribusi dan cara menjaga data tetap konsisten. Selain itu, karena Databricks sering dipakai dalam skala besar, pengelolaan biaya dan tata kelola akses perlu diperhatikan agar penggunaan tetap efisien dan aman.
Kamu akan lebih tenang jika melihat Databricks sebagai investasi alur kerja, bukan sekadar tool. Kalau organisasi kamu belum punya kebutuhan yang menuntut skala dan keterpaduan, Databricks mungkin belum prioritas. Tapi kalau kamu sudah mulai merasakan friksi antar sistem dan antar tim, Databricks bisa menjadi salah satu opsi yang layak dipertimbangkan.
Kesimpulan
Databricks pada dasarnya membantu kamu menyederhanakan satu masalah besar: bagaimana data yang terus tumbuh bisa diolah, dianalisis, dan dipakai untuk AI tanpa membuat tim terpecah ke terlalu banyak sistem dan proses. Ia bukan sekadar Spark yang dikemas ulang, dan juga bukan hanya tempat menjalankan query SQL. Databricks mencoba menghubungkan tahap-tahap kerja data yang sering berjalan terpisah agar lebih rapi dan cepat.
Kalau kamu sudah memahami apa itu Databricks dan bagaimana cara kerjanya, langkah berikutnya menjadi lebih logis. Kamu bisa menilai apakah kebutuhan kamu lebih condong ke analitik saja, ke pipeline data yang kompleks, atau ke pengembangan AI yang menuntut dataset besar dan proses berulang. Di situ, keputusan soal platform tidak lagi berdasarkan tren, tapi berdasarkan friksi nyata yang ingin kamu hilangkan.
Itulah informasi menarik tentang Databricks yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
FAQ
1. Databricks itu apa sebenarnya?
Databricks adalah platform data berbasis cloud yang dipakai untuk mengolah data dalam skala besar, menjalankan analisis, dan mendukung pengembangan machine learning dalam satu lingkungan kerja. Ia menggabungkan pemrosesan data yang kuat dengan pola kerja kolaboratif tim data, sehingga alur dari data mentah sampai data siap analisis bisa lebih ringkas.
2. Databricks digunakan untuk apa saja?
Databricks umumnya dipakai untuk tiga hal: membangun pipeline data agar data mentah menjadi rapi, menjalankan analisis data dan reporting berbasis SQL, serta mengembangkan model machine learning. Dalam praktiknya, Databricks sering dipilih ketika organisasi ingin satu jalur kerja yang menyambungkan data engineering, analitik, dan AI.
3. Apakah Databricks sama dengan SQL?
Databricks bukan SQL, tetapi Databricks bisa dipakai untuk menjalankan SQL. SQL adalah bahasa query, sedangkan Databricks adalah platform yang menyediakan lingkungan untuk mengakses data, memproses data, dan menjalankan analitik. Jadi, SQL bisa menjadi salah satu cara kamu berinteraksi dengan data di Databricks, tapi Databricks mencakup lebih luas dari itu.
4. Apakah Databricks cocok untuk pemula?
Tergantung konteksnya. Untuk memahami konsep dasarnya, pemula bisa memulai dari penggunaan SQL atau notebook sederhana. Namun, jika kamu masuk ke pemrosesan data besar dan pipeline kompleks, kamu akan bertemu konsep yang memang lebih menantang. Banyak tim memulai dari kebutuhan analitik dulu, lalu bertahap masuk ke use case yang lebih berat ketika sudah nyaman.
5. Apakah Databricks hanya untuk perusahaan besar?
Tidak selalu, tetapi Databricks paling terasa manfaatnya ketika data dan kebutuhan sudah cukup kompleks, misalnya sumber data banyak, volume data besar, dan tim data terdiri dari beberapa peran. Perusahaan menengah juga bisa memakai Databricks jika friksi kerja data sudah terasa. Kalau kebutuhan kamu masih sederhana, pilihan yang lebih ringan bisa lebih efisien.





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
