Di tengah gejolak ekonomi global dan ancaman inflasi yang belum reda, emas kembali menjadi primadona bagi investor konservatif maupun pemula. Sebagai aset yang dikenal stabil, logam mulia ini bukan hanya sekadar alat lindung nilai, tetapi juga terbukti memberikan keuntungan nyata—termasuk dalam jangka waktu setahun.
Namun pertanyaannya, seberapa besar sebenarnya keuntungan investasi emas dalam setahun? Apakah emas masih layak dikoleksi di tahun 2025, atau justru saatnya beralih ke instrumen lain? Untuk menjawab itu, mari kita mulai dari melihat performa harga emas selama setahun terakhir.
Stabilitas Emas di Tengah Ketidakpastian
Harga emas memang fluktuatif secara harian, tetapi jika ditarik dalam jangka menengah hingga panjang, grafiknya cenderung naik. Hal ini menjadi alasan kuat mengapa banyak investor menjadikan emas sebagai alat diversifikasi portofolio yang aman. Bahkan saat pasar saham berguguran dan kripto bergejolak, harga emas justru kerap naik.
Sebagai contoh konkret, harga emas Antam per gram pada 18 September 2023 adalah Rp939.919, dan setahun kemudian pada 18 September 2024, harganya naik menjadi Rp1.012.746. Dalam periode tersebut, investor sudah bisa mengantongi keuntungan +7,75%, seperti informasi yang kami kutip dari website sahabat.pegadaian.co.id.
Tapi tentu saja, satu angka saja belum cukup menggambarkan peluang cuan emas secara menyeluruh. Untuk dapat gambaran yang lebih komprehensif, kita perlu bandingkan beberapa periode waktu berbeda dalam satu tahun terakhir.
Masih seputar topik ini, simak juga: Prediksi Harga Emas Mei 2025: Melesat atau Tertekan?
Lalu, Berapa Sebenarnya Keuntungan Investasi Emas dalam Setahun?
Alih-alih hanya bicara rata-rata, mari kita lihat data aktual dari berbagai waktu beli dan jual emas antara 2023–2024. Ini akan bantu kamu memahami seberapa besar keuntungan yang mungkin diraih dari investasi emas dalam setahun, tergantung momen belinya.
Periode | Harga Beli (per gram) | Harga Jual (Buyback) | Keuntungan (%) |
18 Sep 2023 ? 18 Sep 2024 | Rp939.919 | Rp1.012.746 | +7,75% |
25 Mar 2023 ? 25 Mar 2024 | Rp1.003.716 | Rp1.136.807 | +13,26% |
25 Mei 2023 ? 22 Mei 2024 | Rp972.562 | Rp1.281.578 | +31,75% |
25 Okt 2023 ? 25 Okt 2024 | Rp1.037.310 | Rp1.418.864 | +36,80% |
Rata-rata Tahunan | – | – | ~22,89% |
Sumber Data: Bareksa, Treasury.id, dan Logam Mulia Antam diolah per Desember 2024.
Dari data di atas, terlihat jelas bahwa cuan dari emas bisa sangat bervariasi, tergantung waktu masuk pasar. Jika kamu beli saat harga sedang rendah seperti Mei atau Oktober, hasil yang didapat bisa jauh lebih tinggi daripada periode lain.
Nah, kalau kamu bertanya, “Lebih untung beli sekaligus atau nabung rutin tiap bulan?” Jawabannya kita bahas di bagian berikut.
Simulasi: Nabung Rutin vs Beli Sekaligus
Strategi investasi punya pengaruh besar terhadap hasil yang kamu peroleh. Simulasi dari Bareksa menunjukkan dua pendekatan populer: dollar cost averaging (DCA) alias nabung rutin, dan lump sum atau beli sekaligus.
Misalnya, kamu nabung 1 gram emas per bulan selama 3 tahun terakhir. Total uang yang kamu keluarkan sekitar Rp37,17 juta. Dengan harga emas saat ini (Desember 2024) di angka Rp1.348.811 per gram, maka nilai keseluruhan 36 gram emas yang kamu miliki sudah menjadi Rp48,55 juta.
Artinya, kamu meraih keuntungan sebesar Rp11,38 juta atau 30,63%—rata-rata sekitar 10,2% per tahun.
Tapi bagaimana kalau kamu beli langsung 36 gram emas pada akhir 2021? Dengan harga saat itu di kisaran Rp853.474/gram, modal awalmu hanya sekitar Rp30,72 juta. Jika dijual sekarang, nilainya tetap sama, yaitu Rp48,55 juta. Tapi keuntungannya jadi Rp17,83 juta atau 58%—jauh lebih besar dari metode nabung rutin.
Jadi, keduanya bisa sama-sama untung. Tapi pilihan tergantung kondisi keuangan dan gaya investasimu: lump sum untuk yang siap modal besar dan ingin maksimalin momentum, sedangkan DCA cocok buat yang ingin stabil dan konsisten.
Kamu mungkin tertarik dengan ini juga: Prediksi Harga Emas 2026 Menurut Para Ahli: Tembus Rp2 Juta?
Faktor yang Mempengaruhi Keuntungan dari Emas
Tentu saja, keuntungan dari emas tidak berdiri sendiri. Ada berbagai faktor yang bisa mengangkat atau menahan laju kenaikannya. Dan memahami hal-hal ini akan membantu kamu menentukan kapan waktu yang paling tepat untuk beli atau jual.
Pertama, ada inflasi. Saat nilai uang menurun, investor beralih ke aset fisik seperti emas karena nilainya lebih stabil. Kedua, gejolak geopolitik—misalnya konflik internasional atau krisis moneter—juga bikin harga emas naik karena permintaan melonjak.
