Grayscale menyebut pergerakan Bitcoin (BTC) saat ini lebih menyerupai saham teknologi dibanding emas.
Dalam laporan riset terbarunya bertajuk Market Byte: Bitcoin Trading More Like Growth Than Gold, perusahaan manajemen aset kripto asal Amerika Serikat itu menilai BTC masih diperlakukan pasar sebagai aset berisiko, bukan sebagai lindung nilai saat gejolak terjadi.
Pernyataan ini muncul di tengah volatilitas harga Bitcoin yang tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Bitcoin Turun Seiring Aset Growth Melemah
Bitcoin sempat mencapai puncak di atas US$126.000 pada Oktober, sebelum terkoreksi lebih dari 50%. Pada 5 Februari, harga BTC bahkan sempat turun ke sekitar US$60.000 sebelum kembali pulih.
Menurut Grayscale, pola ini memperlihatkan karakter Bitcoin yang sensitif terhadap sentimen risiko. Saat investor menjual saham-saham teknologi dan aset growth bernilai tinggi, arus dana juga keluar dari Bitcoin.
Dalam 12 bulan terakhir, pergerakan BTC disebut berkorelasi dengan saham perusahaan software bervaluasi tinggi.
“Setidaknya selama 12 bulan terakhir, perubahan harga Bitcoin sangat berkorelasi dengan segmen pasar ekuitas teknologi tahap awal,” tulis Grayscale.

Sumber Gambar: Grayscale
Saham-saham ini umumnya diperdagangkan berdasarkan ekspektasi pertumbuhan masa depan dan sangat dipengaruhi tingkat kepercayaan investor. Ketika kepercayaan melemah, harganya cepat terkoreksi. Bitcoin menunjukkan pola serupa.
Tekanan pada sektor teknologi belakangan juga dipicu kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan dapat mengganggu model bisnis software tradisional. Dampaknya, saham teknologi terkoreksi dan Bitcoin bergerak hampir seirama.
Baca berikutnya: Grayscale Ungkap Arah Pasar Crypto di 2026, Ini 10 Tema Utamanya!
Bukan Emas dalam Jangka Pendek

Sumber Gambar: Grayscale
Selama ini, sebagian pelaku pasar menyebut Bitcoin sebagai “emas digital” atau aset safe haven alternatif. Namun Grayscale menilai narasi tersebut belum tercermin dalam perilaku harga.
Emas dan perak justru mencatat reli kuat dalam beberapa bulan terakhir. Sementara itu, Bitcoin tidak menunjukkan pergerakan defensif yang sama dan malah turun bersama aset berisiko.
Zach Pandl, penulis laporan tersebut, menyatakan bahwa korelasi harga Bitcoin dengan emas dan logam mulia lainnya dalam periode terbaru tidak signifikan. Artinya, ketika pasar menghadapi tekanan, BTC tidak bertindak sebagai penyerap guncangan seperti emas.
“Bitcoin belum mencapai status yang sama dengan emas sebagai aset moneter, dan hal itu merupakan inti dari tesis investasi,” catatnya.
Perbedaan ini dinilai wajar. Emas telah digunakan sebagai alat tukar dan penyimpan nilai selama ribuan tahun serta masih menjadi bagian dari cadangan bank sentral di berbagai negara. Bitcoin baru berusia 17 tahun dan masih dalam tahap pembuktian sebagai aset moneter global.
Potensi Jangka Panjang Masih Ada
Meski demikian, Grayscale tidak menutup peluang Bitcoin untuk berkembang menjadi penyimpan nilai jangka panjang.
Bitcoin memiliki suplai terbatas maksimal 21 juta koin. Struktur desentralisasinya juga membuatnya berbeda dari mata uang fiat yang dikendalikan otoritas pusat.
Karakteristik inilah yang kerap dijadikan dasar argumen bahwa BTC berpotensi menjadi “digital gold” di masa depan.
Namun untuk saat ini, pasar masih memperlakukan Bitcoin sebagai risk asset yang sensitif terhadap likuiditas global, suku bunga, dan sentimen investor terhadap saham pertumbuhan.
Baca juga berita terkait: Permintaan Bitcoin (BTC) di AS Kembali Menguat, Kenapa Pasar Masih Rapuh?
Kesimpulan
Laporan Grayscale menggeser cara pandang terhadap Bitcoin dalam konteks pasar saat ini. Meski sering disebut sebagai emas digital, pergerakan harga terbaru menunjukkan BTC masih lebih dekat dengan aset growth berisiko dibanding aset lindung nilai klasik seperti emas.
Selama investor masih memperlakukan Bitcoin sebagai bagian dari portofolio risk-on, volatilitasnya akan tetap sejalan dengan saham teknologi, terutama saat tekanan pasar meningkat.
Status digital gold mungkin menjadi narasi jangka panjang, tetapi dalam realitas jangka pendek, Bitcoin masih bergerak mengikuti dinamika sentimen dan likuiditas global.
Bagi pelaku pasar, pemahaman ini penting. Korelasi dengan saham teknologi bukan sekadar kebetulan, melainkan cerminan bagaimana pasar memposisikan Bitcoin hari ini.
FAQ
- Apakah Bitcoin benar-benar bukan safe haven?
Dalam jangka pendek, data terbaru menunjukkan Bitcoin belum berperilaku seperti safe haven. Saat saham teknologi turun, harga BTC cenderung ikut melemah, berbeda dengan emas yang sering stabil atau naik saat krisis. - Kenapa Bitcoin disebut mirip saham teknologi?
Karena pergerakannya berkorelasi dengan saham growth, khususnya perusahaan software bervaluasi tinggi. Saat sentimen risiko memburuk dan investor melepas saham tech, Bitcoin juga ikut terkoreksi. - Apa bedanya Bitcoin dan emas sebagai aset lindung nilai?
Emas memiliki sejarah ribuan tahun sebagai penyimpan nilai dan masih menjadi cadangan resmi bank sentral. Bitcoin masih relatif baru dan belum terbukti konsisten menjaga nilai saat tekanan pasar meningkat. - Apakah Bitcoin bisa menjadi digital gold di masa depan?
Secara fundamental, suplai terbatas dan sistem desentralisasi memberi potensi tersebut. Namun, perilaku harga saat ini menunjukkan pasar masih menganggapnya sebagai aset berisiko, bukan aset defensif. - Apakah korelasi Bitcoin dengan Nasdaq masih kuat?
Dalam 12 bulan terakhir, laporan Grayscale menyebut korelasi Bitcoin dengan saham teknologi cukup terlihat. Jika indeks saham growth melemah, Bitcoin berpotensi ikut tertekan. - Faktor apa saja yang memengaruhi pergerakan harga Bitcoin saat ini?
Selain sentimen risiko global, faktor seperti suku bunga, likuiditas pasar, arus dana institusi, serta dinamika sektor teknologi dan AI turut memengaruhi volatilitas harga BTC.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Referensi:
- Cryptopolitan – Grayscale says Bitcoin mirrors tech stocks not gold, diakses pada 11 Februari 2026
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