Ketiga, peran bank sentral dunia seperti The Fed juga penting. Saat suku bunga turun, harga emas biasanya naik karena investor mencari aset dengan yield tetap. Keempat, permintaan pasar dan pasokan: makin tinggi permintaan dan makin langka pasokan, makin tinggi pula harga.
Dan terakhir, jangan lupakan spread antara harga beli dan harga jual (buyback). Kalau kamu beli emas fisik, spread-nya bisa lebih besar dibanding emas digital. Maka dari itu, kalau tujuanmu adalah untung dalam jangka pendek-menengah, emas digital bisa lebih fleksibel.
Artikel menarik lainnya untuk kamu: Jual Emas di Pegadaian vs Toko 2025 : Lebih Cuan di Mana?
Tips Maksimalkan Keuntungan Emas
Setelah tahu faktor-faktor yang memengaruhi harga emas, kamu pasti bertanya: “Kalau gitu, gimana cara paling realistis buat dapet untung dari emas dalam waktu setahun?”
Berikut beberapa strategi yang terbukti efektif:
- Beli di saat harga turun, bukan saat tren hype sedang tinggi.
- Nabung secara rutin (DCA) untuk menyeimbangkan risiko fluktuasi harga.
- Pilih platform resmi dan tepercaya—baik untuk emas digital maupun fisik.
- Hitung spread beli-jual sebelum beli, agar tahu kapan titik impas.
- Jangan jadikan emas satu-satunya aset, tetap seimbangkan dengan instrumen lain.
Dengan strategi yang tepat, kamu bisa memanfaatkan momentum harga emas sekaligus menjaga stabilitas portofolio investasi jangka menengah.
Alternatif Modern: Emas Kripto untuk Generasi Digital
Setelah membahas emas konvensional dari sisi keuntungan, strategi, hingga simulasi investasi, mungkin kamu bertanya-tanya: “Apakah ada cara yang lebih praktis atau modern untuk investasi emas, selain bentuk fisik atau digital tradisional?”
Jawabannya: ada, dan namanya adalah emas kripto.
Emas kripto adalah aset digital yang didukung langsung oleh cadangan emas fisik. Artinya, 1 token emas kripto biasanya mewakili kepemilikan 1 gram atau 1 ons emas sungguhan yang disimpan oleh pihak kustodian, seperti lembaga keuangan atau perusahaan penyedia token.
Beberapa contoh populer secara global adalah PAX Gold (PAXG) dan Tether Gold (XAUT), yang masing-masing dipatok ke harga emas dunia. Token ini bisa diperdagangkan di blockchain seperti aset kripto lainnya, tapi nilainya tetap mengikuti harga emas fisik internasional.
Emas kripto makin diminati karena:
- Likuid dan real-time
- Aset global
- Bukti kepemilikan transparan
- Stabilitas emas + fleksibilitas kripto
Tentu saja, penting juga untuk memilih token yang:
- Didukung oleh cadangan emas nyata
- Diperdagangkan di platform resmi
- Diaudit dan transparan
Jika syarat itu terpenuhi, emas kripto bisa menjadi jembatan sempurna antara keamanan logam mulia dan kemajuan teknologi blockchain.
Kesimpulan: Investasi Emas, Sekarang Lebih Luas Pilihannya
Melihat performa harga emas dalam satu tahun terakhir yang bisa mencapai 7% hingga 36%, ditambah tren jangka panjang yang terus naik, maka jawabannya adalah ya, emas masih layak untuk dikoleksi di 2025.
Kini, kamu bisa memilih berbagai bentuk investasi emas—baik fisik, digital, maupun berbasis kripto. Yang penting, pahami karakteristiknya, tentukan tujuanmu, dan bangun strategi yang sesuai.
Itulah informasi menarik tentang keuntungan investasi emas dalam setahun yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market. jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan.
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
FAQ
1. Apakah investasi emas bisa memberikan keuntungan dalam 1 tahun?
Ya, bisa. Data historis menunjukkan bahwa dalam periode 12 bulan, keuntungan investasi emas bisa berkisar antara 7% hingga 36%, tergantung waktu pembelian dan kondisi pasar. Namun, emas tetap lebih optimal untuk disimpan jangka menengah hingga panjang.
2. Lebih bagus investasi emas fisik atau digital?
Keduanya punya kelebihan. Emas fisik cocok untuk disimpan jangka panjang, bisa dicetak atau diwariskan. Emas digital lebih likuid, cocok untuk investasi jangka pendek-menengah karena spread beli-jualnya lebih kecil. Pilih sesuai kebutuhan dan profil risiko kamu.
3. Bagaimana cara tahu waktu terbaik beli emas?
Waktu terbaik adalah saat harga turun atau saat kondisi pasar sedang tenang. Biasanya harga emas cenderung naik saat inflasi tinggi, konflik geopolitik, atau suku bunga turun. Rutin memantau harga dan menggunakan strategi dollar cost averaging (DCA) bisa membantu meminimalkan risiko.
4. Apa itu emas kripto dan apakah aman?
Emas kripto adalah token digital di blockchain yang nilainya dipatok ke emas fisik. Contohnya seperti PAXG atau XAUT, yang masing-masing mewakili 1 gram atau 1 ons emas asli. Selama kamu membeli dari platform tepercaya dan token yang diaudit, emas kripto bisa jadi alternatif modern yang aman dan fleksibel.
5. Apakah emas kripto bisa dijadikan diversifikasi portofolio?
Bisa banget. Emas kripto menawarkan stabilitas harga seperti emas fisik, tapi dengan fleksibilitas dan likuiditas seperti aset kripto lain. Cocok buat investor yang ingin mengombinasikan keamanan logam mulia dengan kecepatan transaksi era digital.
Author: AL